My Chef

My Chef
#19 Sakit tapi Tak Berdarah



*****


Pagi ini Arya telah rapi dengan setelan kemeja panjang maron yang dipadukan dengan setelan celana jeans hitam serta sepatu cats-nya.


"Tumben udah rapi. Mau kemana Kak?" tanya Angga.


"Dih ... kepo! Wek ...." Ayra menjulurkan lidahnya mengejek Angga.


"Ya ela, nanya doang, Kak. Kan biasanya Kakak jam segini masih ileran." Angga tertawa.


"Eh enak aja ya ngebacot. Huh ...," ujar Ayra sebal.


"Kan emang faktanya, Kak. Ahahahaha." Angga masih terus tertawa.


Muka Ayra merah padam.


"Dih ... keluar tanduk tuh," ujar Angga.


Ayra langsung menjitak kepala Angga.


"Rasain tuh." Ayra beranjak meninggalkan Angga menuju teras.


"Aduh, sakit tau. Dasar nenek sihir!" Angga setengah berteriak.


Ayra hanya menoleh dan menjulurkan lidahnya.


"Wek ... wek... rasain. Ahahhahaha." Ayra berbalik kemudian membuka pintu.


Ayra duduk menikmati cuaca pagi hari yang cerah secerah hatinya. Pikirannya melayang pada kejadian semalam.


Flashback on


Rayhan mengantar Ayra sampai pintu pagar. Ayrapun ingin lekas turun namun tangan Rayhan dengan sigap menahan Ayra. Rayhan memegang tangan Ayra sambil mendekatkan wajahnya.


Ayra langsung memejamkan mata.


"Waduh kok dekat-dekat gini ya? apa jangan-jabgan bakal ada adegan anu-anu nih," batin Ayra.


Rayhan memperhatikan tingkah Ayra yang memejamkan mata sambil menahan nafas.


"Astaga sih otak mesum mikirin apaan sih? mejemin mata gitu, lagian tuh bibir ngapain gerak-gerak," batin Rayhan.


Rayhan menjitak kepala Ayra sembari melengkungkan senyum manisnya.


"Aduh ... sakit, Kak." Ayra mengusap - ngusap kepalanya.


"Lagian ya, kamu itu mikirin apasih? Sampe tu bibir di maju-majuin gitu." Tubuh Rayhan menjauh.


"Dasar mesum." Rayhan langsung mengucup singkat kening Ayra.


Ayra sedikit canggung.


"Kakak apa-apaan sih, main cium-cium kening aku." Wajah seputih pualam itu memerah.


"Abisnya tu jidat yabg lebar kek lapangan bola, isinya mesum mulu." Rayhan tertawa.


"O iya jangan lupa besok pagi aku jemput ya, kita kerumahku. Mau aku kenalin sama adik-adik sepupuku," ujar Rayhan.


Flashback off


Ayra tersadar dari lamunanya.


"Ah ... malunya." Ayra menutup muka dengan kedua tangannya.


Tak lama kemudian terdengar klakson mobil Rayhan turun dan tersenyum sambil membuka pintu pagar.


"Dih ... kamu ngapain senyum-senyum sendiri gitu." Rayhan mengernyitkan dahi menatap Ayra.


"Manis," batin Rayhan.


"Eh, Kak Rey tiba-tiba aja muncul, yuk langsung aja." Ayra tanpa sungkan-sungkan menggandeng tangan Rayhan.


"Emang udah izin?" tanya Rayhan.


"Udah Kak, tadi udah bilang sama mama. Lagian Kak, mama tiap pagi kan nemenin papa minum obat. Papa manja soalnya." Ayra berjalan beriringan dengan Rayhan.


Rayhan terdiam, ada sesak yang melanda tiap Ayra membicarakan papanya.


Mereka memasuki mobil kemudian mobil melaju pelan meninggalkan halaman rumah itu.


*****


Sesampainya di depan rumah Rayhan. Ayra terpaku menatap rumah megah dengan cat putih dipadukan warna keemasannya.


"Ayo masuk." Rayhan merangkul mesra Ayra.


"Aku gak pe de, Kak," ujar Ayra gugup.


"Gak papa kan cuma mau kenal sama saudara sepupuku aja." Rayhan memencet bel, pintu terbuka dari dalam.


"Sureprise!!" teriak seorang wanita dari balik pintu yang merentangkan tangannya.


Rayhan kaget. Ia langsung memeluk wanita itu erat, mereka berdua menangis haru. Padahal ada Ayra tepat dibelakangnya.


Ayra memperhatikan mereka dengan tatapan aneh. Ia mengenali wanita yang sedang memeluk erat Rayhan itu.


"Aku kangen banget sama kamu!!" kata wanita yang ternyata adalah Nisha sahabat baik Ayra sambil terisak-isak.


"Aku juga." Rayhan melepas pelukannya dan menghapus airmata Nisha.


"Oh ya, kenalin Cha. Ini temen sekaligus karyawan di restoran papa." Dengan sedikit canggung, Rayhan mengenalkan Ayra kepada Nisha.


Ayra memandang aneh sedikit marah ke arah Rayhan, tetapi Rayhan hanya cuek.


"Kami udah kenal kok, Rey." Nisha merangkul Ayra mengajaknya masuk kedalam rumah.


"Eh, iya Pak Rey, kita sahabat saat SMA," ujar Ayra gugup.


Tiba-tiba Andri datang membawa dua gelas minuman dingin.


"Eh, kamu ngajak temen Rey." Andri menatap Ayra sekilas kemudian meletakkan minuman dimeja.


"Kami udah pernah ketemu beberapa kali kok," ujar Ayra canggung.


"Oh gitu," ujar Rayhan cuek sambil terys mengaja Nisha mengobrol.


Sadar bahwa ia dicuekin, Ayra memilih keluar dari ruangan tamu kemudian duduk diteras.


Andri yang tiba-tiba sesak melihat kedekatan mereka kemudian menyusul Ayra ke teras dan duduk disebelahnya.


"Enggak masuk?" tanya Andri.


Ayra diam, memandang tanaman-tanaman yang sangat indah menghiasai halaman rumah megah itu. Ayra berusaha mengontrol butiram bening yang seoerti memaksa ingin jatuh dari balik iris hitamnya itu.


Andri sedikit merasakan apa yang dirasakn Ayra, kemudian ia mulai sedikit berbaik hati melihat air mata yang hampir jatuh itu.


"Aku ambilin minum yah?" kata Andri. Ia langsung pergi mengambil segelas jus jeruk. Ia melewati ruang tamu dengan hati panas saat melihat Rayhan dan Nisha asik ngobrol sampai tidak sadar pada keadaan sekitar.


"Nih minum." Rayhan meletakkan jus jeruk di atas meja kemudian ia ikut duduk bersama.


"Kalau perasaan lagi kacau gitu gak usah bikinin minum," kata Ayra judes, matanya menyipit menatap Andri.


"Ada yang salah?"tanya Andri.


"Kamu cobain aja nih." Ayra menyodorkan gelas birisi jus jeruk itu.


"Enak aja! Itu kan bekas kamu!" elak Andri. Andri penasaran dan akhirnya meminum juga jus jeruk itu. Saat minuman itu sampai dinulutnya ia langsung memuntahkannya.


"Fuh ... Uwek." Andri langsung mengelap mulutnya dengan tisu yabg ada di atas meja itu.


"Enak?" sindir Ayra.


"Aku bikinin lagi deh, yah maklum aja bibi lagi sakit jadi tadi izin pulang." Andri heran kenapa Ayra tak memuntahkan minumannya padahal rasanya asin sekali.


"Nggak usah! Aku mau pulang." tolak Ayra sembari berdiri.


"Tapi Rayhan? Chacha? Enggak pamit dulu?"


"Kamu lihatkan mereka lagi sibuk," ujar Ayra dengan nada judes.


Andri berdiri menahan tangan Ayra.


"Aku anterin." Andri berjalan menuju mobilnya.


Ayra terpaku sesaat.


"Tumben dia peduli," batin Ayra.


Ayra berjalan mengiringi langkah lebar Andri.


"Kamu beneran mau nganterin aku?"


"Bisa diem gak sih? Masuk aja ke mobil." Andri membukakan pintu mobil dengan muka sangar.


Ayra terdiam dan bingung.


"Kamu gak denger?" bentak Andri.


Ayra masuk kedalam mobil disusul Andri yang mulai menjalankan mobilnya perlahan.


"Makasih yah," ucap Ayra.


Andri diam berpura-pura tak mendengar.


"Kamu kenapa sih? tiap aku ajakin ngomong diem aja! Sariawan!" ledek Ayra kesal sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bawel! gak tau terima kasih banget sih!" cerocos Andri.


"Yang minta anterin tuh siapa? kamu tiba-tibs muncul dengan cara aneh kamu ini." Ayra kesal dan tidak terima.


"Jadi kamu mau pulang sendiri dengan perut kelaparan kayak gitu?"


"Dari mana kamu tau aku laper?" tanya Ayra heran.


"Muka kamu melas."


"Dih ... sialan kamu!" umpat Ayra kesal sambil mengepalkan kedua tangan.


Ayra sedikit bingung, kalau diperhatikan Andri memang kelihatan baik. Andri tampan mata birunya menghipnotis setiap yang menatap. Andri terlihat sederhana namun tetap mempesona.


"WOI!! Kamu budek ya?" tetiak Andri kesal. Ia sudah berteriak dari tadi, hanya saja Ayra sedang melamun.


"Kita udah sampe. Kamu gak mau turun?"


Ayra tersadar dari lamunannya.


"Maaf ... maaf." Ayra memasang pupy-eyes nya.


"Dih ... gak usah sok imut deh, muka kamu tu ngeselin."


"Resek., ish ...." Ayra turun dari mobil dengan muka kesal.


"Tapi makasih yah," ujar Ayra kemudian sebelum menutup pintu.


Andri hanya mengangguk kemudian melanjukan mobil meninggalkan Ayra yang terpaku sesaat.


"Dasar cowok aneh, tapi baik juga," guman Ayra pelan sambil berjalan memasuki rumahnya.


*****


**Uh ... Rayhan tega banget yak,


Makasih ya buat kalian yang masih setia mengikuti cerita ini.


jangan lupa, like ,coment dan tambahkan ke favorite ya biar cepat dapat updatenya.


🙏 nanti aku feedback kok🙏


Happy reading**