My Chef

My Chef
#13 Desas-desus



*****


Beberapa karyawan wanita memperhatikan Ayra yang sedang berjalan keluar dari dapur. Mereka memandang dengan pandangan menyelidik, dan terang-terangan tersenyum sinis.


"Cih, dasar genit." samar-samar suara itu terdengar namun Ayra mencoba mengabaikannya.


Ayra melangkahkan kaki sambil terus memperhatikan ujung sepatunya, menuju toilet. Namun tiba-tiba, seseorang mendorong tubuhnya membentur ke dinding di depan toilet.


"Dasar centil!"


"Jangan sok cantik!"


kemudian dua wanita lainnya memegang tangan Ayra.


"Eh, kamu tu baru ya disini!"


Ayra menatap iris hitam didepannya yang membesar, hampir keluar dari tempatnya.


Keringat mengalir membasahi punggung Ayra.


"A-aku, a-aku, tak mengerti maksud kakak?"


"Apa ..." perkataan Ayra terhenti sebelum selesai di ucapkan.


Wanita itu menatap geram.


"Eh, kamu jangan sok polos ya!"


Ayra menggerak-gerakan kedua tangannya yg masih dipegangi kedua wanita itu.


"Diem deh, kamu harus dikasih pelajaran."


Plak! satu tamparan mendarat di pipi seputih pualam itu.


"Kamu tau nggak? Hah!"


"Aku udah lama deketin Andi,"


"Tapi Kau!" tunjuk perempuan itu tepat di hidung mancung Ayra.


"Berani-beraninya mencari-cari kesempatan untuk mendekatinya pula."


Deru nafas perempuan itu serasa menyapu pipi Ayra. Kemudian tangannya melayang di udara, Ayra spontan menutup matanya. Namun tak ada sesuatu yang terjadi.


Perlahan Ayra membuka mata dan melihat tangan perempuan itu tertahan oleh tangan kekar yang memegang dengan sangat erat, bahkan urat-urat dikulit sawo matang itu nimbul seperti ingin keluar.


"Aw ... sakit Pak, aw ... ampun Pak," perempuan itu meringis menahan sakit.


Sedangkan kedua perempuan lainnya memandang takut dan melepaskan genggaman ditangan Ayra.


"Pak Rey, tolong lepaskan Pak."


Ayra menarik tangan Rayhan dan langsung melepaskan cengkramannya.


"AYRA!" Rayhan menatap tajam Ayra.


"Mereka sudah kasar kepadamu, haruskah kamu membelanya?"


"Nggak Pak, Bapak hanya salah paham." Ayra menatap lembut Rayhan, berusaha meyakinkannya.


Rayhan menghempaskan cengkraman tangannya, menatap sinis satu persatu perempuan itu.


"Kalian jangan pernah mengganggu wanitaku lagi!"


Ketiga perempuan itu terkejut, mereka berhenti bernfas sejenak. Antara sesak dan ketakutan yang melanda.


Tanpa terkecuali Ayra. Dia terdiam menutup mulut dengan tangannya. Bola matanya membulat sempurna menatap Rayhan.


"Ayo sayang, kita pergi dari sini." Dengan cepat Rayhan menarik pergelangan tangan Ayra, mengajaknya menjauh dari tempat itu.


Ayra tergesa-tega mengikuti langkah Rayhan. Nafasnya naik turun tak beraturan.


"Hosh ... hosh ... berhenti dulu Pak."


"Ck, dasar lamban," ujar Rayhan yang langsung berhenti.


Ternyata mereka sampai diruangan kerja Rayhan. Rayhan sengaja membawa Ayra masuk kedalam untuk berbicara berdua.


Ayra memperhatikan sekeliling, ruangan dengan dinding bercat putih minimalis, tak lupa wallpaper bergaya vintage di salah satu sudut ruangan.


Kemudian Ayra terpaku menatap satu-satunya lukisan di dinding dekat meja kerja.



"indah," ujar Ayra pelan.


Rayhan mengikuti arah pandang Ayra. Kemudian menariknya duduk di sebuah sofa yang sering dia gunakan untuk beristirahat.


"Duduklah disini, kau tau ini ruangan pribadiku." Rayhan berjalan menuju kulkas dan mengambil minuman dingin.


"Nih, minumlah dulu." Rayhan menyodorkan sebotol minuman dingin dengan bulir-bulir jeruk itu.


Dengan cepat Ayra menerima minuman itu dan langsung menghabiskannya.


Ayra baru tersadar dia berada di ruangan pak Rayhan. Tiba-tiba ketakutan melandanya.


Ayra menundukan kepala sembari memainkan ujung bajunya.


Semua gerak-gerik Ayra tak lepas dari perhatian Rayhan.


"Ck, anak ini kenapa? dia seperti ketakutan padaku. Padahal semua perempuan yang aku ajak kesini akan berteriak senang dan segera memakanku," batin Rayhan.


"Kau tau Ay, itu adalah lukisan Bunga Iris. Bunga-Bunga Iris adalah nama sebuah lukisan karya pelukis Vincent van Gogh," ujar Rayhan mencoba memecah keheningan yang terjadi.


"Iya Pak, bahkan Bunga-Bunga Iris merupakan satu dari sekian karyanya ketika ia berada di R.S. Jiwa Saint Paul-de-Mausole di Saint-Rémy-de-Provence, Prancis pada saat-saat terakhir menjelang kematiannya tahun 1890," ujar Ayra tenang.


"Wow, kau cukup pintar Ay." Rayhan menatap takjub Ayra.


"Tampan," batin Ayra.


"Maaf Pak, apa maksud perkataan Bapak saat didepan toilet tadi?"


"Perkataan yang mana?"


"Jangan berbelat belit Pak, Bapak mengatakan aku wanitamu, dan dengan seenaknya memanggilku sayang!" Ayra sedikit meninggikan suaranya.


"Wow, hebat, kamu sudah berani ya membentak atasanmu bahkan di hari pertamu bekerja." Rayhan mengernyitkan dahinya sembari menatap sinis.


"Maafkan saya Pak, saya hanya terbawa emosi," ujar Ayra sembari menundukan kepalanya.


"Oke, aku maafkan."


"Kau tak perlu seformal itu padaku, sekarang kau adalah wanitaku."


Ayra menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap tak percaya dengan semua ucapan Rayhan.Namun dia hanya diam tanpa membantahnya.


Rayhan melanjutkan ucapannya.


"Kamu cukup memanggilku kak Rey, atau sayang ...." Rayhan mengedipkan matanya.


"Tapi Pak ...." ucapan Ayra terhenti karena dengan cepat Rayhan menempelkan telunjuknya tepat dibibir merah muda Ayra.


"Sssttt ... diam dan turuti saja jangan banyak bertanya lagi."


Tubuh Rayhan mendekat dan membisikan sesuatu tepat di telinga Ayra.


"Aku tertarik padamu, itu alasan yang cukup."


"Kau tahu, aku tak suka di bantah." Mata Rayhan menatap tajam Ayra.


"Dan satu lagi, panggil aku Kak rey."


Rayhan perlahan mundur membuat jarak diantara keduanya.


"Kembalilah bekerja!"


Ayra segera bebalik dan menghentakkan kakinya.


"Ck, menyebalkan," ujar Ayra pelan.


Ia berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu.


"Menarik," batin Rayhan.


*****


Baru saja Ayra keluar darj ruangan itu. Tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh Azizah.


"Kak Izah, tunggu Kak, pelan-pelan," ujar Ayra sembari mengikuti langkah kaki Azizah.


Azizah membawa Ayra ke dapur. Mereka duduk dimeja tempat biasa makan, ketika jam istirahat tiba. Azizah sengaja memilih tempat yang paling pojok.


"Ada yang mau kau jelaskan Ra?" tanya Azizah pelan namun tangannya masih mencengkram pergelangan tangan Ayra.


"Lepasin dulu Kak, sakit." Ayra menggerakan tangannya menciba melepaskan cengkraman tangan Azizah.


"Maaf Ra." Azizah melepaskan perlahan dan melihat bekas merah melekat dikulit seputih pualam itu.


"Apakah kalian memang sebarbar ini?" Ayra menatap dengan senyum sinis.


"Tadi Kakak-kakak senior itu, terus Pak Ray, sekarang Kak Azizah juga!" Ayra mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah.


"Apa ini cara kalian memperlakukan karyawan baru? hah!" bentak Ayra dan tanpa bisa ditahan butir-butir air itu turun perlahan dari mata nya.


Azizah reflek memeluk Ayra, mengusap punggungnya pelan.


"Maafkan aku Ra, aku tak sengaja menyakitimu," ujar Azizah pelan mencoba menenangkan Ayra.


Namun air mata Ayra bertambah deras jatuh bahkan sampai mengenai baju Azizah.


"Tenang Ra, tenangkan dirimu, ceritakanlah biar kau lega," ujar Azizah sambil membelai rambut Ayra.


Ayra menarik Nafas dan menghembuskannya perlahan. Kemudian Ayra menceritakan semuanya mulai dari dia dicegat di toilet sampai berakhir di ruangan Rayhan.


Azizah tersenyum simpul dengan pandangan menyelidik.


"Jadi kau sudah resmi pacaran dengan Pak Rayhan, Ra?" tanya Azizah.


Ayra geleng-geleng kepala.


"Aku cerita panjang lebar dan Kakak hanya menanyakan itu?"


"Hahahaa....Ra- Ra, kamu polos banget, udah deh nikmati aja dulu," ujar Azizah yang tak kuasa menahan tawanya.


"Yuk kita lanjut kerja lagi, tapi lap dulu tu ingus!" tunjuk Azizah di hidubg Ayra.


"Iiuuuuh... jorok sekali." Azizah membulatkan matanya menatap seolah-olah jijik kemudian tersenyum.


"Cih...teruslah menggodaku, hemm...." Ayra mengambil tisue dan membersihkan mukanya.


"Ayo Ra, nanti biarkan aku yang mengurus ketiga perempuan itu," ujar Azizah sinis dan berlalu mengajak Ayra kembali melanjutkan pekerjaan mereka.


*****


Hai readers.. Makasih ya masih setia membaca cerita recehku ini, 😁😁😁 maafkan aku yang lama update nya 🙏🙏🙏


Jangan lupa like, coment, rate dan vote y . Biar aku tambah semangat nulisnya.


😊😊😊 nanti aku like,coment,rate dan vote balik kok😊😊😁🙏


Happy Reading.