
Hari ini Ayra sudah bisa menyesuaikan penampilan nya. Ia sudah mulai bisa sedikit-sedikit merias wajahnya sendiri. Tentu saja ini berkat bantuan Nisha yang semalaman menginap di rumah Ayra dan terus mengajarinya make-up natural untuk dirinya.
Ayra memamg termasuk orang yang cepat mempelajari sesuatu bahkan dalam 1 hari ia sudah bisa mempraktekkannya, meskipun masih sedikit ragu-ragu tapi hasil yang di dapat cukup memuaskan.
"Ma, Pa." Ayra berjalan pelan menghampiri orangtuanya.
"Mau kemana nak, udah rapi banget ya, sekarang udah mau berdandan ni." Mama tersenyum.
"Iya Ma, Ayra kan udah mulai kerja, ini mau berangkat ma." Ayra mengambil tangan Mama dan Papanya bergantian sambil mengecupnya.
"Ayo Kak." Ajak Angga yang sudah menunggu didepan pintu.
"Ma, Pa, Angga nganterin Kakak dulu ya." Pamit Angga begitu saja.
*****
Sesampainya di tempat kerja, Ayra menyapa beberapa karyawan. Ayra kemudian langsung menuju lantai dua restoran ini. Tentu saja untuk menemui Azizah, karena dalam seminggu kedepan Azizahlah yang ditugaskan membantu Ayra beradaptasi dengan pekerjaannya.
Ayra menaiki tangga dengan sangat bersemangat sampai tak sadar ada orang dihadpaannya yang sedang menuruni tangga.
"Aw ...." Ayra terduduk meringis, bahunya tak sengaja menyenggol bahu kekar dihadapannya.
"Kau tak apa?" pemuda itu mengulurkan tangan ingin membantu Ayra.
"Suara barito ini begitu khas, seperti tidak asing lagi," batin Ayra.
Ayra mendongakkan kepalanya kemudian ia menatap iris kecoklatan dihadapanya.
"Kau!" tunjuk Ayra tepat didepan hidung pemuda itu.
Pemuda itu mengernyitkan mata nya menatap Ayra. Ia tampak berfikir.
"Eits ... santai, mari aku bantu." pemuda itu langsung memegang bahu Ayra, membantunya berdiri.
"Maaf, apakah kita pernah bertemu?" tanya pemuda itu.
"Apa kau lupa?" Ayra kemudian mengeluarkan saputangan dari saku bajunya dan menunjukannya tepat dihadapan pemuda itu.
"O iya, aku ingat, kau gadis ingusan itu kan, yang menangis di taman rumah sakit tempo hari." Pemuda itu tertawa mengejek.
Ayra hanya mendengus kesal.
"Iss ... bukannya minta maaf, eh malah ngatain lagi," ujar Ayra pelan hampir tak terdengar.
Pemuda itu mengulurkan tangannya.
"Oke-oke, aku minta maaf ya gadis kecil, namaku Rayhan, kau boleh memanggilku Kak Rey," ujar Rayhan sambil mengedipkan matanya.
Ayra memutar bola matanya malas, tapi ia tetap menyambut uluran tangan Rayhan.
"Ayra kak."
Rayhan memperhatikan Ayra tanpa berkedip.
"Kau nampak jauh berbeda dari pertama kali kita bertemu." Rayhan masih terus menatap Ayra.
Ayra mengikuti arah pandang Rayhan. Ayra spontan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Hey...Apa yang kau lihat?" Ayra melotot tajam.
"Dasar mesum," ucap Ayra tepat di hadapan Rayhan dan meninggalkannya begitu saja.
"Eh, tunggu!" Rayhan mencoba menahan langkah Ayra.
Namun Ayra dengan cepat menepis tangan Rayhan dan mempercepat langkah menjauhinya.
Rayhan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ayra barusan.
"Hemm ... cukup menarik." Rayhan tersenyum sembari memperhatikan langkah kaki Ayra yang kian menjauh, sesaat kemudian Rayhan berbalik arah melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
*****
Ayra berjalan sambil terus menggerutu.
"Dasar mesum! untung ganteng," ujar Ayra pelan. Kemudian langkah Ayra terhenti karena dikagetkam dengan tepukan dipundaknya.
"Ra!!" Azizah menepuk pundak Ayra.
"Astaga Kak Izah, ngagetin aja." Ayra mengelus dadanya.
"Abisnya kamu daritadi ngedumel(marah-marah) aja, kenapa sih?" ujar Azizah.
"Gak papa-papa Kak, tadi ada orang mesum tu didepan untung ganteng, matanya kecoklatan, tinggi pula," jawab Ayra spontan.
Azizah tertawa mendengar jawaban Ayra itu.
"Hahaha ... kamu ada-ada aja Ra."
"Dih, kok malah ketawa sih kak?" dengus Ayra kesal.
"Udah-udah jangan marah-marah mulu, entar malah suka loh," ledek Azizah.
"Ih ... Kakak mah, apaan coba?" Ayra merengut.
"Eh, ngomong-ngomong tadi kamu sempat papasan sama Pak Rayhan gak Ra?" tanya Azizah
"Pak Rayhan siapa Kak?" tanya Ayra sambil sedikit mengingat-ngingat pemuda tadi.
"Astaga Ayra!" Azizah melotot, bola mata bulat nya seperti mau keluar dari tempatnya.
"Eh, i-iya Kak, maaf-maaf, Ayra lupa Kak," ujar Ayra sedikit gugup.
"Hehehe ... maaf ya kak." Ayra menangkupkan kedua tangannya.
Azizah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah polos Ayra. Azizah menghela nafas sejenak.
"Iya Ra, gak papa, tapi kayanya ciri-ciri orang yang kamu sebutin tadi Oak Rayhan deh," ujar Azizah menerka-nerka.
"Eh, apa iya ya Kak? tadi emang dia memperkenalkan diri sih Kak, Rayhan namanya," ujar Ayra pelan.
"AYRA!"
"Kamu beraninya ngatain Pak Rayhan mesum," ujar Azizah yang sedikit memelankan suaranya.
"Ya maaf Kak, kan gak tau." Ayra menatap sendu yang sedikit dibuat-buat
.
"Ya udah, kamu jangan gitu lagi ya, kalau sampai Pak Rayhan tau ...." Azizah sedikit menggantungkan ucapannya dan membuat gerakan seperti menyembelih.
"Kamu bisa habis," ujar Azizah menakut-nakuti.
"Ih ... Kakak mah, nyeremin banget."
"Ya udah, kita mulai aja kerjanya Ra," kata Azizah mengakhiri pembicaraan dan menyuruh Ayra mengikutinya menuju dapur.
*****
Azizah terus saja menjelaskan semua yang harus dilakukan Ayra, mulai dari mengelap meja-meja, melayani tamu, mencatat semua pesanan dan mengantarkanya secepatnya.
Sampai menawarkan menu-menu serta menjelaskan sedikit tentang makanan khas kota Palembang seperti pempek, burgo, laksan, climpungam, dan berbagai makanan khas lainnya tak ketinggalan pindang tulang dan pindang ikan.
Ayra nampak kelelahan, ia berkali-kali mengehela nafas, karena setelah mendengarkan penjelasan Azizah kemudian ia langsung mempraktekan semuanya yang tentu saja sembari di awasai Azizah.
"Huft ... ternyata melelahkan sekali," ujar Ayra pelan kemudian melanjutkan pekerjaannya mengantarkan makanan ke meja-meja tamu kemudian kembali lagi berdiri di dekat meja bartender.
"Hai Ra," sapa Andi.
"Hai kak," jawab Ayra pelan.
"Nih," Andi memberikan jus jeruk.
"Tapi kak?" Ayra hanya memperhatikan saja tanpa berniat mengambilnya.
"Sini deh, kamu masuk sini dulu, duduklah sebentar," ujar Andi yang langsung menarik tangan Ayra sedikit masuk dan duduk.
"Nih." Andi menyodorkan cangkir plastik yang berisi jus jeruk tersebut.
"Minumlah sebentar," ujar Andi.
Ayra mengambilnya dan segera meminumnya.
"Makasih ya kak."
"Sama-sama Ra." Andi tersenyum.
Ayra kemudian meninggalkan Andi dan mulai melanjutkan pekerjaan nya lagi.
Tanpa Ayra disadari ada beberapa karyawan wanita yang memeperhatikan kedekatan mereka.
*****
Jam istirahat Ayra pun tiba. Ayra diberikan jam istirahat setengah jam untuk makan sejenak dan melepas lelah yang bergantian dengan karyawan-karyawan lainnya.
"Raa sini," panggi Azizah.
Ayra berjalan pelan menghampiri Azizah tentu saja setelah meletakan buku menu dan yang lainnya diatas meja khusus yang tersedia didekat meja bartender.
"Iya Kak, ayo." Ajak Ayra.
Azizah merangkul pundak Ayra kemudian berjalan bersama menuju dapur yang terdapat beberapa meja khusus untuk karyawan yang beristirahat.
"Kita duduk disini aja Ra."
"Heem ...." Ayra menjawab pelan dan segera duduk disamping Azizah.
"Semangat dong, baru permulaan juga nanti kamu pasti terbiasa." Azizah menepuk-nepuk pundak Ayra.
"Iya Lak, huft ...." Ayra menarik nafas pelan.
"Yuk kita makan kebetulan menu karyawan hari ini pindang ikan patin loh." Azizah menatap takjub makanan dihadapannya. Selain karena lapar, ini juga merupakan makanan kesukaanya.
Ayra geleng-geleng kepala melihatnya
"Yuk Kak selamat makan," ujar Ayra.
Mereka berduapun makan dengan lahapnya.
*****
**
Hai readers.. Makasih ya masih setia membaca cerita recehku ini, 😁😁😁 maafkan aku yang lama update nya 🙏🙏🙏
Jangan lupa like, coment, rate dan vote y . Biar aku tambah semangat nulisnya.
😊😊😊 nanti aku like,coment,rate dan vote balik kok😊😊😁🙏
Happy Reading.