My Chef

My Chef
#25 Luka



Rayhan masih berada di ruang kerjanya saat semua karyawan beranjak pulang.


"Sial!" umpat Rayhan kesal. Mengacak-acak meja kerjanya membuat semua barang jatuh dan pecah. Tanpa peduli pada tangannya yang terluka. Rayhan kemudian mengambil sebotol alkohol lalu meminumnya hingga tandas.


Pikirannya melayang pada kejadian saat Nisha menyatakan perasaannya.


"Aaaaahhhh!" teriak Rayhan kesal, kemudian melemparkan botol minuman itu ke arah dinding. Pecahan kaca yang jatuh menggambarkan perasaannya yang kacau.


"Aku tak bisa menolaknya, Cha-cha sudah ku anggap adikku sendiri, aku tak ingin dia terluka karenaku." Rayhan bermonolog mengungkapkan semua beban pikiran yang mengganjal hatinya.


Dengan tergopoh-gopoh karena pengaruh alkohol Rayhan berjalan keluar ruangan mencari keberadaan gadis yang berhasil menjungkir balikkan perasaannya beberapa minggu ini. Gadis sederhana yang hanya dengan senyum manisn bisa membuat perasaanya membuncah—Ayra gadis benetra hitam dengan surai kecoklatan—membuatnya merasakan kenyamanan saat berbicara dengannya.


Dari kejauhan dia bisa menangkap siluet gadis itu. Ayra berjalan perlahan meninggalkan restoran, baru sampai halaman restoran Rayhan dengan cepat menarik tangan Ayra menuju samping restoran yang sepi.


"Kak Ray, lepasin!" Ayra menghentakan tangannya agar terlepas dari cengkraman Rayhan tapi dengan sigap Rayhan mendorong tubuh Arya sampai membentur dinding. Rayhan memegangi kedua tangan Ayra kemudian mengangkatnya keatas sembari terus mendekatkan tubuhnya.


Rayhan hanya diam, iris coklat itu menatap tajam iris hitam dihadapannya. "Kau pacaran dengan Andri? Hah!" bentak Rayhan. Bau alkohol menyeruak indra penciuman Ayra.


"Kakak Mabuk?" tanya Ayra.


"Jawab Ayra!" teriak Rayhan tepat di wajah seputih pualam itu.


Keringan dingin mulai mengalir dari pelipis Ayra, seketika tubuhnya menegang. Merasakan aura menyeramkan yang terpancar dari bola coklat yang terus menatapnya.


Meneguk salivanya kemudian Ayra berkata,"A-aku ... " belum sempat menyelesaikan ucapannya, Rayhan terlebih dahulu membungkam lengkung tipis itu dengan bibirnya, menyesap, kemudian mengigit sedikit bibir Ayra agar terbuka, ujung lidahnya menyeruak masuk,bermain-main di setiap inci rongga mulut Ayra.


Ayra tak menyangka mendapat perlakuan seperti itu dari Rayhan. Sepasang netra hitam itu perlahan mengalirkan bulir bening membasahi pipi.


Rayhan menghentikan aksinya merasakan isakan halus dari mulut wanita yang ia sayangi. Perlahan ia melepaskan cengkraman tangannya sedikit mundur dari tubuh Ayra.


Ayra dengan sigap mendorong Rayhan sembari melayangkan tamparan keras ke arah pipinya."Kakak jahat!" teriak Ayra kemudian berlari cepat meninggalkan Rayhan.


Rayhan terpaku sesaat—mengerjapkan kedua matanya menatap nyalang langkah kaki yang menjauh itu.


Kedua kakinya bersimpuh dengan airmata yang berlomba jatuh."Maaf," lirihnya yang hampir tak terdengar.


Ayra terus berlari menuju halte tak jauh dari restoran. Membekap mulutnya dan masih terisak, ia duduk di bangku itu.


"Kak Rayhan, kamu adalah alasan disetiap senyum, tawa bahkan airmataku saat ini," batinnya. Bulir bening itu terus memaksa keluar dari kedua bola hitam cemerlang yang berselimut kabut itu.


Sesaat kemudian cahaya lampu mobil menyilaukan pandangannya. Ayra menyipit menatap siluet yang keluar dari mobil merah itu."Kak Andri," gumanya pelan.


Menyadari langkah Andri yang semakin mendekat, buru-buru Ayra menghapus airmata itu.


Sedikit tersenyum ia berkata, "Kak Andri kok bisa kesini."


Andri diam sepasang netra biru itu menyipit—mengernyitkan dahi—ia bertanya,"Kamu kenapa, Ra? Siapa yang membuat kamu nangis seperti ini?"


Gugup Ayra menjawab," A-aku gak papa kok,Kak." Lengkung merah muda itu tersenyum sedikit dipaksakan.


Andri memicingkan mata menatap dalam netra hitam dihadapannya. Dengan sekali gerakan cepat ia meraih tubuh kurus yang terlihat rapuh itu didalm dekapannya.


Ayra bergeming menikmati rasa nyaman yang mengalir tanpa bisa di duga.


"Kak ... aku-a-aku...," jawab Ayra gugup tak mampu melanjutkan ucapannya.


isakan-isakan halus keluar dari mulutnya. Mengeratkan pelukan, Rayhan mengusap pelan punggung Ayra.


"Tenanglah, ada aku disini. Tak aka ada lagi yang bisa menyakitimu," ujar Andri lembut.


Kruk ... kruk ... perut Ayra berbunyi tanpa disadari. Mereka berduapun melepaskan pelukan sembari saling bertatapan. Seketika tawa Andri pecah.


"Hahahaha ... kau lapar?"


Ayra tersipu malu, semburat merah menghiasi pipinya. Ayra mengangguk sembari berucap, " iya."


"Baiklah nona cengeng, kita cari makan dulu, sebelum cacing-cacing diperutmu berdemo lebih jeras." Andri berdiri mengulurkan tangannya tepat di muka Ayra.


"Ayo," ajak Andri.


Tanpa berfikir panjang Ayra menyambut uluran tangan Andri.


"Baiklah Tuan pemaksa," ledek Ayra.


"Huum ... terserah apa katamu saja," putus Andri. Mereka berduapun berjalan bersampingan menuju mobil.


Andri membukakan pintu untuk Ayra. "Silahkan nona kecil," ejeknya.


Memutar bola matanya malas, Ayra tak menanggapi ucapan Andri. Ia segera masuk kedalam mobil di ikuti Andri di kursi pengemudi.


Mobilpun berjalan membelah jalan kota Palembang.


*****


"Wow." Ayra memandang takjub melihat penampakan didalam resort.



"Keren banget ya, Kak." Pandangan Ayra tak lepas menatap setiap inci sudut ruangan.


"Dih ... jangan norak deh ,Ra," ejek Andri.


Ayra menoleh sesaat—melepaskan genggaman tangan keduanya, lalu menginjak kaki yang berbalut sepatu kets disampingnya. "Dasar Tuan Arogan, nyebelin," gerutu Ayra sembari berjalan meninggalkan Andri.


"Aw ... cewek bar-bar," umpat Andri pelan.


Sadar telah membuat wanita itu kesal. Andri berjalan cepat menyusul langkah Ayra, dengan cepat tanganya meraih tangan Ayra dan menggenggamnya. "Maaf-maaf." Andri tersenyum membuat lesung pipinya terlihat menawan.


Mereka berduapun duduk berhadapan di salah satu meja yang berbentuk seperti perahu kecil.


Seorang pelayan menghampiri dan memberikan sebuah daftar menu.


"Ra, kamu mau pesan apa?" tawar Andri sembari memberikan daftar menu itu kepadanya.


Ayra menatap daftar menu kemudian menunjuk beberapa makanan dan minuman.


"Aku mau pesen yg ini dan ini." Tunjuk Ayra di beberapa menu.


Andrie mengikuti arah pandang Ayra sembari tersenyum.


"Mudah banget sih buat mood kamu balik, cukup dikasih makan aja," batin Andri.


"Aku juga pesan yang sama ya ,Mbak," ujar Andri kepada pelayan sambil menyerahkan daftar menu itu.


Pelayan itu hanya mengangguk kemudian berjalan menjauh untuk mengambilkan pesanan mereka.


"Kau tau?"


"Em." Ayra fokus menatap sekeliling menikmati nuansa indah dibawah gemerlip lampu hias yang berkedip menyapa netranya.


"Tempat ini menawarkan konsep taman dengan desain perahu kayu, dan saung seperti suasana di Bandung."


Taklama kemudian pelayan kembali menata beberapa makanan dan minuman yang dipesan mereka.


Tersenyum ramah, pelayan itu berucap, "Silahkan dinikmati." Pelayan itu berjalan meninggalkan mereka.


Mengambil sendok dan garpu kemudian Ayra mulai memotong-motong rendang menjadi bagian-bagian kecil lalu menyuapkan kedalam mulutnya.


"Hum ... enak banget ,Kak."


"Iya, makan dulu deh baru ngomong, entar kamu keselek." Andri kemudian mengelap sisa makanan yang menempel di sudut bibir Ayra.


"Dih ... blepotan banget sih, kek anak kecil kamu." Andri tersenyum.


Seakan terhipnotis, Ayra terpaku sesaat.


"Ya ampun lesung pipinya, manis banget sih. Bisa-bisa aku diabetes lagi," batin Ayra.


"Ehm ... makasih ya ,Kak." Lengkung tipis itu merekah sempurna—canggung. Ayra mencoba menetralkan detak jantungnya yang terus memompa seakan ingin berperang.


Mereka berdua melanjutkan makannya. Terdiam dalam pikiran masing-masing.


*****


Selesai makan Andri mengantar Ayra pulang. Selama di dalam perjalanan Andri mencoba menanyakan penyebab Ayra menangis.


"Ra, udah mau cerita?" Andri meboleh sesaat.


Menggeleng pelan—Ayra berkata,"Maaf,Kak. Aku belum bisa."


"It's oke, Dear." Andri nengelus pelan pucuk kepala Ayra.


"jantungku, astaga! Mau copot ini," batin Ayra menjerit.


Mereka berdua membisu, membiarkan sebongkah merah didada masing-masing menerka-nerka apa yang mereka rasakan sebenarnya.


*****


Makasih ya yang masih setia membaca ceritaku ini. Jangan lupa like, coment dan vote ya biar author semakin semangat.🙏🙏