My Chef

My Chef
#15 Sebuah Rasa



Waktu terasa begitu lama berlalu. Selama diperjalan mereka berdua hanya diam dan larut dalam pikiran masing-masing.


"Kenapa dia hanya diam saja setelah membuat jantungku bertalu-talu indah. Heh, dasar tidak peka," batin Ayra.


Ayra segera mengeluarkan ponsel dari tasnya, ia akan mengirim pesan kepada Angga. Sambil berbalas pesan, Ayra senyum-senyum sendiri melihat balasan pesan dari Angga.


Tanpa disadari, Rayhan daritadi terus memperhatikan Ayra diam-diam. Sekita dia merasa kesal karena diabaikan.


"Cih ... berani-beraninya dia mengabaikanku, bahkan begitu asik dengan ponselnya itu," batin Rayhan.


Rayhan melirik sekilas lalu tiba-tiba mengerem mendadak.


"Aw ... tak bisakah kau sedikit lebih hati-hati?" Ayra memegangi kepalanya yang terbentur dinding pintu mobil. Matanya menatap tajam Rayhan.


"Hah ... Kau kira kau itu siapa? seenaknya mengaturku ini itu," ujar Rayhan.


Ayra melongo tak percaya mendengar jawaban Rayhan.


"Hah ... apa kepalamu sakit? atau terbentur sesuatu?" Ayra menempelkan telapak tangan kanannya dikening Rayhan sembari telapak tangan kirinya ditempellkan di pantatnya sendiri.


"Cih, apa yang kau lakukan? kau menyamakan keningku ini dengan bokong stipis triplekmu itu? hah ... kau bercanda?" Rayhan tersenyum mengejek.


"Ish ... terus saja menghinaku, padahal kau telah membuat kepalaku terbentur. Bukannya minta maaf , kau malah mengomeliku!" Ayra bersungut-sungut kesal, bibirnya manyun dengan satu tangan menopang dagu.


"Terus yang kau lakukan itu apa? kau seenaknya mengabaikanku yang telah bersusah payah mengantarkanmu pulang. Hem ...," ujar Rayhan mendramatisir keadaan.


"Hah...Ap-"


"Sssttt...diam, aku belum selesai." Rayhan menempelkan telunjuknya tepat dibibir merah muda itu.


Ayra terpaku sesaat. Ia menatap dalam iris coklat didepannya itu.


"Astaga jantungku, apa tak bisa sedikit saja berkompromi, kenapa terus berdetak sekencang ini? dengan jarak sedekat ini mungkinkah Rayhan mendengarnya?" batin Ayra.


"Kau malah asik berbalas pesan di ponselmu itu. Huh ... kau pikir, aku ini hanya sopir taksi online?" lanjut Rayhan sembari menarik telunjuknya dari bibir Ayra.


"Baiklah, maafkan aku." Ayra tersenyum menatap Rayhan dengan pupy eyes nya.


"Astaga menggemaskan sekali," batin Rayhan.


"Nih!" Ayra menyodorkan ponselnya tepat didepan wajah Rayhan. Menunjukan isi pesannya itu.



"Aku hanya mengabari adikku, agar ia tak menjemputku malam ini," ujar Ayra.


"Hem...," ujar Rayhan.


"Astaga apa yang aku pikirkan ? kenapa aku merasa sangat kesal melihat senyum yang bukan untukku itu?" batin Rayhan.


Tiba-tiba Rayhan mengambil ponsel Ayra. Kemudian mengetikkan sesuatu.


"Apa yang kau lakukan? kembalikan ponselku!" Ayra menarik paksa ponselnya.


"Hah!" Ayra mengelengkan kepalanya melihat apa yang sudah diketik Rayhan.


"Kenapa? aku kan hanya menyimpan nomorku di ponselmu." Rayhan menggedikan bahunya, berpura-pura tidak mengerti.


"Hem ... iya sayang, kau hanya menyimpannya dengan nama " Tamvan Kesayangan". Hem ... benar-benar ya sayangku." Ayra segera memasukan kembali ponsel itu kedalam tasnya.


"Kau manis sekali saat memanggilku "sayang"." Rayhan tersenyum dan kembali memperhatikan jalanan kota palembang.


Kemudian Rayhan berhenti diwarung tenda pinggir jalan.


"Kenapa kia berhenti disini?" tanya Ayra yang nampak heran melihat ulah Rayhan.


Rayhan membuka pintu mobil kemudian berjalan mengitari mobilnya itu dan membukakan pintu untuk Ayra.


"Kau selalu banyak bertanya, kita hanya akan makan disini. Aku lapar." Rayhan menggandeng tangan Ayra mengajaknya duduk didalam warung tenda itu.


Ayrapun duduk berhadapan dengan Rayhan.


Rayhan melambaikan tangannya kepada salah satu pelayan disitu.


"Kak, saya pesan 2 porsi nasi, 1 porsi bebek bakar, udang goreng tepung, sama kepiting saos tiram ya, terus minumnya es jeruk sama alpukat kocok ya," ujar Rayhan tersenyum ramah.


Ayra hanya melongo melihat semua yang dipesan Rayhan.


"Bagaimana kamu bisa tau semua makanan kesukaanku?"


Rayhan menggedikan bahunya.


"Apa yang tak bisa aku ketahui? hem ... ini hanya sebagian kecil," jawab Rayhan acuh.


"Kau bahkan tak bertanya dulu, langsung saja mengajakku makan. Huh ... dasar seenaknya saja," ujar Ayra pelan.


Ayra menatap Rayhan tanpa berkedip.


"Bahkan bicara sepelan itupun dia masih mendengarnya, lalu suara genderang jantungku tadi apakah dia dengar juga ya?" Ayra nampak berfikir.


"Apa lagi yang kau pikirkan, sudahlah ayo kita makan dulu, suara cacing diperutmu itu mengganggu konsentrasi menyetirku," ujar Rayhan sambil mulai menyuapkan nasi dimulutnya.


Semburat merah muncul di wajah seputih pualam itu. Ayra mencoba mengatur ekspresinya, berharap Rayhan tak melihat wajahnya yang sudah semerah tomat.


"Maafkan aku, aku tak tahu kau bahkan mendengarnya," ujar Ayra menahan malu.


"Sudahlah, cepat habiskan makananmu! Apa perlu aku menyuapimu?" Rayhan mengedipkan matanya.


"Ish ... tak bisakah kau sedikit saja tahu malu? ini tempat umum." Ayra mendelik kesal dan segera melanjutkan makannya.


*****


Selesai makan mereka kembali melanjutkan perjalanan. Namun kemudian Rayhan berhenti didekat taman kota.



"Jangan bnyak bertanya lagi, ayo turun," ajak Rayhan.


"Kita mau ngapain disini? ini udah terlalu malam Kak Rey," ujar Ayra sedikit kesal.


Ayra menghentakan kakinya namun tetap mengikiuti langkah Rayhan.


"Diamlah, sini duduk disampingku." Rayhan mengajak Ayra duduk di bangku taman itu.


Semilir angin yang berhembus menerpa mereka di kedinginan malam. Langit ditaburi bintang-bintang yang berkelap kelip menambah keindahan langit. Tak lupa rembulan yang mengintip dari gelapnya awan.


"Indah, kan, sini kita berfoto." Rayhan mengambil ponsel dari saku celananya.


Ceklek...Ceklek...Ceklek...


Rayhan mengambil foto selfi mereka.


"Jangan sekaku ini, senyum donk." Rayhan menarik sedikit pipi Ayra agar terlihat tersenyum.


"Aw ... sakit ih." Arya memanyunkan bibirnya sembari mengusap-usap pipi yang dicubit Rayhan tadi.


"Menggemaskan sekali," batin Rayhan.


"Apa kau sengaja memancingku di dinginnya malam ini?"


"Hah, apa maksudmu? Aku bahkan tak melakukan apapun," ujar Ayra bingung sembari menatap Rayhan.


"Jangan memasang ekspresi begitu di hadapan orang lain! Jangan memanyunkan bibirmu itu lagi! Atau kau mau aku hukum hah ...?" ujar Rayhan satkatis.


Ayra sedikit berfikir menelaah ucapan Rayhan.


"Ish ... dasar mesum!" Ayra berjalan meninggalkan Rayhan.


"Sayang tunggu! kunci mobilnya kan masih ada padaku." Rayhan berjalan cepat menyesuaikan langkahnya dengan Ayra.


"Jangan marah, kau semakin menggemaskan." Rayhan menarik tangan Ayra dan menggandengnya menuju mobil.


"Apa di otakmu itu hanya dipenuhi kemesuman? " ujar Ayra mengejek sembari menjitak kepala Rayhan.


"Aw ... sekarang kau sudah mulai berani ya?" Rayhan mengusap kepalanya, berpura-pura kesakitan.


Ayra tersenyum melihat ekpresi Rayhan yang menurutnya lucu.


"Sudahlah, jangan mendramatisir, pukulanku tak ssakit itu." Ayra sudah duduk didalam mobil dan mulai memasang sabuk pengamannya sendiri.


Rayhan tersenyum melihatnya.


"Kau cepat sekali belajar. Teruslah menyesuaikan diri denganku sayang." Rayhan mengacak-ngacak rambut Ayra pelan.


"Ish ... singkirkan tanganmu, kau merusak rambutku." Ayra mengusap-ngusap rambutnya dengan tangannya sendiri.


Rayhan hanya tersenyum dan melajukan mobilnya membelah jalanan kota Palembang.


*****


Hai readers.. Makasih ya masih setia membaca cerita recehku ini, 😁😁😁 maafkan aku yang lama update nya 🙏🙏🙏


Jangan lupa like, coment, rate dan vote y . Biar aku tambah semangat nulisnya.


😊😊😊 nanti aku like,coment,rate dan vote balik kok😊😊😁🙏


Happy Reading.