My Chef

My Chef
#26 Pelampiasan



Terseok-seok Rayhan mencoba mengejar Ayra namun terlambat, Andri telah lebih dulu sampai dan membawa wanita itu masuk ke dalam mobilnya.


Seonggok daging merah dalam dadanya seakan berdarah menyaksikan wanita bersurai coklat itu jatuh dalam dekapan sepupunya sendiri.


"Ahhh ...!!" teriaknya kesal.


Melihat mobil itu mulai menjauh, sejauh pemikirannya tentang kedekatan mereka.


Rayhan memilih masuk kembali ke dalam mobilnya. Menginjak pedal —dengan kencang—meluncur pulang kerumahnya.


*****


Malam ini Nisha tampil sangat menawan dengan dress ketat selutut dan membiarkan rambut panjangnya terurai, ia turun dari mobil memasuki kediaman keluarga Sanjaya.


"Hem ... selalu saja sepi," ujar Nisha pelan.


Tok ... tok ... tok


Nisha mengetuk pintu bercat putih itu namun nihil tak ada sahutan dari dalam.


"Pasti Bibi sudah pulang dari sore tadi , Kak Ray di kamar kali ya," batinnya.


Tanpa ragu Nisha membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Berjalan pelan wanita dengan iris abu-abu itu menuju kamar Rayhan.


"Kak Ray," panggilnya. Namun tak ada sahutan dari dalam.


Memberanikan diri Nisha membuka pintu kamar Rayhan, bau alkohol menyeruak indra penciumannya.


"Kak, Ray," panggil Nisha sekali lagi.


Memencet saklar. Menutup mulut—terkejut—Nisha menghampiri lelaki yang tengan memegang botol alkohol itu.


"Kakak," ujar Nisha.


Tanpa mengindahkan panggilan Nisha. Rayhan langsung memeluk erat tubuh wanita dihadapannya. "kau datang, Sayang?"


Mendorong pelan Rayhan—membuat sedikit jarak antar keduanya. Dahi Nisha berkerut menampilkan lipatan-lipatan kecil. "Sayang? Kakak kenapa?" tanyanya bingung.


Rayhan tergelak. "Kenapa katamu! Hah!"


Mengguncang tubuh wanita dihadapannya. "Kau meninggalkanku! Tidak membalas ciumanku lalu pergi dengan lelaki lain!"bentak Rayhan.


"Maksud Kakak apa? Aku bahkan menunggu kakak bertahun-tahun, tanpa sekalipun berpacaran dengan lelaki manapun," papar Nisha.


"Kau tau, Andri sepupuku sendiri! Tapi kau malah berpelukan dengannya," ucap Rayhan.


Menyipitkan mata—bingung— Nisha berkata pelan, " Kakak mabuk?" tanyanya.


Menepuk pelan wajah lelaki beriris coklat itu," Kak, sadarlah!"


"Cih ... sadar kau bilang!" ketus Rayhan.


Plak! Sebuah tamparan mendarat dipipi mulus Nisha.


" Dasar wanita sialan, berani-beraninya kau mengacaukan perasaanku, Ayra," racau Rayhan.


Deg. Seperti jutaan meteor yang jatuh ke bumi, menghancurkan apa saja yang ada dibawahnya. Sekeping kama di dalam dadanya tak bersisa lagi, runtuh bersama derasnya bulir bening yang berlomba-lomba melompat dari iris abu-abu itu.


Mundur perlahan —kakinya tak dapat lagi menopang tubuh—luruh sudah pertahannya dihadapan Rayhan.


"Ini Cha-cha, Kak!" isakan keluar tanpa jeda dari bibir Nisha.


"Kak, apa yang terjadi? Kakak kenapa?" tanya Nisha.


"Hah! Wanita murahan, bagian mana saja yang telah disentuh lelaki itu!" teriak Rayhan.


Berjalan mendekati wanita yang terduduk lemah dengan kasar Rayhan membawanya dalam gendongan.


Nisha terkejut lalu menggerak-gerakkan kakinya mencoba melepaskan diri.


"Apa yang mau Kakak lakukan?" bibir itu bergetar setelah mengucapkan pertanyaan yang bahkan tak pernah didengar lelaki yang sedang memgangkat tubuhnya.


Rayhan menghempaskan tubuh itu di atas kasur. Seringai tajam menghiasi bibir lelaki bernetra coklat itu. "Diamlah! Aku akan memberikanmu pelajaran. Hem ..."


"Kak sadarlah, aku Cha-cha!" teriak Nisha tepat pada wajah merah padam dihadapanya.


"Hah! Diamlah, Sayang. Atau kau mau aku berbuat kasar?" membuka dasi kemudian dengan cepat mengikat kedua tangan wanita itu di tepi ranjang.


"Kau hanya milikku," ujarnya kemudian dengan rakus mengecup bibir itu, menggigit dan menghisap sari-sari disetiap inci rongga mulut Nisha.


Memejamkan mata."Apa yang harus kulakukan? Aku tak bisa melawan," batin Nisha.


Seperti orang gila, Rayhan mengambil sebotol wine lalu menuangkannya perlahan ke tubuh Nisha. Merasakan tetesan wine —seketika mata Nisha terbuka— dengan tatapan memohon Nisha berucap, "Kak, plise! Jangan lakuin ini, Kak."


Rayhan diam kemudian membuka paksa mulut Nisha dengan satu tangannya lalu memasukkan wine hingga tandas melewati kerongkongan wanita dibawahnya.


Nishapun mabuk, karena ini pertama kalinya ia merasakn sensani aneh dari minuman beralkohol.


Tak ingin melewatkan kesempatan, Rayhan mulai melancarkan lagi aksinya mengecup setiap lekuk tubuh Nisha, memaikan kedua benda kenyal itu lalu menghisapnya bergantian.


"Aah ..." desahan halus meluncur dari bibi mungil Nisha.


"Kau menikmatinya?" racau Rayhan.


Nisha memejamkan mata sembari mengangguk pasrah.


Lalu kecupan itu terus turun sampai ke inti Nisha, Rayhan bermain-main disana setelah merasa siap ia mulai memasukkan miliknya dan mereka berduapun menyatu dengan desahan yang bersaut-sautan dari keduanya.


Pengaruh alkohol membuat keduanya suka rela melakukan malam pertama yang seharusnya tidak pernah terjadi.


Setelah pergulatan panjang itu Rayhan terkulai lemas dan merebahkan diri disamping Nisha.


"Makasih, Sayang." Kecupan mesra mendarat di kening wanita yang terbaring tanpa sehelai benang pun.


Kemudian Rayhan menarik selimut menutup kedua tubuh mereka dan tertidur bersama sampai pagi.


*****


Pagi hari Rayhan terbangun lebih dulu. Mengerjapkan matanya dia mulai mengumpulkan kesadaran."Cha-cha!" jeritnya.


Nishapun terkejut dan langsung terbangun dari tidurnya. Tanpa bisa dicegah matanya berkabut lalu mengalirkan sungai yang menganak pilu.


Rayhan menatap iba dan perasaan bersalah menyusup kedalam hatinya.


"Semalem Kakak mabuk," jelas Nisha sambil terisak.


"Hiks ... hiks... Kakak kasar banget sama aku, sampai kita melakukan ini, Kak."


Mendekap erat wanita di sampingya, Rayhanpun menangis, perasaan bersalah menyusup dalam saat menyadiri semua kesalahannya. Kejadian demi kejadian semalam seolah berputar-putar menghantui pikiran mereka masing-masing. "Tenanglah Cha." Rayhan mengusap lembut punggung Nisha memberikan sensani kehangatan.


Nisha masih terus terisak sembari memeluk erat pria yang telah mengisi hatinya sejak ia kecil. "Aku takut, Kak. Aku kotor!"


Memundurkan tubuhnya lalu menangkupkan kedua telapak tangan di wajah Nisha —menatapnya dalam— Rayhan berujar,"Kakak akan bertanggung jawab."


Binar bahagia seketika tercetak jelas dibalik netra abu-abu yang berkabut.


"Janji?" kelingking Nisha terangkat ke atas kemudian disambut dengan kelingking Rayhan yang menautkan janji mereka.


Senyum manis terpancar, Nisha bertanya lirih,"Tapi gimana hubungan Kakak sama Ayra?"


Rayhan menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir pucat Nisha. "Sttttt... jangan sebut nama orang lain saat kita bersama."


Nisha mengangguk mantap lalu melepaskan pelukan Rayhan."Aku mandi dulu ya, Kak. Badanku terasa lengket karena ulah Kakak semalam."


Rayhan mengedipkan mata." Mandilah, sebelum aku memandikanmu."


"Iihh... Kakak mesum." Nisha berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi.


Rayhan memperhatikan bekas pergulatan mereka semalam mencari bercak merah yang menjadi tanda keperawanan wanita. Namun nihil, dia tak menemukan apapun.


"Apa Cha-cha sudah tidak perawan lagi ya? Tapi kenapa dia bilang ini yang pertama? Aku juga merasakan sensasi berbeda walau semalam keaadaanku tidak sepenuhnya sadar," batin Rayhan.


*****


Hay readers, makasih ya masih setia membaca ceritaku ini. Maafkan lah aku yang jarang update. Dunia nyata mengambil seluruh waktu yang kupunya, memaksaku tenggelam dalam berbagai kesibukan.😁🙏 yang belum sempat aku feedback balik, sabar ya, bakal aku feedback satu per satu ya.