My Chef

My Chef
#17 Jatuh Cinta



Dua minggu ini Rayhan dan Ayra sudah mulai akrab, bahkan Ayra tak canggung lagi memanggil Ryhan "Kak Rayhan". Namun status mereka masih belum jelas. Ayra sudah mengatakan kalau dia tidak ada perasaan apa-apa kepada Rayhan.


*****


Seperti biasa hari ini Ayra bekerja, ia memakai setelan seragam kemeja pink bunga-bunga yang dipadukan dengan rok pendek selututnya. Dia mendapatkan beberapa potong kemeja seragam khas restoran ini yang dipakai bergantian sesuai jadwalnya.


Jam istirahat Ayra pun tiba. Ayra mulai berjalan menghampiri Azizah.


"Kak, ke dapur yuk!" ajak Ayra.


"Yuk!" Azizah langsung merangkul Ayra dan berjalan beriringan menuju dapur.


Sesampainya didapur mereka langsung mengambil menu yang telah dipersiapkan khusus untuk karyawan tak lupa beberapa potong pempek, lalu mereka berdua kembali duduk di tempat yang sama setiap harinya. Mereka memilih menduduki meja paling pojok.


"Kak hari ini menunya pindang kepala gabus ya, enak banget ni Kak." Ayra tersenyum senang sambil menyedokkan makanan kedalam mulutnya.


"Iya Ra, tumben banget ni, sedaaaaap deh." Azizah tersenyum lebar.


Mereka berdua makan dengan lahapnya, tanpa menyadari kehadiran seseorang yang berjalan mendekat.


"Dihh ... lahap banget makannya." Andi duduk ikut bergabung bersama mereka.


Ayra menoleh sambil melanjutkan menyuapkan nasi kedalam mulutnya.


"Eh ... Kak Andi, makan Kak," tawar Ayra.


"Hemm ... Kakak sudah makan kok, Ra." Andi tersenyum manis membuat lesung pipi itu terlihat jelas.


"Cepet banget kamu makan An? coba bareng aja sama kita." Azizah mengedipkan matanya dan menoleh ke arah Ayra.


Andi tersenyum melihat tingkah Azizah.


"Kamu ada-ada aja, Zah," ujar Andi, sekilas wajahnya memerah.


Ayra yang tak menyadari sedang dibicarakan mereka hanya diam dan melanjutkan makannya.


"Ra, kok kamu diem aja sih?" Azizah sedikit kesal karena tak direspon Ayra.


"Eh ... i-iya Kak, kenapa?"


Andi menatap Ayra lama. Dia memperhatikan iris hitam besar itu yang masih menunduk menatap takjub makanan didepannya.


"Manisnya," batin Andi.


"Hem ... gak papa Ra, lnjutin aja makannya." Andi beranjak hendak meninggalkan mereka.


Tanpa sadar tangan Andi bergerak mengacak-acak pucuk kepala Ayra.


" Makan yang banyak ya," ujar Andi sambil belalu meninggalkan mereka.


"Ih ... Kak Andi, kan rambut aku jadi berantakan ni." Ayra seketika menghentikan kegiatan makannya, dan mengerucutkan bibirnya.


Azizah tertegun sesaat melihat kejadian barusan. Entah kenapa sesuatu di dalam dadanya begitu nyeri, namun ia berusaha menyembunyikannya.


"Eh ... Ra, kayaknya Andi suka beneran sama kamu," ujar Azizah begitu antusias.


"Ah ... gak mungkin Kak, perasaan Kakak aja tuh," jawab Ayra cuek dan melanjutkan makannya.


"Kamu sadar nggak sih?" ujar Azizah.


"Jangan mulai lagi deh Kak, kita udah pernah bahas ini. Kak Andi tu emang baik kak ke semua orang, bukan berarti dia suka sama aku," ujar Ayra sedikit kesal.


"Terus buat apa coba, dia nyamperin tiap kita ada didapur? dia ngajakin kamu nonton. Terus barusan dia sampe ngacak-ngacak rambut kamu gitu. Dia nggak ngelakuin itu kesemua orang ,Ra." Azizah sambil menyendokkan makanan dimulutnya.


"Buktinya dia gak gitu kan ke aku cuma ke kamu aja," ujar Azizah melanjutkan.


Ayra sedikit memicingkan mata mendengar ucapan Azizah tadi.


"Jangan bilang Kak Izah cemburu ni," tebak Ayra.


Azizah melotot tak percaya mendengar ucapan Ayra. Iris hitam sipit itu terlihat sangat indah.


"Kok, Ayra bisa tau ya? apa ketara banget ya," batin Azizah.


"Ng-nggak lah Ra, apaan sih kamu," ujar Azizah yang berpura-pura gak tau dan melanjutkan mengunyah pempek yang tadi dia ambil dipiring kecil.


"O iya, gimana hubungan kamu sama pak Rayhan?" tanya Azizah mencoba mengalihkan perhatian.


"Aku nggak tau Kak." wajah Ayra nampak sendu.


"Iya sih Kak, kayaknya aku mulai suka deh Kak sama pak Ray," ujar Ayra malu-malu. Ayra bahkan tak bisa menyembunyikan semburat merah yang tiba-tiba muncul dipipinya.


"Cie ... mukanya sampe merah gitu." Azizah menyenggol bahu Ayra dan terus menggodanya.


"Ih ... Kak Izah mah gitu, terus aja godain aku. Aku do'ain deh Kakak cepet ngerasain jatuh cinta juga kayak aku." Ayra sedikit mngambek tapi tetap tak bisa menyembunyikan semburat merah diwajah seputih pualamnya.


"Dih ... gitu aja ngambek!" Azizah tersenyum.


"O iya kapan nih kamu mau ungkapin perasaan kamu ke pak Ray , Ra?"


" Ayra malu lah Kak, masa aku duluan yang ngungkapinnya? lagian aku kan cewek, gengsi dong."


"Makan tuh gengsi!" ucap Azizah sambil beranjak mengambil minum kemudian kembali dan duduk lagi di sebelah Ayra.


"Gak papa Ra, zaman sekarangkan emansipasi wanita." Azizah memaikan mata sipitnya, ia melotot tapi mata sipit itu tetap saja meredup.


"Dih ... Kakak apaan sih." Ayra ikut tertawa melihat tingkah Azizah, yang terlihat begitu lucu dan menggemaskan


Ayra tak mampu menahan tawanya. Namun tiba- tiba seseorang lewat tepat dihadapan mereka.


"Suara tawa kamu kedengeran kemana-mana berisik tau." Andri berjalan dengan gelas ditangannya.


"Eh ... Kak Andri, sejak kapan disini Kak?" tanya Azizah.


"Udah dari tadi kok Zah." Andri tersenyum manis.


"Ikut gabung sini Kak, duduk sama kita," ujar Ayra menawarkan.


Andri hanya diam dia memicingkan mata sesaat memandang Ayra. Ayra yang dipandang begitu tiba-tiba kikuk.


"Aduh apa aku salah ngomong ya? kenapa dia ngeliatin begitu banget?" batin Ayra.


"Nggak, aku banyak urusan PENTING," ujar Andri sambil berlalu meninggalkan mereka.


"Dih dasar jelangkung, datang tiba-tiba terus pergipun tiba-tiba," ujar Ayra pelan.


Dari kejauhan Andri berhenti sejenak dan menoleh kemudian ia melanjutkan langkahnya lagi.


"****** kamu Ra, kayaknya Andri denger tu," kata Azizah.


"Ah ... gak mungkin deh Kak, aku kan ngomongnya pelan banget, masak dia bisa denger sih?" Ayra nampak berfikir sesaat.


"Ya kali aja Ra," jawab Azizah cuek.


"O iya Kak, Aku ngerasa kalo Andri tu selalu menatap aku dengan tatapan aneh Kak, kayak ada yang salah gitu Kak?"


"Selalu?" Azizah sedikit curiga.


"Iya kan kita udah ketemu beberapa kali Kak. Pas di mall itu kan dia senyum sama Kakak terus tadi juga gitu, dia jawab Kakak tu sambil senyum Lah giliran sama aku malah sinis gitu aku tanya juga jawabnya sinis," ujar Ayra sedikit bingung.


"Mungkin cuma perasaan kamu aja Ra, udah deh daripada kamu mikirin dia, mending pikirin aja tu gimana caranya nembak pak Rayhan."


"Tapi ... ," ucapan Ayra terputus.


"Aduh Ayra Meysa Naira, ini ni kesempatan kamu. Toh pak Rayhan juga kan yang deketin kamu duluan. Apa kamu mau dia diambil orang lain duluan?" tanya Azizah asal.


"Kok Kakak ngomong gitu?" tuding Ayra.


" Kamu gak sadar apa? pak Rayhan itu sempurna Ra, mana ada cewek yang bakal nolak dia. Cewek - cewek banyak yang mendekati bahkan terang-terangan ngungkapin perasaannya."


Ayra diam mencerna kata-kata Azizah. Kemudian mengangguk meski tak sepenuhnya mengerti. Bukankah terlalu cepat sedangkan mereka baru akrab beberapa minggu ini.


*****


**Hai readers... Makasih ya masih setia membaca cerita recehku ini, 😁😁😁


Jangan lupa like, coment dan vote ya .


nanti aku like,coment dan vote balik kok😊🙏


Kira-kira nanti Ayra bakal ngungkapin perasaannya nggak ya??🤔🤔


Tunggu di part selanjutnya ya.


Happy Reading 😊😊😊🙏**