
*****
Kemarin malam Ayra merasa sangat haus, Ayra keluar kamarnya berniat mengambil minuman dingin di kulkas.
Namun tanpa sengaja Ayra mendengar pembicaraan kedua orang tuanya, yang sedang mengobrol di ruangan keluarga.
Ayra menghentikan langkahnya sejenak dan mendengarkan pembicaraan mereka secara diam-diam.
"Ma, Papa sebentar lagi akan dipensiuankan dini, karena keadaan Papa sekarang, yang tidak memungkinkan untuk bekerja lagi," ujar Papa pelan.
"Iya Pa, Mama paham kok, tapi memang seperti itulah prosedurnya, kita harus gimana lagi Pa," ujar Mama pasrah.
Papa menghembuskan nafas pelan.
"Huuhhh ... bagaimana dengan kuliah Ayra Ma? Kalau hanya sekedar untuk hidup sehari-hari dan sekolah Angga Papa masih bisa, gaji pensiunan itu masih cukup Ma."
Mama mengusap pelan punggung Papa.
"Sudah Pa, jangan terlalu dipikirkan tidak baik untuk kesehatan Papa, lagi pula kondisi papa masih belum kondusif."
"Iya Ma, tapi tetap saja Ma, Ayra sangat berprestasi apa lagi dia mendapatkan beasiswa di UNSRI, Papa gak mau kita menyia-nyiakan kesempatan yang Ayra dapatkan dengan susah payah Ma," ujar Papa sedikit frustasi.
Papa menjambak rambutnya sendiri karena kesal. Mama langsung merangkul Papa, mencoba menenangkannya.
"Sudah Pa, sudah! Nanti kita cari jalan keluarnya bersama, Mama akan membuka kembali onlineshop yang sudah lama tidak Mama jalani."
"Tapi Ma ...."
Belum sempat Papa melanjutkan omongannya, Mama sudah mencium kening Papa lembut.
Cup ....
"Sudahlah sayang, jangan terlalu banyak pikiran, tak baik bagi kesehatanmu."
"Astaga Mama, agresif sekali ya," batin Ayra yang masih mengintip mereka.
"Mama sekarang tambah genit ya, apa kita perlu menambah adik untuk Angga," kata Papa sambil tertawa.
"Astaga orang tuaku ini, mata aku bisa terkontaminasi kalau terus berada disini, entah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya," batin Ayra.
Baru saja Ayra berbalik menuju kamar tiba-tiba ia tak sengaja mendengar Papanya berkata.
"Yuk Ma, kita lanjutkan didalam kamar saja," kata Papa genit sambil ******* bibir mama sekilas.
"Astaga mataku ..." Ayra menutup mata menggunakan tangannya namun tetap saja jari-jari dilonggarkannya.
"Aku harus segera kekamar ni sebelum melihat adegan-adegan selanjutnya."
"Dasar orangtua, perasaan tadi mereka sedang melankolis eh tiba-tiba aja ..." batin Ayra lagi.
Ayra segera berjalan hati-hati dan masuk kekamarnya.
"Ma, Pa, tenang aja ya Ayra bakalan mandiri kok. Ayra bakal cari kerja dan tetap kuliah," ujar Ayra pelan dan diapun tertidur.
*****
Hari ini Ayra begitu semangat, karena pagi tadi Dia mendapat telepon dari Pak Bagas.
Pak Bagas menyuruhnya untuk datang ke restoran tersebut dan langsung bisa memulai bekerja.
Ayra duduk santai diteras rumahnya sambil terus terseyum. Sampai Angga menghampirinya.
" Kak, senyum-senyum terus dari tadi," ujar Angga.
"Hemmm ..." jawab Ayra singkat sambil tersenyum sendiri.
"Ada apaan sih kak, di tanya malah hem..ham.hem aja," ujar Angga kesal.
"Kakak tu bukan Nisya Sabyan ya, yang kalo cuma ham ... hem ... ham ... hem aja udah merdu banget tu suara," ujar Angga melanjutkan ocehan nya.
Seketika tawa Ayra pecah.
"Pppfff ... hahahahahhaha, apa-apan sih Ngga kok jadi ke Nisya Sabyan," ujar Ayra yang masih terus tertawa.
"Makanya jangan kepo, orang senyum tu berarti lagi bahagia Ngga," ujar Ayra melanjutkan omonganya.
"Oh ... paling karena dapet kerjaan kan dari Om Bagas," ujar Angga menyelidik.
"Tau aja kamu, pasti nguping kan pas Kakak lagi telepon tadi," ujar Ayra.
"Hehehe ... kan ini juga Kakak yang ngajarin," jawab Angga sambil terus tertawa.
"Dih ... kok jadi Kakak yang kena," ujar Ayra.
"Sana cepetan kabarin Kak Nisha, ya kali aja kan, Kak Nisha bisa sedikit membantu, mengubah penampilan Kakak," ujar Angga menahan tawa.
"Ihhh ... dasar jahil, sana-sana gangguin orang aja." Ayra mengusir Angga dengan mendorongnya pelan.
"Ehm ... bener juga ya kata Angga, aku bakal whatsapp Nisha dulu ni," ujar Ayra dan langsung mengeluarkan ponsel-nya.
Tak lama kemudian handphone Ayra berdering. Lagu I Like You So Much, You'll Know It (A Love So Beautiful) mangalun indah dari handphone-nya.
I like your eyes, you look away when you pretend not to care.
I like the dimples on the corners of the smile that you wear.
I like you more, the world may know but don't be scared.
Coz I'm falling deeper, baby be prepared
I like your shirt, I like your fingers, love the way that you smell.
To be your favorite jacket, just so I could always be near.
"Halo Nish," ujar Ayra.
"Iya Ra, kamu mau minta tolong apaan? cepetan langsung ngomong, biar aku bisa cepet ke rumahmu?" kata Nisha sedikit kesal dan terburu-buru.
"I-iya Nish, sebenernya aku diterima bekerja, dan ..." omongan Ayra terputus karena langsung dipotong sama Nisha.
Nisha sedikit berteriak kesal.
"APAA!! Kamu mau kerja Ra? Kuliah kamu gimana Ra?" tanya Nisha.
"Dih...jangan dipotong dulu Nish, aku belum selesai ngomong juga," ujar Ayra kesal.
"Iya-iya, ngomong deh cepetan," ujar Nisha.
"Aku mulai bekerja di restoran tempat, temannya Om Bagas bekerja. Mulainya sore ini Nish, tapi tenang aja, aku cuma kerja sampingan aja, jadi paginya bisa kuliah," ujar Ayra menjelaskan.
"Nah, aku mau minta tolong kamu buat dandanin aku Nish, hehehe," ujar Ayra sambil terkekeh.
"Ya ampun Ra, aku kira mau minta tolong apa, hem ... ya udah sebentar lagi aku ke rumahmu ya," jawab Nisha.
"Iya Nish, makasih ya, asalamu'alaikum," ujar Ayra.
"Walaikumsalam," ujar Nisha.
Klik... sambungan telepon terputus.
*****
30 menit kemudian Nisha sampai di rumah Ayra.
Tiii...Tiin...Tin...
Terdengar suara klakson mobil didepan rumah Ayra.
"Kayaknya Nisha udah dateng ni," ujar Ayra senang. Baru saja Ayra melangkahkan kaki menuju pintu tiba- tiba Angga datang mendekat. Angga menepuk pundak Ayra.
" Kak, udah sih biar Angga aja yang buka."
"O ya udah, Tumben banget kamu Ngga, gak pakek disuruh lagi," ujar Ayra sambil tersenyum.
Angga hanya diam dan langsung menuju keluar rumah dan membukakan pagar.
"Hay kak." Angga melambaikan tangan kepada Nisha.
"Huumm ..." sungut Nisha.
Nishapun keluar dari mobilnya dan langsung menghindari Angga.
Angga dengan cepat menarik tangan Nisha.
"Dih ... Kakak buru-buru banget, tungguin dulu," ujar Angga.
Nisha menghempaskan tangannya agar terlepas dari Angga.
"Kamu apa-apaan sih Ngga, pegang-pegang tangan Kakak," ujar Nisha yang kesal.Nisha terus saja mengerucutkan bibirnya. Tingkah Nisha membuat Angga gemas.
Angga dengan cepat mengecup bibir Nisha sekilas.
"Cup ..." Angga mengedipkan matanya genit dan langsung berlari meninggalkan Nisha.
" ANGGA!!!" teriak Nisha kesal.
Tiba-tiba Ayra muncul dan mengagetkan Nisha.
"Huh ... huh ... Nish, kamu kenapa?" ujar Ayra sambil ngos-ngosan.
"AYRA! tarik nafas hembuskan, tarik nafas hembuskan," ujar Nisha menenangkan Ayra.
"Nish, kamu kenapa sih teriak-teriak? Aku kan kaget dengernya," ujar Ayra.
"Ng-ng-nggak papa kok Ra, tadi ada tikus aja, aku kaget," ujar Nisha tebata-bata.
"Tapi kok tadi kayanya kamu nyebut nama Angga deh." Ayra memicingkan mata menatap Nisha sedikit curiga.
" Kamu salah denger aja Ra, udah ah ,yuk kita kekamar kamu aja," ujar Nisha.
"Dih ... kamu Nish, lihat tikus aja, mukamu sampe merah kaya tomat gitu," ujar Ayra sambil terseyum lalu menggandwng tangan Nisha menuju kamarnya.
"Ya ampun, muka aku, ini gara-gara Angga. Dasar bocah tengil, buat aku deg-degan aja," batin Nisha.
"Ehv... aku mikir apa sih?" batin Nisha.
Tanpa sadar Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa Nish?" tanya Ayra bingung.
"Eh ... nggak papa kok Ra," jawab Nisha.
******
Hai readers.. Makasih ya masih setia membaca cerita recehku ini, 😁😁😁
Jangan lupa like, coment, rate dan vote y .
😊😊😊 nanti aku like,coment,rate dan vote balik kok😊😊😁🙏
part selanjutnya kita lihat ya kira-kira gimana jadinya kalau Ayra didandanin Nisha?🤔🤔
Happy Reading.
******