My Chef

My Chef
#23 Tunangan



Ayra masih menangis sejadi-jadinya di tempat itu. Ia merasa semuanya sia-sia, semua yang telah ia dan Rayhan lewati beberapa minggu ini, kehangatan, pelukan bahkan ciuman yang kadang Rayhan berikan seakan tak berarti. Cinta yang pertama kali ia rasakan sepanjang hidupnya harus kandas bahkan saat belum dimulai. Terlebih sahabat terbaiknya sendiri yang mendapatkan semua cinta dari orang yang juga ia cintai.


Sesaat Ayra menyadari kehadiran seseorang. Ia menoleh kesamping dan orang itu sudah duduk disampingnya. Ayra mengamati siluet itu sembari menghapus bulir bening yang berlomba keluar dari sepasang iris hitamnya.


"Kak Andri!" Ayra kaget sedikit meninggikan volume suaranya.


"Kakak ngapain disini?" tanya Ayra dengan suara serak.


"Aku lihat apa yang kamu lihat barusan, Ra," ucap Andri lembut tidak seperti biasanya


Ayra menatap wajah Andri dalam. Wajahnya cukup manis walau kulitnya tak seputih Rayhan namun menambah kesan eksotis. Apalagi saat menatap netra biru itu yang mulai tergenang dan akan segera luruh membasahi pipinya.


Ayra bisa merasakan luka yang sama melalui tatapan matanya itu. Entah kenapa, Andri menggengam sebuah cincin dan memutar-mutarnya mencoba menghalau bulir bening yang perlahan jatuh menetes dipipinya.


"Sini tangan kamu!" Andri menarik paksa tangan Ayra dan menyematkan cincin itu di jari Ayra.


Ayra diam tak bereaksi namun ia juga tidak menolak. Cincin itu pas melingkar di jarinya.


Andri mencoba menghapus airmata Ayra. Ia mengusapkan ibu jarinya di kedua bola mata hitam itu. Tanpa berkata apa-apa Andri pergi begitu saja meninggalkan Ayra yang terluka.


Dibawah kerlip bintang yang bertaburan, bulan yang seolah mengintip mereka, menjadi saksi kejadian malam ini. Airmata Ayra mengalir deras tak tertahankan membayangkan andai Rayhan yang memasangkan cincin itu bukan Andri.


Ayra pulang sendiri kerumah dengan perasaan hampa.


****


Hari ini Ayra akan berangkat bekerja seperti biasa, namun tiba-tiba terdengar suara klakson mobil.


Ayra langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya. Ia berfikir mungkin itu Rayhan namun dugaannya salah setelah membuka pagar ia melihat mobil merah keluaran terbaru dengan plat yang tidak di kenali.


"Loh kok beda ya mobilnya? Apa Rayhan ganti mobil lagi ya?" batin Ayra.


Dugaan Ayra salah, yang keluar dari mobil adalah Andri dengan setelan kaos polos biru dan celana pendek coklat menambah kesan santai pada lelaki bermata biru itu.


"Pagi, Ra." Andri tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.


Ayra terkejut—bengong melihat sikap Andri.


"Nih anak kesambet apaan dah? Tiba-tiba dateng, terus senyum manis lagi," batin Ayra.


Andri nelambaikan tangan tepat di muka Ayra yang terlihat terpaku.


"Jangan menatapku sedalam tu, aku memang tamvan kok, Ra." Andri berlalu dengan cueknya, kemudian berjalan menuju rumah Ayra.


Ayra segera mencegah Andri. Ia langsung menarik lengan kokoh Andri.


"Eh, mau kemana kamu?" tanta Ayra.


Andri menghentikan langkahnya. Menatap tangan Ayra yang masih memegang lenganya.


"Duh, udah main pegang-pegang aja sih, kamu." Andri tertawa.


Ayra tersadar maksud Andri barusan, ia buru-buru melepaskan cekalan tangannya.


"Gak usah ge er dah, lagian ya kamu main ngeloyor aja mau masuk ke rumahku!" Ayra bersedekap dada.


"Ya kan aku mau pamit sama orangtua kamu, Ra." Andri melanjutkan langkahnya lagi. Ayra akhirnya pasrah dan mengikuti langkahnya dari belakang.


"Asalamu'alaikum," ucap Andri sopan.


Taklama Mama Ayra keluar dengan mendorong kursi roda Papanya.


"Eh, Nak Andri kan!" Yang kemarin nganterin Ayra pulang?" Mama mencoba mengingat-ngingat.


"Iya, Tante. Aku mau jemput Ayra, Te," ujar Andri sopan.


"Oh, ya udah silahkan. Makasih ya Nak udah repot-repot gini." Mama Ayra tersenyum Ramah.


"Ya udah kalo gitu kami pamit dulu ya ,Om, Tan," pamit Andri sopan sembari tersenyum.


Ayra mencium tangan kedua orangtuanya disusul Andri yang juga melakukan hal yang sama.


"Ternyata dia sopan juga ya," batin Ayra.


Papa Ayra hanya tersenyum.


"Hati-hati di jalan ya," ucap Papa.


Mereka berdua masuk kedalam mobil. Andri dengan santai melajukan mobilnya membelah jalanan kota Palembang.


"Kak, aku bingung deh sama Kakak. Kakak kerasukan apa sih? Tiba-tiba dateng, jemput aku gini. Kayak jelangkung tau nggak sih, Kak," ucap Ayra ketika didalam mobil merah Andri.


"Bukannya udah jelas ya ,Ra? Kamu udah terima juga kan cincin dari aku semalem." Andri langsung menginjak pedal gas dan membuat mobil melaju kencang.


"Huh ... maksud Kakak kita jadian?" Tangan Ayra bersedekap di dada.


Andri menggeleng pelan sambil terus memperhatikan jalan.


Andri menoleh dan menatap Ayra sekilas.


"Tu-na-ngan!" jawab Andri dengan menekankan tiap kata yang ia ucapkan.


Ayra melongo, iris hitamnya itu membulat sempurna. "Tunangan!" teriaknya.


Andrie mangangguk sembari tersenyum.


"Iya, Sayang," ucap Andri.


Ayra meremas rambutnya sendiri. Frustasi mendengar jawaban Andri.


"Astogeh, serius Kak! Aku bahkan gak pernah bilang iya," ujar Ayra kesal.


"Tapi kamu kan gak nolak, pas aku pasangin cincin itu," jawab Andri cuek, tatapannya fokus menperhatikan jalan.


"Kakak gila ya? Tu kepala abis terbentur apa sih?" Ayra spontan menjitak kepala Andri.


"Dih ... sakit tau, orang lagi nyetir juga, main jitak-jitak aja," ucap Andri tanpa menoleh ke arah Ayra.


Ayra makin kesal dan langsung menghadiahkan cubitan-cubitan mesra, (eh gak deh, kan dicubit sakit ya bukan mesra)😁🙏🙏 pada lengan kokoh yang sedang menyetir itu.


"Aduh, sakit Ra. Kamu bar-bar banget sih." Andri tiba-tiba mengerem mendadak alu menepikan mobilnya di pinggir jalan tak jauh dari taman kota.


"Ati-ati dong bawa mobilnya." Ayra kaget kemudian membuka sealbelt nya hendak keluar mobil.


"Apa dia mau nurunin aku disini ya?" pikir Ayra.


Andri langsung membukakan pintu mobil untuk Ayra kemudian menyeret Ayra menuju bangku taman.


"Aw ... pelan-pelan, Kak. Sakit nih tangan aku." Ayra berjalan tergopoh-gopoh mengikuti langkah Andri.


"Bawel," ucap Andri kemudian melepaskan tangan Ayra dan mendudukannya di bangku taman itu.


"Ngapain kita disini, Kak?" tanya Ayra.


Andrie menarik nafas—kesal dengan sikap Ayra.


"Dasar lemot," batin Andri.


Andri kemudian duduk disamping Ayra.


"Kamu bawel banget ya, kamu sadar nggak kalo kamu terus-terusan gitu di dalam mobil ...." Andri sengaja menggantungkan ucapannya.


"Emang kenapa, Kak," tanya Ayra dengan wajah polosnya.


"Kamu mau kita kecelakaan terus meninggal ditempat. Hah!" ujar Andri kesal.


Ayra menganga lalu menggelengkan kepala mendengar ucapan Andri.


"Iya deh Kak, maaf ya. Pikiranku tu lagi kacau, Kak," ucap Ayra sambil mencoba melepas cincin di jarinya namun hasilnya nihil cincin itu melekat erat di jari tangannya.


Andrie memegang tangan Ayra, iris biru itu menatap dalam manik hitam dihadapannya mengalirkan sensani aneh bagi keduanya.


"Pikiranku juga lagi kacau, Ra," ucap Andri sendu.


Ayra menggelengkan kepala menatap hina ke arah Andri.


"Oh, jadi karena kita sama-sama kacau, sama-sama terluka, wajar kita tiba-tiba tunangan gini?" Ayra mencibir.


"Cih ... gila!" ujar Ayra.


Andrie cuek lalu memperhatikan arloji yang ia gunakan, menciba mengalihkan pembicaraan.


"Eh, udah jam setengah 3 ni, ntar kamu telat lagi. Yuk kita pergi." Andrie menggandeng tangan Ayra mesra menuju mobil.


"Dasar aneh," gerutu Ayra namun ia tetap mengikuti langkah Andri.


Andrie diam dan tidak menanggapi omongan Ayra. Angin sepoi-sepoi ditaman ini lebih menarik untuk dinikmati ketimbang menanggapi ocehan Ayra.


Mereka masuk mobil dan melanjutkan perjalanan kembali. Ayra hanya diam dengan muka yang di tekuk serta bibir manyunnya.


Andri tersenyum melihat tingkah Ayra.


"Nanti juga kamu bakal tau, Ra. Astaga ngegemesin banget sih," batin Andri.


*****


Happy reading


Makasih buat like, coment dan rate dari kalian🙏🙏🙏🤗🤗 Makasih masih mengikuti cerita ini.


Mari kita selalu saling mendukung ya🤗🤗👉👈