My Chef

My Chef
#7 Rasa yang Berbeda



*****


Melihat sikap Nisha yang sedikit canggung dan mencurigakan. Ayra langsung menduga Angga penyebabnya


Ayra masuk ke kamar Angga dan menjewer telinganya.


"Nih rasain kamu Ngga." Ayra kesal dan terus menjewer telinga Angga.


"Aduh Kak, sakit Kak, duh ampun Kak." Angga mengadu kesakitan memegangi telingan nya.


"Kakak kenapa sih?" tanya Angga yang masih mengusap-ngusap telinganya.


" Kamu pasti jahilin Kak Nisha lagi kan?" tanya Ayra kesal.


"Ng-nggak kok Kak," jawab Angga sedikit terbata.


"Kakak aja yang datang tiba- tiba gangguin Angga," jawab Angga kesal.


"Kakak tu udah ganggu banget tau, orang lagi asik juga," batin Angga kesal.


"Ganggu apaan, dasar bocah tengil, cepetan ya Kakak tunggu di meja makan!" kata Ayra sambil berlalu meninggalkan Angga.


"Iya Kak, sana keluar dulu, Angga tinggal nyisir doang kok" jawab Angga.


"kenapa Kak Nisha tadi diem aja ya, gak nolak juga malah ngbales ciuman aku," batin Angga.


"Apa Kak Nisha suka juga ya sama aku?" gumam Angga pelan.


Angga mengelengkan kepala dan menepis semua pikirannya itu lalu segera menyusul kemeja makan.


*****


"Gimana Ma, Pa, enak nggak makanannya? tanya Ayra, sambil memasang pupy-eyes nya.


"Enak kok sayang, kamu sama Nisha emang udah pinter masak ni," jawab Mama ayra sambil tersenyum.


" Iya enak banget Nak, kayaknya anak-anak Papa udah besar ya, udah bisa masak enak lagi," kata Papa Ayra.


" Udah bisa jadi mantu ni." Papa Ayra menggoda mereka berdua.


"Papa apa-apaan sih, Ayra baru Lulus juga Pa," jawab Ayra yang mendengus kesal.


"Iya lagian Papa, baru juga sembuh udah jahil aja," jawab Nisha sambil tertawa.


Merekapun tertawa bersamaan tanpa terkecuali Angga, yang hanya mengulas senyum, yang terlihat dipaksakan.


"Semuanya ... Angga duluan ya, mau keluar ni." Angga hendak beranjak meninggalkan meja makan.


"Mau kemana, Ngga?" tanya Mama Ayra.


"Mau ketemu temen Ma, bentaran doang," jawab Angga.


"Udah deh Ngga, kamu ngumpul-ngumpul terus kerjanya, lagian udah malem," lanjut Papa Ayra.


"Kamu antar Kak Nisha aja ya, udah malem kasian kalo dia pulang sendiri," ujar Papa menyuruh Angga.


"Ng-nggak , nggak perlu repot-repot Pa. Nisha biasa pulang sendiri kok, lagian kan baru jam setengah delapan juga," jawab Nisha berusaha menolak.


"****** aku, bisa mati kutu kalo harus berduaan sama bocah tengil ini lagi," batin Nisha.


"Udah deh Nish, nurut aja apa kata Papa, lagian udah malem, gak papa kok" lanjut Ayra.


"Iya gak papa Nish, Angga gak bakal gigit kok, kalo dia jahilin kamu di jalan bilang aja sama Mama." Mama Ayra terkekeh pelan.


"Ma, anak mama ni emang gak gigit tapi-ta-pi.... ah mikir apa sih aku," batin Nisha sambil mengigit bibir bawahnya.


"Ya udah, ayo Kak aku anterin," kata Angga yang tersenyum kepada Nisha.


"Kak ngapain sih pakai gigit bibir segala, kamu masih inget yang tadi ya," batin Angga.


Anggapun tanpa sadar tersenyum memeprhatikan Nisha.


"Ngga, ngapain kamu senyum senyum gitu?" ujar Ayra yang mengagetkan Angga.


"Udah sana cepetan anterin dulu, awas kalo di jahilin lagi!" kata Ayra dengan nada mengancam.


" Iya Kak," jawab Angga pasrah.


"Ya udah, aku pulang dulu ya Ra,"


"Ma, Pa, Nisha pulang dulu ya," ucap Nisha sambil mencium tangan kedua orang tua Ayra.


"Iya sayang, hati-hati ya," jawab Mama Ayra.


*****


Nisha dan Anggapun meninggalkan rumah menngunakan motor CBR merah nya.


"Kak, maafin aku ya" kata Angga memulai obrolan.


"Heem..." jawab Nisha seadanya.


"Aku terbawa suasana Kak," kata Angga lagi.


"Hemmm..." jawab Nisha.


"Ya ampun Kak, daritadi ham hem ham hem aja, kayak Nisya Sabyan aja," lanjut Angga yang mulai kesal.


Anggapun menyanyikan sebagian lirik lagu Sabyan itu dengan suaranya yang terdengar cempreng dan lucu.


"Hem...hem..hemm..


hem..hemm...


"Kalla hadzil ard mataqfii masahah


Lau na'isibila samahah


Wanta'ayasna bihab


Lau tadiqil ardi naskan kalla kolb"


*Angga nyanyiinya pakai nada yang pas ya, hanya suara nya aja yang tidak pas untuk didengar ditelinga manusia.. hahahhaha. Author.


Nisha tak sanggup menahan tawa nya


"Pffffttt ... hahahhahha udah deh Ngga, suara kamu fals tau," ujar Nisha yang masih terus tertawa.


"Nah gitu donk Kak, ketawa jangan diem aja," kata Angga.


Nisha spontan menutup mulutnya.


"Iya deh, Kakak maafin, tapi jangan di ulangi lagi ya," kata Nisha.


"Ehmb... Tapi, kayak nya Kakak menikmati juga tuh, ngebales lagi," kata Angga sambil tertawa.


Wajah Nisha seketika memerah menahan malu.


"Apaan sih Ngga, jangan dibahas lagi," ujar Nisha kesal.


"Iya deh iy Kak," jawab Angga sembari mengintip Nisha dari balik spionnya.


"Mukanya sampe merah gitu Kak," kata Angga yang masih melirik Nisha dari spionnya.


Nisha terkejut dan langsung memukul Angga menggunakan tas kecilnya.


"Angga iih," kata Nisha manja.


" Aduh sakit Kak, Kakak emang bar-bar banget, aku udah berapa kali ni di pukul mulu," ujar Angga yang meringis mengusap helmnya.


"Mangkanya jangan jahil," ujar Nisha yang langsung mencubit pinggang Angga.


Namun tangan nya langsung ditangkap Angga.


" Daripada di cubit, mending dipeluk gini Kak." Angga langsung menarik tangan Nisha untuk memeluk pinggangnya.


"ANGGA!" teriak Nisha yang spontan dan menarik tangannya.


"Hehehhheheee ... selain bar-bar Kakak juga mirip tarzan, teriak-teriak mulu," ujar Angga yang terus tertawa.


Nisha hanya diam dan mendengus kesal.


"Kalo masih godain Kakak terus, Kakak turun ni!" Nisha sedikit mengancam Angga.


"Iya deh Kak, iya maaf ya, Angga cuma bercanda," kata Angga lagi.


"Hemm ... iya deh," kata Nisha pasrah.


"Emang beneran mau turun di jalan ni?" goda Angga.


"Angga!" Nisha serengah berteriak.


" Kakak pesen taxi online ni!" Nisha sedikit mengancam sembari mengeluarkan telepon dari tasnya.


"Eh, eh, jangan dong Kak,"


"Masukin lagi teleponnya!"


"Angga minta maaf deh !" Angga sedikit memohon.


"Hem, iya Ngga, awas loh kalo gitu lagi," ujar Nisha.


Karena lelah berdebat terus dengan Angga, akhirnya Nisha pun menyandar di punggung Angga. Nisha sedikit terlelap, membiarkan rasa nyaman menguasainya.


"Hem ... tadi pura-pura gak mau Kak, sekarang main nyandar-nyandar aja di punggung aku," batin Angga yang mengulas senyum.


"Gak tau apa Kak, jantung aku dag dig dug dag dig dug gini"


"kamu denger gak sih Kak?" batin Angga pasrah.


Duapuluh menit kemudian mereka sampai di rumah Nisha.


"Kak, udah sampai nih," kata Angga sambil menyenggol-nyenggol tangan Nisha.


"Uummm ...biya Ngga, makasih ya." Nisha turun dari motor Angga.


"Iya Kak, sama-sama," ujar Angga.


" Ya udah sana masuk Kak!" Angga menyuruh Nisha segera masuk kedalam rumah karena hari telah malam.


"iya,bdaaa ...." Nisha melambaikan tangannya kepada Angga.


Angga hanya mengangguk sembari menutup kaca helmnya. Kemudian berlalu melajukan motornya sambil tersenyum.


"Kak, kayaknya aku beneran suka sama Kakak," batin Angga.


"Semoga suatu saat nanti Kakak menyadarinya juga dan bisa membalas rasa ini," batin Angga.


*****


**Hai readers...😁😁 Makasih ya masih setia membaca cerita ini. Duh kayaknya Nisha baperan tu sama Angga.


jangan lupa like, coment dan vote cerita aku ya.. 😁😁🙏🙏


#Happy reading**