
Tak lama mobil merah keluaran terbaru itu memasuki halaman restoran. Andri memarkir mobilnya.
"Siap-siap ya! Semua orang bakal ngeliatin kita," ucap Andri.
Mereka berdua keluar dari mobil kemudian dengan santainya Andri menggandeng tangan Ayra.
Semua mata memandang ke arah mereka.
Sedikit berjinjit dengan setengah berbisik Ayra berkata,
"Lepasin tangan aku, Kak! Malu di lihatin orang."
Andri hanya diam tak menanggapi, dia berbalik menatap netra hitam didepannya kemudian mengecup mesra puncak kepala Ayra. "Semangat ya kerjanya!" ujar Andri.
Ayra terdiam mulutnya mengaga sempurna —terkejut dengan sikap Andri barusan. Namun Andri seakan tak perduli, memutar tumitnya lalu kembali masuk ke mobil dan meninggalkan Ayra begitu saja.
"Dasar mahluk aneh! Ngeselin," gerutu Ayra sambil berjalan memasuki restoran.
Nampak beberapa karyawan berkerumun sembari berbisik-bisik sambil memperhatikan setiap langkah Ayra.
"Ra, kamu pacaran sama Pak Andri?" tanya Nina. Ayra terlihat acuh dan terus melanjutkan langkahnya.
"Kok bisa ,Ra?" timpal seorang karyawan wanita lainnya.
"Ceritain dong, Ra," cetus seseorang karyawan wanita lainnya lagi yang Aryapun tak begitu akrab.
Ayra bingung harus menjawab dari mana, ia menghentikan langkahnya sesaat, untung saja Azizah datang dan langsung menyeret Ayra menjauh dari kerumanan wanita yang seolah tengah mewawancarainya itu.
"Ra, tadi aku denger kamu jadian sama Pak Andri? Serius, Ra!" tanya Azizah heran.
"Nanti aja aku ceritain, Kak. Kita kerja dulu, ya. Pas jam makan siang aku ceritain semuanya," kata Ayra.
"Janji, yah?" tanya Azizah memastikan.
Ayra mengangguk. "Iya, Kak."
Jari kelingking kanannya terangkat dengan cepat Azizah menautkan kelingkingnya ke kelingking Ayra. Mereka berduapun melanjutkan pekerjaan masing-masing.
***
Jam istirahatpun tiba. Ayra melangkah menghampiri Azizah yang sudah menunggunya didapur. Ayra mengambil makanan dan es teh kemudian duduk berhadapan dengan Azizah yang sedang mengunyah makanannya.
"Ehm ... ehm ...." Ayra memutar-mutar cincin yang melekat di jari manisnya itu.
Azizah melirik sekilas kemudian kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ih ... Kak Izah mah," ujar Ayra yang memanyunkan bibirnya —kesal dengan kecuekan Azizah.
"Kamu kenapa, Ra? Kek bocah aja, pakek cincin baru dipamer-pamerin ke aku," ledek Azizah.
"Iiih ... Kakak!" sungut Ayra.
"Tanya kek, siapa yang ngasih!" ujar Ayra kesal.
Azizah menyeruput minumanya. "Emang siapa?" tanya Azizah.
"Pak, AN—DRI," jawab Ayra dengan penuh penekanan disetiap kata.
"Uhuk ... uhuk ...." Azizah tersedak kemudian cepat-cepat menepuk pelan dadanya sendiri.
"Serius, Ra?" tanya Azizah penasaran.
"Iya, Kak," sahut Ayra santai santai.
Mata sipit Azizah seketika melotot.
"Kalian beneran jadian?"
Ayra menatap Azizah sesaat, "Udah deh, tuh mata gak perlu di besar-besarin toh tetep sipit, Kak."
"Hahahhaaha ..." Ayra tertawa mengejek.
"Dih ... jangan ngalihin pertanyaan deh. Jawab aja dulu, iya apa nggak?" sanggah Azizah kesal.
Ayra menggeleng pelan. "Kami Tunangan, Kak."
"Hah! APA!" teriak Azizah.
"Heran kan, Kak? Aku juga heran," imbuh Ayra.
Azizah menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.
"Ceritain dari awal, semuanya Ra!" pinta Azizah.
Ayra mulai menceritakan semua kejadian yang terjadi padanya semalam, bahkan saat ia melihat Nisha memeluk Rayhan dan bagaimana Andri memakaiakan cincin di jari manisnya.
Azizah mengubah posisi duduknya, ia mendekat kesebelah Ayra kemudian mengusap perlahan punggung teman baiknya itu.
"Sabar ya, Ra. Kamu kan gak lihat kelanjutanya gimana, mungkin aja Pak Rayhan gak terima Nisha? Iya kan!"
Azizah nampak berfikir, "Eh, bentar bukannya Nisha tu deket ya sama Pak Andri. Kok tiba-tiba Pak Andri jadian sama kamu, Ra?"
"Tunangan, Kak," ralat Ayra.
"Eh, iya-iya." Azizah menggaruk kepalanya yang tak gatak itu.
"Jangan-jangan ..."
"Jangan-jangan apa, Kak?" tanya Ayra.
"Jangan-jangan Pak Andri jadiin kamu pelampiasaan, soalnya dia cemburu lihat Nisha sama Pak Rayhan," papar Azizah menggebu-gebu.
"Masa sih, Kak? Aku gak kepikiran sampe situ," sela Ayra.
"Hem ... gak heran deh, kamu kan lemot, Ra," ejek Azizah.
"Ih ... Kakak mah." Ayra memanyunkan bibirnya.
Tiba-tiba Andi mendekat dan langsung duduk berhadapan dengan Ayra.
Andi memandang gadis dengan surai kecoklatan itu sembari tersenyum manis.
Ayrapun membalas senyuman itu. Andi memegang tangan kiri Ayra — menatap dalam cincin yang melingkar pas di jari manisnya itu.
"Ternyata aku beneran udah telat ya, Ra?" ungkap Andi.
"Hah!" Ayra bingung tak mengerti arah pembicaraan Andi.
"Aku keduluan temenku sendiri," cicit Andi kemudian.
Dibawah meja Azizah menginjak kaki Ayra. Ayra mengernyitkan dahi menoleh, kemudian menatap Azizah yang melotot kepadanya.
Mendekat ke telinga Ayra, Azizah berbisik,
"Astaga, lemot banget sih!" geramnya yang hampir tak terdengar.
Ayra hanya diam tak menanggapi ucapan Azizah yang hampir tak terdengar jelas. Kedua iris hitam itu sibuk menikmati getaran aneh yang menyeruak hadir karena genggaman tangan Andi.
"Kadang kita terlalu lama mengungkapkan apa yang dirasa, sampai harus merelakan sesuatu yang bahkan belum sempat dimiliki." Andi melepaskan genggaman ditangan Ayra kemudian beranjak pergi meninggalkan mereka.
Ayra paham, ia begitu mengerti rasanya terlambat mengungkapkan perasaan bahkan harus merelakannya demi sahabatnya sendiri. Ayra menatap plafon putih menghalau bulir bening yang seakan mendesak keluar. Azizah segera memeluk erat Ayra sembari mengelus punggung teman yang ia sayangi itu.
"Turuti kata hatimu, Ra," saran Azizah.
"Aku ngerti banget perasaan Kak Andi, tapi aku gak bisa, Kak! Lagipula sekarang semua orang tau aku jadian sama Pak Andri," papar Ayra.
"Sabar, bagus kamu masih ngerti perasaan Andi, berarti kamu masih punya hati," lanjut Azizah.
"Gak kayak pohon pisang dong, punya jantung doang tapi gak punya hati," canda Azizah.
Ayra tersenyum, "Kakak bisa, aja. Makasih ya Kak."
"Eh, makasih-makasih doang nih. Bayar dong." Azizah menengadahkan tangannya — seperti meminta uang.
Ayra menepuk tangan Azizah, "Heleh Kak-Kak, gayamu kek apa aja."
Mereka berduapun tertawa bersama. Kemudian melanjutkan menghabiskan makanannya masing-masing.
Tanpa disadari keduanya sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Cih, dasar murahan," decak Rayhan pelan kemudian melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.
"Lihat saja nanti, akan kuberi kau pelajaran," batin Rayhan.
***
Ayra masih meras bersalah sampai tiba saatnya pulang, ia berjalan menuju parkiran dan sekita netranya menangkap siluet yang sangat ia kenali.
Ayra menarik napas sembari berjalan pelan menghampiri orang itu.
"Ngapain kamu disini?"
"Jemput kamu dong, Sayang." Andri tersenyum.
Berjalan semakin mendekat kemudian merangkul Ayra— aroma apel dari tubuhnya menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Ayra memberikan sensani menyenangkan.
Tanpa sadar Ayra begitu menikmati kedekatan mereka. Ia mendekatkan diri berjalan bersebelahan dengan Andri.
"Tumben gak protes? Udah suka ya sama aku," ledek Andri.
"Dih, jangan ge er deh. Aku capek banget hari ini, gak semangat debat sama kamu," kilah Ayra.
Mereka pun masuk kedalam mobil. Andri menginjak pedal gas, meninggalkan parkiran menuju rumah Ayra.
*****
Makasih buat kalian yang masih terus mengikuti cerita ini, tinggalkan like, coment dan vote ya untuk mendukung author.🤗🤗🤗🤗 mari saling mendukung.