My Chef

My Chef
#18 Sarapan Bersama



Happy Reading 😁🙏


*****


Hubungan Ayra dan Rayhan sangat dekat bahkan Rayhan dengan terang-terangan menunjukkan perhatiannya kepada Ayra, seperti hari ini, pagi-pagi Rayhan sudah ada didepan rumah Ayra.


"Asalamu'alaikum." Rayhan mengetok pintu rumah Ayra yang kebetulan pagarnya sudah terbuka lebar.


"Walaikumsalam," ujar Meysa dari dalam rumah kemudian membukakan pintu.


"Eh, Pak Rayhan." Meysa tersenyum ramah.


"Iya Tante, Ayranya ada?"


"Ada Pak, silahkan masuk dulu Pak." Meysa mempersilahkan Rayhan masuk.


Rayhan tersenyum.


"Nggak usah tante, saya hanya sebentar ingin menjemput Ayra."


"Oh gitu, ya udah Tante panggilin Ayra dulu ya, Pak Rayhan silahkan duduk dulu." Meysa tersenyum ramah sambil mempersilahkan Rayhan duduk dibangku yang ada diteras rumahnya.


"Makasih Tante, o iya Tan, panggil saya Rayhan saja Tan, gak perlu seformal ini." Rayhan kemudian duduk bersamaan dengan Meysa.


"Eh, tapi gak enak loh Pak, gimana-gimana Bapak kan bosnya Ayra." Mesya duduk berhadapan memperhatikan manik kecoklatan Rayhan dengan seulas senyum mengembang.


"Gak papa lah Tan, kan saya sekarang juga temannya Ayra, Tante tak perlu sungkan,"


"Baiklah Pak, eh ... maksud Tante, Nak Rayhan," ujar Meysa sedikit tebata.


"O iya, tunggu sebentar ya, Tante panggilkan Ayra dulu kedalam." Meysa beranjak dari duduknya, berjalan masuk kedalam rumah.


Rayhan tersenyum kemudian matanya menyapu sekeliling halaman rumah ini, beberapa tanaman anggrek dengan beraneka ragam menghiasi dinding-dinding pagar.



"Indah," batin Rayhan.


Rayhan tersentak oleh tepukan dipundaknya.


"Hey ...." Ayra menepuk pundak Rayhan pelan serasa tersenyum.


Rayhan sedikit terpaku melihat penampilan Ayra. Ayra tampil dengan riasan sederhana, rambut kecoklatannya dibuat sedikit bergelombang dibagian bawah, kemudian make-up yang sangat natural. Ayra hanya menyapukan bedak tipis dan sedikit pewarna bibir- merah muda pucat ke-orange'an serta tak lupa soflens sesuai warna mata aslinya.


"Cantik," gumam Rayhan pelan namun masih terdengar.


"Dih ... Kak Rey bisa aja." Ayra duduk sembari meletakkan secangkir teh hangat diatas meja.


"Jangan ge er deh, aku cuma bilang baju kamu yang cantik," ujar Rayhan berkilah.


"Ih ... gitu banget sih." Ayra mengerucutkan bibirnya berpura-pura merajuk.


Bibir tipis Rayhan tertarik ke atas membentuk lengkungan sehingga menampakkan lesung pipinya.


"Gitu aja ngambek." Rayhan mengacak-ngacak rambut Ayra.


"Aaah.. Kak Rey, rambut aku rusak ni." Ayra makin memanyunkan bibirnta sambil menyisir pelan rambutnya dengan jari-jari tangannya sendiri.


"Iya-iya, maaf. Kamu cantik deh." Rayhan tersenyum dengan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya sebagai permintaan maaf.


Ayra tersenyum puas bahkan manik hitamnya terlihat sangat berbinar mendengar pujian itu.


"Nah, gitu donk ... bilang kek daritadi." Ayra kemudian tertawa.


"O iya minum dulu Kak tehnya." Ayra mempersilahkan Rayhan.


Rayhan menyeruput teh hangat dihadapannya. Dia begitu menikmati saat meminum teh dengan campuran sedikit jahe itu, membuat tenggorokannya hangat.


"Yuk Ra, kita berangkat." Rayhan meletakkan gelas tang sudah berkurang isinya itu di atas meja.


"Yuk Kak." Ayra beranjak dari duduknya.


"Eh, tunggu. Kita izin dulu sama orangtua kamu, Ra," ujar Rayhan sambil memegang tangan Ayra.


Ayra tepaku sesaat menikmati desiran halus pada seonggok daging didalam dadanya. Semburat merah juga menghiasi wajah seputih pualam itu.


"Gak perlu Kak, tadi aku udah izin kok. Lagian mama sedang memijat-mijat kaki papa, kata papa bekas amputasi itu mulai gatal dan nyeri disekitar paha," ujar Ayra menjelaskan.


Rayhan terdiam seseat, seeperti ada sebongkah batu yang meninju telak pada sekeping kama yang ia punya.


"Ehm ... emang papa kamu kenapa Ra?" tanya Rayhan sedikit ragu.


"Panjang Kak kalo mau diceritain, yang pasti papa korban tabrak lari yang membuat salah satu kakinya harus di amputasi," ujar Ayra sendu.


"Sabar ya, o iya kamu mau sarapan apa pagi ini." Rayhan berjalan sambil menggandeng tangan Ayra menuju mobil.


Ayra berjalan pasrah mengikiuti langkah Rayhan kemudian mereka masuk kedalam mobil.


Mobil melaju pelan membelah jalanan pagi kota Palembang menuju sebuah cafe kecil di dekat taman kota.


*****


Sesampainya di cafe mereka duduk di bagian paling depan sambil menikmati keindahan taman dari balik jendela cafe.


Kemudian seorang pelayan wanita dengan setelan kaos khas seragam cafe menghampiri mereka.


"Kakak sama Ayuk, mau pesan apa?" ujar pelayan dengan logat khas Palembang.


*di Palembang kata "Ayuk" itu sapaan ya untuk perempuan muda.


"Ra, kamu mau pesan apa?" tanya Rayhan sambil memberikan daftar menu yang ada di atas meja.


"Aku pesan capucinno late hangat aja Kak, sama pancake durian." Ayra tersenyum memperlihatkan dua gigi kelincinya yang rapi.


"Ehm ... aku juga mau coba capucinno late sama pempek adaan aja lah." Rayhan tersenyum ke arah pelayan wanita yang daritadi mencatat pesanan mereka.


" Silahkan ditunggu ya," ujar pelayan wanita itu, sambil beranjak berlalu mengambil pesanan.


Ayra dan Rayhan tersenyum bersamaan.


"Ra, coba deh lihat anak-anak yang bedang bersepeda disana." Rayhan menunjuk taman kecil didepan cafe.


Ayra mengikuti arah pandang Rayhan.


"Kayaknya seru ya, Kak." Ayra tersenyum manis.


"Kamu mau bersepeda bareng? nanti kita bisa sewa sepeda disana sebentar," usul Rayhan.


Ayra hanya mengangguk sambil tersenyum, membuat Rayhan tak bisa berkedip memandangnya.


Mereka tiba-tiba dikejutkan dengan suara pelayan yang datang membawa pesanan mereka.


"Permisi ... maaf ya mengganggu keromntisannya." pelayan itu tersenyum sembati meletakkan makanan dan minuman di atas meja. Seporsi pancake dengan beberapa rasa, juga seporsi pempek yang beisi bermacam-macam pempek kecil, seperti pempek adaan, telur, dan pempek pistel, tak lupa dua gelas capucinno late.


Ayra dan Rayhan hanya memperhatikan pelayan cantik dengan kaos yang membentuk tubuh indahnya, serta rok pendek ketat yang menambah kesan seksi.


"Silahkan dinikmati ya Kakak ganteng," ujar pelayan itu sambil mengedipkan mata menggoda Rayahan.


Pelayan itu kemudian berjalan berlenggok pelan sembari beranjak meninggalkan mereka.


"Cie ... yang di godain cewek cantik," ujar Ayra.


"Apaan sih ,Ra." Rayhan tampak acuh dan mulai menyeruput minuman dihadapannya.


"Ih ... pura-pura gak tau, padahal tadi sampe gak kedip ngelihatin cewek itu berjalan." Ayra memutar bola matanya malas.


"Ehm ... ehm ... kayaknya ada yang cemburu nih?" ujar Rayhan sembari mengedipkan matanya menggoda Arya.


"Siapa juga yang cemburu?" Ayra cemberut sambil melanjutkan mengunyah makanan didepannya, membuat bebera cream pancake menghiasi sudut bibir tipis itu.


Rayan mengambil tisu lalu mengelap sudut bibir Ayra.


"Kamu kayak anak kecil aja, makan sampe blepotan keman-mana tuh."


Ayra terdiam menikmati lantunan indah yang berdegup tak beraturan. Merasakan sensasi tergelitik diperutnya seperti ada kupu-kupu terbang keluar dari sana.


"Aduh, kenceng banget sih ni jantung berirama kayak mau perang aja." batin Ayra.


"Makasih ya Kak, lagian aku bisa bersihin sendiri kok," ujar Ayra.


Mereka berdua melanjutkan makannya. Tak jarang Rayhan menyuapkan potongan pempek ke dalam mulut Ayra, begitupun sebaliknya Ayra menyuapkan potongan pancake untuk Rayhan.


*****


**Rayhan romantis banget ya 😍😍


padahal mereka belum resmi jadian loh😃😁


Makasih ya yang masih setia menunggu kelanjutan ceritanya. Maaf kalo sering lama up nya 🙏🙏😊


Jangan lupa tinggalkan like, coment dan tambahkan di favorite ya.Nanti aku feedback balik kok.😊🙏😁


*Terima kasih******