My Chef

My Chef
#3 Pov Angga



Aku Angga Septiadi anak bungsu dari pasangan Abu bakar dan Meysa.


Aku mempunyai Kakak perempuan yang sangat culun. Tapi, dia merupakan anak kesayangan di keluarga kami.


Terkadang, itulah yang membuatku iri pada kakakku. Dia begitu baik dan penurut pada kedua orangtuaku.


Dan aku sangat menyayanginya. Walaupun, kadang kakak sangat memalukan, dengan penampilannya itu.


Kakak begitu pintar, bahkan di usia nya yang sekarang 16 tahun hampir genap 17tahun juga, dia sudah berhasil menyelesaikan sekolah menengah atasnya.


Ya, tentu saja dengan hasil yang sangat memuaskan. Dia berhasil menyelesaikan pendidikan SMA nya melalui jalur akselerasi selama dua tahun.


Aku dan kakak hanya beda umur dua tahun. sekarang aku sudah berusia 14 tahun dan aku masih SMP di tingkat akhir. Ya, walaupun baru akan masuk semester 1.


Tapi, aku termasuk siswa yang memiliki tinggi badan yang cukup ideal. Di usiaku yg masih 14tahun, tinggi badanku sudah mencapai 175cm, dan mungkin akan bertambah lagi nantinya. Dengan kulit kecoklatan serta mata hitam dan alis tebalku serta prestasiku dibidang olahraga membuatku cukup populer di sekolah.


Aku sangat berbeda dengan kakak, walau kakak introvert dan culun. Tapi tidak denganku, aku memiliki banyak sekali teman, bahkan tak segan segan para wanita mendekat hanya untuk mendapat perhatianku.


Aku memang tidak tampan, tapi mereka bilang aku cukup manis.


Dengan kulit kecoklatan yang aku miliki, tidak mengurangi sedikitpun ketampanan ku.


*(Hehhehe Angga orangnya memang percaya diri ya dan sedikit alay).


Basket adalah salah satu hobi-ku, dan disana lah aku menonjolkan satu-satunya kemampuan yang aku miliki. Sehingga bisa menjadi kapten basket sekolah.


Hari ini, aku sedang asik latihan basket sepulang sekolah. Selesai latihan, aku langsung mengecek gawaiku.


Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Kakak. Baru saja, aku mau menghubunginya, gawai itu kembali berbunyi.


Ditelepon, Kak Ayra menjelaskan bahwa Papa sekarang di rumah sakit. Aku begitu kaget dan juga bingung mendengar kabar itu.


 


Aku masih memainkan handphone ditanganku sambil berfikir.


" Apa yang harus kulakukan?" Aku menghela nafas pelan.


Jujur aku sangat khawatir sama keadaan Papa, da


n aku tau persis, Kakak culunku itu pasti sedang sengugukan menangis sendirian.


"Dasar cengeng" gumanku pelan.


Aku ingat, Kakak memiliki satu satunya sahabat yang begitu cantik dan ramah.


Kak Nisha. Tanpa pikir panjang, aku langsung menghubungi Kak Nisha.


Aku yakin, dia dapat menenangkan Kakak saat ini.


Tut ... tut ... tut ... tak lama sambungan telepon terhubung.


" Halo, Kak Nisha"


"Iya Ngga, ada apa? Tumben kamu telepon Kakak? Hemm, apa Kakakmu membuat ulah di rumah ? Hhahahha ," terdengar suara Kak Nisha tertawa.


"Ehm ... Kak, maaf ya sebelumnya kalau Angga ganggu Kakak?"


"Oh, nggak kok Ngga? Kamu gak gnggu Kakak. Tenang aja, hemm .... bicara lah, ada apa Ngga? "


"Begini Kak, sebenarnya Papa masuk rumah sakit?" ujarku pelan bahkan nyaris tak terdengar. Aku juga tau Kak Nisha pasti akan terkejut mendengarnya.


"Apa?? Ngga, kamu gak sedang bercandain Kakak kan?


Ngga, kamu serius kan?" Mulai terdengar isakan-isakan kecil.


"Angga!! Jawab Kaka." Nisha setengah berteriak.


" Iya Kak, gak mungkin Angga bercandain masalah kayak gini".


"Aku emang suka bercanda Kak, tapi ini masalah serius"


Keshatan Papa, gak mungkin aku jadiin bahan candaan" ujarku, mendengus kesal.


Akupun mulai menceritakan, bagaimana tadi Kakakku menelponku, menjelaskan semuanya.


Terdengar helaaan nafas disana.


" Ya udah Ngga, sekarang kamu dimana? Jemput Kakak dirumah ya sekarang!! Kakak, mau ikut ke rumah sakit." ujar nya pelan tanpa mampu menyamarkan isakan tangisnya.


" Iya Kak, iya, Angga ini mau ke rumah Kakak. Kakak cepetan ya, gak perlu dandan cantik, Angga belum mau ngajak Kakak ngdate kok" ujarku sambil tertawa, mencairkan suasana.


Aku tau, Kak Nisha sedang berusaha menyembunyikan isakan tangisnya. Tapi aku masih dapat mendengarnya.


" Hehehe, Angga-Angga, kamu bisa aja," ujar Nisha.


"Ya udah cepat ya kesini, jangan lama dan jangan ngebut."Nisha tertawa kecil .


"Baik Kak, Angga sampai dalam 10 menit ya,"


" Asalamu'alaikum Kak."


Aku segera memasukan gawai kedalam tas. Lalu menuju parkiran untuk mengambil motorku.


Sepuluh menit kemudiam akhirnya aku sampai juga di dekat rumah Kak Nisha. Dari kejauhan, aku lihat Kak Nisha sudah menunggu di pinggir jalan depan rumahnya.


"Hay Kak, ayo naik."


"Iya Ngga, jangan ngebut ya. "


"Iya, Kakak tenang aja."


"Nih Kak, pakek helmnya." sambil kuserahkan helm cadangan yang selalu ku bawa kemana mana. Kak Nisha pun menerima nya sambil tersenyum.


"Pakek Kak, cepatan!"


" Biar cantiknya Kakak gak di nikmati orang lain sepanjang perjalanan kita ya Kak," ujarku sambil tersenyum.


"Kamu nggombalin Kakak ni?" Nisha tersenyum.


Aku hanya nyengir dan menampilkan deretan gigiku yang rapi.


"Manis banget senyumnya," ujarku pelan hampir tak terdengar.


"Dih apaan sih Ngga? cepetan gih,"


"Iya Kak, iya"


"Ngomel-ngomel mulu sih."


Kak Nisha pun naik ke atas motorku dan memegang erat ujung jaketku.


Akupun melajukan motorku dengan kecepatan maksimal menuju rumah sakit.


"Ngarepnya kak Nisha pegangan gitu, peluk dikit kek," pikirku kemudian


Sayangan sepanjang perjalanan, kami hanya terdiam. Kami terlarut dalam pikiran masing masing.


"Dan kak Nisha , tetap aja megang erat ujung jaketku," ujarku dalam hati.


"Kak ..." ujarku memulai obrolan di perjalanan.


"Hemm ... iya Ngga, kenapa?"


"Kakak, gak ada niatan gitu?"


"Niatan apaan sih Ngga?" ujarnya mulai kesal.


"Niatan meluk aku Kak, biar gak jatuh," ujarku lagi sambil terkekeh.


Dan seketika, Kak Nisha memukul helm yang kupakai menggunakan tas kecilnya.


" Dih Kak, sakit ni!"


" Ya, siapa suruh Ngga bercandaain Kakak mulu?"


" Iya deh, iya Kakaku. Maaf ya, kan Angga cuma nanya."


"Ya, kali kali aja Kak Nisha berkenan," ujarku sambil tertawa.


"Udah deh, Kakak gak mau bercanda ni?


cepetan dikit jalannya Ngga".


"Iya Kak, iya"


Dan akupun melanjutkan perjalanan. Kami hanya saling diam, sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Sesekali aku mengintip dibalik spion ingin melihat wajah kak Nisha yang selalu menaikan kaca helm yang dia gunakan.


"Cantik," batinku.


Selama diperjalanan sampai kerumah sakit aku terus saja kesal.


"Kak Nisha tetap aja, gak memelukku?" batinku.


"Hufft ..." aku nenarik nafas pelan.


"Kak Nisha , Kak Nisha..."


Kenapa sih kamu lahirnya duluan dari aku?" ujarku di dalam hati .


*****


Hai readers... Makasih ya masih setia membaca cerita recehku ini, 😁😁😁


Jangan lupa like, coment, dan vote ya .


😊😊😊


Happy Reading.


*****