My Chef

My Chef
#8 Tamu



 


Setelah satu bulan papa Ayra istirahat total di rumah. Keadaan mulai kembali normal seperti semula, suasana rumah pun makin harmonis.


Hanya saja, papa Ayra nampak lebih pendiam.Kaki kanannya juga sudah lumpuh dan harus selalu menggunakan kursi roda kemanapun.


*****


Pagi ini mereka berempat sedang menikmati sarapan bersama dimeja makan.


"Pa, hari ini Ayra akan mulai mencari pekerjaan," ujar Ayra membuka pembicaraan.


Tiba-tiba ayah Ayra menghentikan kegiatan makannya untuk sementara. Dia mengernyitkan alisnya tampak menatap Ayra heran. Begitu juga dengan Angga dan Mama Ayra. Merekapun terpaku sesaat menatap Ayra.


"Huuumm ... kenapa kalian menatapku begitu?" tanya Ayra bingung.


"Mau cari kerja dimana sayang?" ujar Papa Ayra lembut.


"Ayra juga belum tahu, Pa." Ayra menghela nafas pelan.


"Emang Kakak bisa kerja apa?"


"Ktp juga kan Kakak belum punya," tanya Angga heran.


"Ngga, kamu jangan begitulah, Kakakmu sekarang udah besar," kata Mama Ayra.


"Iya ni kamu Dek, suka banget nggodain Kakak huuumm," kata Ayra lagi.


"Iya deh Kakakku sayang, emang Kakak mau cari kerja dimana Kak?"


"Nanti biar Angga yang nganterin Kakak ya," lanjut Angga kemudian.


"Iya Ra, biar nanti Angga temenin kamu ya nak," kata Mama Ayra.


"Hari ini kamu masih libur kan, Ngga?" lanjut Mama Ayra.


"Iya Ma, kan baru kenaikan kelas juga, kami diliburkan dua minggu Ma," ujar Angga.


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil.


Angga menoleh ke arah pintu masuk.


"Biar Angga yang buka Ma."


"Paling juga Kak Nisha ni pagi-pagi udah main kesini aja," batin Angga.


Angga berjalan keluar membukakan pagar, dia sedikit heran karena yang datang bukan Nisha.


"Mau cari siapa Pak?" tanya Angga kepada orang itu.


"Kamu sekarang udah besar ya, Ngga," kata Bapak itu sambil menepuk pundak Angga pelan.


"Eh ... i-iya Om," jawab Angga gugup. Dia menyadari ternyata itu adalah Pak Bagas sahabat papanya.


"Masuk Om, kita sekalian sarapan bareng," kata Angga melanjutkan ucapannya.


"Mana papa dan mamamu, Ngga?


om mau bicara penting," kata Pak Bagas kemudian.


"Ada di meja makan Om, " jawab Angga.


Mereka berduapun berjalan beriringan menuju meja makan.


Pak Abu Bakar, menoleh seketika menyadari siapa yang datang. Dia mendorong kursi rodanya sendiri dengan pelan, dan menyalami orang itu.


"Tumben Gas kamu kesini pagi-pagi?" tanya nya


.


"Iya ni Kar, aku mau menyampaikan surat dari kantor aja, ya sekalian jenguk kamu," kata Pak Bagas. Kemudian menyerahkan sebuah amplop coklat berisi surat dari kantornya tersebut.


* Kar (maksudnya Abu Bakar ya, papa nya Arya ini biasa di panggil Bakar).


Pak Abu Bakar mengambil surat yang diberikan lalu langsung membukanya dan membacanya sesaat.


Ekspresinya berubah sendu namun tetap mencoba tersenyum.


"Eh iya Gas, duduk dulu kita sarapan bareng." Ajak papanya Ayra mempersilahkan Pak Bagas duduk.


Pak Bagas pun duduk bersama di meja makan.


"Makasih banyak ya, pagi-pagi saya sudah ngerepotin kalian ni, jadi gak enak," ujar pak Bagas.


Mama Ayra tersenyum.


"Eh gak papa kok Gas, silahkan dinikmati makanannya."


Mama Ayra mempersilahkan pak Bagas untuk makan, dan mereka semua pun makan dalam diam.


*****


Selesai makan merekapun duduk bersama di teras rumah.


"Ngga, kamu sekarang udah gede ya, udah kelas berapa Ngga?" tanya pak Bagas memulai obrolan.


"Eh, iyalah om, kan Angga tu makan mulu kerjaaanya, gimana tuh badan gak gede om." Ayra tertawa menggoda Angga.


"Yee, mending aku dong , daripada Kakak makan banyak juga badan tetap kecil," ujar Angga mengejek.


"Terus ya om, Kakak pakek mau langsung cari kerja segala, umur aja belum genap 17 tahun tu, terus KTP juga belum punya om." Angga terus tertawa mengejek Ayra.


Mereka semua tersenyum, kecuali Ayra yang pura-pura cemberut. Kemudian Ayra menoyor kepala Angga pelan.


Ayra tersenyum.


"Rasain tuh." Ayra kembali tertawa.


"Kakak, ih jahil banget, sakit tau ini kepala ya bukan kelapa." Angga sambil pura-pura mengusap kepalanya pelan.


"Kalian berdua ini, sudah-sudah, malu sama Om Bagas, tuh!" kata Meysa memperingatkan.


Pak Bagas terseyum ramah.


"Gak papa Mey, biasalah anak-anak gitu."


"Iya Gas, mereka berdua ni emang suka malu-maluin, bercanda terus kerjanya," ujar Meysa.


Pak Bagas hanya tersenyum.


"Emang Ayra rencanya mau kerja dimana, Nak?" tanya Bagas.


"Belum tau juga Om, Ayra bingung," jawab Ayra sendu.


Ayra menghela nafas pelan.


"Iya om, tapi Ayra tetap ingin kerja."


"Nanti Ayra coba cari kerjaan yang bisa sambil kuliah Om," lanjut Ayra antusias.


Pak Bagas nampak berfikir sesaat.


"Ehmmm ... gimana kalo kamu coba kerja di restoran punya teman om?"


"Tapi paling kamu cuma ditempatkan di bagian pelayanan aja, gimana Ra?" tanya Pak Bagas lagi.


"Eh, emang bisa om? Ayra kan mau sambil kuliah, jadi paling bisa mulai kerjanya siang atau sore lah om," ujar Ayra.


"Bisa kok, nanti om yang bilang sama temen om, tapi apa gak papa Ra, kalo kamu jadi pelayan dulu?" tanya Pak Bagas yang tampak ragu.


Arya tersenyum senang.


"Ya gak papa dong om, Ayra mau kok, kan yang penting halal om."


Pak Bagas tersyum senang melihat kegigihan Ayra.


"Om suka semangat kamu Ra, besok Om telepon kamu lagi ya, tenang aja Om pastikan kamu diterima kerja kok."


"Iya Om, maksih ya Om," jawab Ayra senang.


"Kakak tenang aja, Angga siap kok jadi ojek pribadi Kakak nanti," kata Angga.


Angga menaik turunkan alisnya menggoda Ayra.


"Ya, asalkan bayarannya sesuai ya, Kak."


Mereka semua tertawa melihat tingkah Angga.


"Ngga-Ngga kamu ni, Kakak kamu belum kerja juga, kamu udah main hitung-hitungan aja," kata Meysa sewot.


"Canda doang Ma, Angga gak setega itu, ya kan Kak?" ujar Angga tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih dan bergingsul.


"Sudah-sudah, kalian ini , lagi ada Om Bagas juga, masih aja bercanda terus," ujar Papa Ayra.


"Angga tuh Pa," kata Ayra sambil mengeructkan bibirnya.


"Maaf ya Gas, emang gini lah keluarga kami, bercandanya kadang gak lihat waktu," ujar Papa Ayra sembari melirik jedua anaknya itu.


"Gak papa lah Kar, biasalah anak-anak." Bagas tersenyum sembaru melihat arloji ditangannya.


"Kar, aku pulang dulu ya."


"Mau kemana Gas, buru-buru banget?" tanya Mama Ayra.


"Biasalah Mey, anak-anak pada ngajak jalan-jalan kan mumpung pada libur," ujar Pak Bagas.


"Iya Gas, makasih ya sudah repot-repot kesini jenguk aku," kata Papa Ayra.


"Iya Om, makasih juga ya udah mau bantu Ayra cari kerjaan." Ayra tersenyum dan mencium punggung tangan Bagas.


"Iya, sama-sama, aku pulang dulu ya Gas, Mey," ujar Bagas pamit pulang.


"Hati-hati ya Om," kata Angga ramah.


"Iya Ngga, kamu juga jangan jahil terus sama Kakakmu itu, jagain dia ya." Bagas tersenyum kepada Angga.


"Asiiap Om, tenang aja, Angga bakal jaga Kakak kok." Anggapun mencium punggung tangan Bagas.


Selesai berpamitan Bagas pun langsung melajukan mobil pelan keluar dari rumah Ayra.


*****


"Cie yang tiba-tiba dapet kerjaan." Angga menyenggol bahu Ayra, untuk menggodanya.


"Apaan sih Ngga, Kakak tu belum juga kerja," kata Ayra.


" Kan besok udah pasti Kak, jangan lupa tu kabarin sahabat Kakak satu-satunya," ujar Angga menyuruh Ayra mengabari Nisha.


"Eh bener juga ya, aku harus ngabarin Nisha ni," batin Ayra.


"Iya nanti aku kabarin Nisha kok, Ngga," ujar Ayra.


"Tapi, tumben kamu ngingetin tentang Nisha?" tanya Ayra curiga.


"Eh-ng-nggak kok, kan aku cuma gak mau aja temen Kakak yang satu itu tiba-tiba kerumah terus Kakak gak ada," ujar Angga mencoba ngeles dari kecurigaan Ayra.


"Kak Ayra apa-apan sih nanya gitu, kan aku jadi bingung jawabnya," batin Angga.


"Lagi pula, aku emang selalu kepikiran Kak Nisha, manis eh bibirnya, eh," batin Angga.


"Ngapain kamu tiba-tiba diem gitu?" ngelamun jorok ya kamu Ngga?" Ayra memicingkan matanya menatap Angga curiga.


"Dih apaan sih Kak, aku tu cuma kepikiran kayanya Kakak harus merubah penampilan sedikit deh," ujar Angga menyarankan Ayra.


"Heemm, iya juga ya Ngga." Ayra meletakan telunjuk di kepalanya, ia nampak berfikir.


" Nah gitu Kak, mikirkan, padahal aku emang lagi mikirin kak Nisha, entah kapan bisa ngelanjutin yang kemarin terganggu gara-gara Kakak," batin Angga.


"Masyaallah pikiranku keman-mana," kata Angga didalam hati.


"Ya udah Kak, Angga mau keluar dulu," ujar Angga.


" Iya Ngga, jangan lupa jalan pulang ya." Ayra pun tertawa.


*****


Hai readers.. Makasih ya masih setia membaca cerita recehku ini, 😁😁😁


dibagian awal masih pemanasan ya.


Tokoh utama belum banyak muncul.


Tapi di part selanjutnya akan ada pertemuann Ayra dan Rayhan dalam keadaan yang berbeda.


unnnnncchh....makasih ya semuanya.


😊😊😊


Jangan lupa like, coment dan vote ya .😊😊😊 😁🙏


Happy Reading.


*****