My Chef

My Chef
#14 Pacaran?



Rayhan masih duduk didalam ruangannya, bersantai sejenak sambik mengoreksi laporan keuangan bulan ini yang mulai mengalami peningkatan.


Namun pikirannya terpecah oleh sikap Ayra tadi. Gadis itu begitu angkuh, secara tidak langsung menolaknya. Tapi dia sangat menikmati sikap polos yang ditunjukan Ayra. Dalam diam Rayhan tersenyum, bibir merah muda pucatnya melengkung ke atas menarik garis simpul yang sulit diartikan.


Rayhan mengambil ponsel dari saku celannya kemudian menghubungi seseorang.


 


Tuut...Ttutt..


"Halo pak Aldi, tolong antarkan berkas karyawan baru yang diterima kemarin."


"Maksud bapak berkas milik Ayra pak?" tanya suara disebrang telepon.


"Iya pak, tolong antarkan sekarang.!


"Baik pak."


Klik... panggilan teleponpun terputus.


"Aku ingin tahu siapa kamu sebenarnya Ra, lihat saja nanti bagaimana orang-orangku bekerja mencari tahu semua tentangmu,"


batin Rayhan.


*****


Ayra kembali melanjutkan pekerjaan. Ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa, bahkan tersenyum menyapa perempuan-perempuan yang tadi menyakitinya di toilet.


"Kak, apa ada yang harus aku kerjakan lagi?" tanya Ayra kepada Nina, salah satu perempuan yang menyakitinya tadi.


"Oh ... ehm ... ti-tidak Ra, kamu boleh kembali ketempatmu." Nina terbata-bata karena takut.


"Baik kak." Ayra tersenyum sembali berbalik melangkahkan kaki menuju meja bartender, ya karena tugasnya memang berdiri disamping meja bartender sambil mengamati setiap pengunjung.


"Hai Ra," sapa Andi dengan senyum simpulnya.


"Iya kak," jawab Ayra tanpa menoleh. Ayra masih memperhatikan setiap pengunjung.


"Dih ... sombongnya, gak mau noleh lagi ni," ujar Andi yang masih menggoda Ayra.


Ayra menarik nafas, sebenarnya ia risih dengan sikap Andi yang sok akrab.


" Apa sih kak?" Ayra menoleh dengan bibir mengerucut.


"Kamu tambah manis deh Ra kalo gitu, rasanya pengen aku kuncir pakek karet tu bibir." Andi tertawa renyah menampilkan deretan gigi putihnya yang dihiasi satu gigi gingsul di bagian atas sebelah kanan.


"Manisnya," batin Ayra.


Namun ia segera menghalau pikirannya barusan. Ayra menggelengkan kepala.


"Kakak mah, udah deh aku lagi fokus ni." Ayra masih menatap para pengunjung bergantian.


"Iya deh iya, kalo kamu mau minum apa-apa, panggil Kakak aja ya, Kakak juga mau lanjutin kerjaan Kakak dulu." Andi berlalu masuk melanjutkan pekerjaannya.


*****


Tanpa terasa restoran sudah hampir tutup, lampu-lampu sebagian sudah dimatikan. Tinggal beberapa karyawan yang bersiap pulang.


Ayra menghela nafas sesaaat.


"Huuuumm ... lelah juga ya, ya ampun pegel semua ni badan." Ayra merenggangkan otot-otot tangannya yang kaku.


"Hay Ra, aku duluan ya," ujar Azizah sembari melangkahkan kaki melewati Ayra.


"Iya Kak, hati-hati." Ayra tersenyum.


"telepon Angga dulu ah, minta jemput," batin Ayra. Ia kemudian mengambil benda pipih dari dalam tas kecilnya.


Namun belum sempat ia menghubungi Angga, teleponnya berbunyi.


"Nomor tidak dikenal? nomor siapa ya?" batin Ayra. Ia pun segera mengangkat telepon itu.


"Halo, ini siapa ya?" tanya Ayra.


"Sayang, kamu kok malah tanya ini siapa? Dih kamu udah lupain aku secepet ini?" ujar suara ditelepon yang sedikit dibuat-buat sedih.


Ayra nampak terdiam sesaat.


"Cih, inikan suara pak Rayhan, dengan seenaknya memanggilku sayang," batin Ayra.


"Oh..iya Pak Ray, ada apa ya?"


"Kamu masih memanggilku Bapak, bahkan diluar jam kerja? Hah! kau akan tau balasannya." Rayhan mematikan telepon sepihak tanpa menunggu jawaban Ayra.


Ayra terbengong sesaat. Ia mengelengkan kepala, tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Hah, ada-ada saja tu bos mesum," ujar Ayra pelan.


"Ikut kami dulu Ra." Nina sedikit menyeret Ayra dan membawanya duduk dibangku yang tersedia disamping restoran.


Mereka duduk bersama mengelilingi Ayra. Ayra menaikan sedikit alis nya menatap ketiga orang dihadapannya.


Mereka bertiga menangkupkan kedua tangan di dada memohon maaf kepada Ayra.


"Maafin kami Ra, kami tak tahu kalau kau adalah kekasih pa Rayhan." Nina menatap dalam iris hitam didepannya. Matanya sampai meneteskan airmata.


"Iya Ra, tolong maafkan kami, tolong jangan biarkan pak Rayhan memecat kami Ra, kami sangat butuh pekerjaan ini,"


" Kami mohon Ra, kami takut apalagi kalo sampai Pak Rayhan turun tangan sendiri, dia bisa saja menghancurkan kami bahkan keluarga kami Ra." mereka bertiga memandang Ayra dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Ayra sedikit bingung dengan perkataan mereka.


"Apa Pak Rey sejahat itu ya? kok mereka kayak ketakutan banget," batin Ayra.


Ayra memegang pundak Nina, membantunya berdiri.


"Sudah Kak, tak apa, aku pastikan Pak Rayhan tidak akan berbuat apa-apa." Ayra tersenyum.


"Makasih Ra," ucap mereka bertiga serempak. Kemudian mengambil tangan Ayra untuk bersalaman.


."Oke Kak, aku pulang dulu ya." Ayra melangkahkan kaki menjauhi mereka dan melambaikan tangan.


Seketika tepat didepan Ayra mobil fortuner silver keluaran terbaru berhenti.


Rayhan keluar dari dalam mobil berjalan tepat di pintu penumpang lalu membukakannya, kemudian dengan paksa mendorong Ayra masuk kedalamnya dan langsung menutupnya.


Ayra terkejut dan tanpa sadar dia sudah masuk kedalam mobil.


"Apa yang bapak lakukan? Bapak mau menculik saya hah?!" Iris hitam Ayra membulat sempurna seperti akan keluar dari tempatnya.


"Ssstttt ... diamlah. Aku hanya ingin mengantarmu pulang." Rayhan mendekatkan tubuhnya ke arah Ayra. Dengan reflek Ayra sedikit mendorongnya.


"Bapak mau apa? Dasar mesum! atau aku akan berteriak."


Rayhan hanya diam, tangannya terus bergerak menarik sesuatu disamping kursi yang Ayra duduki.


Ayra menahan nafas sejenak.


"Jantungku, astaga kenapa ini?" batin Ayra.


ceklek... Rayhan memasangkan sabut pengaman Ayra.


"Sudah selesai. Kau akan berteriak hanya karena aku memangsangkan sabuk pengamanmu?" Rayhan tersenyum mengejek.


Ayra terdiam. Dia masih terpaku menatap iris coklat dihadapanya.


"Hey, apa yang kamu pikirkan?" Rayhan melambaikan tangannya tepat dihadapan Ayra.


"Ti-tidak pak, Bapak tak perlu repot-repot mengantarkanku pulang," ujar Ayra dengan jantung yang masih bertalu-talu keras didadanya.


cup... Rayhan mengecup singkat bibir merah muda Ayra.


"Itu hukuman karena kamu terus memanggilku bapak."


"Ck..Dasar mesum!" Ayra mengertakan giginya kesal.


"Kau harus ingat apa yg aku katakan, panggil aku sayang atau kak Rey." Rayhan langsung melajukan pelan mobilnya.


"Tapi..." ucapan Ayra terpotong.


"Kenapa? Apa kau ingin mendapatkan hukuman lagi?" Rayhan menoleh sesaat lalu mengedipakan matanya.


"Cih.. baiklah SAYANG."


" Apakah kau tahu dimana rumahku? seenaknya saja kau bilang ingin mengantarku."


"Tenanglah, dan perhatikan jalannya jangan hanya memperhatikanku saja." Rayhan tersenyum.


"Aku memang TAMPAN kok," ujar Rayhan.


Ayra memutar bola matanya malas.


"Cih...sok kecakepan" ujar Ayra pelan namun masih dapat terdengan oleh Rayhan.


"Apa katamu? Apa kau sengaja ingin dihukum lagi?"


"Teruslah mengancam SAYANG," ujar Ayra pelan dan penuh penekanan.


"Sudah aku putuskan kita berpacaran."


Rayhan tersenyum dan melajukan mobilnya pelan membelah jalanan kota Palembang.