
Ayra bergegas bersiap-siap pulang, dengan langkah terburu-buru ia meninggalkan restoran tempatnya bekerja. Ayra mengambil gawai dan mencoba memesan taxi online.
"Duh, kok gak ada yang stay sih? Gimana mau pulang kalo gini?" gumam Ayra pelan.
Ayra berjalan perlahan kemudian duduk di bangku yang memang disediakan didepan restoran. Ayra nampak berfikir.
"Mau nelpon Angga, tapi malu," batin Ayra.
Ayra menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, kemudian meniup-niup poninya, bingung.
"Ra, kamu belum pulang?"
Ayra kaget dan langsung menoleh, menyadari Rayhan sudah duduk disampingnya.
"Eh ... Pak Rayhan." Ayra memasang senyum yang terlihat dipaksakan.
Rayhan memicingkan mata menatap iris hitam didepannya.
"Pak? Hem ... Pak Rayhan??" ulang Rayhan dengan nada mengejek.
"Baru sehari aku tidak menemuimu dan sikapmu sudah berubah."Rayhan menatap sendu.
"Apa ada yang salah? Bukankah kau mengenalkanku pada Nisha sebagai karyawanmu? Huum ...."
"Kok jadi Cha-cha? Kamu cemburu, Ra?" Rayhan mengacak-ngacak rambut Ayra, gemas.
"Dih ... jan ge er ya Pak." Ayra cemberut lalu merapikan rambutnya dengan jari-jari tangan.
"Udah deh, ngaku aja dear." Rayhan merangkul bahu Ayra.
"Cih ... dear? Hah! Seeanaknya saja memanggilku." Ayra melepaskan rangkulan Rayhan perlahan.
Tiba-tiba Rayhan mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang sedari tadi dia pegang.
"Nih ... makan ya." Rayhan tersenyum manis menyerahkan kotak bekal itu.
Kedua alis Ayra bertaut menatap bingung.
Namun tetap mengambilnya.
"Dia mau nyogok aku atau gimana nih? Tau aja aku lagi laper," batin Ayra.
"Dimakan ya, itu aku yang masak sendiri loh." Rayhan menaik turunkan alisnya seperti deretan semut yang sedang fitnes.
"Beneran kamu yang masak?" tanya Ayra sambil melirik menatap Rayhan dan paper bag itu bergantian.
*cie... jadi pengen nyanyi, lirikan matamu... menarik kaki, eh hati ya π *abaikan author yang lagi gaje π
Rayhan hanya mengangguk sembari tersenyum manis sekali.
*(Jangan dipandang mulu, ntar diabetes loh) batin authorπ π
Ayra lalu membuka bekal itu kemudian menatanya diatas meja yang ada tepat dihadapannya.
Ayra memandang takjub makanan itu. Tiba-tiba cacing diperutnya mulai bernyanyi-nyanyi fals yang didengar Rayhan.
"Laper banget, ya?" tanya Rayhan sambil tersenyum sembari menutup mulutnya menahan tawa.
Ayra nyengir menampilkan deretan gigi rapinya.
"Hehehe iya nih ... yuk, kita makan sama-sama," ajak Ayra.
"Tapi ...." ucapan Rayhan terpotong.
"Udah sini kita makan bareng." Ayra mulai menyuap makanan itu kedalam mulutnya lalu bergantian menyuap Rayhan.
*****
Semilir angin berhembus perlahan menyapu pori-pori tipis kedua insan itu. Surai kecoklatan milik Ayra menari pelan. Ayra menggosok-gosokkan kedua tangannya menghalau dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Rayhan melepas jas yang ia kenakan dan langsung memasangkan di tubuh Ayra.
"Dingin banget ya, apa mau aku kasih kehangatan lebih?" Rayhan mengedipkan matanya genit sembari tersenyum memandang Ayra.
"Mesum."Ayra memutar bola matanya malas.
"Hahaha ... bercanda dear." Rayhan kemudian menggenggam kedua tangan Ayra.
Ayra nenoleh menatap iris coklat disampingnya itu.
"Dulu aku, Cha-cha dan Andri tu sahabat dari kecil, bahkan sebelum Putri adiknya Andri lahir. Tapi waktu tamat SMA, aku melanjutkan kuliah diluar negeri. Sejak saat itu kita gak pernah ketemu lagi, kita lost contact," ujar Rayhan kemudian Rayhan menjelaskan kenangan mereka masa kecil.
Ada nyeri yang tiba-tiba meninju telak tepat pada sebongkah daging tersembunyi di balik dada Ayra.
"Hum ... terus?" Ayra cuek mencoba menutupi rasa cemburunya.
"Dih ... gitu banget jawabnya setelah sepanjang jalan kenangan yang aku ceritain tadi." Rayhan mendengus kesal.
Rayhan melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul sebelas malam, Rayhan langsung menarik tangan Ayra mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Biar aku antar pulang."
"Iya," ujar Ayra sembari mengikuti langkah Rayhan menuju mobil.
Rayhan mencoba membuka pembicaraan.
"Ra, kamu diem aja daritadi? Masih cemburu ya?" tanya Rayhan.
"Dih ... siapa juga yang cemburu, Kak," ujar Ayra.
"Cie ... udah manggil "Kak" lagi, udah gak marah lagi y?"Rayhan tersenyum.
"Hem... Kak, tapi kayaknya Nisha beneran suka deh sama Kakak." Ayra masih menatap jalanan dari balik kaca tanpa mau menoleh Rayhan.
"Terus kamu gimana, Ra?"
"Maksud Kakak, gimana apanya?" Ayra menoleh sekilas menatap wajah Rayhan dari samping.
"Perasaan kamu ke aku gimana, Ra?" ujar Rayhan cuek sambil terus konsentrasi menyetir.
"Dih ... Kak Rey apa-apaan sih!"Ayra mencubit lengan Rayhan.
"Duh ... sakit Ra, kamu KKLT ni." Rayhan mengusap-ngusap tangannya sambil memegang setir.
"Hah! Apaan KKLT." Ayra menangkupkan kedua tangannya di pipi sambil menatap Rayhan, bingung.
"Kekerasan Kepada Lelaki Tamvan," jawab Rayhan cuek seolah itu hal yang biasa diucapkan.
Seketika tawa Ayra pecah.
"Hahhahahhaha ... apaan sih kak, gak jelas banget," ujar Ayra sambil tertawa.
"Kan emang tamvan." Rayhan berfose memasang senyum pepsodent yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Coba deh kamu pandangi dengam seksama," ujar Rayhan lalu menoleh sekilas mengedipkan sebelah matanya sambil mengangkat dua jarinya.
Ayra memutar bola matanya malas.
"Iya deh iya, Kak. Hem, yang konsen dong nyetirnya Kak, jangan bercanda mulu,"ujar Ayra.
"Siap dear, everything for you," ujar Rayhan
"Cih ... dasar playboy tukang gombal," ujar Ayra.
"Hem ... kamu mah gak percayaan mulu. O iya malam minggu nanti ada pesta pembukaan cabang restoran yang baru ya dideket pelabuhan, kamu jangan lupa datang," ujar Rayhan.
"Iya, aku udah tau dari Kak Izah kok. Hem, kamu bakal pindah kesana ya nanti?" ujar Ayra sendu sambil memainkan kedua jempolnya.
" Iya, dah jangan sedih, kan aku bakal bisa terus nemuin kamu, lagian deket ini kok," ujar Rayhan sambil mengelus pelan tangan Ayra.
"Siapa juga yang sedih, kan aku cuma nanya, Kak." Ayra menjauhkan tangannya perlahan.Dia tak tahan dengan desiran-desiran halus yang selalu muncul saat mereka bersentuhan.
"Astaga jantungku mulai lagi dah," batin Ayra.
"Iya deh iya, berarti cma aku aja nih yang sedih, gak bisa ketemu kamu setiap saat terus gak bisa satu atap bersamamu," ujar Rayhan.
"Hilih ... nyenyenyenye, jan gombal lah, Kak!" ujar Ayra sambil tertawa mengejek
"Hem ... kapan sih bisa percayanya?" tanya Rayhan.
"O iya, Ra, tapi nanti aku gak bisa jemput kamu ya!"
Ayra mengernyitkan alisnya, tatapan matanya seolah bertanya "Kenapa?"
Rayhan yang memperhatikan perubahan ekspresi Ayra, langsung buru-buru melanjutkan ucapannya.
"Nanti aku bakal disana lebih awal, Ra, terus bakal bantu nyiapin beberapa menu spesial sebagai makanan utama yang nanti bakal louncing disana," ujar Rayhan menjelaskan.
"Cie... chef Rayhan yang terkenal ini bakal masak perdana dong buat acara entar," ujar Ayra menggoda Rayhan.
"Yah begitulah, mau gimana lagi? Belum lagi nanti aku harus menghadapi fans-fans yang pasti datang sekedar meramaikan acara." Rayhan sedikit membenarkan dasinya.
"Cih ... sombongnya. Huh ...." Ayra melirik sekilas.
"Paling juga entar fansnya kebanyakan mama muda," ujar Ayra.
"Ye ... biarin! Wek, yang penting punya fans," ujar Rayhan sembari tertawa renyah.
Tanpa terasa mereka telah sampai tepat didepan rumah Ayra. Ayra membuka sealtbelt dan akan membuka pintu namun tangannya buru-buru ditahan Rayhan yang kemudian mengecup sekilas bibir Ayra.
Ayra mematung sesaat.
"Kak Rey, kebiasaan deh, suka banget ngem*t bibir aku gitu, lagian kita kan baru temanan Kak." Ayra membuka pintu lalu langsung menutupnya kencang.
Rayhan membuka kaca dan ingin meminta maaf, namun Ayra buru-buru mempercepat langkahnya kemudian langsung berbalik mengunci pagar.
*****
Makasih ya buat kalian yang masih setia mengikuti cerita ini.
Jangan lupa, like ,coment dan tambahkan ke favorite ya biar cepat dapat updatenya.
π nanti aku feedback kokπ