MY Brother Is My Boy. .

MY Brother Is My Boy. .
part 8



Leonard corp.


Banyak mata menatap nadia dengan rasa bingung. Pasalnya anak SMA masuk ke dalam gedung perkantoran terbesar di kota untuk apa. Penjaga resepsionis sedari tadi mengawasi nadia begitu juga dengan para kariawan lain nya. Setelah di lihat lihat nadia terlihat sedikit kebingungan dengan sesekali menempelkan handphone di telinga nya. Salah satu resepsionis pun menghampiri nadia yang sedang menunggu di sofa khusus tamu.


"Adek ada keperluan apa ya.? Di sini tidak menerima pegawai yang masih sekolah dasar." Ujar resepsionis dengan sabar. Mata mbak resepsionis pun menatap nadia dari atas sampai bawah.


"Saya menunggu seseorang." Jawab nadia.


"Tapi adek dilarang duduk di sini." Ujar seorang security yang baru datang. Ternyata seorang kariawan yang tidak nyaman dengan keberadaan nadia memanggil security tadi.


"Kenapa.?" Tanya nadia dengan polosnya.


"Karena ini kursi khusus. Adek mau cari siapa.?" Tanya resepsionis.


"Janissio apakah kalian mengetahui di mana ruangan nya.?" Tanya nadia yang langsung membuat beberapa kariawan menertawainya.


"Jangan bercanda kamu. Ayo pergi." Ujar satpam lalu menarik tangan nadia untuk keluar dari gedung tersebut.


"LEPASKAN TANGAN KALIAN." Teriak janis dengan lantang membuat beberapa dari mereka langsung menunduk kaku.


Janis pun menarik nadia dalam pelukan nya. Ditatapnya satu persatu wajah mereka yang telah menertawakan nadia. Janis berjalan menuju satpam yang menarik nadia tadi dengan genggaman kuat janis langsung memukul satpam tersebut hingga hidung satpam mengeluarkan darah. Mereka semua dibuat terkejut.


"Kalian ingat baik baik wajah ini. Perempuan ini adalah Equela nadia leonard." Ujar janis.


Mereka semua dibuat terkejut. Ternyata putri sambung tuan besar mereka adalah gadis kecil yang tadi mereka tertawakan.


Janis pun langsung mengajak nadia memasuki lift yang khusus disediakan untuk ceo. Di dalam lift nadia memeluk erat janis. Janis yang mengetahui jika nadia sedang ketakutan langsung memeluk nya kembali. Dalam keheningan janis menatap nadia dengan seksama. Perlahan janis mendekatkan wajahnya ke wajah nadia. Namun tiba tiba lift pun berbunyi menandakan pintu lift akan segera terbuka. Membuat janis mengurungkan niat nya.


"Kita sudah sampai di lantai tempat ruangan ku." Ujar janis lalu menuntun nadia ke arah ruangan nya.


Di depan ruangan janis terdapat mia sekretaris janis yang baru direkrutnya. Mia berdiri saat melihat tuan nya datang bersama seorang perempuan.


"Mia perkenalkan ini adalah nadia. Dia adik ku. Kapan pun ia kesini persilahkan dia masuk. Ingat baik baik wajah nya." Ujar janis yang langsung dijawab oleh mia.


"Baik mr. Janis" Jawab mia.


Nadia dan janis pun masuk. Disana nadia sangat terpukau dengan pemandangan kota yang dapat ia lihat di kaca besar belakang kursi janis. Janis pun menelfon mia dan menyuruh nya membawahkan makanan untuk nadia dan dirinya. Setelah selesai dengan pesanan janis pun langsung menutup otomatis korden di belakang kursinya membuat nadia sedikit kecewa.


"Ada apa baby.? Kau kecewa.?" Tanya janis yang hanya di balas anggukan oleh nadia.


"Duduk sini baby. Kau tau aku lebih kecewa karena pandangan mu hanya tertuju pada kaca itu. Bukan ke aku." Ujar janis yang membuat nadia langsung tersipu malu.


"Pemandangan itu lebih bagus ketimbang wajah kakak." Ujar nadia sambil tersenyum membuat janis beranjak dari duduk nya.


Janis pun langsung berjalan ke arah nadia lalu kemuadian menggelitiki nadia sehingga membuat gadis itu tertawa tebahak bahak. Sesaat mereka selesai bercanda dan ruangan pun kembali hening. Entah apa yang mendorong nadia tapi tanpa malu nadia pun menempelkan bibirnya tepat di bibir sang kakak.


Janis yang terkejut pun langsung menahan tengkuk nadia dan ******* bibi mungil tersebut. Nadia pun membalas ******* demi *******. Tangan janis pun tidak tinggal diam. Ia mulai menidurkan nadia di sofa dan membuka satu persatu kancing atas baju nadia. Ciuman janis pun semakin turun. Semilir angin ac di ruangan tersebut membuat janis semakin bergairah. Ceklaak suara pintu terbuka mengejutkan janis dan nadia. Janis yang melihat itu langsung menahan amarah nya. Dilihatnya mia sedang menatap janis yang sedang menindih nadia. Sedetik kemudian mia tersadar dari lamunan nya.


"Maafkan saya tuan." Ujar mia.


"Bisakah kau ketuk pintu mia.? Cepat keluar." bentak janis.


"Ma makanan nya." Kata mia ter bata bata.


"MAKANLAH DAN KELUAR." Bentak janis yang langsung membuat mia berlari keluar ruangan.


"Apakah kak mia sudah pergi.?" Tanya nadia yang bersembunyi di dada janis.


"Sudah baby. Lebih baik kita lanjutkan di kamar tempatku istirahat." Ujar janis yang langsung menggendong nadia dan pergi menuju tempat biasa janis istirahat dalam tanda kutip.


Dilain sisi mia sedang mengipas ngipas wajahnya seperti orang yang sedang kepanasan. Tiba tiba teo datang dan mengagetkan mia.


"Apa tuan ada di dalam.?" Tanya teo.


"Ada. Tapi tuan lagi itu." Ujar mia yang membuat teo bingung.


"Tuan lagi sibuk.?" Tanya teo lagi.


"Bisa jadi." Jawab mia.


"Apa tuan ada tamu.? Kenapa banyak makanan di sini.?" Tanya teo sambil memakan salah satu camilan nya.


"Ada. Katanya adiknya tapi aneh aneh." Ujar mia dengan polos.


"Tuan. Alex datang.?" Tanya teo yang terkejut. Pasalnya alexander sekarang sedang berada di luar negri.


"Bukan. Namanya nadia." Jawab mia.


"Tapi mereka saudara." Jawab mia.


"Bukan. Mereka bukan saudara kandung." Jawab teo lalu meninggalkan mia disana sendirian.


"Aku gak tau pemikiran orang kaya itu seperti apa." Ujar mia lalu melanjutkan makan nya.


________________


Setelah menuntaskan hasratnya beberapa kali janis beranjak dari atas ranjang lalu menyelimuti tubuh polos nadia. Setelah itu ia meraih beberapa bajunya yang berserakan dilantai dan memakainya. Janis berjalan menuju tempat mia berada.


"Ini tips untuk mu. Jangan bilang kepada siapa pun karema nadia memang bukan adik kandungku." Ujar janis sambil memberikan beberapa lembar kertas cek kepada mia.


"Saya tidak akan membocorkan nya tuan." Ujar mia dengan tersenyum.


"Kukira kau polos. Ternyata mata duwitan juga." Ujar janis lalu pergi meninggalkan mia.


Janis melihat jam sudah menunjukan pukul empat sore tetapi adiknya belum makan siang. Dia pun segera membangunkan nadia dan menyuruhnya ganti baju.


"Kita akan makan siang sekaligus makan malam di masion. Karena kakak tau jika kamu sedang lelah." Ujar janis.


"Aku lelah kak. Oh iya lusa aku camping kak. Surat izin ku di tas. Nanti kakak yang tanda tangan ya." Ujar nadia.


"Akan kakak tanda tangani. Kakak mendanai semua vasilitas ke tiga teman mu." Ujar janis yang membuat nadia terkejut.


"Kenapa kak.?" Tanya nadia.


"Itu hadiah untuk mereka. Karena sudah mau berteman dengan mu tanpa memandang apapun." Jawab janis lalu mencium bibir nadia sekilas.


"Terimakasih kak." Ujar nadia lalu memeluk kakak nya.


Janis dan nadia pun pulang dengan janis yang mengendarai mobil nadia. Janis tau jika adiknya sangat menyayangi mobil tersebut. Membuat nya tidak mau meninggalkan mobil tersebut di kantor nya.


Sesampainya di masion nadia melihat ada mobil asing yang sedang parkir di halaman masion. Sempat membuat nadia bertanya tanya tapi ia tidak mau pusing toh kakaknya mungkin membelinya. Janis dan nadia turun dari mobil. Disana janis merangkul nadia sambil berjalan memasuki masion. Tapi tiba tiba hal yang tidak diharapkan janis terjadi. Tepat di depan nya memyambut janis dan nadia ada alexander yang sedang menunggu kedatangan kakak dan adik nya.


"Setelah kepergian ku beberapa hari princess ternyata melupakan ku." Ujar xander.


"Kak xander." Teriak nadia senang lalu berjalan memeluk erat xander.


"Aku merindukan mu princes." Ujar xander lalu menghirup udara di sekitar leher nadia. Xander menemukan bekas kemerahan di leher nadia. Membuatnya yakin jika ada hal tidak beres selama ia pergi.


"Aku juga merindukan mu kak." Kata nadia.


"Lepaskan. Bukan kah tidak normal kakak lelaki memeluk adik nya." Ujar janis yang memisahkan pelukan xander dan nadia.


"Seperti itu kah janis.?" Tanya xander dengan nada yang mengejek.


"Maksut lo apa.?" Kini giliran janis yang tersulut emosi.


"Terserah lo janis." Ucap xander lalu pergi meninggalkan nadia dan janis.


"Kak tungg.." Belum sempat nadia mencegah xander pergi janis mencegah nya dengan menarik nadia ke dalam pelukan nya.


"Nad. Kau ingat sekarang kau milik ku." Bisik janis membuat bulu kudu nadia meremang.


_________


Semalaman nadia tidak bisa tidur. Pasalnya kedua kakaknya sedang berada di dalam kubangan emosi. Entah apa yang membuat mereka seperti itu. Nadia yang berada di tengah tengahnya pun hanya bisa pusing saat melihat mereka berdua bertengkar seperti pagi ini. Pagi ini mereka bertiga sedang sarapan bersama sebagai ritual pagi keluarga ini.


"Hari ini aku akan mengantar dan menjemput nadia." Ujar xander.


"Nadia akan berangkat bersamaku." Jawab janis cuek.


"Seharusnya kita tanya ke nadia. Kamu mau berangkat sama siapa princes.?" Tanya xander kepada nadia.


"Uhmmm aku berangkat dengan kak xander saja." Jawab nadia. Janis yang mendengar jawaban dari nadi langsung membanting gelas ke lantai.


"Hei ada apa kau ini.? Sejak kapan kau over protectif pada nadia."


Janis tidak menggubris perkataan xander. Ia langsung pergi setelah membanting gelas air putihnya.


"Sudahlah princes ayo kita berangkat. Sebelum kamu telat." Ajak xander.


Xander pun mengantarkan nadia menuju sekolahnya. Dilain sisi janis sedang uring uringan di dalam mobil.


"Mungkin penghalang terbesar ku sekarang adalah xander." Ujar janis dalam hati.