
jangan lupa untuk like dan komen di setiap part.
agar ada bonus up date.
selamat membaca.
Mark yang sampai di tempat camping pun di tanyai oleh sharen. Sharen sangat kawatir dengan keadaan nadia. Sharen cemas pasalnya ia melihat lara dan teman teman nya juga baru saja kembali dari arah sungai.
"Nadia bagaimana.?" Tanya sharen pada mark. Mark pun terdiam dia pun mengambil perlengkapan p3k yang membuat sharen tambah kawatir.
"Mark jawab. Atau aku akan melapor pada bu josi." Mendengar ancaman dari sharen akhirnya mark pun menceritakan kejadian nadia dirinya dan nikolas.
"Astaga. Ayo aku akan ikut bersama mu. Jangan buat nadia menunggu sendirian." Ujar sharen yang langsung menarik mark ke arah jalan menuju sungai.
Dalam perjalanan sharen terus menggerutu. Karena seharusnya mark tidak meninggalkan nadia sendirian di sana. Ia sangat kawatir terjadi sesuatu dengan sahabat nya tersebut. Saat tiba di sana mereka berdua terkejut melihat nadia yang sudah tergeletak di pinggir sungai dengan darah yang mengalir di kepala nya.
"NADIAAA.." Teriak sharen.
"Nad. Bangun nad." Ujar mark kemudian mengguncang tubuh nadia.
Mark dengan cepat menggendong tubuh nadia dan membawa nya kembali ke tempat kemah. Sharen berlari mendahului mark untuk segera memberi tahu bu josi. Air mata sharen mengalir deras membuat beberapa siswa menatap nya bertanya.
"Bu josi.. Bu." teriak sharen yang membuat bu josi langsung keluar dari tenda nya.
"Ada apa sharen.? Kenapa kamu menangis.?" Tanya bu josi.
Belum sempat sharen menjelaskan semuanya mark tiba dengan menggendong nadia yang berlumuran darah. Dengan sigap para guru lalu meminjam mobil pemilik tempat camping untuk mengantar nadia ke rumah sakit terdekat. Mark dan sharen pun ikut menemani nadia yang di bawah ke klinik terdekat. Saat sampai di klinik para dokter memberi penanganan agar darah nya tidak banyak yang keluar. Karena nadia harus di bawa ke rumah sakit yang lebih besar di kota untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
_________________________
Leonard corp.
Pyyaarrr... Gelas yang dipegang janis pecah di hadapan para kolega nya. Ia tiba tiba merasa gelisa.
"Tuan. Apa kita hentikan dulu pembicaraan ini. Kelihatan nya anda sedang tidak enak badan." Ujar kolega janis.
"Baik lah mr. Maafkan aku memang aku agak kurang enak badan hari ini. Sekretaris ku akan mengabari anda tentang pertemuan selanjut nya." Ujar janis lalu melenggang pergi.
Janis memasuki ruangan nya yang ternyata di sana sudah ada teo kaki tangan nya.
"Apa nadia senang dengan makanan nya.?" Tanya janis.
"Saya tidak tau tapi kelihatan nya nona sangat senang tuan." ujar teo dengan berbohong.
"Pergilah ke perusahaan cabang. Pantau perkembangan di sana." Ujar janis.
"Baik tuan." Jawab teo lalu pergi melaksanakan tugas dari tuan nya.
Janis meminta mia untuk membuatkan kopi. Ia tidak tau kenapa tiba tiba dirinya merasa sangat gelisah.
Drrrttt... Drrrttt.... Handphone janis bergetar menandakan ada nya telfon masuk dari seseorang. Janis melirik nama pada panggilan telfon tersebut. Ia terkejut ternyata xander yang menelfon nya.
"Halo..." Jawab janis setelah mengangkat telfon dari adik nya.
"Aku akan segera ke sana." Ujar janis dengan buru buru.
Saat akan memasuki liff janis berpapasan dengan mia yang membawa kopi untuk nya.
"Tuan kopi nya." Ujar mia yang tidak di gubris oleh janis sama sekali.
________________
Setelah menunggu kemacetan hampir 1 jam. Janis akhirnya sampai di rumah sakit. Xander mengabari janis jika nadia harus segera di oprasi karena pembekuan darah di otak akibat benturan di kepala yang sangat keras. Janis sangat kalut mendengar hal tersebut. Saat melihat mark berada di sana janis langsung melayangkan bogem mentah kepada mark. Xander dan sharen serta para guru berusaha melerainya.
"Janis. Jangan seperti anak kecil." Ujar xander.
"Aku tau. Pasti gara gara bajingan ini kan yang membuat nadia jadi celaka." Jawab janis dengan menuding mark.
"Maaf tuan janis saya menyelah. Tapi ini bukan salah mark. Bahkan waktu kejadian mark dan sharen lah yang menemukan nadia sudah berdarah darah di pinggir sungai. Kemungkinan nadia terpeleset lalu jatuh. Tapi para polisi masih menunggu nadia sadar agar tau pasti kejadian yang menimpa adik anda." Jelas bu jose.
"Tenang lah janis." Ujar xander menenangkan kakak nya.
Para siswa di tempat camping sedang di intrograsi oleh para polisi. Karena janis percaya jika itu adalah kasus percobaan pembunuhan. Setelah lama mereka menunggu. Mark sharen dan bu jose memutuskan kembali ke camping.
Setelah hampir 4 jam menunggu. Lampu ruang oprasi pun padam menandakan oprasi sudah selesai dilaksanakan. Janis dan xander pun menunggu dokter keluar. Pintu oprasi pun terbuka setelah itu nadia keluar dengan ranjang rumah sakit nya. Di sana xander sedih melihat perempuan yang tadi pagi dilihatnya sangat ceria sekarang pucat terbaring lemah di atas ranjang.
"Tuan. Oprasinya berjalan dengan lancar. Kami akan memindahkan nya di ruang rawat inap. Kemungkinan nona sadar sekitar 48 jam setelah oprasi. Jadi sewaktu waktu nona bisa siuman. Tidak ada yang mengawatirkan selain amnesia sementara. Tapi kita akan mengetahui nya jika nona sudah sadar." Ujar dokter.
"Terimakasih dokter." Jawab xander.
Mereka berdua pun pergi ke tempat ruangan nadia di rawat. Xander menatap sendu adik nya. Ia tidak akan membiarkan pelaku nya pergi begitu saja. Hanya tinggal menunggu nadia sadar mereka akan segera tahu siapa pelaku sebenarnya.
______________________
Di dalam tenda panitia tiga orang gadis saat ini sedang di interogasi oleh bu jose.
"Seorang saksi melihat kalian dari arah sungai pada saat kejadian." Ujar bu jose.
"Ibu harap jika memang kalian yang melakukan hal tersebut kepada nadia. Kalian harus segera mengakui nya dan meminta maaf. Karena jika tidak mungkin kakak nadia akan mengurusnya lebih panjang lagi." Jelas bu jose yang membuat lara dan kedua teman nya ketakutan.
"Kami bersumpah bu tidak melakukan nya. Ya kan sis.?" Tanya tania pada siska.
"Benar bu." Kata siska membenarkan nya.
"Baik lah. Kita hanya bisa menunggu nadia sadar untuk bisa mengetahui siapa pelaku sebenarnya. Sekarang kalian keluar lah dan bergabung sama kelompok kalian."
Lara dan kedua teman nya pun pergi meninggalkan bu jose.
________________
Rumah sakit.
Malam hari nya xander menjaga nadia sendirian. Karena mungkin sekarang janis sedang bersama dengan sekretaris nya. Xander sangat tersiksa melihat nadia terbaring lemah. Mata nadia mulai mengerjap ngerjap berinteraksi dengan cahaya sekitar. Xander yang melihat nadia siuman pun langsung memencet tombol merah untuk memanggil dokter dan suster.
"Kak.. Minum." Lirih nadia.
"Kita tunggu dokter dulu ya princes." Ujar xander.
Setelah itu beberapa petugas medis memasuki ruangan nadia di rawat. Dokter memeriksa nadia dengan sangat teliti. Setelah selesai dokter pun memberi tahu keadaan nadia kepada xander.
"Syukur puji tuhan nona tidak mengalami efek yang fatal. Dia juga tidak mengalami amnesia. Hanya akan sering sakit kepala akibat oprasi tadi siang. Setelah dua bulan rasa sakit itu akan hilang." Jelas dokter.
"Terimakasih dokter." Ujar xander.
Xander pun mendekati nadia lalu membantu nadia minum air putih. Nadia terlihat sangat pucat. Xander mendekatkan wajah nya lalu mencium pipi adik nya tersebut.
"Kakak." Panggil nadia dengan lirih.
"Ada apa princes.?" Tanya xander pada nadia.
"Dimana kak janis.?" Ujar nadia mempertanyakan keberadaan janis.
"dia mungkin sedang istirahat di rumah. Sekarang kamu tidur ya. Nanti aku akan menghubungi janis jika kamu sudah siuman." xander berusaha menenangkan nadia.
"Jangan beritahu kak. Biar aku tau seberapa peduli nya dia sama aku." Lirih nadia lalu ia pun mulai menutup mata nya untuk tidur.
Xander yang melihat nadia seperti bersedi oun hanya bisa diam saja. Ia pun belum sempat menanyakan siapa pelaku sebenarnya kepada nadia.
Xander berjalan duduk di sofa lalu mengeluarkan handphone nya untuk menghubungi seseorang yang akan membantu nya nanti.
"Halo, aku tidak akan datang ke kantor dalam beberapa hari. Jadi urusi semua hal yang ada di kantor. Setelah itu segera laporkan kepada ku." Kata xander setelah telfon tersebut di angkat oleh seseorang di sebrang sana.
______________________
Rumah sakit.
Dua hari nadia di rawat di rumah sakit. Hanya xander yang menemani nya. Sesekali javi tangan kanan xander menggantikan nya saat ada rapat rapat penting yang harus membuat xander meninggalkan nadia. Selama dua hari nadia di rawat janis tidak pernah memperlihatkan batang hidung nya. Nadia pun masih melarang xander untuk memberitahu kakak tertuanya tersebut. Karena ia pikir kakak nya akan datang meskipun ia belum sadar.
"Kita nunggu sebentar lagi dokter akan memeriksa mu. Setelah itu kita akan pulang." Ujar xander.
"Iya kak. Kak apa pelaku nya sudah tertangkap.?" Tanya nadia pada sang kakak.
"Sudah para polisi juga sudah menahan nya." Jawab xander lalu berjalan memeluk nadia.
Ternyata pelaku penyerangan nadia adalah mantan sahabat nadia sendiri yaitu nindi. Ia merasa iri dengan kehidupan nadia dan berusaha membunuh nadia. Setelah nadia sadar ia langsung menceritakan nya kepada xander. Para polisi langsung menyergap perempuan itu dan langsung menahan nya.
Tokk... Tookk.. Tok.. Dokter pun datang untuk melepaskan cairan infus dan memeriksa keadaan nadia. Nadia pun di nyatakan sehat lalu harus kembali setelah 4 hari untuk melihat jahitan di kepala nya. Nadia dan xander pun pergi meninggalkan rumah sakit menuju masion leonard.
Sesampai nya di masion nadia melihat ada mobil yang terparkir di depan lobi masion.
"Bukan kah ini belom waktu nya makan siang kak.? Kak janis kok sudah pulang." Tanya nadia pada xander.
"Mungkin ada berkas yang ketinggalan. Ayo masuk." Aja xander.
Nadia pun memasuki ruang tamu dan melihat beberapa pelayan sedang membersihkan kamar tamu. Nadia pun di antar xander menuju kamar nya. Saat tiba di lantai dua nadia pun langsung menuju kamar janis. Ia ingin memberi kejutan pada janis. Tapi saat nadia membuka pintu ia yang harus di kejutkan dengan dua manusia yang sedang memadu kasih. Janis yang mendengar seseorang membuka pintu pun langsung menoleh. Betapa terkejut nya ia melihat nadia sedang berada di sana dengan mata yang berkaca kaca.
"Maaf mengganggu." Ujar nadia lalu melenggang pergi dari sana.
Xander yang melihat itu pun langsung memeluk nadia dan membawa nya ke kamar sang adik. Disana xander berusaha menenangkan nadia.
"Kita pindah ya. Kakak janji akan selalu ada untuk kamu princes." Ujar xander.
"Aku akan menunggu kak janis memintahku pergi dengan sendiri nya. Setelah ia menyuruh ku pergi aku tidak akan pernah kembali lagi pada nya." Jawab nadia.
"Aaaarrrkkkhhh... Kepalaku sakit kak." Erang nadia yang merasakan sakit di kepala nya.
"Tidur lah. Jangan memikirkan apapun. Kakak akan menemanimu di sini." Ujar xander lalu ikut berbaring di samping nadia.
Saat nadia sudah tertidur pulas pintu kamarnya tiba tiba terbuka. Janis berada di sana. Mata nya menyalah tanjam melihat tangan xander yang berada di atas perut nadia. Nadia meringkuk di dalam dekapan xander. Tanpa berkata kata janis pun langsung meninggalkan kamar nadia.
Beri masukan untuk cerita part selanjut nya.