MY Brother Is My Boy. .

MY Brother Is My Boy. .
part 7



Jangan lupa untuk coment dan like. selamat membaca.!


Masion.


Mobil janis memasuki pelantaran masion pada sore hari. Janis sangat sibuk di kantor sampai sampai ia tidak bisa pulang untuk makan siang dan menepati ucapan nya pada nadia. Tapi syukur syukur janis masih bisa meluangkan waktu nya untuk makan malam nanti. Janis memasuki lobi masion yang langsung di sambut oleh bibi desi.


"Dimana nadia.?" Tanya janis pada bibi desi.


"Nona sedang istirahat di kamarnya dengan teman perempuan nya. Sedangkan dua teman lelakinya istitahat di kamar tamu tuan. Sepertinya mereka kelelahan bermain dan bercanda." Ujar bibi desi.


"Biarkan saja. Bangunkan mereka saat makan malam satu jam lagi. Aku akan membersihkan tubuh ku." Ujar janis lalu berlalu pergi menuju kamar nya untuk membersihkan diri.


Malam hari nya mereka ber empat berkumpul di ruang makan. Mereka sedang menunggu janis untuk memulai makan malam.


"Aku nggak nyangka banget bisa makan malam bareng janis dan alex leonard. Dan lebih nggak nyangka lagi ternyata teman kita adalah leonard juga." Ujar fiki.


"Sama aku juga nggak nyangka." Ujar sharen.


Nikolas hanya memandang nadia saja sedari tadi. Nikolas adalah anak dari patner kolega keluarga leonard.


"Kakak ku alex sedang melakukan perjalanan bisnis. Jadi dia tidak datang ke masion. Yang ada di sini cuma kak janis." Ujar nadia.


"Ada atau tidak ada keluarga leonard. Kita tetep senang kok bisa makan di masion ini." Ujar nikolas yang lama diam. Membuat mereka tertawa.


"Eehhmmm.." Deheman seseorang membuat mereka langsung terdiam.


"Kak. Ayo makan. Mereka sudah menunggu dari tadi." Ujar nadia yang melihat kakak nya datang.


Mereka semua terdiam setelah kedatangan janis. Janis memang terkenal sangat cuek dan dingin di majalah majalah bisnis.


"Apakah pakaian seperti itu sopan baby.?" Tanya janis yang menilai pakaian nadia.


"Aku akan ganti baju." Jawab nadia.


"Tidak perlu. Bukan nya teman teman mu sudah lapar. Ayo kita mulai makan malam nya." Ujar janis dengan nada dingin.


Mereka semua pun makan dengan tenang. Tidak hanya tenang mungkin mereka sudah berkeringat dingin. Janis menatap nikolas yang sedang makan. Ia tau jika nikolas adalah putra dari rekan bisnis nya.


"Saya harap kalian berteman dengan nadia tidak memandang dari nama leonard di belakang nya." Ujar janis yang memecah keheningan diantara mereka.


"Tidak, kami bahkan baru tahu hari ini jika nadia adalah putri keluarga leonard." Jawab fiki.


"Benar kak. Nadia hanya menyebutkan Equela nadia saat memperkenalkan diri. Dia tidak menyebutkan nama leonard di belakang nya." Ujar sharen.


"Benarkah itu baby.?" Tanya janis pada adik nya.


"Iya. Karena aku tidak mau mereka berteman dengan ku hanya karena aku putri daddy." Jawab nadia.


"Bukan kah kamu putra javis elduardo.?" Tanya janis pada nikolas.


"Iya. Senang bisa makan malam bersama anda di masion ini tuan." Ujar nikolas.


"Jika bukan karena kalian teman nadia. Aku mungkin tidak akan mengizinkan nya." Jawab janis yang langsung membuat mereka terdiam.


"Kelihatan nya kalian semua sudah selesai. Mau aku antar keluar.?" Tanya nadia pada teman teman nya.


"Iya. Kak kita pamit pulang dulu." Ujar sharen pada janis. Yang hanya di balas deheman oleh janis.


Nadia pun mengantarkan ke tiga teman nya ke teras masion. Terlihat dari wajah nadia jika nadia sangat ingin minta maaf karena sikap janis.


"Sudahlah nad tidak usah di pikirkan. Toh kita semua tau gimana sifat tuan janis." Ujar sharen.


"Maaf ya teman teman." Lirih nadia.


"Sudah ya nad. Kita balik dulu malaikat maut sudah di belakang mu." Bisik fiki pada nadia. Nadia pun menoleh dan mendapati kakak nya sidah berdiri di sana.


"Baiklah. Hati hati teman teman." Teriak nadia saat teman teman nya sudah di dalam mobil.


"Kelihatan nya hari ini kau bahagia baby." Ujar janis sambil memeluk nadia dari belakang.


"Kenapa tadi kakak dingin sekali.?" Tanya nadia pada kakak nya.


"Ayo masuk. Yang terpenting kakak tidak dingin padamu." Jawab janis.


____________________


Pagi hari nya janis dan nadia pun sarapan bersama. Mereka semakin hari pun semakin akrab.


"Sudah selesai.?" Janis bertanya pada nadia.


"Sudah kak."


"Hari ini kamu kakak antar. Nanti setelah selesai sekolah. Ikut kakak ke kantor ya baby.?" Tanya janis.


"Aku bawah mobil sendiri saja kak. Nanti kakak share lock kantor kakak aja." Jawab nadia.


"Oke jika itu keinginan mu baby. Kakak berangkat dulu." Ujar janis.


"Hati hati kak." Ujar nadia.


Nadia pun berangkat menuju sekolahnya. Perasaan nadia hari ini sangat senang karena mungkin mark sudah di keluarkan dari sekolah dan tidak akan mengganggunya lagi. Di saat ia memakirkan mobilnya, mark tiba tiba datang dan mengetuk pintu mobil nadia. Nadia takut untuk membuka pintu dia pun tidak menggubris ketukan mark.


Setelah lelah mengetuk kaca mobil nadia. Mark tidak pergi tapi dia menunggu sampai nadia keluar. Tapi tiba tiba nikolas datang lalu mengetuk kaca mobil nadia. Nadia yang melihat itu langsung membuka mobilnya dan turun.


"Niko." Sapa nadia.


"Ayo. Aku antar ke kelas." Ujar nikolas lalu menggandeng tangan nadia.


"Nadia tunggu." Mark pun menggentikan nadia. Nikolas pun menatap tajam mark.


"Ini. Aku minta maaf." Ujar mark sambil memberikan susu kotak rasa coklat.


"Udah nik. Ayo kita pergi." Ajak nadia pada nikolas.


Mereka pun pergi meninggalkan mark di sana. Nikolas berjalan ber iringan dengan nadia. Tanpa mereka sadari ternyata mereka menjadi pusat perhatian saat ini. Dari kejauhan mark terlihat sangat kesal lalu membanting susu yang ia pegang tadi.


"Aku dengar mark tidak jadi di keluarkan dari sekolah." Ujar niko di perjalanan menuju kelas nadia.


"Kenapa.?" Tanya nadia bingung.


"Karena mark sangat berprestasi di sini. Terus sebentar lagi ada turnamen bola basket. Kepala sekolah jadi berpikir dua kali." Jelas nikolas.


"Apa sebegitu pengaruhnya dia.?" Tanya nadia.


"Sama dengan mu. Kamu juga sangat berpengaruh di sekolah ini. Karena keluarga leonard adalah donatur terbesar di sekolah kita." Ujar nikolas.


"Sudah sampai. Aku masuk kelas dulu ya niko." Ujar nadia lalu masuk ke dalam kelas nya.


Pelajaran pun di mulai. Para murid berdiam mendengarkan penjelasan bu josi dengan seksama. Sepanjang jam pembelajaran nadia tau jika lara sedang memperhatikan nya dengan tatapan mata yang menunjukan bahwa ia sedang iri kepada nadia. Setelah waktu pembelajaran selesai bu josi membagikan lembaran brosur.


"Anak anak. Sekolah kita akan mengadakan camp akhir tahun. Seperti biasa kalian harus meminta izin kepada orang tua atau wali kalian masing masing. Jika mereka mengizinkan harap isi tanda tangan tersebut. Apa sudah jelas.?" Jelas bu josi.


"Jelas bu." Jawab mereka serempak.


"Sekarang waktunya istirahat." Ujar bu josi lalu meninggalkan kelas.


Nadia dan sharen pun membersihkan meja nya. Merema berdua bersemangat untuk segera menuju kantin karena perut mereka sudah berteriak teriak meminta makan. Dikantin nadia dan sharen langsung perjalan menuju tempat nikolas dan fiki. Disana nadia dan sharen terkejut melihat makanan yang sangat banyak di meja.


"Siapa yang pesan.?" Tanya sharen.


"Nikolas. Katanya dia mau traktir kita gara gara hati nya senang." Jawab fiki.


"Benarkah.? Terimakasih niko." Ujar nadia.


"Sama sama. Ayo makan lah." Ajak nikolas.


"Kalian sudah dikasih edaran camping.?" Tanya sharen dengan mulut yang di penuhi oleh makanan.


"Telen dulu tuh makanan." Ujar fiki sambil tertawa.


"Uhhukkk uhhukkk." Sharen pun tersedak makanan membuag teman teman nya kebingungan. Dengan cepat fiki memberikan minuman nya ke sharen dan langsung di habiskan oleh nya.


"Sharen kamu nggak papa.?" Tanya nadia kawatir.


"Sudah gak papa." Jawab nya sambil tersenyum pepsoden.


"Minuman gue habis gara gara lo." Ujar fiki dengan nada marah.


"Salah sendiri ngasih minum lho. Ngapain gak kasih minum gue sendiri." Jawab sharen yang membuat fiki langsung terdiam karena kebenaran yang di ucapkan oleh sharen.


"Kamu sudah dapat edaran nya.?" Tanya nikolas pada nadia.


"Sudah." Ujar nadia.


"Kita akan berangkat lusa. Besok harus sudah mengumpulkan surat izin nya. Nad bagaima jika besok aku jemput kamu.?" Tanya nikolas yang langsung membuat nadia tersedak minuman nya.


"Maaf niko. Aku mungkin besok bawah mobil sendiri. Jadi nggak bisa." Jawab nadia.


"Its oke." Jawab niko.


Sharen dan fiki yang mendengar pembicaraan mereka pun hanya saling pandang. Sharen berfikir jika nikolas menyukai temanya. Terlihat dari cara nikolas memandang lembut nadia.


Dikantor janis terlihat uring uringan. Bagaimana bisa jadwal nya sampai berantakan seperti ini. Janis pun tidak bisa menyalahkan teo karena ini memang murni kesalahan janis yang tidak ingin memiliki sekretaris untuk membantunya.


"t1eo cepat keruangan ku sekarang." Ujar janis dengan telfon nya.


Tak lama setelah itu teo pun datang dengan mengetuk pintu ruangan janis.


Tok tok tok...


"Masuk." Jawab janis.


"Ada apa tuan memanggil saya.?" Tanya teo.


"Carikan aku sekretaris untuk di kantor. Kamu cukup jadi kaki tangan ku saja." Ujar janis.


"Baik tuan. Saya akan segera mencarikan." Jawab teo.


"Ambilkan seseorang dari devisi di kantor kita saja. Agar besok dia bisa langsung bekerja menjadi sekretaris ku tanpa kita seleksi." Ucap janis. Memang masuk di perusahaan janis membutuhkan seleksi yang sangat ketat. Jadi janis lebih memilih mengambil kariawan nya untuk menjadi sekretarisnya.


Setelah beberapa jam menunggu kabar dari teo. Akhirnya teo berhasil menemukan kandidat yang pas untuk menjadi sekretaris ceo. Dia adalah mia dari devinisi . Wanita berusia 28 tahun cantik dan pintar. Janis pun menyuruh mia menemui nya sebelum bekerja.


Tokk tok tok.


"Masuk." Jawab janis.


"Selamat siang mr. Janis. Saya mia dari devisi penjualan yang di promosikan akan menjadi sekretaris ceo." Ujar seorang perempuan setelah membuka pintu.


"Duduk lah." Ujar janis cuek. Mia pun langsung mengikuti arahan dari janis.


"Kamu akan langsung bekerja menjadi sekretaris hari ini. Semua barang barang mu akan di pindah di meja resepsionis di depan ruangan saya. Kamu mengerti tugas kamu kan.?" Tanya janis.


"Saya mengerti mr." Ujar mia.


"Kembalilah ke depan meja mu. Untuk hari ini kamu periksa semua file file yang akan aku tanda tangani. Dan setelah itu kosongkan jadwal ku hari ini." Perintah janis.


"Baik mr." Ujar mia lalu undur diri untuk menempati posisi sekretaris nomer satu di kantor itu.


Setelah kepergian mia. Janis langsung membuka ponselnya yang ternyata banyak panggilan tidak terjawab dari nadia dan satu pesan yang mengatakan jika nadia sekarang sedang menunggu nya di lobi lantai satu. Melihat itu janis bergegas pergi menuju lantai satu.