
maaf baru update. dikarenakan beberapa hari ini internet di rumahku lagi trouble.
*selamat membaca untuk readers yang setia dengan cerita novel ini.
jangan lupa like, comen dan ikuti aku terus. Terima kasih*.
SEKOLAH.
Di sekolah nadia berjalan berdampingan dengan mark. Beberapa siswa dan siswi pun melihatnya karena sangat jarang mark berangkat bersama wanita. Bahkan tidak pernah. Saat mereka hampir sampai di kelas. Nadia pun melihat fiki di sana.
"Fiki kamu cari sharen.?" Tanya nadia.
"Eh.. Nadia. Enggak nad. Ini aku di suru kasih surat izin ke sini." Ujar fiki.
"Surat siapa.?" Tanya mark.
"Sharen. Dia lagi pergi ke paris ngunjungi nenek nya. Aku titip kamu ya nad." Kata fiki.
"Lho kenapa kemarin sharen nggak bilang ya.?" Tanya nadia yang kebingungan.
"Tadi pagi ia dapat telfon kalo neneknya jatuh sakit. Jadi pergi dadakan deh." Jelas fiki.
"Ohh yaudah sini. Nanti aku sampaikan. Aku masuk dulu ya fiki, mark." Ujar nadia lalu meninggalkan mereka berdua yang jotabenya herdeda kelas.
Nikolas yang sedari tadi melihat nadia masuk kekelas pun pergi. Ia masih kesal dengan peremouan tersebut. Nikolas merasa sangat sakit hati mengetahui nadia lebih membela mark ketimbang dirinya. Ia bertekat tidak akan melepaskan nadia untuk mark.
Xander pergi ke kantor nya untuk membereskan beberapa masalah. Ia juga memberitahu kaki tangan nya javi jika nanti adiknya akan datang ke kantor. Ia sangat ingin adiknya diperlakukan sebaik baiknya saat ia berkunjung ke sini. Karena xander tau jika adiknya mengalami hal buruk saat datang pertama kali ke kantor janis.
Kembali ke sekolah di sana terlihat murid kelas nadia sedang berada di lapangan. Nadia yang tidak berganti baju pun di tanyai oleh gurunya. Setelah mendengar penjelasan dari nadia sang guru meminta nya untuk pergi beristirahat di uks.
Nadia pun pergi ke uks. Disana ia melihat nikolas yang akan pergi keruang guru. Nadia pun berlari ke arah nikolas. Tapi sayang nikolas berjalan cepat memasuki ruangan guru yang ternyata di dalam nya juga ada mark.
"Kenapa kalian berdua bertengkar di dalam kelas.?" Tanya wali kelas mereka, nadia yang ada di depan ruangan guru konseling pun mendengarkan.
"Dia dulu bu yang memulai." Ujar mark.
"Benar begitu niko.?" Tanya bu guru pada niko.
"Saya seperti itu karena ingin melindungi seseorang. Dan menurut saya mark adalah ancaman bagi orang tersebut." Jelas nikolas.
"Jika kalian memili masalah di luar sekolah. Seharusnya kalian menyelesaikan nya tidak di dalam sekolah. Jika saya mengetahui hal seperfi ini lagi. Saya akan menskorsing kalian. Mengerti.?"
"Mengerti bu." Jawab mereka berdua.
"Sekarang kembali ke kelas." Perintah bu guru.
Saat mark dan nikolas keluar dari ruangan guru sudah tidak ada nadia yang menguping di sana. Nadia bersembunyi di balik tembok tanpa mereka ketahui.
"Nanti malam. Gue tungguin lo." Ujar nikolas sambil mengancam mark.
"Oke siapa takut." Jawab mark menantang.
"Jika lo kalah. Lo lebih baik menjauh dari nadia." Ujar niko lalu pergi meninggalkan mark.
Mark pun yang hati nya dongkol pergi menuju kelas. Nadia yang melihat kedua teman nya bertengkar pun memikirkan cara untuk mendamaikan nya. Tapi itu akan sulit untuk nya. Akhirnya nadia menuju uks dan memikirkan apa yang mereka bicarakan untuk nanti malam.
Ruang uks terlihat sepi tapi saat nadia memasukinya ia melihat siswi perempuan yang sedang piket untuk berjaga di uks. Dilihat dari nama di bajunya bertuliskan lily.
"Apa kamu sedang sakit.?" Tanya lily.
"Aku habis dirawat di rumah sakit beberapa hari. Jadi aku tidak bisa ikut pelajaran olahraga hari ini." Jelas nadia.
"Oh yaudah kamu tidur. Biar aku buatkan teh hangat." Ujar perempuan yang bernama lily tersebut.
"Tidak perlu aku hanya ingin istirahat saja." Ujar nadia yang merasa sungkan.
"Setiap pasien di uks memang harus mendapatkan minuman di sini. Jadi kamu tidak perlu merasa sungkan." Jelas lily.
"Baiklah. Terima kasih ya." Ujar nadia.
"Sama sama." Kemudian lily meracik untuk membuatkan teh nadia.
Setelah nadia memdapatkan teh nya ia segera masuk ke dalam bilik korden yang di sana sudah terdapat kasur untuk beristirahat. Nadia pun merebakan dirinya lalu mencoba untuk menutup matanya. Setelah matanya tertutup nadia pun terbawa ke alam mimpi.
Krriiiinggggg.... Suara bel sekolah menandakan bahwa sudah waktunya istirahat. Nadia yang mendengar itu pun terkejut.
"Sangat nyenyak sekali ya.?" Tanya mark yang sudah ada di kursi samping nadia.
"Sejak kapan kamu di sini mark.?" Nadia malah bertanya kepada mark.
"Sejaakk... Sejak kapan ya.? Mungkin sejak kamu mendengkur." Ujar mark sambil tertawa.
"Aku nggak pernah mendengkur mark." Ujar nadia malu.
"Ayo ke kantin. Aku yang traktir. " Ajak mark.
"Ayo mark."
Nadia dan mark pun pergi ke kantin bersama. Nadia tidak sadar jika kini dirinya telah menjadi pusat perhatian. Mark pun dengan sengaja menggandeng tangan nadia. Setelah sampai di kantin mark menyuru nadia untuk duduk dan dirinya memesan makanan untuk mereka berdua. Saat mark pergi nadia melihat ke arah masuk kantin. Disana ia melihat fiki dan nikolas. Dengan cepat nadia melambaikan tangan nya dengan maksut mengajak mereka bergabung di meja. Tapi sayang nikolas menarik fiki ke meja kosong lain nya.
"Eehhmmm.. Lo di cuekin nikolas ya.?" Tanya lara.
"Lo memang pantas nggak dianggap." Timpal tania.
"Asal lo tau ya. Nanti malam mereka bakalan tanding. Dan jaminan nya adalah elo. Seharusnya gue iri sama lo karena di rebutkan oleh dua pangeran sekolah. Tapi gue mengurungkan hal itu karena salah sati dari mereka akan nge buang lo." Bisik lara.
"Ada apa ini.?" Tanya mark yang baru saja datang sambil membawa makanan untuk nya dan nadia.
"Ayo kita pergi." Ajak lara pada kedua teman nya.
"Kamu nggak diapa apain kan nad.?" Tanya mark dengan kawatir.
"Nggak kok mark. Aku udah lapar banget." Ujar nadia yang membuat mark curiga.
Nadia pun melahap makanan nya dengan sangat cepat. Mark yang memperhatikan mata nadia ia tau jika nadia sedang sedih karena mata otu berkaca kaca.
"Jangan menangis nad. Ada pa sebenarnya.?" Tanya mark.
"Aku ingin ikut kamu tanding nanti malam." Ucap nadia yang membuat mark langsung terkejut.
"Kamu tau dari siapa.?" Tanya mark.
"Nggak penting aku tau dari siapa mark. Intinya aku mau ikut." Ujar nadia.
"Ini berbahaya nad. Lagian kak xander pasti melarang kamu." Ujar mark sambil memegang tangan nadia. Tanpa mereka sadari nikolas telah mengawasi pergerakan mark dari tadi. Melihat mark yang sangat perhatian pada nadia membuat nikolas sakit hati.
"Baiklah." Jawab mark mengalah pada nadia.
Nadia pun membersihkan alat alatnya ke dalam tas. Di pintu kelas sudah ada mark yang menjemputnya. Mark terlihat sangat keren sampai sampai para siswi lainya tidak berhenti menatap mark.
"Sudah selesai.? Ayo pulang." Ajak nadia.
"Kamu jadi aku antar ke mana.?" Tanya mark.
"Antar aku ke kantor kak xander ya." Ujar nadia.
"Baiklah tuan putri." Jawab mark yang langsung membuat nadia tertawa.
Di parkiran nadia langsung memasuki mobil mark. Lalu mereka pun pergi meninggalkan sekola.
"Sudah lah bro. Ikhlasin nadia." Ujar fiki kepada nikolas.
"Lo gila. Gue harus bisa rebut hati nadia lagi." Ujar nikolas lalu melajukan mobilnya.
"Jika nanti lo kalah sama mark. Gimana.?" Tanya fiki.
"Kita lihat saja nanti malam." Jawab niko.
__________________________
CAKRA GROUP.
mobil xander berhenti tepat di depan sebuah perusahaan besar. Nadia tidak menyangka jika kakaknya xander lebih sukses ketimbang janis.
"Terima kasih ya mark." Ujar nadia.
"Sama sama tuan putri. Nanti malam pukul 11 aku akan menjemputmu." Ujar mark.
"Oke mark." Setelah menjawab nadia berlari memasuki gedung tersebut.
Di dalam gedung nadia di sambut langsung oleh javi kaki tangan xander. Nadia di arahkan ke loft khusus untuk xander. Di dalam lift javi tidak berbicara apa pun. Setelah sampai di lantai paling atas ia diajak masuk ke dalam ruangan yang di dalam nya sudah terdapat xander.
"Halo princes. Duduk lah." Ujar xander.
"Apa masih lama kak.?" Tanya nadia.
"Sebentar lagi akan selesai. Tunggu sebentar ya."
"Iya kak." Jawab nadia.
Nadia yang sedari tadi pusing pun akhirnya tertidur di sofa. Setelah pekerjaan xander selesai ia segera membangunkan nadia. Sebelum ia membangun kan nadia. Xander mengecup bibir nadia dengan sangat pelan. Setelah itu xander membangunkan adiknya tersebut.
"Bangunlah princes. Bukankah kita akan belanja." Ujar xander.
Nadia yang mendengar suara kakaknya pun langsung bangun. Mata nya mengerjap menyesuaikan cahaya ruangan tersebut.
"Maaf kak aku tertidur."
"Its oke princes." Jawab xander.
"Kepala ku sangat pusing. Sepertinya aku tidak bisa belanja kak." Ucap nadia.
"Kakak akan menyuruh javi untuk membeli perlengkapan kita di apartemen. Jadi kami tidak perlu kawatir. Sekarang ayo kita pulang." Ujar xander.
Xander langsung membopong tubuh mungil sang adik. Nadia pun hanya bisa pasrah. Kepalanya seperti berputar.
"Kak aku malu." Kata nadia.
"Kita akan langsung menuju parkiran tanpa melewati lobi." Ujar xander.
Xander pun menaiki lift yang akan menuju langsung ke basemant. Ia sangat kawatir dengan kondisi nadia. Saat sampai di tempat parkir javi bergegas membukakan pintu untuk xander.
"Apa kita perlu ke dumah sakit princes.?" Tanya xander.
"Tidak kak. Aku hanya butuh istirahat sebentar." Jawab nadia.
Malam harinya setelah makan malam dan minum obat. Nadia berpamitan tidur kepada kakaknya xander. Xander yang yadi siang meninggalkan pekerjaan nya pun memutuskan untuk kembali mengerjakan nya di ruang kerja.
Pukul sebelas nadia mengendap ngendap untuk pergi. Setelah ia sampai lobi nadia langsung menggunakan masker dan pergi ke supermarket terdekat untuk membeli sesuatu. Setelah selesai membayar nadia pun menelpon mark untuk segera menjemputnya.
"Naiklah." Ujar mark yang membuyarkan lamunan nadia. Melihat mark yanv sudah datang akhirnya nadia segera menaiki mobil mark.
"Kamu pasti sembuyi sembuyi kan.?" Tanya mark.
"Jika aku tidak keluar sembunyi sembunyi kak xander pasti tau." Jawab nadia.
Setibanya di sana nadia melihat sudah ramai sekali.
"Jadi kalian akan balapan mobil.?" Tanya nadia yang hanya di angguki oleh mark.
Tokk tokk tokk. Suara ketukan pintu terdengar membuat mark dan nadia akhirnya turun.
"Wauu jadi ini taruhan nya.? Boleh juga." Ucap salah satu dari mereka.
"Kenapa kamu di sini.?" Tanya nikolas pada nadia. Terlihat nikolas sangat kebingungan.
"Niko ini nggak benar." Ujar nadia.
"Jika lo kalah. Lo harus menjauh dari nadia." Ujar nikolas kepada mark.
"Begitu pun sebaliknya." Ujar mark yang membuat nikolas terkejut.
"Oke." Jawab nikolas.
Mereka berdua pun mulai menaiki mobil masing masing. Nadia yang melihat itu pun hanya berdoa demi keselamatan ke dua teman nya. Seorang perempuan berjalan di antara ke dua mobil lalu mulai mengibarkan bendera yang menandakan balapan pun di mulai. Kedua mobil tersebut pun saling memperebutkan posisi utama. Sampai akhirnya satu mobil tertinggal jauh di belakang. Mark memenangkan balapan tersebut lalu di sambut beberapa tepuk tangan mereka. Mark dan nikolas pun turun dari mobil lalu menghampiri nadia.
Tiba tiba kepala nadia mendengung seperti berputar. Lagi lagi nadia merasakan sakit kepala. Saat tubuh nadia akan ambuk dengan cepat mark pun menyanggahnya. Membuat nikolas bertambah marah.
"Kamu nggak apa.?" Tanya mark.
"Mark bisa antar aku pulang. Kepala ku terasa sangat sakit." Ujar nadia.
Dengan cepat mark langsung menuntun nadia ke dalam mobil. Mark pun mengantarkan nadia ke apartemen nya. Tapi nadia melarang mark untuk ikut naik ke kamar. Mark hanya pasrah ia kemudian berpamitan kepada nadia untuk pulang.
Nadia pun pergi menaiki lift. Kepalanya semakin berputar. Ia kemudian berjalan tertatih ke apartemen nya. Saat memasuki apartemen nya nadia melihat lampu sudah meti semua. Ia berjalan ke arah kamar xander lalu melihat nya. Ia menjadi lega melihat sang kakak sudah tertidur. Tiba tiba kepala nya berdenyut samgat sakit. Nadia bergegas memasuki kamarnya lalu segera merebakan dirinya di atas ranjang.
Pagi hari nadia bangun lebih pagi dari biasanya. Ia membuka tas nya lalu mengambil bungkusan yang ia beli kemarin malam di supermarket. Sebuah alat tes kehamilan. Nadia bergegas pergi ke kamar mandi untuk menggunakan alat tersebut. Setelah berhasil menggunakan nya nadia merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Tiba tiba sakit kepala tersebut datang lagi. Kini di sertai sedikit mual. Nadia memuntahkan cairan putih ke wastafel lalu membasuh wajah nya. Sudah lebih dari 5 menit sudah waktunya melihat hasilnya. Dengan kepala yang sangat pusing nadia melihat hasilnya. Betaoa terjejutnya nadia.
"Dua garis." Lirih nadia.
Sedetik kemudian nadia merasa sakit kepala yang sangat luar biasa sehingga membuatnya jatuh tidak sadarkan diri di dalam kamar mandi.
beri aku saran untuk melanjutkan cerita nya ya.