MY Brother Is My Boy. .

MY Brother Is My Boy. .
Equela nadia leonard.



Pagi hari di sebuah rumah kecil minimalis seorang ibu berusaha membangunkan putrinya yang sedang terlelap. Dia adalah sisil sofran seorang janda yang di tinggal pergi suaminya saat mengandung putrinya. Dia berusaha keras untuk menghidupi putrinya dengan usahanya sendiri. Kini puttinya sudah tumbuh menjadi remaja putri yang cantik.


"Sayang bangunlah... Mama sudah menyiapkan sarapan. Sebentar lagi mama juga harus berangkat kerja." Ujar sisil.


"Eeeggghhh... Aku masih ngantuk ma." Kata putrinya.


Equela nadia sofran adalah putri semata wayangnya sisil. Dia adalah gadis berusia 17 tahun yang cantik. Memiliki mata yang besar dan pipi sedikit cubbi. Nadia bergegas membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Setelah itu ia turun ke ruang makan untuk sarapan dengan mamanya.


"Pagi ma." Sapa nadia.


"Pagi sayang." Jawab mamanya dengan mencium pipi putrinya.


Mereka sarapan dengan sedikit canda an yang di keluarkan nadia. Setelah selesai sarapan mama nadia mengantar nadia ke sekolah. di dalam perjalanan mereka tampak saling bercanda.


"Mama. Om leandro gimana kabarnya.?" Tanya nadia.


"Om lagi ngurusin perusahaan nya yang di luar kota. Tapi kemungkinan besok dia akan pulang. Kamu kangen ya.?" Tanya mama nadia.


"Bukan nya mama yang kangen.?" Tanya nadia balik sambil mrnggoda mamanya.


"Besok lusa kita diajakin dinner sama beliau. Dia akan ngenalin mama ke anak anaknya. Jadi kamu yang sopan ya nak." Ujar sisil.


"Siap dong ma. Emangnya om leandro punya anak berapa ma.? Kok mama nggak pernah cerita." Ucap nadia.


"Dua. Dia lebih tua darimu jadi nanti panggil dia kakak."


"Terus aku panggil om siapa.?" Tanya fera.


"Ya kamu tanya om langsung saja. Udah sana cepat turun sudah nyampe sekolah kamu." Ujar sisil yang pusing menanggapi anak nya yang sudah seperti teman nya.


"Yaudah ma. Aku sekolah dulu. Nanti aku juga mau keluar sana nindi dan dimas boleh kan ma.?"


"Boleh. Jangan pulang malam oke.?"


"Oke ma. Dadah..." Nadia berlari memasuki gerbang sekolahnya.


______________


Sekolah.


Nadia duduk dengan dimas disebelahnya. Dimas adalah salah satu sahabat nadia dari TK. Ia adalah salah satu cowok famous di sekolah. Tidak heran jika nadia selalu mendapatkan bulian dari teman sekolahnya karena mereka pikir nadia berhasil mendapatkan perhatian lebih dari dimas padahal nadia hanya teman nya.


"Nanti jadi nonton.?" Tanya dimas


"Jadi dong. Nindi juga ikut. Ya kan nin.?" Tanya nadia pada nindi yang bangkunya tepat di sebelah nya.


"Iya. Tapi kita makan dulu nanti." Ujarnya.


"Oke biar gue traktir nanti." Ujar dimas.


Setelah itu tidak ada pembicaraan antara mereka. Karena guru killer sudah memasuki ruang kelas mereka.


___________


Leonard corp.


Braakkk... Suara barang barang dibanting diatas lantai. Seorang pria muda tampan nanpak sangat marah. Dia adalah janissio leonard. Pewaris leonard corp. Hampir seluruh dunia mengenali nya. Dia adalah salah satu ceo termuda. Bahkan adik dari janissio pun adalah ceo muda. Keluarga Mereka memang terkenal sebagai keluarga pebisnis. Tapi sayang tidak ada perempuan di dalam keluarga mereka.


"Apa apaan ini teo.?" Bentak janissio pada kaki tangan nya.


"Tuan besar mengajak anda makan malam besok lusa. Makan malam tersebut akan dihadiri beberapa kolega bisnis kita. Karena besok lusa mungkin tuan besar akan mengadakan pertunangan dengan sekretaris nya." Jelas teo.


"Astaga.. Apa lelaki tua itu sudah gila." Ujar janis.


"Maaf tuan. Tapi anda harus datang. Karena jika anda tidak datang tuan besar akan melepas jabatan anda sebagai ceo." Kata teo.


"Akan aku usahakan." Jawab janis singkat lalu melenggang pergi dari ruangan yang sudah ia berantakan.


Janis sangat frustasi mendengar daddy nya akan menikah lagi. Dia berfikir bagaimana bisa daddy melupakan mommynya begitu saja. Ia berfikir jika daddynya sudah mulai gila karena jatuh cinta pada seorang sekretaris yang menurutnya dimatanya adalah seorang pel**ur.


"Bagaimana bisa pelacur menjadi ibuku. Oh astaga." ujarnya sambil memasuki mobilnya.


__________________


Krriiinggggg... Suara bunyi lonceng sekolah menandakan waktu sekolah telah habis. Para murid berhamburan keluar begitu juga dengan nadia dimas dan nindi. Mereka kemudian menuju ke mobil dimas. Dalam perjalan mereka saling bercanda dan memutar lagu dengan volume yang sangat keras. Setelah itu mereka segera pergi menuju ke tempat antri loket.


"Kalian pesen minuman sama popcron gih. Biar aku yang antri tiket." Ujar dimas pada teman teman nya.


"Oke boss." Jawab nadia.


Nadia dan nindi berjalan menuju antrian popcron. Setelah mengantri dan mendapatkan nya mereka menunggu dimas. Karena antrian loket sangat banyak orang mungkin dikarenakan memang film ini trailernya sangat menarik pada waktu di promosikan .


"Nad, lo ada rasa nggak sama dimas.? Secara lo kan teman nya dari masa kanak kanak." Ujar nindi sambil bercanda.


"Nggak ada tuh. Mungkin lo yang ada. Hayo ngaku..." Kata nadia menggoda nindi.


"Ih apaan sih." Jawab nindi dengan wajah yang nemerah.


"Gue tau kok lo itu dari dulu udah ngelirik ngelirik si dimas. Ciee cieee.." Goda nadia.


"Bahas apaan sih.? Kok asik banget." Tanya dimas yang baru datang sambil membawa tiga tiket movie.


"Gak lagi bahas apa apa kok." Ujar nadia lalu segera menggandeng dimas pergi studio untuk nonton.


Nindi merasa dongkol melihat nadia berjalan sambil memeluk dimas. Nadia hanya bercanda dan membuat nindi cemburu agar nindi mau mengakui perasaan nya pada dimas.


Saat menonton pun nindi hanya mau berbicara pada dimas. Saat nadia yang berbicara langsung pada nindi ia tidak menggubris nya. Nadia pun menjadi merasa sangat bersalah pada sahabatnya tersebut.


Saat film selesai mereka berjalan keluar dari studio. Nadia hanya diam saja begitu juga nindi. Dimas yang melihat itu tau jika nindi sedang marahan sama nadia.


"Kalian kenapa.? Marahan.?" Tanya dimas.


"Nggak kok." Jawab nadia.


"Yaudah mau ke mana lagi.? Nggak mungkin kan kita langsung pulang." Ujar dimas.


"Langsung pu.."


"Kita mampir dulu ke toko perhiasan. Aku mau beli kado untuk mamaku." Ujar nindi yang memotong pembicaraan nadia.


"Oh oke ayo kita ke sana." Jawab nadia senang.


Mereka bertiga akhirnya berjalan menuju ruko toko perhiasan ternama di sana. Nindi melihat lihat kalung yang ada di dalam etalase tersebut. Sesekali menyuruh pelayan disana mengambilkannya untuk dilihat. Mata nadia tertuju pada kalung yang di sisihkan dari beberapa kalung disana.


"Mbak bisa lihat kalung yang ada di sana.?" Tanya nadia.


"Bisa. Tapi maaf kalung itu tidak untuk dijual. Karena seseorang sudah memesan nya melalui bos kami." Ujar pelayan toko.


"Oh jadi ini limited edition ya mbak.?"


"Iya dibuat satu desain dan tidak ada lagi yang model seperti ini. Ah maaf saya harus kebelakang karena kebelet. Titip dulu ya mbak kalungnya." Ujar pelayan toko itu lalu berlari menuju kamar mandi.


"Nad. Kamu mau beliin aku minum nggak di stand itu.?" Tuding nindi dari jauh.


"Boleh, tapi kalung ini nggak ada yang jaga." Ujar nadia.


"Biar aku yang jaga. Oh iya mana tas mu biar aku bawahkan."


"Kamu tunggu sini ya. Lagian dimas tadi kemana sih." Gerutu nadia.


"Oke aku tunggu ya." Ujar nindi.


Nadia berlari menuju stand di minuman. Ternyata disana ada dimas yang sedang membeli minuman.


"Dim kok lo di sini.?" Tanya nadia.


Lalu saat mereka ingin kembali tiba tiba nindi sudah nyamperin mereka.


"Nih tas kamu. Ayo kita pulang. Aku udah lelah banget." Ajak nindi pada mereka berdua.


"Kamu udah dapat kado untuk mama lo.?" Tanya nadia.


"Udah kok." Jawab nindi.


Mereka berjalan menuju arah baceman tapi ada dua satpam yang menghadang mereka.


"Ada apa ini pak.?" Tanya dimas.


"Kalian bertiga harus ikut kami ke toko perhiasan dilantai tiga. Karena kami mendapatkan kabar jika anak sekolah mencuri barang disana." Jelas satpam tersebut.


"Apa.?" tanya mereka bertiga.


"Sudahlah kalian ikut saja jika memang kalian tidak salah." Ujar satpam satunya lagi.


Akhirnya mereka pun ikut kembali ke salah satu toko yang di sebutkan oleh kedua satpam itu. Saat tiba mereka terkejut melihat itu adalah toko yang mereka kunjungi tadi.


"Ini pak.. Mereka yang mencuri saya yakin." Ujar pelayan tersebut sambil menunjuk mereka ber tiga.


"Pak tolong periksa tas mereka semua." Ujar seseorang berpakaian rapi yang kemungkinan adalah pemilik toko tersebut.


Kedua satpam lalu menggeleda seluru tas mereka. Sampai akhirnya kalung tersebut ditemukan di dalam tas berwarna biru laut.


"Apakah ini barang nya.?" Tanya satpan tersebut.


"Benar." Jawab lelaki tersebut dengan cuek.


"Aku benar benar nggak nyangka ya. Emang sebegitu butuh nya uang lo sampe kayak gitu.?" Tanya nindi pada nadia. Ya kalung tersebut di temukan di dalam tas nadia.


"Nin jangan gitu mungkin saja seseorang menjebak teman kita." Ujar dimas.


"Lo masih percaya sama muka sok lugu kaya dia." Kata nindi sambil mendorong nadia.


"Gue malu ya punya teman pencuri kayak lo. Gue mau pulang dulu." ucap nindi lalu pergi meninggalkan nadia.


"Dimas lo anterin nindi. Biar aku telfon mama ku." Ujar nadia sambil mengusap air matanya.


"Ada apa ini.?" Tanya seseorang yang baru datang.


"Anak kecil ini mencuri kalung pesanan mu." Ujar pemilik toko tersebut kepada sesorang yang baru datang.


"Maafkan aku. Tapi aku tidak mencurinya. Dan ini mamaku tidak mengangkat telfon ku." Ujar nadia.


"Kamu yakin dia pencuri. Apa tokomu ini tidak memiliki cctv sehingga menuduh orang sembarangan.?" Tanya lelaki tersebut.


"Saksi dan bukti sudah ada. Buat apa repot repot." Ujar pemilik toko.


"Lebih baik kita periksa cctv dulu. Apa kau tidak keberatan.?" Ujar lelaki tersebut yang hanya dijawab gelengan oleh nadia.


Mereka bertiga berjalan menuju ruangan pemilik toko. Disana mereka memeriksa cctv dan memutarnya kembali pada saat kejadian tadi. Disana terlihat nindi dan nadia serta pelayan toko. Pelayan toko berlari ke toilet lalu nadia memberikan tas nya pada nindi lalu pergi ke luar untuk membeli es. Saat nadia pergi keluar disana terlihat nindi memasukan kalung tersebut ke dalam tas nadia. Lalu ia pergi dari sana.


"Kau lihat kan jika bukan gadis ini yang mencuri." Ujar lelaki tersebut.


"Maafkan aku adik cantik. Mungkin temanmu memiliki dendam pribadi padamu. Perkenalkan namaku andre pemilik toko ini. Dan ini adalah teman ku xander yang memesan kalung itu. Siapa nama mu.?" Ujar andre.


"Aku nadia. Aku akan pulang. Maafkan saya dan teman saya." Jawab nadia yang masih tidak menyangka dengan apa yang dilakukan nindi.


"Duduklah aku akan mengantarmu pulang." Ujar andre.


"Tidak perlu aku akan pulang sendiri. Jika aku pulang larut mungkin mamaku akan mencariku." Jawab nadia.


"Aku akan mengantarmu baby. Tunggu sebentar biar aku membayar kalung ini dulu." Ujar xander.


Xander membayar kalung pesanannya lalu berpamitan kepada andre.


"Ayo aku akan mengantarmu pulang." Ujar xander lalu menggandeng tangan nadia keluar mall tersebut. Di baseman nadia terkejut ternyata mobil yang akan ia tumpangi adalah mobil sport.


"Masuklah." Ujar xander membukakan pintu untuk nadia.


"Terimakasih kak." Ujar nadia.


Di dalam mobil setelah nadia memberitahu alamat rumahnya dia hanya dia saya. Sampa ketia suara suara perut nadia berbunyi. Krruuyuuukkk...


"Kau lapar.?" Tanya xander.


"Tidak." Jawab nadia singkat.


Xander lalu membelokan mobilnya ke restoran cepat saji. Ia lalu turun dan membukakan pintu lagi untuk nadia.


"Ayo kita makan. Tubuh sekecil dirimu tidak akan tahan jika tidak makan. Karena cacing di dalam tubuhmu akan menggerogoti dagingmu jika kamu memaksakan diri untuk tidak makan." Mendengar ucapan xander nadia melotot.


"Membayangkan saja aku sangat takut." Ujar nadia.


"Maka dari itu ayo kita makan." Ujar xander berjalan memasuki restoran bersama nadia.


"Duduklah di sana. Aku akan memesankan makanan untuk kita." Ujar xander.


"Tunggu." Cegah nadia.


"Ada apa.?" Tanya xander.


"Terimakasih kak." Ujarnya.


"Sama sama. Duduklah." Perintah xander.


nadia duduk di meja dekat jendela kaca besar. Ia melihat mobil yang ditumpanginya mobil itu sangat bagus. Dia bahkan tidak pernah berharap untuk bisa menaiki mobil bagus seperti itu. Nadia pun teringat dengan kejadian di maall tadi. Bagaimana bisa teman nya sendiri memfitna nya. Dia tidak habis pikir.


"Lagi mikirin apa.?" Tanya xander yang membawa makanan di napan.


"Kejadian kalung tadi." Ujar nadia.


"Sudah tidak usah dipikirkan. Makan lah." Ujar xander.


"Terimakasih." Ujar nadia yang hanya di tanggapi senyuman oleh xander.


"Kalung ini sebenarnya akan aku berikan kepada calon adik ku besok. Tapi kelihatan nya ini lebih cocok untuk mu." Ujar xander sambil memakan makanan nya.


"Untuk ku.?" Tanya nadia kebingungan. Xander berjalan lalu memasangkan kalung tersebut di leher nadia.


"Kamu lebih cocok memakainya." Ujar xander lalu ia kembali ke tempat duduknya untuk memakan makanan yang ia pesan.


Nadia bingung apa yang harus ia lakukan. Dia baru mengenal lelaki tersebut tapi kenapa mereka bisa langsung sedekat ini. Saat mereka selesai makan nadia melepas kalungnya lalu diberikan nya pada xander.


"Tujuan kakak membeli kalung ini adalah untuk hadiah. Jadi berikan lah pada orang nya." Ujar nadia sambil tersenyum.


"Tapi aku sudah memberikan nya padamu. Mungkin lain kali aku akan membeli yang lebih bagus dari ini untuk mu." Jawab xander.


Nadia dan xander pun memutuskan untuk pergi dadi restoran cepat saji karena malam semakin larut. Sesampainya di depan rumah, nadia langsung masuk kedalam setelah berterimakasih pada xander. Di dalam rumah sudah kelihatan sangat sepi tapi nadia dikejutkan oleh perempuan yang sedang berdiri di atas tangga dengan tatapan tajam seperti elang.


"Mama mengejutkan ku." Ujar nadia.


"Kamu dari mana saja.? Mama menunggumu dari tadi." Ujar sisil cemas.


"Maafkan nadia ma. Tadi nadia habis jalan jalan." Ujar nadia.


"Ya sudah sekarang kamu tidur dan jangan lupa bersihkan badan mu." Ujar sisil.


"Baik ma." Jawab nadia lalu ia memasuki kamarnya.


Nadia masih kepikiran dengan lelaki baik yang menolongnya. Mungkin lain kali jika bertemu lagi nadia akan meminta nomer telfon nya. Karena ia ingin berteman dengan xander.