
Alexander masion.
Sepulang dari kantor nadia langsung mengobati luka luka xander di dalam mobil. Saat telah tiba di masion mereka terkejut saat mendapati masion telah di rubah untuk pernikahan mereka besok. Dan semua nya sudah di persiapkan oleh elgura dan anak buah nya. Bahkan gaun pengantin nadia sudah di siapkan di kamar nya. Nadia terkejut melihat gaus simple yang sangat cantik di sana.
"Cantik sekali." Kata nadia.
"Tuan elgura tidak mungkin memberikan gaun pengantin yang biasa biasa saja untuk putri kesayangan nya." Ujar xander.
"Bagaimana muka kakak.?" Tanya nadia.
"Aku tidak pedulu dengan wajah ini princes." Jawab xander.
"Aku harap besok wajah ini sudah sembuh. Aku nggak bisa nge bayangin gimana foto kakak besok jika masoh dipenuhi luka seperti ini." Kata nadia sambil bercanda dan tertawa tipis.
"Pasti tetap ganteng dong." Ujar xander dengan sangat pede.
"Maafin daddy ya kak.?" Ujar nadia.
"Gak apa princes. Itu adalah ujian sebelum menikahi anak perempuan tuan elgura." Xander pun mencium pipi nadia.
"Apa kakak senang dengan pernikahan ini.?" Tanya nadia.
"Aku sangat senang karena bisa memiliki mu seutuhnya honney." Ujar xander lalu memeluk nadia.
"Apa kak janis akan datang besok.?" Tanya nadia.
"Kita lihat saja. Karena daddy mungkin hanya menyebar kan undangan ke kerabat kerabat kita." Jawab xander.
"Apa kakak yakin akan menikahi ku.?" Tanya nadia lagi.
"Kakak yakin. Karena kamu adalah cahaya bagi kakak semenjak dadi leandro tiada." Jawab xander tapa ragu.
Mereka pun akhir nya tidur di kamar yang berbeda malam itu. Karena xander tidak ingin melakukan kesalahan di malam terakhir menjelang pernikahan nya besok.
Di tempat yang berbeda terlihat janis sedang meneguk minuman nya dengan di temani oleh beberapa wanita. Janis mabuk di bar masion nya para perempuan tersebut pun terus menambah minuman pada gelas janis. Ditatapnya undangan berwarna coklat yang di padukan dengan tali emas. Tertuliskan nama alexander dan nadia sebagai mempelai. Janis sangat sedih mengetahui hal tersebut. Janis menyesal telah menyakiti adik nya. Rasa sesal tersebut tidak akan pernah terhapus di dalam benak nya.
"Kalian semua pergilah. Bayaran kalian ambil sendiri di meja." Ujar janis pada para pelacur tersebut.
Mereka semua pun saling berebut uang yang ada di koper. Setelah itu mereka pergi meninggalkan janis di ruangan tersebut. Mia memasuki ruangan janis saat melihat beberapa perempuan keluar dari salah satu ruangan di masion. Mia melihat suami nya dengan perasaan yang campur aduk. Saat mia akan meninggalkan janis di ruangan tersebut sendiri. Tiba tiba janis berbicara.
"Nadia aku mohon jangan pergi." Ucap janis yang langsung menarik tangan mia. Membuat mia jatuh tepat di atas nya.
Mia yang memiliki ide licik pun mengikuti permainan janis. Mia menarik janis ke kamar lalu melakukan hubungan suami istri dengan mia yang di anggapnya nadia.
Pagi hari pun tiba janis yang merasakan silau nya sinar matahari pun mulai membuka mata nya. Dirasakan kepala nya berdenyut denyut. Janis mencoba mengingat kejadian tadi malam. Tapi ia tidak bisa mengingat nya sama sekali. Sebuah tangan kecil memeluk nya. Dirasakan ada pergerakan dari samping nya. Janis pun menoleh lalu betapa terkejutnya melihat mia yang tertidur disamping nya dalam keadaan naked. Janis pun tersadar jika diri nya juga sudah tidak memakai sehelai benang pun. Hanya selimut yang menutupi nya.
"Dasar pelacur kau menjebak ku lagi.?" Tanya janis yang langsung mencekik mia.
"Leppas.. Lepas janis. Kau yang mengajak ku tadi malam. Kau datang sendiri ke kamar lalu mengajak ku berhubungan." Jelas mia yang sudah terlepas dari cekikan janis.
"Nggak mungkin." Elak janis.
"Sudah jelas jelas kau sendiri yang memuja muja tubuh ini kemarin malam." Kata mia sambil mata nya yang mulai berkaca kaca.
"Aaaakkkrrrhh..." Teriak janis frustasi sambil menjambak rambut nya.
Janis berjalan ke arah kamar mandi tanpa memakai apapun. Terlihat senyum tipis terbit dari bibir mia. Ternyata air mata yang ia keluarkan tadi hanyalah air mata palsu.
"Semoga kamu cepat tumbuh di sana sayang. Agar papa mu tidak bisa menceraikan mama." Kata mia dalam hati sambil mengelus perut nya yang rata. Mia tau jika sekarang adalah masa subur nya. Jadi dia berusaha menjebak janis.
____________________________
Alexander masion.
Nadia sudah bersiap dengan gaun cantik nya. Nadia di poles menjadi sangat cantik. Para make up artis yang di sewa elgura menyulap nadia menjadi seperti cinderella. Nadia menatap pantulan diri nya di cermin. Nadia tersenyum puas melihat diri nya yang akan melaksanakan pernikahan hari ini. Nadia teringat dengan mendiang mama nya. Setetes air mata keluar dari pipi nadia.
"Nona. Jangan menangis sekarang kan hari bahagia anda. Biar saya perbaiki make up nya." Ujar salah satu make up artis.
"Terima kasih." Jawab nadia.
Mereka pun membenahi riasan nadia. Setelah selesai el gura datang menemui nadia. El gura teringat dengan ibu nadia saat melihat nadia memakai gaun pengantin.
El gura langsung memeluk nadia. Tanpa ada yang sadar jika elgura seorang ketua mafia menitihkan air mata nya di pelukan sang putri.
"Dad. Are you okay.?" Tanya nadia.
"Daddy hanya mengingat almarhum ibu mu." Jawab el gura.
"Mama mungkin juga sudah bahagia di surga." Jawab nadia.
"Iya mama mu akan senang melihat putri nya akan segera menikah. Ayo turun xander sudah menunggu." Ujar el gura pada putrinya.
"Iya dad." Jawab el gura.
"Daddy akan terus mengawasi mu dari jauh jika xander berprilaku yang tidak tidak. Daddy akan langsung menghukum nya." Kata elgura yang langsung membuat nadia tersenyum ke arah daddy nya.
Nadia dan el gura berjalan memasuki taman belakang rumah yang sangat luas tersebut. Taman tersebut di hias dengan sangat indah. Di tengah tengah deretan kursi ada sebuah altar kecil. Dan di sana sudah ada pendeta dan xander yang menunggu. Nadia mulai berjalan di atas red karpet yang sudah di sediakan. Terlihat teman teman nadia berkumpul di sana menyaksikan acara janji suci yang akan xander dan nadia ucapkan.
"Aku percayakan putri ku satu satu nya pada mu xander. Jangan sampai kau melukai hati nya apa lagi membuat nya menderita. Jika itu terjadi akan ku pastikan kepala mu lepas dari leher mu." Ujar el gura memberikan tangan nadia kepada xander.
"Aku akan menjaga nya." Jawab xander.
Nadia pun melangkah kan kaki nya di depan pendeta. Terlihat di sana xander terpukau dengan kecantikan nadia. Nadia tersenyum tipis memandang xander.
"Apa kalian sudah siap.?" Tanya pendeta tersebut.
"Kami sudah siap." Jawab xander yang di angguki oleh nadia.
"Saya akan memulai nya. Tuan Alexander leonard bersediakah anda menikahi nona Equela nadia sofran.?" Tanya pendeta pada xander.
"Saya bersedia dan berjanji akan mengayomi, mendidik dan melindungi Equela nadia sofran dalam hal apapun dan tidak akan menghianati pernikahan ini sampai maut memisahkan." Ujar xander dengan tegas.
"Nona Equela nadia sofran bersediakah anda menikahi tuan Alexander leonard.?" Tanya pendeta tersebut kepada nadia.
"Saya bersedia menikah dan menerima Alexander leonard sebagai suami dan menerima segala kekurangan hingga kelebihan yang ia miliki. Saya juga berjanji akan melayani alexander leonard sebagai mana mesti nya. Serta menjaga dan mrlindungi keutuhan keluarga hingga maut memisahkan." Ujar nadia dengan menatap wajah xander saat mengatakan nya.
"Sekarang lakukan ritual terakhir setelah itu kalian akan menjadi suami istri." Ujar pendeta tersebut.
Xander pun mendekatkan wajah nya ke arah nadia. Lalu mereka pun berciuman di depan semua orang. Orang orang pun langsung bertepuk tangan dan berusaha mengabadikan momen tersebut. Kini nadia dan xander sudah menjadi sepasang suami istri.
Dilain sisi janis sedang menghabiskan waktu nya di ruang gym masion nya. Ingatan nya teringat saat saat kebersamaan nya dan nadia. Tiba tiba mia datang menghampiri janis sambil membawakan minuman untuk suami nya tersebut.
"Dia mungkin sangat membenciku." Ujar janis dengan nada lemah. Sempat mia tertegun karena setiap janis berbicara dengan nya pasti akan menggunakan nada kasar.
"Kita akan datang ke sana nanti saat resepsi di mulai." Kata mia.
"Aku mau hanya untuk datang di hadapan nya. Aku sudah membunuh bayi nya. Menghancurkan cinta nya." Janis menumpahkan semua keluh kesah nya dengan mia.
"Setidak nya pikirkan xander. Xander adalah adik mu. Satu satu nya keluarga yang kamu punya janis. Setidak nya nanti minta maaflah pada nadia." Ujar mia lalu memeluk janis.
"Kita akan datang ke sana." Ujar janis yang membuat mia tersenyum.
Mia berusaha mengambil hati janis untuk dirinya lagi. Dengan begitu janis akan luluh dan menyayangi mia sebagai istri nya lagi. Mia tidak ingin janis menjadi pemarah pada nya.
Sore hari pun tiba acara pernikahan nadia dan xander masih di gelar. Hanya beberapa teman akrab yang di undang di sana. Bahkan para kolega xander tidak di undang dalam acara pernikahan tersebut. Sedari tadi xander terus berada di samping istri nya. Mata xander pun menangkap kedatangan janis dan mia. Tangan xander pun terulur memeluk pinggang nadia dengan erat. Terlihat janis dan mia yang akan mendekati mereka. Nadia pun belum menyadari kedatangan janis. Sampai akhir nya janis berhenti di depan nadia tepat.
"Kak janis." Ujar nadia lalu memeluk xander karena takut.
"Maaf membuat mu takut. selamat atas pernikahan nya ya." Ujar janis.
"Selamat semoga kalian segera mendapatkan momongan." Ujar mia lalu memberikan kado kepada nadia.
"Terima kasih." Jawab nadia sambil menerima hadia tersebut.
"Bagaimana keadaan mu nad.?" Tanya janis yang membuat nadia sedikit risih.
"Baik." Jawab nadia.
"Aku senang kau bertemu dengan daddy mu." Ujar janis.
"Nadia sendiri yang menginginkan hal itu. Bukan kah begitu honney.?" Tanya xander pada nadia. Yang di angguki oleh nadia.
"Nad. Daddy menyuruhmu istirahat. Karena ia tidak mau putri kesayangan nya kecapek an." Ujar jeselin yang baru saja datang.
"Kakak kan juga putri kesayangan daddy." Ujar nadia yang langsung memeluk jeselin.
"berbeda nadia." Jawab jeselin.
"Sama kak." Kata Nadia.
"Terserah pada mu. Pergilah ke kamar mu. Sebelum daddy memarahi ku." Ujar jeselin.
"Bukan kah itu teman mu nikolas.?" Tanya janis yang melihat kedatangan nikolas.
"Niko." kata nadia bingung.
"Kau ingin menyapa nya.?" Tanya xander.
"Kita tunggu dia di sini saja." Ujar jeselin yang memiliki perasaan tidak enak kepada nikolas.
"Niko sini." Teriak nadia yang langsung mengalihkan pandangan niko.
Sedetik kemudian niko mengeluarkan pistol dari jaket nya dan mengarahkan nya ke arah nadia. Dengan cepat nikolas menarik pelatuk nya dan DOOORRR... Suara tembakan mengalihkan pandangan el gura.
"JIKA AKU TIDAK BISA MEMILIKI MU. ORANG LAIN JUGA TIDAK BISA. MAKA KAMU HARUS MATI." teriak nikolas dengan sangat lantang.
DOOORRR...
DOOORRR....
beberapa suara tembakan terdengar. Nadia jatuh di pelukan xander. Terlihat elgura yang sangat marah langsung menembakan beberapa peluruh di kakai nikolas.
"Kak.. Kak jeselin." Kata nadia sebelum pingsan.
Ternyata jeselin dan nadia sama sama tertembak. Jeselin berusaha melindungi nadia sehingga membuat perut nya tertembak. Sementara nadia tertembak di bahu nya.
"Papa.." Lirih jeselin saat melihat elgura melewati nya begitu saja.
"Nadia. Kamu bertahan sayang. Daddy akan membawamu ke rumah sakit." Ujar elgura yang langsung mengangkat nadia menuju mobil tanpa memerdulikan jeselin.
Anak buah elgura pun membawa jeselin dengan mobil lain. Elgura sangat takut kehilangan nadia. Karena nadia adalah buah cinta nya dengan sisil. Xander yang sempat bingung dengan perlakuan berbeda elgura kepada jeselin pun bingung. Tapi ia tidak peduli karena yang diperdulikan kini adalah keselamatan istri kecil nya.
Sesampainya di rumah sakit pun mereka di bingungkan dengan keadaan dokter bedah yang hanya ada satu pada saat itu.
"Kami hanya dapat melakukan nya pada salah satu pasien. Karena dokter bedah yang lain sedang cuti. Jika anda mau kita akan menghubungi rumah sakit lain untuk mempersiapkan oprasi salah satu pasien lain nya." Jelas perawat tersebut.
"Baiklah. Biar nadia yang di oprasi di sini. Jeselin akan di pindahkan di rumah sakit lain tersebut." Ujar Elgura.
"Maaf tuan. Tapi nona jeselin yang mengalami luka paling berat di sini. Kemungkinan besar akan lama sampai di rumah sakit lain dan mungkin bisa berbahaya untuk korban tersebut." Jelas dokter.
"Lakukan yang terbaik untuk putri ku nadia. Biar jeselin yang pergi ke rumah sakit lain." Ujar elgura.
"Baiklah. Siapkan ambulans untuk nona jeselin." Ujar dokter.
Oprasi nadia pun di lakukan. Bahu nadia di oprasi untuk mengambil peluru tersebut. Lagi lagi xander di buat bingung dengan perlakuan berbeda yang di alami jeselin.
"Dad. Biar aku yang menjaga nadia. Daddy oergi ke kak jeselin saja." Ujar xander pada elgura.
"Aku akan menunggu oprasi nadia selesai. Setela itu aku akan pergi ke jeselin. Aku harus memastikan putriku baik baik saja." Ujar el gura yang sangat tidak mungkin untuk di bantah oleh xander.
Dua jam sudah berlalu terlihat janis, xander dan Elgura di deoan ruang oprasi. Terlihat lampu oprasi yang sudah dimatikan oertanda bahwa oprasi sudah selesai.
Terlihat beberapa perawat keluar dengan mendorong brankar nadia. Setelah itu di susul oleh dokter. Dokter tersebut pun berhenti tepat di depan el gura.
"Oprasi nya berjalan lancar. Peluruh masuk tidak terlalu dalam. Tapi ada dua peluru yang bersarang di sana. Kami sudah mengambil kedua nya. Kemungkinan satu sampai dua jam nona akan segera sadar." Jelas dokter yang membuat mereka semua lega.
Nadia dipindahkan di ruang rawat inap. Hanya ada xander dan elgura di sana. Janis di usir oleh elgura karena takut akan menyakiti putri nya.
"Dad. Bagaimana keadaan jeselin.?" Tanya xander pada elgura.
"Dia sudah meninggal saat perjalan menuju rumah sakit." Jawab elgura tanpa beesedi sekalipun.
"Bagaimana bisa.? Daddy tidak mengawatirkan nya.?" Tanya xander yang terkejut.
"Kawatirkan saja istrimu. Jangan perempuan lain." Ujar elgura yang langsung Membuat xander terdiam.
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak.
karena jejak kalian semangatku.
terimakasih.!