MY Brother Is My Boy. .

MY Brother Is My Boy. .
part 4



Ketukan sepatu menggema dilorong kamar. Xander telah rapi dengan setelan jas hitam nya. Ia berjalan menuju kamar adik perempuan nya untuk membangunkan nya. Ia tau semuanya berlalu begitu cepat bagi nadia.


Cekllek.. Xander melihat wajah nadia yang senduh dalam tidurnya. Ia melihat mata nadia membengkak karena mungkin ia menangis semalaman.


"Princes... Bangun lah." Nadia terbangun saat mendengar suara xander.


"Kak xander." Ujar nadia saat terbangun.


"Mandilah aku tunggu. Kita akan kepemakaman." Ujar xander yang langsung diangguki oleh nadia.


Xander menunggu nadia di dalam kamar. Ia takut terjadi sesuatu dengan nadia. Setelah menunggu selama tiga puluh menit nadia pun selesai. Ia terlihat sedikit fresh. Nadia menggunakan setelan kaos dan rok hitam. Serta menggunakan sepatu flat shoes hitam. Xander yang melihat itu memahami perasaan nadia.


"Princes sudah siap.?" Tanya xander.


"Sudah kak."


Xander pun menuntun nadia ke lantai dasar. Di meja makan terdapat janis yang sedang melakukan sarapan. Wajah nya dingin saat memandang nadia. Berbeda dengan kemarin saat janis berusaha menenangkan nadia.


"Kak. Kami akan langsung ke pemakaman. Jadi kita akan sarapan di luar." Ujar xander kepada janis.


"Pergilah dan ajak anak pembawah sial itu." Kata janis yang langsung membuat emosi xander memuncak.


"KAK." Bentak xander.


"Sudah kak. Ayo kita pergi." Ajak nadia.


Setelah berhasil membujuk xander agar tidak terbawah emosi akhirnya mereka pun pergi bersama ke pemakaman. Dalam perjalanan nadia hanya berdiam saja. Ia bingung bagaiman cara melanjutkan hidup tanpa mama nya.


"Nad. Setelah dari makam kamu akan kakak antar ke sekolah barumu. Kita akan mengambil buku kunci loket dan seragam mu." Ujar xander memecahkan keheningan.


"Aku harap kakak tidak akan meninggalkan ku. Yang ku punya sekarang cuma kakak. Meskipun kita tidak sedarah tapi aku harap kakak menerima ku." Ujar nadia sambil meneteskan air mata nya.


"Ssssttth tenang lah. Kita sudah sampai. Ayo turun." Ajar xander.


Xander dan nadia pun turun. Ia kemudian berjalan menuju makam yang masih terlihat baru. Di sana teruliskan nama sisila leonard dan leandro leonard. Melihat nama yang tertera disana nadia langsung menangis.


"Dad, ma. Aku harap kalian bahagia di sana. Nadia akan berusaha untuk bahagia dan melanjutkan hidup ini lagi. Terima kasih sudah memberi kebahagiaan selama ini." Kini nadia memeluk xander.


"Tenanglah. Disini kita semua meresabkehilangan mereka." Ujar xander menenangkan adik nya.


"Taruhlah bunga ini. Setelah itu kita pergi karena mungkin hujan akan turun pagi ini." Ujar xander.


Setelah pergi dari pemakaman nadia dan xander memutuskan untuk sarapan di kafe. Sekarang nadia sudah bisa sedikit tersenyum. Kini xander sadar jika memang adik nya begitu cantik. Ia pun tidak bisa membohongi hal itu. Tapi dia berusaha keras untuk mencegahnya.


"Kakak. Apakah kita akan ke sekolah sekarang.?" Tanya nadia.


"Tidak jadi. Aku sudah menyuruh javi untuk mengambilkan semua barang barang mu." Jawab xander.


"Javi itu siapa kak.?"


"Javi adalah kaki tangan kakak. Kamu mau tambah ice cream.?"


"Boleh.?" Ujar nadia dengan nada bertanya.


"Boleh dong." Jawab xander.


Mereka melanjutkan makan nya dengan penuh candaan. Nadia kini terlihat ceria dengan di dampingi oleh xander. Setelah hari terlihat semakin siang xander memutuskan untuk membawah nadia pulang. Sesampainya mereka di masion xander dikejutkan dengan kedatangan paman fandi. Dia adalah pengacara keluarga leonard.


"Siapa dia kak.?" Tanya nadia yang sudah turun dari mobilnya


"Dia adalah paman fandi." Jawab xander.


"Selamat siang xander. Bisa kita bicara di dalam." Ujar fandi.


Mereka pun pergi ke ruang tamu. Disana ternyata sudah ada janis yang menunggu kedatangan tuan fandi.


"Saya sebagai pengacara keluarga leonard datang bermaksud untuk membacakan wasian bapak."


"Kenapa cepat sekali.?" Tanya xander.


"Karena tuan janis menginginkan agar wasiat tersebut segera dibacakan." Jawab fandi.


"Dia memang gila." Gerutu xander.


"Mari kita bacakan. Saham yang di miliki oleh keluarga leonard di perusahaan leonard corp sekarang adalah 57% sebagai pemimpin. Tuan leandro membrikan 27% saham nya kepada nona nadia selaku putrinya dan seluruh lahan dan villa yang berada di alaska. Tuan memberikan sisa nya kepada kedua putranya yaitu 30% dibagi menjadi dua. Serta seluruh properti atas nama leandro leonard di bagi dua." Ujar paman fandi.


"Bagaimana bisa anak tiri mendapatkan saham lebih banyak. Ini tidak adil." Ujar janis marah.


"Mohon untuk tanda tangan di sini." Ujar fandi yang langsung di tandatangani oleh janis, xander dan juga nadia.


"Semua nya sudah tertanda tangani. Tuan janis sebagai wali dari nona nadia. Anda berhak mengurus warisan nona sampai nona cukup umur Untuk memegang nya. Baiklah saya permisi dulu."


Setelah kepergian pengacara tersebut xander mengajak nadia untuk ke ruang kerja nya yang berada di lantai satu juga. Ternyata di ruang kerja xander sudah terdapat javi.


"Tuan. Ini barang barang nona nadia." Ujar javi.


"Nadia. Dia adalah javi. Javi dia adalah nadia." Ujar xander.


"Terimakasih kak javi." Ujar nadia saat mengambil barang barang nya.


"Duduklah nad. Kakak akan memberi tahu mu sesuatu. Satu minggu lagi kakak akan pergi ke aussie jadi selama tidak ada kakak. Kamu jaga diri ya.?" Tanya xander.


"Kakak jangan pergi aku takut." Ujar nadia yang langsung memeluk xander.


"Janis pasti akan lebih baik kepadamu. Karena kini kau adalah tanggung jawab nya." Ujar xander.


"Aku akan mencoba percaya pada kakak." Jawab nadia.


___________________


Pagi hari pun tiba nadia segera bergegas memberihkan dirinya. Ia melihat seragam yang harus ia kenakan hari ini. Dia menghunakan tas sepatu dan jam tangan mewah yang di sediakan oleh almarhum daddy nya dulu. Ia pergi menuju kamar xander. Nadia mengetuk kamar kakak nya.


Tokk tokk tokk..


"Kakak ayo sarapan." Ujar nadia.


Ceklekk... Bunyi suara pintu di buka tetapi bukam suara pintu xander melainkan pintu janis.


"Selamat pagi." Sapa janis yang membuat nadia terkejut.


"Pagi kak." Jawab nadia.


"Hari ini xander berangkat pagi pagi buta. Mungkin ia ada masalah dengan perusahaan nya." Ujar janis yang semakin membuat nadia terkejut.


"Benarkah. Baiklah kak aku akan membawa mobil sendiri saja." Ujar nadia lalu pergi. Sebelum menjauh tangan nya sudah dicengkal oleh janis.


"Aku akan mengantarmu nad. Ayo kita turun dan sarapan." Nadia hanya mengangguki ucapan kakak nya. Karena dari kemarin sikap janis selalu berubah ubah. Selama turun ke lantai satu janis terus menggenggam tangan nadia. Di meja makan janis menduduki kursi daddy nya. Nadia yang melihat itu hanya membiarkan saja. Memang sekarang yang paling berhak memang janis.


"Makan lah sarapan mu. Setelah itu kita berangkat."


"Kakak tidak makan.?" Tanya nadia.


"Tidak. Aku sudah kenyang." Jawab janis.


Setelah selesai memakan sarapan nadia pun dianyar oleh janis menuju sekolah nya. Di sana nadia terkejut. Ternyata ia bersekolah di sekolah elite internasional. Ia takut jika nanti banyak yang merendahkan nya.


"Kenapa terkejut.? Bukankah wajah jika kakak mencium pipo adik nya." Tanya janis.


"Baiklah kak. Aku akan masuk dulu." Ujar nadia.


"Tunggu. Ini uang saku kamu." Kata janis sambil memberikan 10 lembar uang seratusan ribu.


"Dan bawah ini juga. Pin nya tanggal lahir mu." Janis memberikan kartu kridit untuk nadia.


"Tapi ini tidak perlu kak." Tolak nadia.


"Bawah saja. Suatu saat kau akan memerlukan nya. Sudah sana masuk. Nanti aku akan menjemputmu." Ujar janis.


Nadia berjalan memasuki gerbang sekolah nya. Kini ia sudah memasuki semester dua kelas sebelas. Ia bingung harus kemana. Dia ingat jika kelasnya adalah jurusan ipa 2. Sekarang ia harus menuju ke lokernya untuk mengambil buku buku nya. Saat ia sedang menata bukunya nadia dihampiri oleh anak perempuan seumuran nya.


"Kamu anak baru.? Kenalin aku sharen." Ujar perempuan itu.


"Oh aku nadia." Jawab nadia sambil mengulurkan tangan nya.


"Kamu ipa 2 kan.? Kita satu kelas lho. Ayo kita masuk sebelum guru datang." Ajak sharen yang langsung menyeret nadia menuju kelas.


Di dalam kelas semua memandang nadia. Begitu juga dengan sekelompok anak perempuan yang seperti nya sangat sinis memandang nadia.


"Hiraukan saja. Dia itu lara, siska dan tania. Ia memang sok cantik padahal lebih cantikan kamu nad." Ujar sharen yang membuat nadia sedikit tersenyum.


Guru pun datang membuat seluruh murit duduk di tempatnya masing masing. Nadia pun disuruh memperkalkan dirinya.


"Perkenalkan nama saya equela nadia. Kalian bisa memanggilku nadia." Ujar nadia yang membuat guru itu terkejut. Pasalnya nadia tidak menyebutkan nama belakang nya kepada teman teman nya.


"Nadia saya adalah miss josi. Wali kelas di sini. Sekarang silahkan duduk. Kita akan memulai pelajaran hari ini."


"Baik miss." Jawab nadia.


_________________________


Krrriiingggg....


Suara bell istirahat membuat pelajaran dihentikan sementara. Para murit berhamburan pergi ke kantin untuk mengisi perutnya. Begitu juga dengan nadia dan sharen. Saat sampai di kantin nadia terkejut melihat harga makanan yang sangat mahal. Pantas saja janis memberinya uang saku yang sangat banyak.


"Kamu mau pesan apa.? Biar aku traktir." Ujar sharen yang melihat nadia terkejut karena buku menu. Tapi setelah sharen lihat dari barang barang nadia. Tidak mungkin nadia dari kalangan orang biasa. Tapi kenapa ia terkejut melihat harga menu.


"Ah tidak aku akan membayar sendiri. Aku tadi terkejut karena di sekolah lama ku harga nya tidak semahal di sini." Ujar nadia sambil tersenyum.


Mereka pun memesan makanan dan minuman. Lalu membawa nya kembali ke meja mereka. Tapi saat mereka kembali meja tersebut sudah ada dua lelaki.


"Hai.." Ujar lelaki berambut kriting.


"Oh nad ini kenalin. Dia adalah teman teman ku. Namanya nikolas dan fiki." Ujar sharen.


"Hai." sapa nadia.


Mereka pun duduk ber empat fiki dan niko adalah anak ipa 1. Mereka saling bercerita hingga akhirnya bel masuk berbunyi membuat mereka berpisah. Nadia dam sharen kembali menuju kelasnya. Tapi mereka dihadang masuk oleh lara and the gank.


"Lo mau gak bergabung sama kita.? Secara lo itu orang kaya. Masa lo mau si berteman sama tikus itu." Ujar lara.


"Maksut lho apaan. Lo tu yang tikus." Ujar sharen.


"Maaf aku berteman tidak melihat kaya atau tidak." Ujar nadia lalu pergi memasuki kelas.


Saat dikelas pandangan lara kepada nadia sangat tajam. Tapi nadia mencoba membiarkan nya. Dilain sisi janis sedang bersama dengan zeranda. Ia adalah kekasih janis. Zeranda datang ke kantor janis untuk meminta sesuatu.


"Sayang apa kau mendapatkan banyak dari warisan daddy mu.?" Tanya zera


"Diamlah zera. Aku sedang sibuk." Ujar janis.


"Aku rindu." Ucap zeranda.


Zeranda mulai duduk diatas janis. Ia mencoba menggoda pacar nya. Dengan mencoba mencium bibir janis. Saat zera ******* bibir janis. Janis tidak bisa menahan nya lagi. Ia mengangkat tubuh zeranda ke ruang istrirahatnya. Di sana janis menidurkan nya di atas ranjang dan langsung membuka semua pakaian nya. Tanpa pemanasan janis pun menyingkap rok zera. Hal itu membuat zeranda merintih kesakitan


"Honney.. Ini sakit." Ujar zeranda.


"Ini kan yang kamu mau." Jawab janis.


Janis terus memompa tubuh zeranda tanpa memperdulikan teriakan kesakitan nya. Setelah memompah hampir 30 menit janis pun merasakan sesak. Menandakan bahwa kini ia akan segera keluar. Dengan cepat janis memompa dan dalam sekali hentakan keras janis pun keluar.


"A.. Sayang kau sangat hebat." Ujar zeranda.


Janis pun langsung berjalan menuju kamar mandi. Ia segera membersihkan dirinya akibat keringat. Ia ingat jika dia harus segera menjemput nadia karena xander sedang sibuk dengan pekerjaan nya. Tanpa basa basi lagi ia segera memakai kembali setelan jas nya.


"Kau mau kemana.?" Tanya zeranda.


"Bukan urusan kamu." Jawab janis lalu pergi meninggalkan zera. Dalam perjalanan menuju tempat nadia ia menelpon teo untuk menggantikan nya di rapat nanti.


__________________


Teng.. Teng.. Teng..


Suara bel sekolah pun berbunyi. Waktu belajar sudah habis. Nadia membersihkan bukunya lalu pergi menuju keluar bersama sharen. Dalam perjalanan menuju depan sekolah tanpa sengaja bola mengenai kepala nadia sehingga membuat nadia jatuh tersungkur.


"Astaga nadia." Teriak sharen.


"Aku gak papa kok sharen." Ujar nadia.


Sharen membantu nadia berdiri saat nadia menatap sharen disana sharen terkejut melihat darah keluar dari hidung nadia. Kemudian seorang laki laki datang menghampiri mereka.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Ini gunakan ini." Ujar lelaki tersebut memberikan sapu tangan nya.


"Terimakasih." Ujar nadia.


"Mungkin mimisan mu akibat terbentur bola. Biar nanti aku antar pulang ya nad." Ujar sharen.


"Aku dijemput kakak ku. Mungkin kakak sudah di depan." Ujar nadia.


"Aku antar juga." Ujar lelaki tersebut.


Mereka mengantar nadia sampai di gerbang. Tiba di gerbang nadia melihat mobil kakak sudah terparkir di sana.


"Ah itu mobil kakak ku." Ujar nadia menunjuk mobil ferrari keluaran terbaru membuat mereka berdua terkejut.


"Aku pergi dulu ya. Dadah." Kata nadia lalu berlari menuju mobiln kakak nya.


Setelah nadia pergi dengan janis. Sharen pun baru ingat jika ia tidak memiliki nomer telefon nadia.


"Astaga aku lupa menanyakan nomer telfon nya." Ujar sharen.


"Siapa namanya.?" Tanya lelaki tersebut. Ia adalah mark kapten basket sekolahan tersebut.


"Namanya ya cari tau sendiri lah." Jawab sharen lalu meninggalkan mark sendirian.


**Jangan lupa untuk komen ya. dan like


terimakasih**.