MY Brother Is My Boy. .

MY Brother Is My Boy. .
Part 5



**jangan lupa untuk like dan komen. agar author semakin semangat untuk up date cerita.


terimakasih yang sudah setia.


selamat membaca :D**


Di dalam mobil janis tidak memperhatikan nadia karena ia fokus menyetir. Saat janis menoleh ke nadia ia langsung meminggirkan mobilnya.


"Ada apa.? Siapa yang membuat mu begini.?" Tanya janis.


"Tadi cuma terkena bola kak. Lihat sudah meredah kan." Ujar nadia.


"Kita kerumah sakit sekarang." Ujar janis.


"Tidak usah. Mimisan nya udah reda kak." Jawab nadia.


"Nanti kita pulang aku akan menelpon dokter pribadi kita." Ujar janis.


"Baiklah kak." Jawab nadia.


Janis kemudian mengendarai mobilnya lagi. Nadia senang melihat kakak nya sedikit kawatir padanya. Dia tau jika cukup sulit bagi janis menerimanya. Saat dalam perjalanan nadia bingung karena arah yang di dituju janis bukan arah ke masion.


"Kak kita mau kemana.?" Tanya nadia.


" Aku perlu beli sesuatu untuk mu." Ujar janis cuek.


Nadia pun terdiam. Ia tidak akan lagi bertanya pada kakak sulung nya. Karena bisa saja kakaknya akan mencelakakan nya lagi seperti waktu itu.


Mobil janis pun berhenti di salah satu counter terbesar dikota. Nadia bingung tapi saat tau janis keluar ia pun mengikutinya. Nadia berlari mengejar janis lalu karena reflek ia pun menggandeng tangan janis.


"Kak tunggu." Ujar nadia yang langsung menggandeng tangan janis.


"Cepatlah jika berjalan." Ujar janis.


Nadia dan janis pun memasuki toko tersebut. Seorang pelayan menyambut mereka dengan ramah. Janis di diberi browsur oleh pelayan tersebut. Tapi yang tertera hanyalah handphone biasa.


"Bisa tunjukan jenis iPHONE keluaran terbaru. Tab sama laptopnya juga." Ujar janis yang langsung ditunjukan nya barang barang permintaan nya.


"Ini adalah tipe terbaru dari iPHONE. Barang tersebut masih limit edision karena masih jarang bisa ditemukan di kota ini." Jelas para pelayan tersebut.


"Aku ambil tiga tiga nya. Handphone warna abu abu. Laptop dan tab nya warna putih saja." Ujar janis.


"Mari silahkan lakukan pembayaran dikasir." Ucap pelayan tersebut mengantarkan janis.


"Kamu tunggu di sisi." Kata janis pada nadia.


Nadia sedari tadi hanya diam menyaksikan kakak nya membeli barang tanpa memikirkan uangnya akan habis. Setelah menunggu sekitar 15 menit janis akhirnya kembali. Setelah itu janis pun mengajak pergi dari counter setelah selesai melakukan pembayaran.


"Ini semua barang barang untuk kamu. Sebagai permintaan maafku." Ujar janis.


Mendengar perkataan janis membuat nadia terkejut. Bahkan dirinya tidak membutuhkan ini semua untuk nya.


"Tapi kak barang barang ini sangat berlebihan." Jawab nadia.


"Kau harus menggunakan handphone ini. Sedari awal kamu masuk di keluarga leonard aku tidak melihat mu memakai handphone. Leptop dan tab gunakan untuk sekolah." Ujar janis lalu mencium kening nadia.


"Terimakasih kak." Kata nadia sambil memeluk janis. Kini nadia tau memang janis membutuhkan waktu untuk menerimanya.


"Pakai sabuk pengaman mu. Kita akan mampir makan siang dulu. Dari tadi kita belum makan bahkan sampai menjelang sore seperti ini." Kata janis.


"Kak. Bisahkah kita makan pizza.? Aku dan mama dulu suka makan pizza. Tapi sudah lama aku tidak memakan nya." Ujar nadia.


"kalau begitu kita akan makan pizza di masion. Kita delivery saja."


"Sekali lagi terimakasih kak." Ujar nadia.


"Sudah lah. Aku memang kakak mu bukan. Lagian maafkan aku yanh dulu ya." Kata janis.


Nadia pun hanya tersenyum.


___________________________


Masion.


Malam hari saat akan makan malam nadia turun lebih dulu dari pada kakak kakaknya. Dilihatnya makanan makanan lezat yang tersaji di sana. Nadia tidak nafsu untuk makan. Ia memutuskan untuk meminum susu nya saja.


"Bibi desi..." Panggil nadia pada kepala pelayan.


"Ada apa nona.?"


"Malam ini aku hanya minum susu ya bi. Aku lagi ngantuk. Nanti kalau kakak tanya bilang saja aku sudah makan." Ujar nadia.


"Baik non." Jawab bibi.


Setelah itu nadia pun langsung bergegas menuju kamarnya. Setelah meminum segelas susu hangat mata nadia menjadi sangat mengantuk. Nadia pun tertidur di atas ranjang nya. Dilain sisi janis dan xander bersiap untuk makan malam bersama. Tapi tiba tiba bibi desi menghampiri nya.


"Tuan. Nona sudah tertidur karena sangat capek. Jadi dia bilang ke saya bahwa ia tidak akan makan malam." Ujar bibi desi.


"Apa dia makan sesuatu tadi.?" Tanya janis yang membuat xander terkejut pasalnya kemarin janis menolak nadia mentah mentah.


"Iya tuan. Nona tadi minum segelas susu." Jawab bibi desi.


"Ya sudah anda bisa pergi." Ujar janis.


"Ku dengar hari ini kau memanjakan nadia.?" Tanya xander.


"Bukan kah memang aku harus memanjakan adik perempuan ku." Balas janis.


"Benar. Tapi aku sangat senang kau bisa menerima nya." Ujar xander lalu berdiri.


"Aku banyak kerjaan. Jadi aku akan pergi." Pamit xander pada janis.


Pagi harinya saat sarapan xander berpamitan kepada nadia dan kakak. Perusahaan nya mengalami kemrosotan dengan berat hati xander harus meninggalkan nadia bersama janis.


"Katanya kurang satu minggu. Kenapa tiba tiba kak.?" tanya nadia.


"Kita akan sering telfonan. Kau kan sudah punya hand phone dari janis kemarin." Kata xander yang berusaha menenangkan nadia.


"Aku akan mengantar ke airport." Ucap nadia.


"Lebih baik sekarang kau pergi ke sekolah daripada nanti telat." Ujar janis.


"Baiklah kak. Cepatlah pulang." Ujar nadia lalu berjalan ke arah xander dan memeluk nya. Janis yang melihat itu pun hanya memalingkan wajah nya saja.


"Ayo berangkat." Kata janis sambil berjalan meninggalkan nadia.


Janis menaiki mobilnya. Kini ia membawa mobil ranger rover nya. Nadia pun naik. Setelah itu mereka berangkat menuju sekolahan nadia.


"Kak kenapa kakak melarangku membawah mobil.?" Tanya nadia.


"Bagaimana hidung mu.? Apakah masih sakit.?" Tanya janis pada nadia.


"Aku sudah baikan. Kak kenapa kakak melarangku membawa mobil." Tanya nadia sekali lagi.


"Aku tidak melarang mu. Aku hanya memastikan kau tidak bolos sekolah. Jika kau ingin main dan mencoba mobil mu aku tidak akan melarang." Jawab janis.


"Terimakasih kak." Ujar nadia.


Setelah itu tidak ada percakapan diantara mereka. Selama perjalanan janis hanya fokus menyetir. Nadia yang gabut pun hanya menatap ke arah jendela. Setelah 25 menit menempuh perjalanan mobil janis pun berhenti teoat di gerbang sekolah nadia.


"Turunlah." Ujar janis setelah mencium kedua pipi nadia.


"Tapi uang saku nya mana kak." Jawab nadia dengan malu.


"Astaga aku lupa. Tunggu sebentar." Janis pun mengeluarkan dompetnya lalu mengambil uang untuk nadia.


"Ini." kata janis sambil memberikan uang padanya.


"Kak tapi ini lebih banyak dari yang kemarin." Ujar nadia.


"Sudahlah. Kau bisa mentraktir teman mu jika memang kebanyakan." Jawab janis.


"Baiklah kak. Terimakasih." Ujar nya.


Nadia kemudian turun dari mobil. Ia berlari memasuki kelas nya. Janis yang melihat adiknya pun tersenyum. Kemudian janis mengemudikan mobilnya menuju kantor yang lumayan dekat dengan sekolah nadia.


___________________


Kringg... Kringgg.. Suara bel istirahat menggema di seluruh sekolah. Nadia dan sharen pun pergi ke kantin untuk makan siang. Saat mereka akan duduk tiba tiba sesorang memanggil nama nya.


"Nadia sini." Ujar seorang laki laki. Nadia dan sharen pun pergi menuju lelaki tersebut.


"Kenalin. Aku mark anak ips yang kemarin. Kamu mau gabung sama kita nggak.?" Tanya mark.


"Ah maaf ya. Aku udah janjian sama teman teman sharen untuk satu meja." Jawab nadia sopan.


"Oh yaudah. Lain kali kita makan bareng ya." Kata anak lelaki tersebut.


"Iya tapi aku tidak janji. Ayo sharen kita kembali." Ajak nadia pada sharen.


"Nad dia itu ketua basket kita lho. Banyak yang pingin dekat dengan nya. Tapi kenapa kamu tolak. Kan sayang." kata sharen saat mereka kembali ke tempat duduk.


"Ya elah. Kalo itu sih selera lo kali." Ujar nikolas pada sharen.


"Iya. Selera nadia kan seperti kita." Canda fiki.


"Eh nad aku lupa dari kemarin nggak minta nomer kamu." Ujar sharen.


"Bentar ya aku juga lupa nomor ku. Karena masih baru." Ujar nadia sambil mencari nomernya di handphone.


"Hand phone mu mahal sekali." Ujar fiki.


"Iya kamu dapat dari mana nad.? Itu kan warna limit edision di kota kita." Ujar sharen yang terkejut.


"Ini hadiah dari kakak ku. Sebenarnya ini juga berlebihan buat ku." Jawab nadia.


"Andai saja aku jadi kamu. Pasti bahagia banget nad." Canda nikolas.


Mereka pun tertawa dan bercanda di sepanjang jam istirahat tersebut.


Saat bel pulang sekolah berbunyi nadia segera membersihkan mejanya. Tapi tiba tiba lara datang dan menggebrak meja nadia. Lara menelusuri penampilan nadia semakin membuat nya iri. Dia juga melihat tas ransel mahal yang di pakai nadia.


"Dasar lont*. Lo jual diri seharga berapa ha.? Kalo jual diri ya jual diri aja. Gak usah nge goda mark." Ujar lara. Nadia yang langsung menangkap pembicaraan lara pun hanya tersenyum.


"Aku sama sekali nggak minat. Jika kamu mau silahkan." Jawab nadia lalu melenggang pergi meninggalkan kelas.


Saat nadia telah sampai di depan gerbang sekolah nya ternyata ia tidak melihat mobil kakak nya di sana. Ketika nadia ingin menelfon janis karena memang sudah mulai sepi tangan nya di cekal oleh seseorang.


"Kamu pulang sama aku." Ujar mark memaksa nadia.


"Aku sedang nunggu jemputan. Maafkan aku." Ujar nadia.


"Pokok nya kamu ikut aku cantik." Kata mark sambil menyeringgai.


Mark pun menyeret nadia dari sana. Suasa sekolah pun sudah sepi. Mark menghimpit tubuh nadia diantara mobil. Mark mulai menciumi bibir nadia. Disana nadia sudah menangis tersedu sedu.


"Ini adalah balasan atas tolakan mu cantik. Jangan menangis." Ujar mark.


"Toloong lepaskan." Nadia memohon.


Braaakkk... Tubuh mark terpental menjauh dari nadia. Disana ada janis yang terlihat sangat marah. Nadia yang mengetahui kedatangan kakak nya langsung memeluk nya. Ia menangis dan seluruh tubuh nya bergetar. Dua satpam pun datang setelah mendengar keributan. Setelah apa yang dijelaskan oleh janis jika mark akan melakukan kekerasaan pelecehan pada adik nya. Para satpam pun sepakat membawa nya ke ruangan kepalah sekolah pada saat itu juga.


Saat di ruangan kepala sekolah nadia mencoba menceritakan kejadian semuanya. Disana kepala sekolah dibuat bingung dengan keputusan nya. Orang tua mark juga di datang kan pada saat itu juga.


"Jika anda tidak mengeluarkan bajingan ini. Keluarga leonard akan mencabut seluruh donasi yang kita berikan. Dan kami akan berhenti menjadi donatur terbesar di sekolah ini." Ancam janis.


"Apa sebenarnya hubungan bapak dan anak ini.?" tanya orang tua mark dengan memandang rendah nadia.


"Anda tidak tau dia.? Dia adalah Equela nadia leonard. Dia adalah putri satu satu nya keluarga kami. Dan sangat bodoh nya putra anda berani mengganggu nya." Ujar janis dengan sangat jelas.


"Maafkan putra kami tuan. Kami akan menghukum nya." Ujar ibu mark.


"Saya ingin dia dikeluarkan dari sekolah ini. Ayo kita pulang nad." Ajak janis lalu menggandeng nadia pergi dari sana.


Dalam perjalanan pulang nadia hanya diam menatap kearah luar jendela mobil. Air mata nya jatuh di pipinya. Janis yang melihat adik nya sedih pun menjadi ikut sedih. Tapi janis tidak tau bagaimana cara ia untuk kembali membuat adik nya tersenyum.


Saat sampai di rumah pun nadia langsung berlari ke kamar nya. Ia mengunci pintunya dan berjalan ke arah kamar mandi. Berkali kali ia menggosok gigi untuk menghilangkan bekas ciuman dari mark. Janis yang mendengar tangisan adik nya dari luar pun langsung menyuru pelayan mengambilkan kunci cadangan buat nya. Saat janis berhasil membuka pintu nya ia segera menghampiri nadia yang menangis di kamar mandi. Dengan buru buru ia langsung memeluk sang adik.


"Tenang lah. Aku akan membuat keluarganya menyesali telah membesarkan bajingan seperti nya." Ujar janis sambil memeluk nadia.


"Aku kotor." Hanya itu yang diucapkan oleh nadia.


"Biar aku yang membersihkan nya. Lihat aku sebagai seorang lelaki bukan kakak mu. Kamu mengerti.?" Tanya janis yang diangguki oleh nadia. Nadia tidak tau hidupnya akan bagaimana setelah itu.


Janis mencium bibir nadia dengan sangat hati hati. Nadia pun hanya diam. Ciuman tersebut pun menjadi sangat dalam nadia begitu menikmatinya sehingga membuat nya membalas ciuman dari janis. Kini pandangan kepada adik pun sirna. Hanya pandangan memuja yang di keluarkan oleh janis. Dengan cekatan janis menggendong nadia tanpa melepaskan ciuman nya. Janis menidurkan nadia di ranjang nya lalu mulai meraba raba tubuh indah nadia. Desahan pun lolos dari bibir mungil tersebut. Dengan cekatan janis membuka seragam yang digunakan oleh nadia. Disana terlihat dua bukit yang membuat janis semakin bergairah. Dengan sangat terburu buru janis pun mengulum dan mempermainkan nipel nadia membuatnya semakin mendesah. Ciuman janis pun bertambah turun. Kini janis melepas rok serta cd nadia sebelum nadia tersadar janis langsung melahap inti nadia. Ia mempermainkan nadia dibawah nya. Nadia pun menjadi seperti ulat kepanasan. Ia terus mengerang hingga sesuatu keluar dari dirinya dengan sangat deras. Itu adalah organisme pertama nadia. Dengan tubuh yang masih bergetar karena organisme janis pun mulai memasukan milik nya kepada nadia hanya dengan sekali hentak.


"AaKkk... Sakit kak."