
HALLO READERS MAAF LAMA NGGAK UP DATE.
SEMOGA BISA SELALU LANCAR UNTUK UPDATE.
Rumah sakit.
Setelah menunggu hampir dua jam akhirnya mata nadia pun mulai terbuka menyesuaikan cahaya yang ada di sekitar nya. Disana hanya ada xander yang tertidur di sofa. Nadia tau jika suami nya sangat lelah. Tapi tenggorok nadia sangat kering dan ingin minum. Nadia berusaha meraih air yang ada di nakas tapi sayang tangan nya menyonggel gelas dan membuat gelas tersebut jatuh.
Pyyyaaaarrr... Suara gelas jatuh membangunkan xander. Xander dengan sigap langsung menghampiri istri kecil nya tersebut.
"Honney. Kenapa tidak membangunkan ku.?" Tanya xander.
"Kakak terlihat sangat lelah." Jawab nadia lirih.
"Biar kakak panggil perawat untuk memeriksa dan membersihkan gelas tersebut." Kata xander lalu pergi menuju luar ruangan.
Beberapa perawat dan salah satu dokter masuk untuk memeriksa keadaan nadia dan membersihkan gelas yang pecah tadi. Setelah memeriksa dokter memberitahu xander tentang keadaan nadia saat itu. Setelah memeriksa nadia dokter pun pergi meninggalkan mereka.
"Dokter bilang kamu sudah boleh makan dan minum. Keadaan kamu akan segera membaik setelah beberapa minggu dan kontrol yang teratur. Ayo minum obat mu." Kata xander
"Terima kasih kak. Apa daddy sekarang sedang bersama kak jeselin.?" Tanya nadia pada xander.
"Daddy sedang berada di luar. Untuk mengurus kasus penembakan yang dilakukan nikolas. Ternyata selama ini nikolas mengagumi mu honney. Dia tidak rela kamu menikah." Jelas xander.
"Aku benar benar nggak tau jika niko menyukai ku kak." Ujar nadia.
"Sudah jangan di fikirkan lagi. Sekarang kamu istirahat ya." xander pun membantu nadia berbaring di ranjang nya.
"bagaimana keadaan kak jeselin.?" tanya nadia yang membuat xander bingung untuk menjawab apa.
"kak.?" tegur nadia saat xander melamun.
"jeselin sedang berada di rumah duka. Kemungkinan besok baru di semayamkan." jawab xander yang membuat nadia langsung terdiam.
Diam nadia membuat xander kawatir kepada istri kecil nya tersebut. Air mata nadia pun lolos begitu saja mengalir di pipi nya. Xander pun langsung memeluk nadia membuat nadia bertambah nangis.
"kakak bohong kan.?" tanya nadia sambil menangis.
"sudah takdirnya seperti itu honney." kata xander yang berusaha menenangkan nadia.
"kak jeselin mati gara gara aku kak. Aku harus bagaimana.?" tangis nadia pun semakin kecang.
"honney itu sudah takdir." jelas xander dengan mengguncangkan badan nadia. Berharap nadia sadar dan tidak menangis lagi.
"aarkkgh." teriak nadia saat tanpa sengaja xander menekan bahu nya.
"XANDER." suara el gura menyadarkan xander.
"maaf kakak tidak sengaja." ujar xander.
"dasar laki laki tidak becus." kata elgura sambil berjalan ke arah nadia.
"sayang apa keadaan mu membaik.?" tanya el gura yang tidak mendapatkan jawaban dari putri nya.
"kau marah dengan daddy.?" tanya elgura lagi.
"Kenapa kakak meninggal.?" tanya nadia dengan dingin.
"memang sudah waktunya dia meninggal." jawab elgura.
"bukan kah seharusnya daddy sekarang mengurusi pemakaman kak jeselin.?" tanya nadia lagi.
"para anak buah daddy sudah mempersiapkan nya." jawab el gura.
"aku tau kak jeselin meninggal karena berusaha melindungi ku. Aku selalu menyusahkan aku menyusahkan daddy." tangis nadia pun pecah.
"jeselin memang pantas meninggal untuk melindungi adik nya." ujar elgura yang langsung membuat nadia tersulut emosi.
"apa nyawa putri daddy tidak berarti.? Apa daddy tidak merasa bersalah mengorbankan satu nyawa dara daging daddy demi putri daddy yang lain." tanya nadia setengah berteriak.
"tidak." jawab elgura dingin.
"kenapa dad.?" tanya nadia.
"karena dia bukan darah daging ku. Aku lebih merasa bersalah karena tidak membesarkan mu tapi membesarkan putri orang lain. Dia adalah putri juliane. Aku dan juliane terpaksa menikah dan meninggalkan ibu mu untuk kebaikan kedua kelompok. Aku tidak tau jika dia selama ini telah memiliki putri. Dia menjaga rapat rapat dan melindungi identitas putri nya. Sampai akhir nya setelah menikah dia membawa anak kecil ke masion usia Anak nya 2 tahun. Disitu aku sangat syok dan mulai memarahi nya. Karena anak tersebut adalah putri juliane dan seorang supir di masion nya. Aku menghukum juliane dengan tidak menganggap nya di sisi ku. Namun pada akhir nya juliane bunuh diri dan meninggalkan jeselin yang masih kecil. Sekarang kamu tau kan kenapa daddy lebih menyayaing mu.? Karena memang kamu satu satu nya putri daddy." ujar elgura yang membuat xander dan nadia terdiam.
"sayang mengertilah sedikit perasaan daddy setelah ditipu daddy masih mau membesarkan jeselin dan memberi nama belakang daddy untuk nya." tambah el sofran.
"aku tidak tau hati daddy terbuat dari apa. Kak jeselin tidak salah itu salah ibu nya." ujar nadia.
"karena ibu nya lah daddy meninggalkan mu dan mama mu." jawab elgura langsung.
"besok upacara pemakaman kak jeselin aku karus datang. Setidak nya hanya itu yang bisa aku berikan untuk kak jeselin." ujar nadia.
"princes kamu belum sepenuh nya sehat." kata xander.
"tidak apa xander. Aku akan berbica dengan dokter." kata elgura yang tidak mau msnambah sedih putri nya karena tidak bisa menghadiri upacara pemakaman kakak nya.
________________________
Upacara pemakaman jeselin berjalan lancar. Terlihat nadia yang memakai kursi roda dan xander yang memayungi nya. Dokter sebenarnya tidak mengizinkan nadia untuk banyak bergerak. Tapi nadia tetap memaksa oleh karena itu elgura meminta nadia agar nadia menggunakan kursi roda dan ide itu di dukung oleh dokter rumah sakit.
Nadia terlihat tegar di pemakaman sang kakak. Ia tidak ingin membuat kakak nya bersedi setelah pengorbanan yang ia lakukan.
"kita pulang honney.?" ajak xander pada nadia yang di angguki oleh nadia.
Mereka semua pergi meninggalkan pemakaman begitu juga dengan nadia dan xander. Di dalam mobil nadia hanya berdiam diri tanpa berbibaca apapun.
Mobil xander memasuki pelantaran masion dengan di ikuti mobil beberapa anak elgura. Xander turun dengan menggendong nadia. Disusul dengan elgura di belakang mereka.
Malam hari nya elgura dan beberapa anak buah nya sudah duduk di meja makan menunggu xander dan nadia turun dari kamar nya. Akhir nya suara langkah kaki terdengar oleh elgura. Di sana hanya ada xander yang turun dari atas tangga. Saat sesampai nya di bawah xander menyuruh pelayan menyiapkan makan malam nadia di kamar.
"dimana nadia.?" tanya elgura.
"nadia di kamar dad. Dia sedang tidak ingin keluar kamar." jawab xander. Terlihat elgura menghembuskan nafas nya dengan sangat berat.
"duduk lah xander. Apa kau juga ingin makan di kamar seperti istrimu.?" kata elgura.
Xander pun menuruti perintah elgura dan langsung duduk di meja makan.
"aku akan kembali ke alaska malam ini." kata elgura.
"kenapa cepat sekali dad.?" tanya xander.
"banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku ingin membahas tentang penerus ku nanti. Apa kau mau menjadi penerus mafia xander.?" tanya elgura yang membuat xander langsung terdiam.
"jika kau butuh waktu aku akan memberikan waktu." kata elgura.
"aku tidak bisa dad. Aku tidak bisa membahayakan keluarga kecil ini." jawab xander langsung.
"baiklah. Tapi suatu saat akan ada pengganti ku yang cocok dengan anggota kami." ujar elgura.
"baiklah bilang pada putri ku jika aku sudah kembali ke alaska. Mungkin dia masih belum bisa menerima kematian jeselin." sambung elgura.
"hati hati dad. Maaf aku tidak bisa mengantar mu ke bandara." kata xander.
Elgura pun tersenyum lalu melangkah pergi dari ruang makan. Xander pun membawa nampan menuju kamar nadia. Di kamar nadia terlihat sangat lesu. Mata nadia yang sudah seperti panda pun membuat wajah nya sedikit mengerikan.
"honney. Ayo makan." ajak xander.
"daddy sudah pergi.?" tanya nadia tiba tiba.
"sudah. Daddy sudah kembali ke alaska." jawab xander.
Tanpa menjawab nadia langsung memakan makanan yang xander bawakan..
"besok aku harus ke kantor honney. Maaf jikabtidak bisa menemani mu di rumah." kata xander.
"hmmm baiklah. Aku sudah selesai kak. Ayo tidur." nadia mengajak xander untuk tidur. Mereka pun tidur bersama malam itu.
Pagi pun tiba terlihat nadia sudah siap dengan sangat rapi. Rambut nya yang di gerai menambah kecantikan tersendiri di diri nadia. Xander pun mengeliat saat merasakan silau di mata nya. Xander terbangun betapa terkejut nya ia melihat istri nya yang sudah rapi menggunakan baju kantor wanita.
"sayang. Bukan kah kau ingin ke kantor.?" tanya nadia yang membuat xander langsung membulatkan mata nya.
"kau masih sakit honney." ujar xander.
"yang sakit bahuku. Bukan kaki ku." jawab nadia pada xander.
"kau sangat ****." ujar xander yang langsung bangun dari tempat tidur nya.
Xander berjalan ke arah nadia dan langsung melahap bibir nya. Nadia pun membalas ciuman suami nya tersebut. Setelah beberpa lama xander pun melepaskan ciuman mereka.
"morning kiss honney." ujar xander.
"iya kak." jawab nadia sambil setengah tersenyum.
"tunggulah di bawah. Aku akan bersiap." kata xander yang di angguki oleh nadia.
Nadia pun turun ke bawah. Terlihat dari kaca kaca besad jika taman belakang rumah sudah bersih. Perasaan baru kemarin ia menikah di sana dan kehilangan kakak nya di sana juga. Setetes air mata pun lolos. Nadia langsung mengusap air mata nya tersebut. Nadia duduk di meja makan dengan di dampingi para pelayan di belakang nya.
"paman calt. Tolong siapkan kopi untuk xander." kata nadia.
"baik nyonya." jawab paman calt.
Nadia tersadar bahwa diri nya sekarang adalah nyonya alexander.
"rasanya beru kemarin aku di panggil nona." ujar nadia yang tidak di dengar oleh siapapun.
Xander pun turun ke bawah dengan setelan yang sangat rapi. Disana terlihat beberapa pelayan menatap kagum pada suami nadia.
"kenapa tidak makan dulu.?" tanya xander.
"aku menunggu mu kak." jawab nadia.
"ayo makan honney." ajak xander.
Mereka berdua pun makan dengan tenang. Setelah selesai xander dan nadia pergi menuju kantor dengan mobil yang berbeda. Agar para staf tidak curiga jika mereka adalah sepasang suami istri.