MY Brother Is My Boy. .

MY Brother Is My Boy. .
Part 2



RUMAH NADIA.


Pagi hari nadia tanpa dibangunkan langsung bersiap siap dengan seragam nya. Dia berdandan rapi lalu turun berniat sarapan dengan mamanya. Saat ia turun ke lantai dasar ia terkejut melihat sosok laki laki yang akan menjadi ayah sambungnya.


"OMG... Om leandro... Selamat pagi. Kapan datang.?" ujar nadia sambil berlari memeluk lelaki berumur 46 di sana.


"pagi princess.. Kemarin malam. Kenapa sekolah.? Bukan nya sudah dikasih tau mama kamu jika besok kita akan melaksanakan akad." kata leandro yang langsung membuat nadia bertambah terkejut.


"astaga.. Mama cuma bilang besok acara makan malam sama anak anak om." jawab nadia.


"hari ini kamu temanin mama kamu dan mulai hari ini kalian pindah ke rumah om. Dan mulai sekarang panggil daddy." ucap leandro.


"siap daddy." jawab nadia dengan girang.


"anak mama udah bangun. Ayo sini bantuin mama beres beres. Ganti baju sana jangan pakai seragam hari ini kamu ikut mama ya. Daddy juga mau pindahin sekolah kamu." ujar sisil.


"honney bawah berkas berkas penting saja. Tidak usah bawah banyak banyak." kata leonard pada sisil.


"thank you honney." ujar sisil lalu mencium bibir leonard di depan nadia. Nadia yang melihat itu memutuskan pergi dari sana dan masuk ke dalam kamarnya untuk membereskan barang barang yang akan ia bawah menuju rumah daddy nya.


Nadia membuka handphone nya. Ia berniat menghubungi sahabat sahabat nya. Tapi ia ingat kejadian kemarin yang menimpa dirinya. Akhirnya nadia memutuskan untuk menghubungi dimas saja.


Nadia : "halo dim. Hari ini mungkin aku akan pindah. Nanti jika aku sudah tau alamat baru rumah ku. Aku akan menghubungi mu." ujar nadia dalam pesan singkatnya. Nadia lalu mematikan handphone nya lalu menyimpanya di nakas kamarnya.


Tok tok tokk suara pintu kamar nadia diketuk oleh seseorang.


"masuk." jawab nadia.


"sayang ayo kita berangkat. Tadi daddy sudah kembali ke kantor. Sekalian bawah barang yang ingin kamu bawah. Jangan bawah barang banyak banyak daddy sudah menyiapkan semuanya di sana." ujar sisil yang berada di depan pintu.


"ayo ma kita berangkat." ajak nadia.


"ayo sayang."


Mereka berdua akhirnya pun berangkat. Tujuan awal mereka adalah menuju ke sekola nadia untuk mengurus perpindahan nya. Sebenarnya nadia tidak mau pindah tapi karena kejadian kemarin mungkin ia akan memikirkan nya kembali. Saat sampai di sekolah nadia, sisil menyuruh nadia untuk tetap di mobil. Nadia pun tidak menuruti kemauan mamanya. Ia berjalan ke arah taman belakang sekolah tempat ia dan sahabatnya berkumpul saat jam sekolah lagi kosong. Ia berjalan sendiri disana.


Sampai suatu ketika ia melihat dua orang remaja sedang bermesraan. Mereka berdua bercumbu di sana tanpa memperdulikan keadaan sekirar. Nadia terus melihatnya dan terua berjalan mendekati nya. Lelaki tersebut pun mulai menyingkap rok permpuan yang ditindihnya nadia tau sekarang siapa dua orang tersebut.


"nindi.. Dimas. Apa yang kalian lakuin di semak semak." mendengar ucapan nadia mereka langsung terkejut.


"eh lo ngagetin aja nad. Ngapain lo kesini.? Nggak punya malu.?" tanya dimas yang langsung membuat hatinya terluka. Pasalnya dimas adalah sahabatnya sedari kecil.


"maaf mengganggu. Aku pergi dulu." jawab nadia langsung berlari meninggalkan mantan para sahabatnya.


Di dalam mobil nadia merenungi perkataan dimas. Ternyata dimas malu memiliki teman yang dituduh sebagai pencuri. Perasaan kemarin ia dan dimas baik baik saja.


"Sekarang aku nggak punya teman lagi." ujar nadia lesu.


"tapi apa yang mereka lakukan. Jangan jangan mereka mau melakukan nya tadi. Sudahlah biarkan saja. Toh mereka sendiri yang akan menanggu semua nya." ujar nadia menasehati dirinya sendiri.


"sayang nanti kamu mau pindah sekolah dimana.?" ujar sisil yang baru masuk mobil.


"aku gak tau ma. Terserah mama saja." jawab nadia lesu.


"kamu sedih karena pindah.?" tanya sisil sambil mengemudikan mobilnya keluar dari kawasan sekolah lama nadia.


"tidak ma. Aku cuma kepikiran sama teman baruku nanti." jawab nadia sambil tersenyum.


"kamu nggak keberatan kan kalau mama menikah lagi.?" ujar sisil.


"nggak lah ma. Mama juga berhak bahagia setelah mengurus aku dari kecil tanpa seorang pendamping sekarang mungkin sudah saatnya mama bahagia dengan pendamping seperti daddy." mendengar perkataan nadia membuat sisil terharu.


"Terimakasih sayang sudah mau mengerti mama." jawab sisil.


Sisil menghentikan mobilnya di sebuah butik baju ternama. Dia lalu mengajak putrinya masuk kedalam.


"selamat siang bu sisil. Mari kita langsung ke ruang vip tamu." ujar pelayan di sana lalu menunjukan tempat yang diboking oleh sisil.


"mama pesan ruangan vip.? Kan sayang uangnya." ujar nadia.


"daddy yang pesan." jawab sisil.


Di ruangan vip nadia dan sisil menunggu baju baju pesanan sisil. Dia disana menikmati teh dan beberapa biskuit yang di sediakan.


"selamat datang nyonya sisil. Saya lauren disainer yang bertanggung jawab membuat gaun anda." ujar perempuan cantik yang baru datang.


"anda cantik sekali nona." kata sisil.


"ah ini adalah model baju yang anda minta. Silahkan dicoba nyonya. Dan ini dres putih selutut senada dengan gaun anda. Apakah ini untuk nona ini.?" tanya lauren.


"iya perkenalkan ini anak saya. Namanya nadia. Dress ini memang untuk dia." ujar sisil.


"tolong bantu nona nadia mencoba dressnya. Aku akan membantu nyonya." ujar lauren pada salah satu pelayan.


"mari nona." ajak pelayan butik pada nadia.


Nadia berjalan mengganti baju. Ia terpesona melihat gaun pemberian mama nya. Sangat indah meskipun mamanya akan menikah ia tetap ingat sama nadia anak nya. Nadia keluar dan melihat mamanya menggunakan gaun putih elegan dengan kain memanjang di belakangnya.


"sayang, apakah kamu suka gaun mu.?" tanya sisil pada putrinya.


"terimakasih ma. Mama terlihat sangat cantik." ujar nadia.


"bagaimana nona dan nyonya.? Apakah ada yang kurang dengan gaun nya.?" tanya lauren sang desainer.


"aku suka lauren. Putriku juga kelihatan sangat menyukainya. Aku pasrahkan semuanya padamu. Dan untuk MUA tolong hubungi kenalan mu. Jadi semua nya aku bergantung padamu." ujar sisil.


"terimakasih nyonya. Saya akan berusaha membuat anda tidak kecewa." jawab lauren.


Setelah itu nadia dan sisil mengganti pakaian nya dan pergi dari butik lauren. Sisil mengendarai mobilnya ke arah kota. Nadia yang merasa letih pun tertidur di dalam mobil sisil yang melihat putrinya tertidur pun tersenyum.


___________________________


Leonard Corp.


Disalah satu ruangan leandro sedang bekerja di kantor pusat leonard corp. Dia nampak serius. Setelah mendapat kabar bahwa sisil sedang dalam perjalanan menuju rumah leandro di kota ia bergegas menyelesaikan pekerjaan nya untuk menyambut calon istrinya.


Tokk tokk tokk.


"masuk." jawab leandro.


"dad." sapa lelaki tinggi yang memasuki ruang kerja leandro.


"oh son. Ada apa kau kemari.? Apa kau merindukan daddy mu.?" tanya leandro.


"ku dengar daddy pulang dari kemarin malam. Tapi kemana daddy pergi.? Aku tidak melihatmu di masion." ujar janissio cuek


"daddy pergi menemui calon mommy mu. Daddy menginap di rumahnya." jawab leandro santai.


"apakah daddy yakin akan menikahi jalang itu.?" tanya janis yang langsung membuat leandro marah.


"jaga mulutmu janis. Apa daddy mendidikmu untuk menjadi seperti ini.?" tanya leandro.


"terserah. Aku tidak peduli lagi." ujar janis lalu pergi meninggalkan ruangan daddynya.


"astaga. Bagaimana bisa aku memberikan posisi ceo kepada anak yang seperti itu." ucap leandro.


_______________


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam. Mobil sisil pun memasuki gerbang utama masion leonard. Nadia pun sudah bangun saat tiba dikota. Nadia kagum melihat hutan buatan di sebelah kiri dan kanan jalan. Saat memasuk gerbang kedua disana nadia sudah bisa melihat kolam air mancur besar yang ada di pelantaran masion.


"ma apa benar ini rumah daddy.?" tanya nadia.


"ini masion daddy." jawab sisil.


"besar banget ma. Itu daddy ya ma.?" tanya nadia pada sisil saat melihat leandro di depan pintu ruangan masion.


"tenanglah sayang. Jaga sikap mu honney." ujar sisil mengingat kan anak nya.


"maaf ma." ucap nadia sambil tersenyum.


Mobil sisil pun berhenti tepat di depan pintu. Para pengawal pun membukakan pintu mereka. Nadia berjalan di samping mamanya.


"selamat datang sayang. Selamat datang nadia." sambut leandro sambil memeluk dan mencium sisil.


"lean. Mungkin putriku lelah bisakah kalian mengantar nya ke kamar." ujar sisil.


"tunggu sayang. Aku harus memperkenalkan kalian dulu ke pada para pelayan, penjaga dan bodyguart di sini." ujar leandro yang diangguki oleh sisil.


Mereka berjalab memasuki lobi masion dan disambut sekitar dua puluh pelayan serta para lelaki kekar berpakaian hitam.


"tolong di ingat. Besok saya akan melaksanakan pernikahan dengan nyonya sisil. Jadi mulai sekarang mereka tinggal disini. Dan ini adalah putrinya yang akan menjadi putriku juga namanya nadia. Jadi buat mereka nyaman tinggal di rumah ini. Apa kalian mengerti.?" ucap leandro.


"mengerti tuan besar." jawab mereka semua.


"tolong para pelayan antarkan nona nadia pergi ke kamarnya. Dan kamu sayang ayo aku antar ke kamar kita." ujar leandro.


Nadia pergi mengikuti para pelayan yang mengantarnya. Ia melihat jika ia sekarang berada di ruang keluarga yang langsung terhubung ke meja makan. Disana ia menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai dua. Di lantai dua hanya terdapat lobi yang besar dan di tenganya terdapat meja bundar dengan vas. Disana hanya terdapat empat pintu.


"nona. Pintu pertama ini terhubung ke lantai tiga yang di sana terdapat ruang karaoke, teater dan balkon yang besar. Dan di depan pintu lantai tiga ini adalah kamar tuan muda alex. Lah yang di sebelah kiri ini adalah kamar tuan janis. Di depan nya baru kamar anda." jelas pelayan tersebut.


"boleh aku bertanya.?" tanya nadia.


"silahkan nona."


"apakah alex dan janis itu putra daddy.?" tanya nadia.


"benar nona. Tapi mereka terkenal dingin semenjak kematian nyonya. Ah sebaiknya saya tidak membahas soal ini dengan anda. Ayo silahkan masuk dan istirahat nona." ujar pelayan tersebut lalu membuka kan pintu kamar nadia.


"baiklah. Terima kasih sudah mengantar." lalu nadia menutup pintunya.


Disana nadia baru melihat keadaan dalam kamarnya. Kamar yang benar benar di disain untuk seorang perempuan feminim seperti nadia. Warna putih dan pink perpaduan yang sangat indah. Bahkan hampir seluruhnya berwarna senada. Mata nadia tertuju pada lemari besar berwarna putih ia penasaran apa isinya juga bisa membuat nya terkejut. Nadia berjalan ke arah lemari tersebut betapa terkejutnya ia melihat baju baju mulai baju tidur serta baju ke acara formal pun ada di dalam lemari besar tersebut. Lalu ia menoleh ke kanan dan ke kiri ia melihat lemari lagi di dekat pintu yang tadi ia lewati. Nadia membuka isinya ia dibuat kembali terkejut. Pasalnya disana terdapat banyak sekali ukuran sepatunya dan pastinya harga nya sangat mahal.


"O M G." hanya itu yang keluar dari mulut nadia.


Dia berjalan menuju meja rias nya yang disana sidah banyak aksisoris mulai dari jam tangan hingga anting. Nadia pun kini berjalan kearah satu pintu yang sudah pasti itu adalah pintu kamar mandi. Dia melihat kamar mandi yang besar seperti ukuran kamarnya pada saat ia belum pindah.


"kamar ini adalah kamar impian semua wanita. Aku harus berterimakasih kepada daddy. Tapi kenapa tiba tiba aku mengantuk. Sudah lah lebih baik aku tidur dulu." ujarnya. Lalu merangkak ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya di sana.


_________________


Sore hari nadia dibangunkan oleh mamanya. Dia mengeliat dan membuka matanya.


"bangun lah honney. Bersihkan dirimu sebentar lagi petang kita akan melakukan makan malam bersama daddy dan kakak mu."


"iya ma. Tapi nadia sedikit pusing." rengek nadia pada mamanya.


"berendamlah dan nyalahkan lilin agar kamu rilex." saran sisil pada putrinya.


"ma. Apakah kakak akan menerima kita.?" tanya nadia. Pasalnya dia belum pernah bertemu dengan putra dari daddy leandro.


"kita lihat saja nanti ya sayang." ujar sisil lalu mencium kening anak nya.


"mama akan menunggu mu di bawah."


Nadia berjalan ke arah kamar mandi. Disana ia menyiapkan air hangat untuk berendam. Ia mengingat bahwa dirinya tidak pernah berfikir hidupnya akan beruba 185 drajat seperti ini. Selama ini dia hanya menginginkan seorang ayah. Tapi tuhan memberikan nya lebih. Nadia segera berendam di dalam bethup nya. Ia tidak tau apa yang akan terjadi kedepan nya. Tapi ia berharap hidupnya akan selalu damai seperti apa yang ia rasakan sekarang.