
jangan lupa untuk meninggalkan jejak kalian.
selamat membaca.
Leonard masion.
Di dalam ruang kerja yang temaram terlihat janis dengan penampilan yang sangat kacau. Setelah pertemuan nya dengan nadia satu minggu yang lalu. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak seperti biasa. Kata kata xander terus berputar di dalam otak nya. Ia tak yakin jika anak yang di kandung nadia adalah anak nya. Kini ia sangat bingung untuk menanggapinya.
"Bisa jadi xander mengetahui jika aku ada di sana. Dan berusaha membuatku kesal lalu muncul. Iya benar. Tidak mungkin bayi yang di kandung nadia adalah anak ku. Itu pasti anak orang lain." Kata janis sendiri.
"Aakkkr lama lama aku bisa gila. Aku harus memastikan nya sendiri besok." Sambung janis.
Janis mengambil handphone nya lalu menghubungi seseorang. Tak lama pintu pun diketuk oleh seseorang.
Tokk tokk tokk.
"Masuk." Jawab janis.
"Ada apa tuan memanggil saya selarut ini.?" Tanya teo.
"Kosongkan jadwal ku untuk besok. Aku akan menemui nadia. Kau juga ikut. Selidiki berapa pengawal yang ada di masion xander lalu lumpuhkan mereka semua. Tunggu xander pergi ke kantor jangan sampai membuat dia curiga. Setelah itu bawah nadia ke villa." Jelas janis.
"Baik tuan. Saya akan melaksanakan nya." Ucap teo.
"Pergilah." Usir janis.
Janis pun tersenyum dengan ide ide yang sudah ada di otak nya. Jika memang itu anak nya bukan kah ia sudah memiliki perasaan saling terikat dengan nadia. Janis tidak sabar menunggu besok.
"Aku akan menjemputmu sayang." Senyum janis pun mengembang.
______________________
Masion alexander.
Xander berangkat pagi pagi karena ada meeting mendadak. Mengharuskan nya meninggalkan nadia yang belum bangun pagi itu. Terlihat tiga mobil van sudah berada di depan masion itu. Beberapa orang berpakaian hitam keluar dari sana. Mereka melumpuhkan satu per satu penjaga masion. Sampai akhirnya nadia terbangun gara gara suara teriakan para maid di bawah. Nadia yang tau jika sang kakak sudah tidak ada di rumah pun segera menelepon nya. Tapi sayang beberapa saat kemudian mulut nadia di bekap oleh seseorang menbuat nya jatuh pingsan.
Dilain sisi xander yang menerima telfon dari nadi pun mengangkatnya tapi tidak ada sahutan dari nadia. Sedetik kemudian javi berjalan datang ke ruang rapat tanpa permisi. Javi membisikan sesuatu kepada xander yang membuat amarah xander tersulut.
"Meeting hari ini selesai." Ujar xander lalu pergi meninggalkan mereka.
Xander dan javi mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata rata. Bahkan beberapa kali mereka harus menerobos lampu merah. Tidak ada lima belas menig mereka pun sampai di masion. Terlihat keadaan masion yang berantakan. Bahkan beberapa pelayan di sekap dengan cara dikunci di dalah satu ruangan. Xander bergegas menaiki anak tangga berharap nadia masih baik baik saja. Tapi saat xander membuka pintu yang ia temukan hanyalah kamar tidur yang masih rapi tanpa nadia di dalam nya. Javi pun datang menemui xander di kamar madia sambil membawa leptop.
"Tuan. Ini rekaman cctv pada saat kejadian. Kami sudah melacak semua plat mobil tersebut. Lalu ini cctv kamar nona. Disana ia di bekap oleh teo." Jelas javi.
"Tidak salah lagi. Ini adalah ulah kakak ku." Ujar xander.
"Tuan mereka sudah menemukan lokasi nona. Ia ada di salah satu villa keluarga leonard." Kata javi yang membuat xander bergegas pergi menuju titik lokasi mobil yang di kendarai anak buah janis.
Byuuurrr... Janis menyiram nadia dengan se ember air es. Membuat nadia langsung terbangun dari tidurnya. Mata nadia menangkap adanya janis di sana. Saat ingin lari nadia sadar jika kini dirinya sudah terikat X di sisi sisi ranjang. Nadia meneteskan air matanya saat ia mengetahui jika sudah tidak ada kain yang menutupi tubuh polosnya.
"Lihat lah. Kau tambah cantik dengan perut buncit itu sayang." Ujar janis sambil mengelus perut nadia.
"Jauhkan tangan mu dari perutku." Teriak nadia.
"Bukankah kau bilang anak ini adalah anak ku. Jika kau menyuruh untuk tidak menyentuh berarti ini bukan anak ku." Jelas janis.
"Kau gila." Teriak nadia kembali.
"Aku gila melihat tubuh kecil ini. Jadi bersiaplah sayang." Lirih janis lalu membuka seluruh pakaian yang ia kenakan.
"Mau apa kau.?" Tanya nadia sambil berusaha menutupi daerah sensitive nya.
"Kak aku mohon jangan seperti ini." Kini madia menangis.
"Dimana keberanian mu tadi.?" Tanya janis.
"Bukan kah memang seharusnya aku bertemu dengan anak ku. Aku harus menyapa nya." Ujar janis.
Janis mengarahkan batang nya yang sudah berdiri ke ****** nadia. Nadia terus merengek untuk tidak melakukan nya. Tapi janis yang sudah di penuhi nafsu tidak memperdulikan lagi. Ia memasukan nya tanpa pemanasan membuat nadia mengerang kesakitan. Saat sudah berada di dalam janis menggerakan nya dengan sangat liar. Nadia hanya bisa menangis yang nadia rasakan hanyalah sakit. Janis terus menerus bergerak liar hingga sampai akhirnya nadia pingsan. Saat nadia pingsan janis terus melakukan nya pada nadia sampai ia puas. Kini terlihat kaki nadia yang terbuka lebar dengan tetesan air mani bercampurkan darah segar keluar dari lubang kewanitaan nadia. Janis melihat nya sangat puas. Kini janis sudah rapi. Ia menuliskan cek lalu menaruhnya di genggaman nadia. Tidak lupa ia mencium bibir nadia lalu memberi beberapa ****** di leher. Setelah itu janis memerintahkan semuanya pergi meninggalkan villa. Janis pun pergo bersama teo. Senyum janis mengembang. Kini ia sudah lega karena ia sangat yakin jika itu bukan lah anak nya. Terlihat dari nadia yang tidak mengakuinya selama janis melakukan nya.
"Dia benar benar pelacur. Bukan kah aku sudah salah menilainya dulu. Dia memang pantas mendapatkan hal itu." Ujar janis yang berada di dalam mobil dengan teo.
"Tapi apakah itu tidak berlebihan tuan.?" Tanya teo yang merasakan kasihan pada nona nya. Teo sempat mendengar permohonan nona nya dari balik pintu.
"Mungkin lain kali aku harus menyuruh kalian memperkosanya." Canda janis yang membuat teo terdiam.
Mobil xander sampai di villa titik lokasi mobil yang membawa nadia tadi. Ia tidak yakin karena villanya sangat sepi bahkan tidak ada pengawal janis sama sekali.
"Apa mereka mengelabui kita?" Tanya xander pada javi.
"Lebih baik kita cek terlebih dahulu di dalam tuan." Ucap javi yang di angguki oleh xander.
"Ayo." Ajak javi pada beberapa body guart.
Mereka pun memasuki villa tersebut. Terlihat sangat sepi tapi langkah xander berjalan langsung menuju kamar utama di villa itu. Entah apa yang menyeretnya tapi xander yakin jika di balik pintu tersebut pasti ada nadia. Saat xander membuka nya betapa terkejut nya ia saat mendapati nadia dengan posisi yang tidak pantas untuk di lihat. Beberapa pengawal menyadari jika nona nya sudah ketemu. Dengan cekatan xander langsung menyelimuti tubuh nadia. Xander terlihat sangat marah.
"Suruh mereka mengecek seluruh cctv." Ucap xander dengan nada berat.
Saat xander mengangkat tubuh nadia. Darah menetes deras sampai menembus selimut yang yang membungkus tubuh nadia.
"JAVI CEPAT ANTAR KE RUMAH SAKIT. SALAH SATU DARI KALIAN PERGILAH MENEMUI JESELIN." Teriak xander pada mereka semua.
Javi membawa xander dan nadia ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit. Para perawat dan dokter membawa tubuh nadia ke ruang bersalin. Xander semakin frustasi. Ia sangat marah kepada sang kakak. Air mata xander pun menetes. Ia tidak tahan melihat wanitanya di perlakukan seperti itu. Ia terus mengingat kondisi nadia saat ia temukan tadi. Air mata terlihat menggenang di pelupuk mata nya. Berbeda dengan tadi pagi saat dirinya berangkat kerja. Ia melihat nadia tidur dengan damai. Ia sangat menyesal meninggalkan nadia tadi pagi.
"Tuan bersabarlah. Saya yakin nona akan baik baik saja. Nona jeselin sebentar lagi akan sampai. Ia sedang dalam perjalanan." Ujar javi menenangkan xander.
Dokter keluar dari ruangan tersebut dengan raut wajah yang tidak bisa di baca.
"Apakah anda keluarga pasien.?" Tanya perawat yang datang bersama dokter.
"Benar. saya kakak nya." Jawab xander.
"Begini tuan. Pasien harus segera dilakukan pengangkatan janin karena janin tersebut sudah tidak menempel pada dinding rahim atau bisa kita sebut janin itu meninggal. Anda harus menandatangai surat persetujuan yang di bawah oleh perawat ini. Kemudian saya sarankan anda segera melapor polisi. Karena kami menemukan ****** di ****** nya. Ini adalah tindakan kriminal. Pasien mengalami pelecehan sexsual." Jelas dokter.
Dunia xander hancur saat mendengar penjelasan dokter. Xander pun mengambil surat izin tersebut. Dengan berat hati xander pun menanda tangai nya. Seketika bayangan hidup bersama dengan nadia dan seorang putra pun pupus. Xander sangat mendambakan bayi itu. Ia tidak pernah merasa keberatan dengan siapa ayah dari bayi nadia. Tapi kini itu semua hanya tinggal kenangan. Perawat pun pergi dengan membawa surat persetujuan tersebut.
"Tuan alexander." Sapa jeselin yang baru saja datang.
"Jeselin. Nadia mengalami pendarahan dan mengharuskan untuk mengangkat bayi nya. Ia mengalami pelecehan dan itu dilakukan oleh kakak ku sendiri." Jelas xander.
"Aku sudah menghubungi daddy. Ia akan terbang ke sini. Aku akan jamin janis akan menyesali perbuatan nya. Daddy akan marah mengetahui semua ini. Aku sebagai kakak nadia berjanji akan membalaskan semuanya." Ujar jeselin.
Waktu terus berputar malam pun tiba. Xander yang sedari tadi tidak beristirahat demi menunggu nadia siuman pun terbalaskan. Nadia mulai mengerjapkan matanya. Ia melihat sekitar. Hal yang pertama kali terlintas di benak nya adalah saat janis melakukan pelecehan terhadap tubuh nya. Seketika air mata pun mengalir. Xander yang melihat itu pun langsung mencium kening nadia.
"Princes tenanglah." Ujar xander lirih.
Nadia tidak menjawab. Hanya air mata yang keliar dari mata nya. Tanpa kata ia terus menangis dalam diam. Xander pun memencet tombol untuk memanggil dokter. Setelah beberapa saat para dokter pun datang. Mereka menyuruh xander keluar. Tapi di saat itu juga nadia berteriak.
"KAAAKK JANGAN PERGI.. AAKKKHHRGG" Teriak nadia seperti orang gila. Ia menjambak rambut nya sendiri. Setelah itu nadia meraba perut nya yang sekarang datar.
"BAYI. DIMANA BAYI KU." Bentak nadia yang terdengar oleh xander dari luar.
Xander tidak kuat dengan itu. Tiba tiba seseorang menepuk bahu xander. Terlihat seorang laki laki paru baya yang masih gagah di usianya. Wajah yang tegas rambut coklat langsung membuat xander tau siapa lelaki di hadapan nya.
"Tuan. El sofran.? Anda elgura sofran.?" Tanya xander.
"Tenang lah. Putri ku akan baik baik saja. Ini sempel darah kakak mu. Uji DNA dengan janin nya. Aku ingin membawa putriku menjauh dari bedebah sialan itu untuk beberapa waktu." Ujar el.
"Anda akan membawa nadia.?" Tanya xander bingung.
"Kenapa.? Apa kau keberatan.?" Ujar el sofran.
"Biar saya yang menjaga nadia. Saya berjanji tidak akan terjadi hal seperti ini lagi." Kata xander.
"Hal ini sudah terjadi. Bahkan kakakmu berhasil membawa nadia keluar dari masion mu sendiri." Ujar elgura.
"Saya benar benar berjanji akan menjaga nya." Xander berlutut di hadapan elgura.
"Tidak ada hal yang bisa menghalangi ku membawa putri ku sendiri. Jika kau ingin bertemu dengan nya. Pergilah ke markasku di alaska." Ujar el gura.
Dokter pun keluar lalu menjelaskan kepada xander dan el jika nadia sedang mengalami depresi. Dokter sudah menyuntikan obat penenang yang akan membuat nadia sedikit tenang. Xander dan el pun masuk ke dalam ruangan. Terlihat nadia yang masih terbangun.
"Kak. Jangan tinggalin aku." Ujar nadia lalu merentangkan tangan nya untuk di peluk xander.
"Kamu juga ya princes." Ujar xander.
"Dia siapa.?" Tanya nadia pada sang kakak.
"Dia tuan el." Ujar xander yang sulit memberi tahu hal itu oada nadia.
"Aku adalah elgura sofran." Ujar el. Membuat nadia terkejut. Pasalnya selama ini ia tidak pernah melihat bagai mana rupa ayah nya.
"Daddy.?" Tanya nadia.
"Iya ini daddy. Maafkan daddy yang baru bisa menjemputmu." Ujar el sofran yang alngsung di oeluk oleh nadia.
"Kenapa baru datang.? Dari kecil nadia selalu nunggu daddy." Air mata nadia pun keluar.
"Maafkan daddy sayang. Dunia daddy terlalu kejam untuk anak semanis kamu." Ujar el sofran.
"Yang terpenting sekarang daddy sudah bersama ku." Ujar nadia.
Xander yang melihat hal tersebut semakin takut jika elgura membawa sang pujaan hatinya pergi.
__________________________________
Leonard masion.
Janis berjalan memasukin masion dengan kaki yang terpincang pincang. Teo pun memampah bosnya tersebut. Tidak berbeda dengan janis wajah teo pun penuh luka dan lebam.
"Apa mereka sudah mencari tau.?" Tanya janis.
"Sudah tuan. Lebih baik kita bicara di ruang kerja anda." Jelas teo.
Sesampainya mereka di ruang kerja janis teo langsung menjelaslan tentang penyerangan tuan nya dan dirinya.
"Mereka adalah sekelompok mafia tuan. Para body guart kita bahkan dikalahkan dengan satu serangan. Saya sangat terkejut saat melihat bahwa di sana ada miss J. Ia adalah putri tuan el pemimpin mafia amerika. Jika motif nya membunuh bukan kah kita sudah terbunuh saat itu.? Tapi mereka hanya menginginkan darah mu tuan." Jelas teo.
"Mungkin xander telah menyuruh mereka. Xander telah bekerja sama dengan mafia sehebat itu. Bagaimana bisa.?" Tanya janis.
"Bahkan daddy anda ingin bekerja sama dengan tuan el. Tapi mereka tidak pernah menerima kerjasama. Bagaimana mungkin mereka membantu tuan xander. Itu sangat tidak mungkin." ujar teo.