MY Brother Is My Boy. .

MY Brother Is My Boy. .
part 12



Masion leonard.


Sore hari nya nadia terlihat termenung di dalam kamar nya ia takut untuk keluar dari kamar. Ia tahu jika janis memang sedang bermain main dengan nya. Tapi di satu sisi ia yakin jika janis akan menepati janji nya saat ia mengambil mahkota berharga nadia.


"Selamat sore princes." Suara xander membuyarkan lamunan nadia. Terlihat disana nadia sedang gelisah. Xander tahu apa alasan yang membuat nadia terlihat begitu gelisa.


"Sudah jangan di pikirkan. Jika kamu sudah tidak tahan kakak bisa membawa mu pergi dari sini." Ujar xander.


"Kakak apaan sih." Jawab nadia sambil tersenyum tipis.


"Ayo kita ke taman belakang. Kita menikmati senja dengan minum teh." Ajak xander yang langsung di setujui oleh nadia.


Makan malam pun tiba nadia di gandeng xander menuju ruang makan. Langkah nadia pun berhenti melihat lawan janis di ranjang ikut duduk makan malam bersama. Xander yang melihat itu menguatkan nadia dan menuntun nya untuk duduk di meja makan.


"Kamu sudah sembuh ya." Ujar janis dengan nada datar nya.


"Iya kak." Jawab nadia.


"Bagus lah kalau begitu." Ujar janis tanpa menatap nadia sama sekali.


"Oh iya aku ingin memberitahu kepada kalian jika mulai hari ini mia akan tinggal bersama di sini. Ia akan menempati kamar tamu." Ujar janis yang membuat nadia langsung menghentikan kunyahan makanan nya.


"Kenapa kau mengajak orang asing untuk tinggal di sini janis.?" Tanya xander.


"Bukan kah nadia juga orang asing." Jawab janis yang membuat xabder langsung marah.


Pyyyarrr suara piring yang di banting xander langsung membuat nadia terkejut begitu juga mia.


"Apa maksut mu.? Dasar bajingan." Ujar xander lalu menarik nadia kembali ke kamarnya.


Air mata nadia sudah membasahi pipinya. Ia tidak tahu kenapa janis melakukan hal seperti itu padanya. Padahal janis tau jika hal tersebut dapat menyakiti perasaan nadia.


Seminggu kemudian nadia kini berada di apartemen milik xander. Ia memutuskan untuk pergi dari masion karena semenjak nadia sembuh sikap janis cuek kepadanya. Di tambah lagi kini mia juga tinggal di masion tersebut. Entah kenapa tapi nadia merasa sakit hati dikarenakan setiap malam nadia mendengan suarah desahan wanita yang berasal dari kamar janis. Selama satu minggu juga nadia belum kembali ke sekolah ia masih memulihkan tubuhnya. Karena sewaktu waktu kepala nadia akan terasa sangat sakit.


Tingg tongg.. Suara bel apartemen berbunyi. Nadia melihat dari lubang kecil pintu. Ia terkejut mendapati teman teman nya sudah berada di luar apartemen nya. Nadia pun membuka pintu tersebut lalu tiba tiba mendapat serangan pelukan dari sharen.


"Astaga nadiaaaaa... Kita kangen banget." Teriak sharen dengan memeluk erat tubuh nadia.


"Lee.. Lepas. Aku gak bisa nafas." Ujar nadia sambil menahan nafas nya.


"Eh sharen lepasin nadia. Dia gak bisa nafas." Kata mark yang berada di samping nadia.


Sharen pun melepaskan pelukan nya lalu berjalan masuk memasuki apartemen dengan di ikuti oleh mark dan fiki. Nadia melihat ke luar pintu ia masih mencari cari keberadaan nikolas tapi tidak menemukan nya. Nadia pun masuk lalu menemukan teman teman nya sudah duduk di ruang keluarga depan tv. Nadia hanya mendengus melihat teman nya yang tidak memiliki sopan santun menurut nya.


"Kalian tau dari mana aku di sini.?" Tanya nadia pada teman nya.


"Kita tadi ke rumah sakit. Ternyata kamu sudah lama pulang. Saat kami pergi ke masion leonard kami bertemu kak xander lalu ia mengatakan jika kamu pindah ke apartemen." Cerita sharen.


"Ngomong ngomong kenapa kamu pindah.?" Tanya mark.


"Mungkin karena lebih ingin mandiri." Ujar nadia sambil tersenyum. Kini nadia lebih banyak tersenyum pada mark.


"Apartemen ini kan harga nya mahal. Apalagi satu lantai kan hanya untuk dua apartemen." Ujar fiki.


"Sebenarnya ini apartemen kak xander. Aku tidak mungkin membelinya sendiri. Oh iya kalian mau minum apa.?" Tanya nadia.


"Kita minum apa aja nad." Jawab sharen.


Nadia pun mengambil beberapa minuman kaleng dan camilan di dapur. Setelah itu kembali ke tempat teman teman nya.


"Kalian mau makan malam sekalian di sini.?" Tanya nadia pada teman teman nya.


"Mau. Tapi kita delivery saja. Biar aku yang bayar." Ujar mark.


"Iya kita takut kamu kecapean jika memasak untuk kita." Kata fiki.


"Kalian kok pada perhatian sih sama nadia.?" Tanya sharen sambil tersenyum penuh arti.


"Bukan kah kita sahabat.?" Tanya nadia yang langsung membuat mereka mengangguk.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk delivery order. Sambil menunggu kedatangan pesanan mereka. Nadia dan teman teman nya pun menonton tv.


"Ehmmm dimana nikolas.? Ia tidak ikut." Tanya nadia pada kawan nya.


"Semenjak kejadian itu nikolas menghindar dari kita. Tapi mungkin nanti dia akan kembali lagi." Jelas fiki.


"Kamu kapan pergi ke sekolah.?" Tanya sharen pada nadia.


"Mungkin besok." Jawab nya.


"Kenapa tidak yakin.?" Tanya mark.


"Besok aku akan menjemputmu." Sambung mark.


"Aku bisa kok bawa mobil sendiri." Ujar nadia.


"Gak apa apa kok. Lagian searah dari rumah ku." Kata mark yang membuat nadia tersenyum.


"Eehmmmm cieee cieee bau bau dapat traktiran nih." Ujar sharen.


"Bukan nya aku memang mentraktir kalian malam ini." Jawab mark.


Mereka pun saling bercanda sampai akhirnya makanan yang mereka pesan pun datang. Mereka makan bersama sama. Sampai akhirnya bunyi pintu terbuka mengalihkan mereka. Xander datang mengunjungi nadia. Nadia sangat senang mendapati kakaknya mengunjungi nya.


"Selamat malam princes. Ternyata ada kaliam di sini." Ujar xander.


"Iya kak. Kami juga mau pamit ini." Jawab mark.


"Kita kan harus sekolah besok. Kamu besok sekolah ya nad.?" Tanya sharen.


"Iya besok sekolah kok. Kamu janji jemput aku ya mark.?" Tanya nadia pada mark.


"Iya janji." Jawab mark.


"Yaudah kak kita pamit dulu." Ujar fiki.


"Baiklah kalo begitu. Terimakasih sudah menemani nadia ya." Kata xander.


"Hati hati ya teman teman." Ucap nadia sambil melambaikan tangan nya.


Mereka ber tiga pun pergi keluar apartemen nadia. Setelah teman nya pergi nadia lalu membersihkan sisa sisa makanan dan piring teman nya. Xander pun ikut membantu adik nya. Setelah selesai xander menyuruh nadia untuk duduk ada sesuatu yang ingin ia bicarakan kepada adik nya.


"Apa ada masalah kak.?" Tanya nadia.


"Apa kamu tidak sakit hati melihat janis seperti itu. Bukan maksut apa apa. Tapi kakak seperti ini karena takut jika kamu sedih lalu membuat kamu susah belajar." Ujar xander.


"Jika kamu mau kakak akan mengirimu ke luar negri untuk study." Lanjut xander.


"Aku akan bertahan kak. Jika aku sudah tidak tahan dengan semuanya. Aku akan menerima tawaran kakak tersebut. Besok aku akan pergi ke sekolah kakak tenang saja." Ujar nadia lalu memeluk xander.


Sejak pertemuan pertama xander sudah merasa tertarik kepada nadia. Tapi kini ia sadar jika nadia adalah adik nya yang harus ia jaga.


"Tidur lah princes. Besok kakak akan mengantarmu ke sekolah." Kata xander.


"Tidak perlu kak. Aku akan di jemput mark besok."


"Baiklah. Apa kepalamu sudah tidak terasa pusing sekarang." Tanya xander.


"Setidak nya sakit nya sudah berkurang." Jawab nadia sambil tersenyum.


"Oke princes. Selamat malam. Semoga mimpi indah." Ujar xander.


Nadia pun mengangguk lalu pergi meninggalkan xander di ruang keluarga sendirian. Di dalam kamar ia pun melihat handphone yang selama beberapa hari tak ia sentuh. Nadia melihat tidak ada satu pun panggilan dari janis. Padahal ia berharap janis menghubungi nya meskipun hanya sekedar menanyakan kabar.


Nadia pun mematikan handphone lalu menaruhnya di atas nakas. Ia mulai memejamkan matanya tapi suarah gadu terdengar di telinganya. Membuat nadia membuka kembali kelopak matanya. Nadia berjalan keluar kamar melihat sang kakak yang kesulitan memasak mi instan.


"Mau aku bantu kak.?" Tanya nadia pada sang kakak.


"Boleh." Jawab xander.


Nadia pun membantu kakaknya membuat mi instan. Nadia mengambil telur dan beberapa sayur di dalam kulkas. Ia membuat mi kuah yang sangat menggiurkan.


"Kenapa kakak nggak bilang jika lapar.?" Tanya nadia.


"Princes maafkan kakak ya. Kamu jadi kerepotan." Ujar xander.


"Udahlah kak. Ini juga masak mi instan." Jawab nadia.


Setelah beberapa menit akhirnya mi tersebut matang. Nadia pun menyajikan nya untuk xander.


"Ini kak. Aku mau tidur dulu ya.?" Ujar nadia.


"Kamu tidak mau makan sama kakak.?" Tanya xander.


"Aku mau tidur kak. Besok nadia harus sekolah." Ujar nadia menolak dengan halus.


"Baiklah princes selamat malam."


"Selamat malam kak."


_________________________


Pagi hari nya xander terbangun karena bau harum dari masakan nadia. Masih pukul enam pagi saat xander melihat jam di nakas. Ia pun berjalan membersihkan tubuh. Setelah bersiap dengan setelan jas nya xander pun keluar kamar untuk melihat nadia.


Di dapur xander melihat nadia yang sedang membuat kopi untuknya. Ini adalah pemandangan yang sangat indah bagi xander. Ia sangat berharap jika nadia akan mengurusnya kelak sebagai seorang suami. Tapi pikiran tersebut pun hancur saat xander mengingat kembali hubungan sang kakak dengan pujaan hati nya.


"Kak. Ayo sarapan." Kata nadia yang membuyarkan lamunan xander.


"Terimakasih." Jawab xander lalu duduk di meja mini bar dapur.


"Maaf cuma masak omlet. Karena perlengkapan makan di kulkas hanya tinggal telur kak. Nanti aku akan belanja untuk kebutuhan dapur dan rumah. Seperti sabun shampo dan alat kebersihan lain nya untuk stok." Ujar nadia sambil menyuapkan omlet di mulut nya.


"Kamu pulang sekolah nanti ke kantor kakak ya. Kita belanja bersama. Nanti kakak share lock." Ujar xander yang diangguki langsung oleh nadia.


"Kamu yakin akan berangkat dengan mark.?" Tanya xander.


"Iya kak aku yakin." Jawab nadia.


"Baiklah kalau begitu." Jawab xander melanjutkan makan nya.


"Aku sudah selesai kak. Aku berangkat dulu ya." Ujar nadia lalu mencium pipi xander dengan spontan lalu berlari keluar apartemen.


Xander yang terkejut pun mengusap pipinya. Ia tidak tahu gemuru apa yang sedang terjadi di hatinya. Sedikit senyuman terbit di bibirnya. Nadia yang sudah berada di dalam lift pun baru menyadari apa yang ia lakukan pada kakaknya sangat memalukan. Ia pasti akan canggung jika bertemu dengan nya. Pipi nadia memerah. Saat sampai di lobi nadia pun bergegas menuju mobil mark yang sudah ada di depan.


"Pagi nadia. Kenapa wajah mu memerah.?" Tanya mark saat menyadari wajah nadia merah seperti tomat.


"Gak apa kok." Ujar nadia.


"Kamu nggak sakit kan.? Hari ini kamu kan ada pelajaran olah raga."


"Mungkin aku akan bolos pelajaran olah raga. Karena kamu tahu sendiri kan aku baru sembuh." Kata nadia.


Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka. Sesekali mark bercanda pada nadia. Begitupun sebaliknya. Kini mereka sudah sangat akrab. Mark pun sudah berubah. Ia sudah tidak seperti dulu lagi.