MY Brother Is My Boy. .

MY Brother Is My Boy. .
Part 6



**Jangan lupa untuk selalu like dan komen. agar aku lebih giat lagi untuk menulis part part selanjut nya.


selamat membaca**.


Masion.


Saat sampai di rumah pun nadia langsung berlari ke kamar nya. Ia mengunci pintunya dan berjalan ke arah kamar mandi. Berkali kali ia menggosok gigi untuk menghilangkan bekas ciuman dari mark. Janis yang mendengar tangisan adik nya dari luar pun langsung menyuru pelayan mengambilkan kunci cadangan buat nya. Saat janis berhasil membuka pintu nya ia segera menghampiri nadia yang menangis di kamar mandi. Dengan buru buru ia langsung memeluk sang adik.


"Tenang lah. Aku akan membuat keluarganya menyesali telah membesarkan bajingan seperti nya." Ujar janis sambil memeluk nadia.


"Aku kotor." Hanya itu yang diucapkan oleh nadia.


"Biar aku yang membersihkan nya. Lihat aku sebagai seorang lelaki bukan kakak mu. Kamu mengerti.?" Tanya janis yang diangguki oleh nadia. Nadia tidak tau hidupnya akan bagaimana setelah itu.


Janis mencium bibir nadia dengan sangat hati hati. Nadia pun hanya diam. Ciuman tersebut pun menjadi sangat dalam nadia begitu menikmatinya sehingga membuat nya membalas ciuman dari janis. Kini pandangan kepada adik pun sirna. Hanya pandangan memuja yang di keluarkan oleh janis. Dengan cekatan janis menggendong nadia tanpa melepaskan ciuman nya. Janis menidurkan nadia di ranjang nya lalu mulai meraba raba tubuh indah nadia. Desahan pun lolos dari bibir mungil tersebut.


"Ahh.. kak." Desah nadia yang membuat janis semakin larut dalam nafsu nya.


Dengan cekatan janis membuka seragam yang digunakan oleh nadia. Disana terlihat dua bukit yang membuat janis semakin bergairah. Dengan sangat terburu buru janis pun mengulum dan mempermainkan nipel nadia membuatnya semakin mendesah.


"Ehmmm.. kak.. ah." Nadia semakin mendesah tidak karuan.


Ciuman janis pun bertambah turun. Kini janis melepas rok serta cd nadia sebelum nadia tersadar janis langsung melahap inti nadia. Ia mempermainkan nadia dibawah nya. Nadia pun menjadi seperti ulat kepanasan. Ia terus mengerang hingga sesuatu keluar dari dirinya dengan sangat deras.


"Kakkk... aakku tidak tahan. ahh ahh." Jerit nadia.


"Keluarkan honney. rasa nya sangat manis." Ujar janis.


Itu adalah organisme pertama nadia. Dengan tubuh yang masih bergetar karena organisme janis pun mulai memasukan milik nya kepada nadia hanya dengan sekali hentak.


"AaKkk... Sakit kak. pelan.." Ujar nadia sambil merintih kesakitan.


"Sakit nya hanya sebentar baby. Tahanlah. Kakak janji akan bertanggung jawab." Ujar janis sambil mencium kedua mata nadia yang sudah di penuhi oleh air mata.


Janis dengan perlahan mendorong kejantanan nya memasuki nadia. Disana terlihat nadia menangis karena merasa sakit di inti tubuhnya. Janis pun mengerti jika ini adalah pengalaman pertama buat nadia jadi dengan sangat hati hati ia menggoyangkan tubuhnya dengan sangat pelan.


"Ahh kau sangat sempit." Desis janis yang merasa ke enakan."


Janis pun berkali kali mendesah akibat lubang nadia terlalu sempit.


Janis yang sudah sangat terbakar oleh nafsu pun menggoyangkan pantat nya dengan cepat. Nadia yang awalnya kesakitan kini mulai keluar desahan dari mulutnya.


"Ehhhmm... Kak.. Ah.. Ah" Desah nadia.


Janis pun berusaha membungkam mulut nadia dengan ciuman ciuman nya. Keringat membasahi mereka berdua. Janis yang merasakan sesuatu akan keluar dari inti nya segera mempercepat gerakan tubuh nya. Nadia pun tidak berhenti henti untuk mendesah.


"Ahh ahh.. Ehmmm akh." Desis nadia.


"Aahhhrrgggg.. Ahhkk." Teriak nadia.


Nadia mengerang menandakan bahwa ia juga akan keluar untuk yang kedua kalinya.


"Aakkkkhhh akuu.. Keluuaar ah..." Ujar nadia.


Nadia berteriak saat sesuatu membanjiri liang nya. Janis yang merasakan cengkraman di bawah sana pun tidak bisa menahan nya lagi.


"Ahhhh aku akan keluar honney. Ahh ahh tahan lah." Ujar janis dengan memoercepat gerakan nya.


Dengan hentakan yang keras janis menumpahkan semua nya di dalam ****** nadia. Nadia dan janis pun berciuman sebelum mereka tertidur.


Malam harinya nadia terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam nakas menunjukan pukul tujuh malam. Ia pun baru menyadari yang ia lakukan bersama janis tadi siang. Nadia melihat seragam nya berserakan ia takut jika janis hanya memoermainkan nya. Ya nadia berfikir jika dia sudah gila karena bermain dengan kakak tiri nya. Tapi hubungan mereka toh cuma kakak adik tiri.


Ceklakk.. Suara pintu kamar nadia terbuka. Disana ada janis yang membawakan makan malam serta susu untuk nadia. Nadia yang mengetahui kedatangan janis pun langsung menunduk ia takut untuk sekedar menatap nya.


"Sudah bangun.? Jangan takut baby. Makan lah makanan mu." Ujar janis dengan lembut tidak seperti biasanya.


"Kak. Aku ingin mandi dulu." Kata nadia.


"Makanlah dulu. Setelah itu mandi dan tidurlah lagi." Ucap janis.


Nadia pun menuruti janis. Ia memakan makanan nya dengan bersusah payah menutupi tubuhnya sebatas dada. Janis yang melihat itu hanya tersenyum. Menurut nya gadis di depan nya sangat lucu.


"Apakah masih sakit.?" Tanya janis yang membuat pipi nadia memerah.


"Kenapa kakak tanyakan itu. Sudah jelas ini masih sakit." Jawab nadia dengan sedikit marah.


"Di hari liburmu aku akan luangkan waktu untuk mengajarimu berenang." Ucap janis tiba tiba.


"Ti.. Tidak perlu. Aku takut kau akan membuatku kehilangan nyawa." Canda nadia.


"Terserah padamu baby. Sekarang biar aku gendong ke kamar mandi." Ujar janis yanv tanpa aba aba langsung menggendong adik nya menuju bath up.


Nadia pun berendam setelah berdebat sedikit dengan janis. Ia tidak ingin janis melihat tubuhnya lagi jika tetap memaksa untuk memandikan nadia. Nadia pun merasa sangat fresh setelah berendam kurang lebih satu jam. Dia melihat hand phone nya yang berkedip menandakan ada pesan disana.


Sharen : "Nad. Ada berita heboh."


Sharen : "Katanya ketua basket mark melecehkan seorang siswi. Dia dikeluarkan dari sekolah."


Sharen : "Ah malang nya. Dia tidak sebaik yang ku kira ternyata."


Sharen : "Kita memang tidak boleh memandang sesorang dari fisik. Kalau kamu tidak sibuk balas lah pesanku."


Nadia : "Maafkan aku. Aku tadi tidak melihat pesan mu. Tugas untuk besok sangat banyak jadi membuatku tidak pegang hp untuk malam ini."


Nadia pun menaruh handphone nya. Lalu berjalan menuju meja belajar untuk mengerjakan pr yang sangat banyak. Nadia pun mulai mengerjakan nya. Ia tidak mau dihukum karena tidak mengerjakan pr.


"Kenapa PR hari ini banyak sekaki. Kelihatan nya aku butuh guru bimbel." Ujar nadia setelah menyelesaikan tugasnya. Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari.


"Pantas saja aku mengantuk. Mungkin minum susu akan membuatku tidur lebih cepat." Katanya pada diri sendiri.


Nadia pun pergi menuju lantai bawah. Baru kali ini nadia keluar dari kamar pada saat malam hari. Saat nadia sampai di lantai dasar ia pun berjalan menuju ruang makan. Ia bingung saat melihat dapurnya terkunci. Dia mencari cari lewat mana ia bisa masuk. Tiba tiba lampu menyala semua. Membuat nadia terkejut.


"Kenapa belum tidur.?" Suara bariton seorang lelaki mengejutkan nadia.


"Astaga kak. Kau mengejutkan ku. Aku hanya ingin membuat segelas susu coklat." Ujar nadia.


"Kenapa tidak membangunkan pelayan.? Biar aku buat kan." Kata janis kemudian berjalan membuka pintu dapur yang ternyata kuncinya di lemari dekat pintu.


Janis pun membuatkan segelas susu coklat permintaan nadia. Dia juga merebus dua mie instan untuknya dan nadia.


"Kau pasti lapar. Kita makan mi berdua ya." Kata janis yang langsing diangguki oleh nadia.


"Kenapa kita tidak makan makanan yang ada di kulkas.? Padahal kan tinggal menghangatkan saja kak." Tanya nadia.


"Makanan di kulkas itu makan malam kita tadi malam. Para pelayan akan memakan nya dan menghangatkan nya untuk sarapan mereka." Ujar janis.


"Tapi mi instan kan tidak sehat. Kata mama dulu aku nggak boleh makan mi instan berlebihan." Ujar nadia dengan sedih.


"Jika keseringan aku juga akan melarangmu seperti mama." Ujar janis sambil mencium kening nadia.


"Sudah selesai ayo makan di sana." Ajak janis ke meja makan.


Mereka pun makan mi instan dengan sangat sunyi hanya suara dentingan sendok dan piring. Nadia menatap janis begitu juga janis. Sedetik kemudian janis tersenyum.


"Aku kenyang sekali. Terima kasih kak." Ujar nadia memecahkan keheningan.


"Mau nonton film dikamar ku.?" Tanya janis.


"Boleh. Tapi kakak harus bertanggung jawab untuk membangunkan ku besok sekolah." ujar nadia.


"Aku akan membangunkan mu tepat waktu baby." Mendengar panggilan itu membuat nadia tersenyum malu.


Janis mengajak nadia menuju kamarnya di lantai dua. Janis berjalan sambil merangkul nadia. Ada rasa yang beda saat dia bersama dengan nadia begitu juga dengan nadia. Saat nadia pertama kali memasuki kamar janis yang ia rasakan adalah aroma khas janis. Warna abu abu gelap mendominasi kamar tersebut. Nadia pun merangkak keatas kasur king size janis. Ia tidur di sana sementara janis mencari dvd film. Pilihan janis jatuh pada film Lord. Setelah memutar janis pun ikut duduk di kasur nya. Kini nadia bersandar di dada janis. film pun berbutar janis dan nadia banyak berbicara pada malam itu. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta. Sampai akhirnya nadia pun tertidur.


"Aku akan berusaha menjaga mu. Mimpi indah baby." Ujar janis lalu mencium pipi nadia dan tidur di samping nya.


______________


Pagi hari janis telah bersiap karena teo mengabari jika rapat diadakan pagi pagi sekali. Janis pun membuka korden nya agar sinar matahari dapat masuk ke kamarnya. Nadia pun mulai mengerjapkan matanya karena silau. Ia pun melihat lihat sekitar karena dia lupa jika kemarin malam dirinya telah tidur di kamar kakak nya. Saat matanya menatap janis ia langsung terbangun.


"Kak. Kakak sudah rapi. Apa aku terlambat.?" Tanya nadia santai.


"maaf ya hari ini aku tidak bisa mengantarmu pergi sekolah. Aku ada rapat mendadak. Kamu bawah mobil sendiri dan ini uang saku hari ini. Segeralah bersiap dan berangkat. Jangan lupa sarapan. Kakak berangkat dulu." ujar janis lalu mencium nadia dan pergi berangkat kerja.


Nadia pun pergi membersihkan diri di kamarnya. Ia senang karena janis mengizinkan nya membawa mobil hari ini. Nadia sangat antusias. Setelah bersiap nadia turun untuk mengambil sepotong roti.


"Nona sarapan nya." Teriak bibi desi saat melihat nadia berlari keluar masion.


"Sudah mau telat bi. Aku pergi dulu." Ujar nadia.


Nadia pergi menggunakan mobil mini Cooper nya. Dalam perjalanan nadia merasa sangat senang akhirnya setelah sekian lama semenjak mama nya meninggal ia tidak pernah lagi melihay mobil nya. Karena para penjaga menaruh nya di bagasi paling dalam. Nadia mengemudikan mobilnya membela jalanan jalanan kota pagi tersebut.


"Aku gak nyangka bakal ngelakuin hal seperti itu sama kak janis." ujar nadia dalam hati.


"Apa benar mark di keluarkan dari sekolah ya.?" tanya nadia pada dirinya sendiri.


Mobil nadia memasuki pelantaran sekolah membuat beberapa anak di sekolah nya memperhatikan mobil nya. Banyak mata menatap nadia membuat nadia ragu untuk keluar mobil. Dari arah pintu masuk lobi sekolah nadia melihat ada sahabatnya sharen yang juga ikut ikutan memperhatikan mobilnya. Dengan perlahan nadia pun membuka pintu mobilnya lalu keluar dari sana. Beberapa dari mereka terkejut melihat nadia keluar dari sana. Begitu juga dengan lara dan sahabat sahabatnya.


"Eh itu bukan nya si parasit ya.?" Tanya siska pada lara.


"Yaampun ternyata dia beneran kaya. Nyesel gue gak berteman sama dia." Ujar tania.


"Kalian kalo mau berteman sama dia gih buruan berteman. Gue bakal bikin orang tua kalian di keluarkan dari devisi yang papa gue pegang." Ujar lara lalu pergi meninggalkan siska dan tania.


Dilain sisi nadia menghampiri sharen yang sekarang sedang bersama nikolas. Mereka berdua terkejut melihat nadia.


"Seperti bidadari turun dari kereta kencana nya." Ujar nikolas saat nadia sudah berada di dekat mereka.


"Yaelah. Udah lah nad ayo masuk kelas. Aku dengar kita bakalan dipulangin pukul 9 pagi." Kata sharen.


"Itu karena si mark cabul yang mengajukan banding di sekolah. Jadi nanti mereka rapat." Ujar nikolas.


"Lagian ngapain si mark pake gk bisa nahan nafsu." Ucap sharen.


Nadia yang mendengar percakapan mereka pun hanya diam. Ia masih sedikit takut dengan kejadian kemarin.


_________________________


Leonard corp.


Janis sedang mengadakan rapat dengan beberapa kolega nya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa beberapa orang berusaha untuk korup. Setelah rapat selesai salah satu kolega bisnis janis menghampiri nya.


"Tuan. Apakah anda tidak sibuk.? Saya ingin anda makan malam bersama putri saya nanti." Ujar lelaki tua tersebut.


"Saya sedang sibuk." Jawab janis lalu melenggang pergi lalu di ikuti oleh teo.


Janis menaiki lift bersama dengan teo. Di dalam lift janis menatap teo dengan seksama.


"Kenapa kau menatapku.?" Tanya teo.


"Jauhkan aku dari zeranda." Ujar janis cuek.


"Ada apa.? Kau sudah bosan.? mau ku carikan teman tidur lain." tanya teo pada teman sekaligus bos nya.


"jauhkan saja dia. Aku sudah muak dengan nya. Berikam dia beberapa uang. Mulai sekarang beritahu sekuriti agar dia tidak lagi diperbolehkan menginjakkan kaki di sini." Ujar janis.


"Baik tuan." Jawab teo.


Ting.. Lift pun berhenti di lantai paling atas tempat dimana ruangan janis berada. Janis pun melangkah menuju ruangan pribadinya. Saat janis memasuki ruangan nya disana ia melihat zeranda sedang duduk di sofa untuk tamu nya.


"Ada apa sayang.? Kau terkejut." Tanya zeranda.


"Keluarlah." Ujar janis.


Zeranda tidak menggubris ucapan janis. Ia mendekat ke arah janis lalu dengan tiba tiba ia mencium janis. Janis yang terkejut pun langsung mendorong zera sampai jatuh.


"Dasar pelacur. Cihh.. " Janis meludai zeranda.


Teo yang mendengar keributan di dalam ruangan janis langsung masuk ke dalam. Tatapan janis yang ditujukan pada teo membuat teo sadar jika ia harus segera menyeret zeranda keluar. Dengan cepat teo menelfon beberapa security.


"Janis apa apa an sih.?" Tanya zera.


"Kita sudahi saja. Teo bawah dia pergi." Ujar janis.


Teo menyeret zeranda keluar dari ruangan nya membuat zera berteriak teriak seperti orang gila.


"Janis.. Janisss..." Teriak zeranda.


Beberapa security sudah sampai di lantai tempat janis berada. Zeranda yang melihat itu terlihat sangat marah.


"Janis.. Aku tidak akan melepaskanmu." Ujar zera sambil di seret oleh dua sekurity.


Setelah zeranda pergi janis duduk dan memijat pelipis kepala nya. Teo yang melihat itu pun merasah sedikit kasihan.


"Tuan. Hari ini sekolah nona pulang pagi pukul 9 karena mark mengajukan banding di sidang sekolah." Ujar teo. Janis melihat jam menunjukan pukul setengah 9 pagi.


"Kirim pengacara fandi. Bilang padanya jika dia harus bisa mengeluarkan mark dari sekolah. Aku akan menghubungi nadia." Ujar janis.


"Iya tuan." Jawab teo lalu meninggalkan janis.


Janis pun mengeluarkan hand phone nya untuk menghubungi nadia. Sambungan pertama langsung di angkat oleh nadia.


Janis : "Baby."


Nadia : "Iya kak." Jawab nadia di seberang telfon.


Janis : "Kau tidak di suruh bersaksi kan untuk masalah mark. Kakak sudah mengirimkan pengacara ke sekolah kamu." ujar janis dengan nada kawatir.


Nadia : "Tidak kak. Bu josi mengatakan kita semua di perbolekan pulang pukul 9. Dan sekarang aku sedang menunggu bel berbunyi." jawab nadia.


Janis : "Baiklah. Langsung pulang. Kakak akan pulang saat jam makan siang." jawab janis.


Nadia : "Kak aku boleh kan pergi main dulu ke mall sama teman teman.? Teman teman juga ingin main ke rumah." Tanya nadia pada kakak nya.


Janis : "Ajak teman teman mu main di rumah saja baby. Jangan ke mall." ujar janis yang membuat nadia langsung mendengus.


Nadia : "Baiklah kak." Jawab nadia lesu.


Janis : "Hati hat baby. Kakak tutup dulu." Ujar janis lalu mematikan sambungan telfon nya.


Disisi lain nadia sedang bersama sharen, fiki dan nikolas. Mereka bertiga bingung dengan seseorang yang menelfon nadia.


"Siapa nad.? Pacar ya.?" Tanya fiki.


"Lo udah punya pacar nad.?" Kini giliran nikolas yang bertanya.


"Bukan. Dia kakak ku." Jawab nadia.


"Jadi kamu sudah izin untuk pergi ke mall.?" Tanya sharen.


"Maaf ya. Kakak ku melarang pergi ke mall. Tapi kalian mau nggak main ke rumah ku.?" Ujar nadia.


"Beneran gak apa nih kita main ke rumah mu.?" Tanya fiki.


"Gak apa apa kok. Nanti kita nontot film di rumah ku aja." Ujar nadia.


"Boleh juga." Jawab sharen.


_____________


Leonard masion.


Mobil nadia memasuki gerbang pertama masion dengan di ikuti mobil fortuner milik nikolas. Sharen yang berada dalam satu mobil dengan nadia langsung terkejut. Dia tau jika ini adalah masion keluarga leonard tapi sharen tidak tau jika nadia salah satu dari mereka.


"Beneran ini rumah kamu nad.?" Tanya sharen saat melihat mobil nadia mulai memasuki pelantaran masion.


"Iya. Ini rumah daddy aku." Jawab nadia.


"Ayo masuk." Ajak nadia pada sharen saat ia sudah sampai di pintu lobi.


"Kita tunggu mereka." Jawab sharen


Mobil nikolas pun terparkir di belakang mobil nadia. Nikolas dan fiki pun bingung. Kenapa nadia mengajaknya ke kediaman keluarga leonard.


"Ayo masuk." Ajak nadia pada mereka bertiga.


Mereka pun langsung mengikuti nadia. Salah satu pelayan mengambil tas nadia. Beberapa pelayan yang berpapasan menyapa nadia dengan ramah membuat mereka yakin jika nadia adalah salah satu kerabat leonard.


"Kita mau nyemil di ruang tamu atau di taman belakang.?" Tanya nadia pada teman teman nya.


"Di taman belakang aja nad. Kita juga mau lihat masion leonard." Ujar fiki sambil tertawa.


"Tolong antarkan mereka ke taman belakang." Ujar nadia pada salah satu pelayan.


"Kalian ke sana dulu ya biar aku ganti baju dulu. Sharen kamu mau ganti baju nggak.?" ta1nya nadia pada sharen.


"Iya nad. Nanti gerah kalo pake seragam." Kata sharen.


"Bibi desi tolong siapkan beberapa cemilan dan jus yang segar buat mereka ya."


"Baik nona." Jawab bibi desi lalu pergi melakukan pekerja an nya.


Nadia mengajak sharen pergi ke lantai dua untuk ganti baju di kamarnya. saat masuk ke kamar nadia. Sharen sangat terkejut pasalnya di sana terdapat foto keluarga yang di ambil saat pernikahan daddy dan mama nya nadia.


"Jadi kamu itu putri terakhir keluarga leonard.?" Ujar sharen sambil menunjuk ke foto tersebut.


"Iya. Aku sengaja sembuyiin identitas ku." Ujar nadia.


"Kamu beruntung bisa menjadi keluarga leonard." Kata sharen.


"Sudah lah. Ayo ganti baju." Ajak nadia ke arah lemari untuk memilih baju.


Pilihan nadia jatuh pada hot pants biru laut dengan kaos gucci. Sharen pun meminjam celana satu perempat dan kaos nadia. Nadia menggerai rambutnya yang panjang. Membuat nya bertambah cantik. Mereka pun memutuskan pergi menemui fiki dan nikolas di taman belakang rumah setelah mencuci muka.


"Hei nad. Sini." Teriak fiki pada nadia saat nadia sudah sampai di taman belakang rumah.


"Lo cantik banget si nat." Ujar nikolas yang langsung mendapatkan cibiran dari fiki.


"Lo kok gak beri tahu kita sih.?" Tanya fiki.


"Tentang.?" Tanya nadia balik.


"Tentang lo yang ternyata putri bungsu keluarga leonard." Ujar fiki.


"Sekarang kalian sudah tau kan.?" Tanya nadia sambil tersenyum.


"Iya sih." Jawab fiki.


"Sudah lah. Yang penting sekarang kita sudah tau. Toh kita kan nggak pernah tanya pada nadia." Ujar sharen.


"Ayo dimakan cemilan nya. Kalo kalian mau berenang berenang aja ga papa." Ujar nadia.


"Nggak kita lagi males berenang. Lebih baik kita santai saja di sini." Ujar fiki sambil memakan beberapa biskuit.


Mereka pun bercerita banyak hal dan saling bercanda sesekali nikolas menggida nadia. Fiki dan sharen yang berada di sana mengetahui jika sebenarnya nikolas memiliki perasaan pada nadia. Setelah lelah mereka memutuskan untuk nonton film di ruangan movie di lantai tiga. Sesekali nikolas melirik lirik nadia. Nadia sebenarnya tau tapi ia tetap diam saja. Karen tidak mau menimbulkan masalah pada persahabatan mereka.