
Nadia telah selesai bersiap. Sudah hampir satu jam ia beremdam di dalam kamar mandi. Ia turun ke lantai dasar ternyata di meja makan yang besar tersebut sudah ada tiga orang yaitu daddy mama dan lelaki yang belum pernah ia temui. Ia berdiri kaku di sana sampai suara daddy nya menegur.
"nadia sayang kemarilah." ujar daddynya.
Nadia berjalan dan duduk di sebelah mama nya.
"sayang tidak perlu takut. Kita ini kan akan keluarga. Ya kan sayang.?" tanya leandro kepada sisil.
"iya. Ini perkenalkan dia adalah kakak pertama kamu. Namanya janissio. Kamu akan menjaga adik mu kan janis.?" tanya sisil pada lelaki tinggi di depan nya.
"tidak. Aku tidak akan menjaganya karena kita tidak memiliki darah yang sama." ujar janissio.
"JANISSIO.." bentak leandro yang membuat suasana ruang makan menjadi tegang.
"ada apa dad.? Aku membicarakan kenyataan." ucap janis memancing emosi leandro.
"sudah sayang. Mungkin memang janis masih belum bisa menerima kita. Dia mungkin butuh waktu." ujar sisil menenangkan leandro.
Disana suasana menjadi canggung. Setelah leandro tenang mereka kembali melanjutkan makan malam. Perasaan nadia sedih melihat respon kakaknya. Dia bahkan tidak berani untuk sekedar menatap wajah janis.
"sayang mungkin alex datang nanti malam. Kita tidak bisa menunggunya. Karena kita juga harus memantau gedung pernikahan. Janis aku titip nadia padamu. Aku dan mama mu akan memantau dan melihat gedung." ujar leandro.
"apa tidak sebaiknya kita mengajak nadia.?" tanya sisil yang kawatir dengan putrinya.
"apa kau takut putrimu akan ku bunuh.?" tanya janis.
"jaga bicama mu." ujar leandro.
"aku akan menjaga putrimu." ucap janis.
Setela makan malam selesai. Sisil dan leandro pun pergi bersama menuju gedung tempat mereka melaksanakan resepsi. Dalam hati sisil ia sangat gelisa meninggalkan putrinya bersama anak tiri yang terlihat sangat membencinya.
Di dalam masion nadia pun duduk di ruang tengah. Ingin sekali kakinya melangkah menuju kamar nya. Tapi di samping ia duduk ada janis yang dengan tenang menemani nya.
"jujur aku ingin sekali membunuh gadis ini." batin janis.
Dia melihat mata, bibir, hidung nampak cantik. Janis tidak menyangkal hal itu. Seharusnya ia senang memiliki adik cantik seperti nadia. Tapi hatinya sakit hati pasalnya mama nadia yang telah membuat daddy nya berpaling dari mommy janis.
Ia mencoba mencairkan suasa dan mencoba membuka ruang untuk gadis kecil di sebelah nya.
"mau ke taman belakang rumah.?" tanya janis dengan nada datarnya.
"boleh." jawab nadia dengan tersenyum.
Janis yang melihat senyum nadia sempat tertegun. Mereka berdua berjalan menuju taman belakang yang luar. Disana terdapat kolam berenang out door. Nadia berjalan di belakang janis. Mereka berdua hanya melihat lihat tanpa ada yang berani berbicara. Mereka berjalan di tepi kolam berenang. Nadia yang berjalan dengan terus menatap kebawah tidak tau jika janis berhenti. Alhasil nadia pun menabrak tubuh janis dan dia tidak bisa menjaga keseimbangan.
BYUUURRRRR.... Nadia jatuh ke dalam kolam renang. Janis melihat nadia yang seperti tenggelam malah tidak merespon apapun.
"dasar putri pelacur. Mana mungkin jaman sekarang tidak bisa berenang. Mungkin ia akting." batin janis sambil menatap nadia.
"too.. Tolong." ujar nadia.
Tiba tiba seseorang berlari menuju kolam renang dan berenang membantu nadia. Nadia pun langsung pingsan karena syok. Lelaki tersebut pun menggendong nadia.
"kapan kau datang alex.?" tanya janis.
"aku tau berat bagimu menggantikan sosok mommy. Jika kau benci ibu nya cukup ibunya saja. Apa kau mengerti kak.?" ujar alex yang langsung membuat janis terdiam.
"Bibi desi, tolong hubungi daddy dan ceritakan semuanya." ujar alex.
Alex membawa nadia ke kamar nya. Dia terus memandang wajah adiknya dengan tersenyum. Lalu menyuruh para pelayan untuk menggantikan baju nadia. Sementara ia kembali mencari kakaknya. Setelah bertemu dengan kakaknya yang ternyata duduk di ruang keluarga.
"apakah dia anak dari mama sisil.?" tanya alex.
"benar." jawab janis singkat.
"kau mau membunuhnya.? Dia kesusahan berenang tapi kau hanya melihatnya kak.? Apa kau sudah gil.." belum sempat alex menyelesaikan bicaranya orang tua mereka datang.
Brukkk satu pukulan dilayangkan oleh leandro kepada putra sulung nya.
"ikut daddy ke ruang kerja." ujar leandro lalu meninggalkan sisil bersama alex.
"terimakasih alex sudah menolong adik kamu. Mama harap kamu bisa menerimanya meskipun tidak bisa menerima ku sebagai pengganti mommy mu. Memang sejatinya aku tidak bisa menggantikan seorang ibu yang sangat disayangi putranya." ujar sisil lalu pergi meninggalkan alex.
Sisil pergi melihat keadaan putrinya. Ia sangat takut jika janis melukai putri satu satunya. Saat ia melihat putrinya tertidur lelap disana ia merasa lega.
_______________
Pagi hari pun tiba nadia nampak cantik dengan dress putih pemesanan mamanya. Dia menuruni anak tangga dan pergi ke kamar mamanya. Dia melihat seorang wanita berumur 45 tahun nampak cantik dengan gaun putih bersih nya.
"sayang sudah siap.?" tanya sisil.
"seharusnya aku yang tanya begitu kepada mama." ujar nadia.
"ayo kita berangkat. Daddy dan kakak kakak mu sudah menunggu kita di gereja." mendengar kata kakak nadia seperti sedikit trauma.
"apakah yang menyelamatkan ku waktu tenggelam kak janis ma.?" tanya nadia.
"bukan. Dia adalah kak alex. Adik dari kak janis. Mama harap kamu bisa menerimanya." ujar sisil.
"aku yang berharap diterimanya sebagai adik. Aku takut ia akan bersikap seperti kak janis." ujar nadia sambil menitihkan air matanya.
"sayang sudah ayo berangkat jangan menangis. Mama percaya jika alex berbeda dari janis."
Kemudian mereka pun diantar pergi menuju gereja untuk mengucap janji suci.
_______________
Digereja setelah mengucap janji suci keluarga leonard melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat resepsi. Saat nadia ingin semobil dengan mamanya ia dicegah oleh janis.
"kamu semobil dengan ku." ujar janis.
"apa dengan kak alex.?" tanya nadia.
"dua tidak datang ke gereja. Ia langsung ketemoat resepsi. Kenapa kau mencarinya." tanya janis cuek.
"aku hanya ingin berkenalan dengan nya." lalu nadia dan janis menuju mobil.
Janis nengendarai mobil sport nya dengan tenang. Ia bahkan tidak berbicara sama sekali dengan nadia.
"ehmmm.. Kak alex bagaimana dia.?" tanya nadia pada janis. Janis menoleh lalu berdiam hampir 5 menit ia baru menjawab pertanyaan nadia.
"alex yang menyelamatkan mu waktu tenggelam kemarin." hanya itu yang keluar dari bibir janis.
Setelah itu mobil yang dikendarai oleh janis memasuki parkiran hotel. Janis dan nadia pun berjalan berdua menuju gedung hotel. Disana sudah terdapat banyak undangan. Mama dan daddy nya terlihat sibuk menghampiri para tamu begitu juga dengan janis. Nadia pun berjalan menuju tempat minum. Ia bingung apa yang harus ia lakukan di pesta mamanya. Nadia kembali lagi melihat ke arah janis. Disana kini janis bersama dengan seorang wanita cantik yang terlihat seperti model.
"ehmmm." suara deheman seseorang mengejutkan nadia. Saat ia menoleh ternyata disana terdapat lelaki yang ia temui di mall.
"hai." sapa nadia.
"masih ingat aku.?" tanya lelaki tersebut.
"masih. Kakak yang menyelamatkan ku saat aku di mall." jawab nadia sambil tersenyum.
"ternyata kau masih ingat ya. Lihat lah penampilan mu hari ini kau cantik sekali." ujarnya.
"oh nadia lihatlah kau sudah akrab dengan kakak mu ternyata." ujar daddy.
"kakak.? Maksutnya." ujar nadia dengan nada bertanya.
"dia adalah alex nad, alex perkenalkan dirimu." kata sisil pada putrinya.
"aku alexande leonard. Kakak kedua mu." ucap xander dengan menentangkan tangan nya.
Melihat itu nadia langsung memeluk alex.
"aku nggak menyangkan ternyata kak xander yang kemarin lusa menyelamatkan ku dari tuduhan itu." ujar nadia.
"tuduhan.? Tuduhan apa sayang.?" tanya sisil yang mendengar perkataan nadia.
"iya tuduhan apa.? Bilang sama daddy."
"hanya masalah kecil dan sudah selesai kok ma, dad." jawab nadia.
"ayo kita foto keluarga dan memberitahu mereka semua bahwa mulai sekarang kalian berdua adalah keluarga leonard." ucap leandro.
Kemudian mereka pun melakukan foto bersama dan memperkenalkan nadia dan sisil di hadapan publik. Pesta pernikahan hanya diadakan selama 3 jam setelah pengucapan janji suci. Karena itu banyak tamu yang datang sebelum acaranya selesai. Leandro dan sisil membuat pesta sebentar karena mereka rasa itu sudah cukup. Setelah pesta selesai sepasang suami istri tersebut pun akan melaksanakan honney moon di jepang.
Setelah pesta selesai semua berkumpul di depan gedung untuk mengantar pasangan pengantin pergi honney moon. Suasana sangat haru karena nadia terus saja mengeluarkan air mata nya.
"mama jangan lama lama. Pokok nya mama harus pulang." ujar nadia sambil memeluk mamanya.
"sudah sayang jangan nangis. Kan disini ada kak alex. Alex saya titip nadia ke kamu ya." ujar sisil yang sangat mempercayai alex atau xander.
"janis papa harap kamu mau menerima nadia." bisik leandro pada putranya.
Mereka pun memasuki mobilnya lalu pergi meninggalkan hotel. Nadia pun ditenangkan oleh xander dan di ajaknya pulang ke masion.
___________________
Masion.
Hari masih sore nadia dan xander sudah sampai di masion begitu juga dengan janis. Xander menggandeng tangan nadia menuju taman belakang. Mereka duduk di gasebo dekat kolam berenang.
"nad. Besok kamu mulai sekolah. Kamu bisa bawah mobil kan.? Daddy sudah menyiapkan mobil untukmu. Bahkan ia sudah membuatkan mu sim." ujar xander yang membuat nadia terkejut.
"aku bisa membawah mobil tapi aku nggak pernah ikut tes mengemudi kak. Gimana bisa aku punya sim.?" tanya nadia kebingungan.
"itu hal yang gampang buat keluarga kita. Tutuplah mata mu. Aku punya sesuatu untuk mu." nadia pun menutup mata nya lalu xander mengeluarkan sesuatu untuk nadia.
"buka lah." ujar xander.
Saat nadia membuka matanya ia begitu terkejut melihat kalung yang ada di toko mall tersebut.
"kau menyuruh ku untuk memberikan nya pada adik ku saat aku ingin memberikan ini untuk mu. Tapi takdir berkata lain ternyata kau adik ku. Jadi terimalah hadia dari kakak mu ini princes." ucap xander lalu memasangkan kalung tersebut di leher nadia.
"terima kasih kak." ujar nadia yang langsung mendapat senyuman dari xander.
"mau lihat mobil baru mu.?"
"boleh. Semoga mobilnya tidak kebesaran untuk ku pakai." kata nadia sambil tersenyum.
Mereka pun pergi dari taman belakang rumah. Dari lantai dua rumah mereka tanpa ia sadari, sedari tadi seseorang telah mengawasi mereka berdua.
"astaga apakah benar xander telah menerima anak pelacur itu." ujar janis sambil memandang kebergian mereka.
Dilain sisi nadia sangat bahagia melihat mobil mini Cooper hadiah dari daddy nya. Ia sangat bahagia. Xander yang melihat adiknya bahagia pun turut bahagia.
"kau suka princes.?" tanya xander.
"suka kak. Aku harus segera mengucapkan terimakasih kepada daddy." ujar nadia.
"lebih baik menunggu mereka kembali. Jangan mengganggu mereka yang lagi bersenang senang." ujar xander.
"baiklah kak."
"lebih baik sekarang kita istirahat. Nanti jika sudah waktu makan malam kakak akan bangunkan. Ayo kakak antar ke kamar mu princes."
"ayo kak. Aku juga sangat lelah rasanya ingin cepat cepat tidur."
Mereka pun memutuskan untuk istirahat setelah melihat mobil terbaru nadia. Nadia sangat senang mendapatkan mobil tersebut. Berbeda di lain tempat. Sisil dan leandro kebingungan dengan supir mereka yang tiba tiba mengatakan jika rem mobil yang digunakan blong. Jalanan perbukitan menurun. Tanpa mereka sadari di depan mereka terdapat bus pariwisata tanpa terelakan lagi kecelakaan hebat pun terjadi.
Bruuaakkk.... Dooorrr... Mobil pun meledak seketika.
"mama... " teriak nadia dengan nafas ngos ngosan. Ia melihat jam ke samping nakas. Ternyata masih pukul tujuh malam. Ia duduk dan melamun. Seketika lamunan nya pun buyar saat sirine ambulans memasuki pelantaran masion.
"ti.. Tidak mungkin."
Nadia bergegas turun dari atas ranjang dan berlari menuju lantai bawah. Disana ia melihat para pelayan dan banyar orang berkumpul di ruang lobi rumah. Tiba tiba nadia mengingat mimpi nya. Janis yang berada di sana mendekat ke arah nadia. Lalu memeluk nya.
"jangan menangis." ucapnya dengan nada dingin.
"nadia." panggil xander pada nya.
"kak. Ada apa ini.?" tanya nadia yang ingin memastikan semuanya.
"mama dan daddy sudah nggak ada. Mereka meninggal." ujar xander yang langsung membuat nadia pingsa.
"nadia. Nad bangun." janis mencoba mengguncang badan nadia.
"kak. Jaga nadia di kamar nya. Pemakanam nya akan kita lakukan malam ini juga." ujar xander.
"aku akan menjaga nadia. Kau urus pemakaman daddy." jawab janis.
Pemakaman pun dilakukan pada saat itu juga. Para wartawan dan kolega pun terus berdatangan untuk mengucapkan turut berduka. Setelah mereka tadi pagi menghadiri undangan pernikahan keluarga leonard.
Nadia mengerjapkan matanya. Ia melihat lihat berharap yang terjadi adalah mimpi. Ia melihat ke samping nya yang ternyata disana sudah ada janis. Nadia berjalan ke arah balkon. Ia melihat di bawah rumah nya terdapat banyak sekali karangan bunga. Air matanya pun menetes. Ia jatuh terduduk.
"kenapa mama tinggalin aku sendiri ma." tangis nadia pun pecah.
Malam terasa hening. Hujan pun akan segera turun nadia tetap terduduk di balkon luar kamarnya. Janis terbangun ia mencari keberadaan nadia. Saat seperti ini janis merasa kasihan kepada nadia. Ada hati yang bergelenjar saat ia melihat nadia sedih. Janis pun memeluk tubuh nadia tanpa aba aba ia pun menggendong nya.
"tidurlah nad. Ini sudah malam." ujar janis dwngan suarah lembut tidak seperti biasanya.
"apakah kakak akan semakin membenci ku setelah mereka tiada.?" tanya nadia.
"tidak. Aku tidak akan membencimu. Aku akan menjaga mu." jawab janis.
Kini janis mendekatkan wajah nya ke wajah nadia. Tiba tiba nafsu menguasai janis. Saat bibir janis akan bertemu dengan bibir nadia. Tiba tiba Brakkkk... Janis terjatuh dari ranjang akibat di dorong oleh nadia.
"ada apa.?" tanya janis pada nadia.
"kita tidak seharusnya seperti ini. Kamu kakak ku." jawab nadia.
"semua orang juga tau jika kau bukan adik ku." ujar janis lalu pergi meninggalkan nadia di kamar sendirian.
Nadia yang melihat itu pun langsung menangis. Ia tidak tau harus bagaimana. Sampai akhirnya nadia tertidur akibat kelelahan menangis.