
Glek! Sherina menelan ludahnya dengan kasar, lalu tersenyum dengan kikuk sekali.
"Tidak ingin bersih-bersih tubuh dulu?" tanya Sherina, dia juga menussuk-nussuk dadda Sean menggunakan jari telunjuknya, saking gugupnya Sherina sampai membuat gerakan absurd seperti itu.
Sebuah pergerakan yang membuat Sean malah jadi semakin gemas, ingin gigit.
"Boleh juga, kita bersihkan bersama-sama di dalam kamar mandi," jawab Sean, bibirnya tersenyum lebar, sorot matanya juga nampak lebih hidup, tidak sayu seperti beberapa saat lalu.
Tapi entah kenapa, malah membuat Sherina makin takut.
Deg deg! deg deg! ya Allah jantung gadis itu benar-benar tidak bisa tenang.
Malah makin menjadi-jadi saat Sean langsung menggendongnya untuk masuk ke dalam kamar mandi, padahal mereka berdua masih menggunakan gaun pernikahan tadi.
Sherina masih menggunakan kebaya putih yang dia pilih dari banyaknya gaun yang dikirimkan oleh sang Mama mertua.
Tapi meski digendong seperti ini, Sherina tidak bisa berontak. Dia benar-benar berada di tahap paling pasrah.
Tiba di kamar mandi itu, Sean menurunkan sang istri tepat di depan meja westafel. Bayangan mereka berdua langsung tertangkap jelas oleh cermin di depan sana.
Entah bagaimana mulainya, tapi Sean lah yang memimpin semua ini. Saat satu per satu kain ditanggalkan, saat Sherina dibimbing untuk masuk ke dalam bilik dan air mengguyur mereka berdua.
Saat ciuman yang begitu lembut lama-lama jadi sangat menuntut.
Ada rasa yang begitu menggebu, sampai mengikis semua jarak dan menyatu dengan begitu dalam.
"Ahk!" hanya satu kata saja, namun begitu banyak mengandung makna. Tentang Sean yang akhirnya bisa memiliki Sherina sepenuhnya.
Berccak merrah dia atas ranjang tak dipedulikan oleh mereka, setelah cukup lama membiasakan diri dalam penyatuan, akhirnya mereka berdua bergerak secara dinamis.
Sampai desaah yang keluar jadi bersahutan.
Hanya 1 kali, tapi Sean sudah berhasil membuat Sherina kewalahan.
Sampai ada lecet yang terasa begitu jelas di bawah sana.
"Ahk Sean."
"No, tidak lagi, mulai sekarang panggil aku Mas," balas Sean, disaat akhirnya dia benar-benar melepaskan penyatuan itu.
Kedua pipi Sherina sudah merah merona, dia tidak bisa menjawab dengan kata-kata keinginan sang suami tersebut, jadi Sherina hanya bisa menganggukan kepalanya kecil sebagai tanda setuju.
Bahwa mulai saat ini dia tidak akan lagi memanggil Sean dengan namanya saja, tapi di tambah Mas, Mas Sean.
Rasanya begitu canggung dan kaku untuk diucapkan, tapi Sherina tidak akan protes.
Dia juga sangat menyukai perubahan ini.
Selesai memadu kasih untuk pertama kali, akhirnya mereka berdua bisa beristirahat dengan tenang.
Masih di ranjang itu dan masih sama-sama polos, mereka saling memeluk erat.
"Sayang, aku tidak ingin kita menunda, aku ingin kita segera memiliki anak, mau kan?" tanya Sean, memeluk dengan lebih erat seolah menunjukkan keseriusan atas ucapannya tersebut.
"Iya Mas, aku juga menginginkannya. Tapi apa boleh jika anak kita nanti ada yang perempuan, aku ingin memberinya nama Ariana?" tanya Sherina pula, dia mendongak menatap sang suami dengan intens.
"Tentu saja, dia akan jadi Ariana Aditama."
Ya Allah, mendengar jawaban suaminya itu, Sherina senang sekali, sangat senang sampai dia memeluk Sean lebih erat, menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan sang suami.
Menghirup aroma tubuh suaminya dalam-dalam.