My Beautiful Police

My Beautiful Police
Bab 49 - Layak Mendapatkannya



Meski merasa tak enak hati, akhirnya pagi itu Sherina diantar oleh Sean menuju kantor polisi.


Sean bahkan memasang sabuk pengaman untuk calon istrinya tersebut, membuat Sherina sampai membeku di tempatnya duduk. Di luar kendalinya, kedua pipi wanita itu jadi bersemu merah.


"Kamu tau, beberapa waktu terakhir banyak sekali sikap mu yang membuat aku bingung. Sherina seperti punya kepribadian ganda," ucap Sean.


"Kemarin kamu memanggilku Kak, sekarang tidak lagi." Sean tersenyum kecil.


Deg! mendengar kalimat itu Sherina seketika tersentak, makin terpojok dan tak bisa mengelak.


Apa yang sebenarnya terjadi tidak bisa dia jelaskan secara gamblang, Sean pasti hanya akan menganggapnya gila. Bahwa beberapa waktu lalu, dia bukanlah dia yang sesungguhnya, tapi dia yang berjiwa Ariana.


"Tapi aku bersyukur, sepertinya kali ini, kamu sudah jadi Sherina ku yang sesungguhnya," tambah Sean.


Glek! Sherina hanya mampu menelan ludah kasar. Bingung harus menanggapi bagaimana.


Sampai akhirnya dia merasakan Sean yang mengusap puncak kepalanya dengan begitu lembut.


"Kita pergi sekarang," ucap Sean.


Setelahnya pria itu pun segera menyalakan mesin mobil, melaju meninggalkan area parkir rumah sakit dan menuju kantor Polisi.


"Kalau mau pulang telepon aku, ya?" tanya Sean dan Sherina mengangguk.


Ya Allah, melihat Sherina yang patuh seperti itu hati Sean tenang sekali. Dia bahkan sampai tersenyum dengan begitu hangat.


Sherina juga melambaikan tangan kecil ketika melihat pria itu akhirnya pergi meninggalkan dia di depan gedung kantor polisi.


Senyum yang terukir di bibir Sherina ketika mengantarkan kepergian sang calon suami seketika hilang bersamaan dengan mobil Sean yang tak nampak lagi.


Saat memutuskan untuk masuk ke dalam kantor polisi tersebut, Sherina memasang wajahnya yang begitu dingin. Untuk pertama kalinya di dalam hidup Sherina akhirnya dia berani mengangkat wajahnya seperti ini.


Kata Ariana, tidak akan ada yang bisa melindungi diri kita kecuali kita sendiri. Orang-orang bisa merendahkan kita itu karena kita hanya diam dan tidak membuat perlawanan.


Kemana pun arah hidup yang kita inginkan, kita lah yang memilihnya.


Tatapan kedua mata Sherina semakin terlihat tajam ketika dia mulai melewati sel para tahanan. Setelah mendapatkan informasi dimana Brandon ditahan, Sherina pun langsung menghampiri.


Dan kini di sini lah wanita itu berada, di hadapan Brandon dan sel jadi penghalang.


Cih! Sherina berdecih, lengkap dengan senyum yang terukir disudut bibirnya.


Melihat Sherina berdiri di hadapannya tentu membuat Brandon tercengang, pasalnya dia sangat yakin jika Sherina pasti akan mati karena tembakan itu.


Dia sangat yakin tembakan itu mengenai tempat di jantung Sherina.


"Terkejut? anggap saja aku hantu," ucap Sherina.


"Kurrang ajjar, untuk apa kamu datang kesini hah?!" bentak Brandon.


"Untuk apa? tentu saja menertawakan mu," balas Sherina dengan gampangnya, dia masih masih sempat untuk tersenyum.


Sementara Brandon hanya mampu mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Ingin mencekkik wanita itu hingga mati tapi tak kuasa untuk melakukannya. Dia telah berada di dalam tahanan dengan semua ketidakberdayaannya.


Dan melihat Brandon yang mengepul amarah di sorot matanya, Sherina pun membalas hal yang serupa.


"Aku tau, kebencian mu padaku bermula dari ketidakmampuan ku sebagai seorang polisi. Bagimu aku adalah beban, penghambat tiap misi yang diambil oleh tim 1. Tapi aku pernah memohon padamu Brand, aku mohon untuk dibimbing, aku memohon untuk dibantu, tapi sebagai ketua Tim kamu malah mengabaikan permintaan ku itu dan menjadikannya olok-olokan dengan Deasy," ucap Sherina panjang lebar, akhirnya dia utarakan semua yang ada di dalam hatinya. Apa yang selama ini hanya terpendam di dalam benak.


"Sampai di satu titik aku sadar, kebencian mu padaku bukan hanya karena ketidakmampuan ku, tapi memang hatimu yang busuk," tambah Sherina.


Brandon mulai menjadikan Sherina sebagai pelampiasan amarah, sebagai objek kegagalan. Lalu disaat paling putus asa, Brandon pun ingin membunnuh Sherina agar dia puas.


Kasus terakhir sebelum Sherina dibuang ke sungai, kasus itu belum selesai. Tapi Brandon memanipulasinya semuanya.


"Jadi sekarang aku tidak akan merasa bersalah sedikitpun melihat mu ada disini menanti hukuman, karena kamu memang layak mendapatkannya," ucap Sherina.


Brandon sudah tergugu di tempatnya berdiri, suara dingin dan tatapan tajam itu membuat lidahnya terasa kelu.


Apa yang diucapkan oleh Sherina adalah kebenaran dan dia tak punya kata-kata untuk membantah.