My Beautiful Police

My Beautiful Police
Bab 42 - Mengambil Aksi



"Tangkap mereka, bawa ke kantor untuk pemeriksaan lebih lanjut," titah pak Johan.


Sherina telah melaporkan kasus ini secara hukum, dengan pelaporan tersebut maka semuanya hanya tinggal mengalir seperti air. Pemecatan Brandon dan Deasy juga pembubaran tim 1. Karena semua bukti yang sudah terkumpul tak bisa terbantahkan lagi, Brandon dan Deasy benar-benar telah jadi tersangka. Sekarang hanya tinggal menjalani semuanya sesuai prosedur.


4 anggota polisi yang datang ke ruangan pak Johan pun segera mencekal tangan Brandon dan Deasy, mengapit dari sisi kiri dan kanan.


"Tidak, ini semua pasti hanya salah paham Pak! beri saya waktu untuk menjelaskan semuanya!" ucap Brandon, suaranya terdengar jelas begitu menggebu. Sesaat pikirannya begitu kacau dan tidak tahu bagaimana caranya untuk melakukan pembelaan diri, tapi ketika tubuhnya sudah dicekal seperti ini, seketika ketakutan dengan semua hukuman itu semakin menghantui.


Brandon tidak ingin menerima itu semua, masih merasa bahwa semuanya bisa diselesaikan secara baik-baik.


Masih berpikir bahwa Sherina adalah gadis boddoh yang bisa dia manipulasi.


Tapi pak Johan tidak mau mendengar ucapan Brandon tersebut, juga tidak peduli pada sikap Brandon dan Deasy yang berontak. Nyatanya penangkapan itu tetap berlangsung, Brandon dan Deasy tetap ditarik untuk menuju kantor polisi dan melakukan serangkaian pemeriksaan.


"Lepas! aku bisa jalan sendiri!" pekik Deasy.


"Diam atau kami akan memborgol tanganmu," balas polisi tersebut, menjawab dengan suaranya yang terdengar begitu dingin.


Brandon dan Deasy adalah seorang polisi, harusnya mereka tidak melakukan pemberontakan seperti ini dan tetap patuh pada hukum yang berlaku. Lagi pula jika mereka berdua tidak merasa bersalah harusnya tidak perlu menunjukkan ketakutan.


Meski semua bukti sudah ada tapi Brandon dan Deasy tetap diberi kesempatan untuk membela diri.


Keluar dari kantor pusat dengan cara seperti itu, seketika Brandon dan Deasy jadi tontonan semua orang. Setiap tatapan yang tertuju ke arah mereka sungguh membuat Brandon merasa geram, dia tidak suka tatapan meremehkan ataupun menilai seperti itu, yang ingin dia lihat dari semua orang adalah tatapan penuh kagum kepadanya.


Bukan seperti ini.


Kurrang ajjar, wanita boddoh itu telah benar-benar mempermainkan hidupku. Ternyata selama ini diam-diam dia mengumpulkan semua bukti. Argh!! awas kamu Sherina! ini semua belum berakhir. Batin Brandon, dia benar-benar marah, sangat marah.


Dan diantara semua rasa benci yang semakin menguasai hatinya, tiba-tiba tatapan Brandon terkunci pada seorang pria paruh baya yang berjalan di ujung sana.


Berjalan dengan angkuhnya dengan para ajudan.


Melihat pemandangan itu kepala Brandan jadi semakin terasa mendidih, semua kebencian ini berawal dari pak Tua tersebut.


Brandon sudah menolak tegas masuknya Sherina ke dalam tim 1, tapi Pak William dengan kuasanya membuat wanita tidak berguna itu masuk ke dalam timnya.


Menambah beban yang harus dia tanggung.


Dan sekarang tim kebanggaannya jadi hancur, bahkan hidupnya pun sudah tak tahu ke mana arah tujuannya lagi.


Pikiran Brandon seketika buntu, kedua matanya turun dan melirik pisttol di pinggang polisi yang mencekal tangannya.


Hidupnya sekarang ini sudah hancur dan Brandon tidak ingin hanya hancur sendirian, jika dia memang harus mendekam di penjara maka setidaknya semua benci dan kemarahan yang ada di dalam hatinya sedikit terbalaskan.


Tidak bisa membunnuh Sherina maka dia bisa membunnuh Pak tua itu.


Mereka terus berjalan, sampai jarak semakin dekat diantara mereka dan pak William.


Di jarak 6 meter, akhirnya Brandon mengambil aksi.


Arght! pekik Brandon, mengerahkan semua tenaga sampai akhirnya dia berhasil lepas.


Secepat yang dia bisa Brandon mengambil pisttol itu dan menembak tepat ke arah pak William.


DORR!!