
"Huh!" Sherina membuang nafasnya dengan kasar, ketika berbicara dengan Brandon beberapa saat lalu ada banyak keringat dingin yang memenuhi kedua telapak tangannya.
Pria itu adalah pria yang selama ini dia takuti, tatapan Brandon yang selalu mengintimidasi dan menatapnya remeh.
Tapi dia sudah putuskan untuk melawan semua ketakutan dan nyatanya dia berhasil melewati semuanya.
Semua kalimat yang selama ini dia pendam akhirnya bisa keluar dan hal itu membuat daddanya terasa lega, ada rasa puas yang Sherina rasakan di dalam hati.
Seperti hilang semua beban.
Ariana, batin Sherina. dia tidak akan mampu seperti ini andai tidak bertemu dengan gadis ceria itu.
Hanya membayangkan Ariana saja, Sherina sudah bisa tersenyum.
Puas menenangkan hatinya sendiri, akhirnya Sherina memutuskan untuk pergi dari sana. Tapi dia tidak menelpon Sean, Sherina menghentikan sebuah taksi untuk meminta diantarkan ke Pemakaman Umum Kota.
Dan melihat sikap membangkang calon istrinya itu Sean tersenyum lebar, sejak tadi dia tidak kemana-mana. Mobil yang melaju pergi hanya kembali berputar untuk masuk lagi ke kantor polisi tersebut.
Sean menunggu di dalam mobilnya. Ingin segera membahas tentang pernikahan mereka setelah Sherina menyelesaikan semua urusan.
"Lihatlah, tadi pagi gadis itu begitu penurut, dan sekarang tiba-tiba sudah jadi pembangkang lagi," gumam Sean, dia mulai mengikuti kemana perginya mobil taksi tersebut.
Taksi yang berhenti di salah satu toko bunga dan Sherina membeli sebuket besar bunga mawar merah berukuran cukup besar.
Dahi Sean berkerut dan terus mengikuti saat taksi itu kembali melaju.
Sampai akhirnya Sean lihat Sherina masuk ke tempat pemakaman umum itu, dia tahu disinilah gadis misterius itu dimakamkan.
Gadis yang Sherina minta agar makamnya di buat indah, gadis bernama Ariana. Seseorang yang semakin lama Sean tau, bahwa gadis itu adalah putri dari Mario. Penjahat yang sangat ingin Sherina tangkap. Bahkan dalam misinya pun melibatkan dia.
Layaknya penguntit Sean terus memperhatikan dari jauh, sementara Sherina yang sudah tidak sabar mendatangi makam sang adik tak peduli pada hal yang lainnya. Tidak curiga pada apapun yang terjadi di sekitar dan terus berjalan menuju makam itu.
Saat tiba di sana, Sherina langsung memeluk batu nisan tersebut. Batu nisan bertuliskan nama Ariana.
"Aku datang Riana," ucap Sherina, dia tersenyum lebar dan mulai meletakkan bunga yang dia bawa di atas pusara.
Mencium nisan itu saking sayangnya.
Tersenyum lagi saat memandang batu nisan tersebut.
"Kamu lahir tanggal 17 Maret? baiklah, tiap tanggal itu aku akan datang dengan membawa kue ulang tahun untuk mu, kecil saja karena nanti aku yang akan memakannya sendirian," ucap Sherina, bicara dengan suaranya yang semakin lama terdengar bergetar.
Besar keinginan di dalam hatinya jika mereka berdua bisa selamat, bukan hanya dia yang hidup di dunia ini.
Makin lama bahkan ada air mata yang jatuh dari kedua mata gadis itu, sampai jatuh mengenai makam Ariana.
"Tidak, aku tidak akan menangis lagi," gumam Sherina.
"Selamanya kamu akan hidup di hati ku, kamu adalah aku, mimpi mu ingin jadi seorang polisi kan? maka aku tidak akan berhenti, aku akan tetap jadi polisi seperti mu, polisi yang sangat hebat," putus Sherina.
Sebuah keputusan yang juga di dengar oleh Sean.
Pria itu tergugu, mulai menyusun puzzle yang begitu berantakan di dalam kepalanya.
Ada apa dengan Sherina dan Ariana?