My Beautiful Police

My Beautiful Police
Bab 46 - Air Mata Dan Kata Maaf



Tangan kanan mama Ajeng rasanya sudah gatal sekali ingin menjewer telinga anak pertamanya tersebut, namun belum sempat merealisasikan keinginannya tiba-tiba papa William dan seorang dokter beserta 2 perawatnya masuk ke dalam ruangan ini juga.


Bahkan masuk dengan langkah kaki yang lebih tergesa.


Melihat kedatangan papa William, jantung Sean pun semakin berdegup cepat, mendadak merasa digerebek pasca mencium anak bungsunya.


Glek! Sean menelan ludah, sedikit mundur untuk memberi ruang para petugas kesehatan itu memeriksa Sherina dan saat mundur seperti itulah akhirnya Sean mendapatkan tatapan tajam dari sang mama.


Sementara papanya pilih memalingkan wajah, tak ingin membela dan ikut campur urusan anak dan istrinya.


Huh! ya Allah. Batin Sean, dia menghela nafasnya dengan kasar. diakui olehnya bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan, yaitu memancing hasrat yang seharusnya belum boleh ada di antara dia dan Sherina.


Berulang kali ibunya mengingatkan bahwa dia tidak boleh merusak kesucian seorang gadis, jika sudah tidak tahan lebih baik Sean menikah, selalu itu yang ibunya katakan.


Maaf Ma, ucap Sean di dalam hati, membalas tatapan sang ibu dengan menunjukkan raut wajahnya yang memelas.


Tapi mama Ajeng tidak peduli dengan wajah Sean yang memelas seperti itu, dia tetap mendelik dan menatap tajam. Tidak mempan saat anaknya itu menjual kesedihan, namanya kesalahan tetap harus dia marahi.


"Alhamdulillah, Sherina sudah sadar dan semuanya baik. Kita hanya tinggal menunggu proses pemulihannya," ucap sang dokter setelah melakukan serangkaian pemeriksaan.


Alhamdulillah, ucap semua orang pula.


Papa William bahkan langsung berkaca-kaca kedua matanya, seperti sudah mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki keluarganya, hubungannya dengan sang anak.


Setelah dokter dan dua perawat itu meninggalkan ruangan tersebut, papa William mendekati Sherina, tak bisa dipungkiri bahwa ada sedikit kecanggungan yang tercipta di sana.


bagaimanapun selama ini selalu ada dinding pembatas di antara ayah dan anak tersebut.


Dan melihat papa William yang seperti ingin bicara serius dengan Sherina, papa Reza pun menarik istrinya dan Sean untuk lebih dulu meninggalkan ruangan ini.


Sean mengangguk kecil, dia menuruti sang ayah dan ikut keluar.


"Sherina," panggil papa William, seraya duduk di dekat ranjang perawatan itu, ada kursi yang tersedia di sana.


Sama seperti papa William, Sherina pun merasakan sesak yang sama di dalam daddanya. Seperti ada beban yang begitu besar dan ingin dia keluarkan dari dalam hati.


"Maafkan Papa Sher, papa mohon," ucap papa William, diantara air mata yang tak bisa dia bendung, papa William menggenggam erat tangan sang anak.


Sampai Sherina bisa merasakan tangan sang ayah yang begitu dingin.


Buru-buru Sherina menggelengkan kepalanya. Dulu mungkin dia akan selalu menyalahkan sang ayah, tapi kini Sherina tahu semua sikap kasar ayahnya tersebut hanya untuk kebaikannya sendiri.


Agar dia jadi wanita yang kuat, berani mengambil langkah untuk melawan ketakutan.


"Jangan begini Pa, aku lah yang salah, aku selalu sembunyi di balik ketakutan ku sendiri, maafkan aku Pa," balas Sherina, dia juga menangis.


Papa William bergerak untuk menghapus air mata anaknya tersebut.


"Tidak, jangan menangis sayang, maafkan Papa, ayo kita datangi makam mama saat kamu sembuh nanti, maafkan papa," ucap papa William lagi.


Air mata dan kata maaf adalah yang mereka bagi hari itu, sampai berhasil mengikis semua jarak yang selama ini tercipta dan berakhir dengan sebuah pelukan yang begitu hangat.


Pelukan yang begitu Sherina rindukan bagaimana rasanya, kini dia bisa menikmatinya lagi.


"Pa," panggil Sherina lirih, rasanya ingin terus dia ucap panggilan itu.