My Beautiful Police

My Beautiful Police
Bab 51 - Yang Sekarang Ingin Aku Dengar



Sean mengambil langkah kakinya untuk mundur, melihat Sherina yang menangis dan memantapkan hati di depan makam itu membuatnya mengurangkan diri untuk menghampiri.


Dia putuskan untuk memberikan waktu Sherina sendiri, sementara Sean diam-diam kembali ke dalam mobilnya.


Sudah duduk di dalam mobil, Sean kembali terbayang dengan apa yang diucapkan oleh sang calon istri. Tentang Sherina yang berniat untuk tetap melanjutkan profesinya sebagai seorang polisi.


Sherina seolah sudah lupa dengan janji yang mereka buat lebih dulu, bahwa setelah misi ini berhasil mereka akan segera menikah dan Sherina keluar dari kepolisian.


"Sherina tidak mungkin melupakan janjinya padaku, dia adalah wanita yang paling kuat dalam mengingat," gumam Sean.


Dia tidak tahu bahwa janji itu bukan diucapkannya pada Sherina langsung, tapi Ariana.


Dan diantara lamunannya itu, seketika pikiran Sean tertuju pada Ariana.


Rion adalah orang yang dia minta untuk mengurus pemakaman gadis itu, sebelum dimakamkan secara layak polisi mengindentifikasi data diri dan menemukan bahwa Ariana adalah putri dari Mario. Tapi saat itu pihak keluarga seperti lepas tangan dan memudahkan semuanya, tak ingin ada yang dibahas lagi dan segera dimakamkan.


Setahu Sean Ariana adalah orang asing yang ditemukan oleh Sherina di sungai itu, bersamaan dengan Sherina yang malam itu hanyut juga.


Dua wanita itu sebelumnya tak ada hubungan apapun.


Dan harusnya tak ada hubungan sedekat ini diantara Sherina dan Ariana.


Tapi apa yang dia yakini ternyata sangat berbeda dengan kenyataan yang baru saja dia lihat.


Pikiran Sean begitu buntu untuk menerka bagaimana awal mulanya.


"Huh!" pria itu membuang nafasnya dengan kasar.


Jika Sherina sampai melupakan janji mereka demi gadis itu maka Sean tidak bisa tinggal diam, dia harus menuntut penjelasan.


Jadi saat dilihat olehnya Sherina yang mulai berjalan keluar dari tempat pemakaman itu, Sean pun segera turun dari dalam mobil dan melangkah dengan tergesa untuk menghadang langkah wanita tersebut.


Deg! jantung Sherina seperti mau copot ketika melihat Sean tiba-tiba berdiri di hadapannya.


Apalagi tatapan pria itu nampak begitu dingin, membuatnya seolah baru saja ketahuan telah melakukan sebuah kesalahan.


"Sean," panggil Sherina, dengan langkah kaki yang mundur satu langkah.


Tapi Sean dengan cepat maju dan meraih tangan Sherina, lalu menarik wanita itu untuk segera masuk ke dalam mobilnya.


"Sean, bagaimana kamu ada di sini?" tanya Sherina di antara jantungnya yang berdegup, tapi Sean tidak menjawab pertanyaan itu.


Sherina jadi merasa semakin cemas, apalagi dilihatnya Sean yang nampak buru-buru mengendarai mobilnya, bahkan tidak lagi menoleh ke arahnya sepanjang perjalanan itu.


hingga mobil yang mereka naikin berdua akhirnya berhenti di basement apartemen mereka..


Deg deg! deg deg! jantung Sherina makin berdegup, dia seperti hendak menghadapi kemarahan pria ini.


"Sean," panggil Sherina lagi, saat Sean membukakan pintu untuknya dan menarik tangannya keluar.


Sean menggenggam tangannya dengan sangat erat saat mereka berjalan menuju lift hendak naik ke unit apartemen.


Tapi tatapan pria itu nampak begitu dingin, sebuah pemandangan yang membuat Sherina bingung.


"Kamu tadi tidak ke kantor ya? kamu menungguku pulang lalu melihat saat aku naik taksi? Karena itulah kamu ada di pemakaman itu? Hem? seperti itu?" tanya Sherina, kini mereka berdua sudah berada di dalam lift dan hanya berdua saja.


Sean masih betah diam, belum ingin bicara jika mereka belum tiba di apartemen.


"Sean ... maafkan aku," lirih Sherina.


"Maaf untuk apa?" balas Sean akhirnya.


"Aku tidak menelponmu saat pulang."


"Bukan itu kesalahanmu."


"Lalu apa?"


"Kamu melupakan janji kita."


"Janji apa?" Sungguh, Sherina sangat bingung.


"Setelah Mario tertangkap dan tim 1 bubar kita berjanji untuk menikah dan kamu keluar dari kepolisian, tapi apa yang aku dengar di makam tadi? kamu malah berjanji pada Gadis itu untuk tetap menjadi seorang polisi."


Deg! Sherina seketika terdiam, sampai ada jeda di antara mereka berdua. Ucapan Sean itu langsung mengingatkannya pada Ariana.


"A-aku bisa menjelaskan semuanya," balas Sherina akhirnya, mesti bicara dengan suaranya yang putus-putus.


"Bagus, itulah yang sekarang ingin aku dengar," jawab Sean, bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.


Saat itu Sean langsung menarik Sherina untuk keluar dan berjalan dengan langkah kaki lebar menuju apartemen gadis itu.