My Beautiful Police

My Beautiful Police
Bab 53 - Memberanikan Diri



Tidak hanya sampai di sana pembicaraan Sean dan Sherina. Saat itu Sherina seperti menemukan waktu yang tepat untuk berbagi semua beban hidupnya selama ini kepada Sean.


Dan percayalah, Sean telah menunggu bertahun-tahun lamanya untuk Sherina bisa membuka diri seperti ini.


Jadi di saat Sherina mengungkapkan semuanya, di saat itulah Sean akhirnya merasa bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Bahwa Sherina memang benar-benar menganggap dia ada di dalam hidup gadis tersebut.


Bersandar lah padaku, itulah yang selalu ingin Sean katakan pada gadis ini sejak lama. Tapi Sherina selalu menolak, selalu menyimpan semuanya sendiri.


Dan sekarang akhirnya semua penantian Sean terbayar lunas, dia justru tersenyum saat Sherina bercerita sambil berlinang air mata.


Dan di ujung cerita itu, Sean kembali memeluk gadisnya erat.


Jadi langsung ingat jika berarti gadis yang dia cium pertama kali adalah jiwa Ariana, meski tubuhnya Sherina.


Takut gadisnya jadi marah, akhirnya Sean memutuskan untuk menyetujui apapun keputusan Sherina.


Disaat gadis itu tetap memutuskan untuk jadi polisi setelah mereka menikah.


Lagi pula poin utamanya bukanlah itu, poin utamanya adalah mereka harus menikah lebih dulu.


"Kamu ingin pernikahan yang seperti apa?" tanya Sean, dia juga bergerak untuk menghapus air mata di wajah calon istrinya.


Sherina tersenyum, menggeleng kecil, sungguh dia justru tak ingin pernikahan mereka digelar mewah, cukup di rumah ibadah dan dihadiri oleh keluarga inti.


Sherina tak suka keramaian, terlebih dia menikah dengan melangkahi kakak perempuannya.


Tapi sedikit ragu juga untuk mengutarakan keinginannya itu, pasalnya di keluarga Aditama ini adalah pernikahan pertama untuk anak papa Reza dan mama Ajeng, Sherina berpikir pasti keduanya ingin menggelar pernikahan yang mewah.


"Em Sean _"


"Katakan," potong Sean, saat dilihatnya Sherina yang bicara dengan ragu-ragu.


"Apa tidak masalah jika pernikahan kita sederhana saja? cukup di rumah ibadah dan dihadiri keluarga inti?" tanya Sherina, tiap kali dia bicara yang seperti bisa memancing kemarahan Sean, Sherina selalu menggenggam tangan Sean lebih erat dari biasanya, seperti sedang berusaha untuk membuat pria itu agar selalu tenang.


"Tentu saja, aku juga berpikir seperti itu, apalagi kita menikah setelah kamu melangkahi kak Celine, kita harus jaga perasaannya agar dia tidak marah kan," balas Sean, malah terkesan meledek.


Senyum yang terlihat begitu cantik di mata Sean.


Pria itu lantas mengambil sesuatu di dalam saku jasnya, sebuah kotak cincin yang membuat Sherina sedikit mendelik.


Tanpa perlu dijelaskan apa isinya Sherina sudah sangat tahu apa yang ada di dalam kotak tersebut.


Dan pertanyaannya adalah sejak kapan Sean menyiapkan cincin iyu?


Jika sejak tadi pagi, wajar saja jika Sean marah saat dia pulang tanpa menelpon lebih dulu.


Sean pasti sudah merencanakan ini semua baik-baik.


"Karena pernikahan kita hanya digelar secara sederhana, jadi aku putuskan 2 hari lagi kita menikah, malam ini aku akan mengajak seluruh keluargaku untuk melamar kamu, besoknya kita langsung ijab kabul," ucap Sean, seraya memasang sebuah cincin berlian di jari manis tangan kiri Sherina.


Cincin itu kini sudah terpasang sempurna, sangat cantik.


Sherina juga begitu terharu saat memandang cincin itu.


Kata Sean dia sangat takut kehilangan Sherina saat melihat gadis itu berontak, berubah sikap, saat dia jadi Ariana, karena itulah Sean mengambil seribu langkah untuk mengikat, sampai ada ciuman pertama itu.


Jadi sekarang saat Sherina kembali jadi seperti dirinya sendiri, Sean senang sekali dan buru-buru ingin memiliki.


Hingga akhirnya ada cincin ini.


Sherina mengangkat wajahnya setelah puas melihat cincin itu, membuat dia dan Sean jadi saling pandang.


Dengan jantung yang berdegup, Sherina memberanikan diri untuk mengikis jarak diantara mereka ...


Lalu lebih dulu menjangkau bibir Sean,


Cup!