My Beautiful Police

My Beautiful Police
Bab 45 - Terasa Begitu Nyata



"Dokter! anakku sadar! anakku sadar dokter!" teriak papa William tak terkendali, memanggil siapapun yang ada di luar sana. Dia melihat dengan jelas tangan sang anak bergerak.


Sean yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi pun langsung bergegas menuju ranjang perawatan Sherina.


Gadis itu sudah tak sadarkan diri selama 30 jam sejak peristiwa penembakan kemarin. Kini di ruang rawat itu hanya tinggal dia dan papa William yang berjaga. Sementara keluarga yang lain sudah pulang lebih dulu.


"Sherina sadar Sean! papa akan keluar!" ucap papa William lagi, bahkan langsung berlari keluar untuk memanggil dokter sebelum Sean sempat menjawab ucapannya tersebut.


Terkejut dan bahagia yang jadi 1 membuat pikiran papa William tak bisa jernih, padahal ada telepon yang dia dia gunakan untuk memanggil sang dokter, tapi kemudian dia tetap berlari keluar untuk memanggilnya secara langsung.


Dan setelah kepergian papa William, Sean makin mendekati ranjang, melihat jelas kedua mata Sherina yang nampak mengerjab.


Deg! jantung Sean berdenyut, degup dan kejut sekaligus.


"Sher," panggil Sean, dia pun bergerak cepat untuk menggenggam erat tangan itu, menautkan jemari mereka meski hanya Sean yang kuat menyentuh, sementara gadis itu tak mampu membalas, tubuhnya masih terasa begitu lemas.


Namun bias cahaya di dalam ruangan itu, sudah mampu dilihatnya.


Silau yang semakin lama bisa dia sesuaikan.


"Sayang," panggil Sean, panggilan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Entah sudah berapa kali Sean selalu merasa bahwa dia akan kehilangan Sherina, rasa takut yang begitu menyiksa dan berulang kali dia rasakan.


Pertama saat mereka kecil dan Sherina diculik, kedua saat Sherina coba bunuh diri pasca sang ibu meninggal, ketiga saat Sherina jatuh ke sungai dan yang terakhir saat Sherina tertembak.


Berulang kali Sean merasa takut kehilangan, dan sekarang membuatnya yakin bahwa dia sangat mencintai wanita itu.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar," ucap Sean pula saat dilihatnya Sherina mulai membuka kedua mata dengan sempurna, mereka bahkan saling tatap.


Sean mencium tangan Sherina berulang, tak habis-habis mengucap syukur di dalam hatinya.


"Sean," panggil gadis itu lirih. Satu panggilan yang membuat Sean tercengang.


Panggilan yang terasa begitu berbeda setelah beberapa Minggu terakhir, setelah Sherina berulang kali memanggilnya dengan sebutan Kak.


Lantas tanpa banyak kata-kata untuk menjawab, Sean sudah lebih dulu mengecup bibir wanita itu dengan begitu lembut.


Sherina mendelik, merasakan tubuhnya yang seperti mendapatkan serangan aliran listrik.


Ya, gadis itu adalah Sherina, jiwa yang selama ini berkelana telah kembali pada raganya.


Ada rasa sesak saat Sherina menyadari bahwa dia yang hidup, mengartikan bahwa Ariana telah berpulang.


Gadis ceria yang sudah dia anggap sebagai adik. Tak ada pertemuan secara langsung, namun mereka terikat begitu kuat.


Ya Allah, batin Sherina. Sungguh, di akhir pertemuan mereka Sherina mengatakan bahwa kakak pasti akan mengalah pada adiknya, tentang kehidupan ini sudah dia serahkan kepada Ariana.


Tapi ternyata Tuhan membuatnya hidup kembali.


Diantara pikirannya yang masih berkecamuk seketika buyar setelah mendapatkan ciuman ini, ciuman Sean yang dia kira hanya angan-angan.


Dia kira selamanya mereka akan jadi sahabat.


"Ya Allah Seaaan!!" pekik mama Ajeng saat melihat adegan tak senonnoh itu. Melihat jelas anak laki-lakinya menyedot bibir seorang gadis yang baru siuman.


Sean yang tersentak kaget mendengar panggilan itu langsung melepas ciumannya, menoleh ke arah pintu dan melihat sang ibu dan sang ayah datang.


Sementara Sherina, hanya mampu menelan ludah kasar dan berulang kali mengedipkan matanya dengan cepat.


Kedua pipinya sudah merah merona merasa malu.


Dengan seperti ini, dia benar-benar telah yakin jika dia telah sadar, telah hidup kembali.


Deg deg! deg deg! debar jantung itu terasa begitu nyata.