My Beautiful Police

My Beautiful Police
Bab 47 - Jellek



Setelah ciuman panas yang tercipta diantara dia dan Sherina, kini Sean tidak punya waktu untuk bersama wanita pujaannya itu.


Hanya sesekali bisa saling pandang dengan jarak cukup jauh, lalu tatapan itu putus saat Sherina merasa kedua pipinya nyaris merah merona.


Karena papa William selalu ada diantara mereka berdua.


Sebelum malam menjelang papa Reza dan mama Ajeng pamit pulang, keluarga Foster pun berangsur datang dan berkumpul semua. Sean masih disana dan ikut berkumpul, sudah digadang-gadang akan jadi calon suaminya Sherina.


Jacob dan Damian sering menggoda, tapi kata papa William alangkah baiknya Celine dulu yang menikah baru Sherina.


Mendengar kalimat itu, Sean hanya mampu tersenyum kikuk. Padahal malam ini juga dia siap menikahi Polisi cantik tersebut.


Malam itu Sherina bahagia sekali, karena setelah sekian lama akhirnya dia bisa berkumpul bersama keluarganya seperti ini.


Tapi di tengah-tengah rasa bahagia tersebut, Sherina selalu teringat tentang Ariana. Diam-diam menatap ke arah jendela di luar sana, Sherina membuang nafasnya dengan berat.


Ariana, panggil Sherina di dalam hati. Mendoakan gadis tersebut agar tenang di sana, gadis kecil yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.


Seseorang yang mengajarkannya tentang arti keberanian.


2 hari di rawat di rumah sakit akhirnya Sherina diizinkan untuk pulang. Seperti mendapatkan sebuah keajaiban, Sherina pun sudah tidak merasakan sakit pada luka bekas operasi penembakan lalu. Sherina benar-benar siap untuk kembali menunjukkan diri.


Dia mengatakan bahwa bisa pulang sendiri, jadi melarang semua keluarganya untuk datang.


Sherina juga sudah meminta Sean untuk kembali bekerja di perusahaan pria itu, tidak perlu menjemputnya untuk pulang karena dia pun masih banyak hal yang harus dikerjakan.


Masih di ruang rawatnya.


Sherina mengikat rambutnya tinggi seperti ekor kuda. Menatap dirinya sendiri di dalam cermin yang ada di dalam kamar itu.


"Astaghfirullahaladzim!" ucap Sherina, sangat terkejut saat tiba-tiba melihat bayangan Sean ada di dalam cermin itu juga.


"Apa kamu lupa? aku tidak suka rambut mu diikat seperti ini," ucap Sean, dia bahkan langsung menarik ikat rambut itu sampai terlepas dan kembali membuat rambut panjang Sherina tergerai.


Sean sudah datang sejak beberapa menit yang lalu, tapi dia memang sengaja tidak membuat suara dan terus memperhatikan Sherina.


Tiap detik dia lihat dengan jelas saat wanita itu mengikat rambutnya tinggi. Sampai akhirnya Sherina telah siap dia pun mendekat dengan hati-hati, hingga berdiri di sini.


Dan belum sempat Sherina menangani jantungnya yang berdegup gara-gara Sean datang mendadak, kini hatinya pun jadi berdebar saat pria itu merapikan rambutnya kembali.


Dilihat oleh Sherina, Sean yang telah menggunakan setelan jas lengkap, jelas pria itu akan pergi bekerja.


Sean terlihat sangat tampan, seperti biasanya.


Tapi kenapa pria ini malah datang kesini?


Sherina segera berbalik dan membuat mereka jadi berhadapan langsung.


"Kan aku sudah bilang tidak perlu datang," ucap Sherina, suaranya lembut sekali, meski ucapannya itu adalah larangan.


"Kenapa? agar kamu bisa mengikat rambut mu?"


"Memangnya kenapa sih kalau diikat?"


"Jellek," balas Sean singkat.


Sherina mengerucutkan bibirnya tanpa sadar, membuat atensi Sean jadi hanya tertuju pada bibir itu.