
Jam setengah 6 sore Ariana baru tiba di basement apartemennya. Saat itu hujan jadi semakin deras saja, bajunya tadi basah kuyup, sekarang jadi sedikit kering di badan.
Turun dari dalam mobil, Ariana langsung melihat kak Sean berlari dari ujung sana, wajahnya nampak cemas dan terus berlari sampai akhirnya berhasil memeluk dia.
Grep!
"Ya Allah Sher!! kamu dari mana? telepon mu juga tidak bisa dihubungi?!" cemas Sean, saking khawatirnya dia sampai bicara dengan suara yang tinggi, juga memeluk semakin erat.
Sumpah, Sean benar-benar takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada Sherina. Pasalnya mereka baru saja menangkap dua penjahat sekaligus. Bukannya tenang, Sean justru merasa Sherina akan terancam.
Dia kembali ke apartemen sekitar jam 4 sore tadi dan tidak melihat Sherina dimana-mana, coba menghubungi juga tidak bisa karena nomor ponsel Sherina terdeteksi tidak aktif.
Ini tadi Sean berniat mendatangi kantor polisi, dan alangkah senangnya dia ketika melihat akhirnya Sherina datang.
"Dan kenapa badan mu basah seperti ini? apa yang kamu lakukan? hujan-hujanan?" tanya Sean lagi, bertanya dengan nada yang lebih menuntut.
Dia melepaskan pelukannya dan segera menarik Sherina untuk pergi dari sana, Sherina harus segera mengganti bajunya yang basah tersebut.
Sejak tadi Sean terus bicara dengan banyak pertanyaan, sementara Ariana tak pernah punya kesempatan untuk menjawab.
"Cepat masuk kamar mu dan mandi air hangat!" titah Sean, dia benar-benar marah.
"Iya iya," balas Ariana, seketika menciut.
Kenapa tatapan pria itu semakin lama terlihat semakin mengerikan saja.
Saat Sherina masuk ke dalam kamarnya, Sean pun segera kembali ke apartemennya sendiri, Menganti baju yang ikut basah dan kemudian datang lagi ke apartemen sang calon istri.
Sean langsung menuju dapur, dia hangatkan kembali makanan yang tadi dibawakan oleh Mama Ajeng untuk mereka, ada sup iga kesukaan Sherina, ada sambal hijau dan juga rendang pedas.
Jadi saat Ariana keluar dari dalam kamarnya dengan penampilan yang lebih rapi, dia langsung bisa menghirup aroma makanan yang terasa begitu nikmat.
Dia berjalan cepat menuju dapur dan melihat kak Sean mulai menyajikan makanan di atas meja.
"Waahh, enak sekaliiiii," ucap Ariana dengan tubuh yang melompat-lompat kecil.
Sean tersenyum lebar, sungguh tak menyangka jika reaksi Sherina akan sebahagia itu, Sean sampai lupa jika dia sedang marah.
Lagipula jika sedang dihadapkan dengan makanan seperti ini, tidak ada yang boleh marah-marah, saru kalau kata mama Ajeng.
"Duduk lah, kita makan bersama," ucap Sean, dia juga menarik kursi untuk Sherina duduk.
Dan Ariana yang sudah terlanjur bahagia melihat makanan itu sungguh tidak merasa terharu dengan sikap manis kak Sean, di mata dan pikirannya hanya ada sup iga.
Makanan yang juga sangat disukai oleh Ariana.
"Mama Ajeng yang memberi ini untuk ku kan? jadi kak Sean tidak boleh ikut makan juga!" ucap Ariana posesif.
Sean langsung menatapnya dengan tajam.
"Kalau bukan karena kaki dan tanganku, sup ini tidak akan sampai disini, paham?" balas Sean, jadi intinya dia juga punya hak atas sup itu.
Ariana mendengus, sungguh, rasanya tidak rela mau berbagi.
Tapi ucapan pria itu tidak bisa dia bantah, dengan sangat tidak rela akhirnya dia mengiklaskan sup iganya dimakan juga oleh kak Sean.
"Hemm ya Allah enaknya," puji Ariana, rasa hangat yang bukan hanya tiba di perutnya, tapi juga sampai ke hati.
Sekali saja, Ariana benar-benar ingin menikmati kebahagiaan ini.
Terima kasih Ya Allah. Batin Ariana, dia makan sambil sedikit menunduk, mengkondisikan kedua matanya agar tidak menangis.