My Beautiful Police

My Beautiful Police
Bab 56 - Bukan Gadis Kecil



"Saya terima nikah dan kawinnya Sherina Foster binti William Foster dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


SAH!


Alhamdulillah! ucap semua orang bersamaan, mengucap syukur setelah kalimat ijab kabul itu menggema di ruang tengah keluarga Foster.


Ruangan yang telah dihias sedemikian rupa, hanya butuh waktu satu malam untuk menciptakan tempat yang indah itu, tetap dihiasi bunga mawar merah seperti yang diinginkan oleh Sherina.


Papa William tak bisa membendung air matanya, bahagia yang tak bisa dia utarakan dengan kata-kata. Karena akhirnya dia tiba di titik ini, mengantarkan Sherina menikah.


Dan air mata haru itu tidak hanya dimiliki papa William saja, tapi juga untuk yang lain.


Mama Ajeng berulang kali mengigit bibir bawah agar tangisnya tidak pecah, begitu perjuangan sekali membesarkan Sean selama ini. Dan akhirnya tiba di hari yang paling membahagiakan.


Sherina juga meneteskan air mata, makin haru saat dia diminta untuk mencium punggung tangan kanan sang suami, lalu Sean mencium keningnya dengan penuh cinta.


Melihat pemandangan itu, tangis yang tadi menguasai kini berangsur berubah jadi senyum kebahagiaan.


Semuanya saling peluk setelah ijab kabul tersebut.


"Baiklah, mama akan pamit pulang, nikmati hari ini sayang, emuah!" cium mama Ajeng pada menantunya.


Setelah makan siang bersama di rumah keluarga Foster, kini seluruh keluarga Aditama pamit untuk pulang.


Acara pernikahan ini memang sangat sederhana, namun begitu berkesan bagi semua orang.


Kak Jacob dan kak Damian juga langsung pamit bersama keluarganya, rumah keduanya tak jauh dari rumah utama ini.


Dan setelahnya papa William pun segera meminta sepasang pengantin baru itu untuk beristirahat.


Canggung.


Hanya satu kata itulah yang kini memenuhi ruang kamar Sherina.


"Em, selamat datang," ucap Sherina lirih, lalu mengigit bibir bawahnya sendiri, kikuk.


Sean mengulum senyumnya.


Ya Allah, batin pria itu. Begitu gemas dengan sikap istrinya, tapi tetap menahan diri agar tidak terlalu buru-buru.


"Berikan koper mu, aku akan merapikan baju mu di lemari," ucap Sherina, dia juga langsung merebut koper yang dibawa Sean masuk ke dalam kamar ini.


Di sini tidak ada baju Sean, jadi pria itu harus membawanya seperti ini dari rumah.


"Nanti saja urus baju itu, ku rasa sekarang kita tidak butuh baju," jawab Sean, sebuah kalimat yang berhasil membuat langkah kaki Sherina jadi berhenti seketika, sementara jantung wanita cantik itu jadi berdegup cepat.


Dan makin mau copot rasanya, saat tiba-tiba Dia merasakan Sean memeluknya dari arah belakang.


Deg!


Nyes! Darrah Sherina terasa mengalir lebih cepat daripada biasanya. Sungguh, saat ini dia begitu kesulitan untuk mengendalikan diri, rasanya sangat gugup.


Sherina bukanlah gadis kecil yang tidak tahu apa-apa, dia sudah sangat memahami apa yang akan mereka lakukan setelah ini.


Jangan takut Sher, jangan takut, jangan gugup. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah mengabdi pada suamimu dan buatlah dia bahagia. Batin Sherina.


Setelah menelan ludahnya sendiri dengan susah payah, akhirnya Sherina memberanikan diri untuk memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah sang suami.


Deg deg! deg deg! jantung Sherina berdetak semakin cepat saja.


Dia mengangkat pandangannya dan berhasil bersitatap dengan dua mata itu.


Mata Sean yang nampak sayu, diselimuti oleh kabut gairaah.


Deg!