
Tidak lama setelah Sean pergi, Ariana pun pergi juga. Lucas dan Jeremy sudah menunggu dia dia di kantor polisi.
Mario awalnya tidak tahu jika Faisal juga di tangkap semalam, pria itu berulang kali berteriak ingin ditemukan oleh Faisal Basri.
Tapi bukannya dituruti, sikap berontak Mario itu justru membuat dia dilempar ke dalam penjara lebih cepat.
"Apa kalian sudah lihat keadaan Brandon dan Deasy?" tanya Jeremy, mereka baru saja keluar dari ruang interogasi, menyaksikan semua orang yang tertangkap itu berkilah, tapi mereka semua tidak sadar jika bukti kuat telah di dapatkan, dan kesaksian bohong itu justru akan menjerat mereka semakin parah, hukuman penjara yang lebih lama bahkan hukuman mati pun mengancam.
Pasalnya pengedar Narkoba di negara ini benar-benar mendapatkan perhatian khusus di mata hukum.
Dan mendengar pertanyaan Jeremy itu, Ariana tersenyum kecil. untuk apa pula melihat keadaan Brandon dan Deasy, sementara saat keadaannya begitu buruk pasca percobaan pembunuhan itu, tak ada satu pun tim 1 yang datang melihat.
Ariana tidak tahu jika saat itu Jeremy dan Lucas datang ke rumah sakit, tapi ketika dua orang itu tiba disana, Sherina sudah tidak ada.
Ariana sudah lebih dulu berlari pulang meski dia diharuskan untuk rawat inap.
"Ku rasa, hubunganku tidak sedekat itu dengan mereka, sampai harus jenguk menjenguk," balas Ariana acuh.
Ariana kemudian pergi lebih dulu dari sana, dan Lucas segera mengejar. Sementara Jeremy hanya mampu membuang nafasnya kasar.
"Sher! kamu mau kemana?" tanya Lucas, dia berhasil menyamai langkah kaki Sherina yang cepat dan lebar.
"Menemui pak Johan," balas Ariana singkat.
"Untuk apa lagi?"
"Masih ada satu hal yang belum aku selesaikan, kamu mau ikut?" tawar Ariana, dia menghentikan langkah dan menatap Lucas dengan tatapan yang entah.
"Baiklah, aku akan ikut," jawab Lucas.
Senyum miring Ariana makin nampak jelas.
Menjelang siang itu, Ariana mendatanginya pak Johan di dalam ruangannya. Lucas yang tak tahu apa-apa hanya terus memperhatikan.
Awalnya pak Johan berulang kali memuji ketangkasan Sherina, lalu kemudian senyum dan kebahagiaan di wajah pak Johan itu hilang ketika Sherina berucap bahwa dia ingin Brandon dan Deasy di pecat saat ini juga.
"Apa maksud mu?" tanya pak Johan, mulai memasang wajahnya yang serius.
Dan di sana Sherina membongkar semua kebrobokan tim 1 selama menjalani tugas. Lucas sangat tercengang ketika melihat Sherina mempunyai semua bukti itu.
Selama ini Sherina selalu merekam, menyimpan semua bukti diam-diam, dan dia sembunyikan di dalam sebuah kotak berwarna hitam. Sherina letakan kotak itu di bawah tempat tidurnya.
Ariana bahkan menangis saat kembali membuka kotak itu, seperti membuka luka yang masih menganga.
Brandon dan Deasy selalu menggunakan anggaran dana Tim untuk kepentingan mereka sendiri, Tugas hanya diberatkan pada Sherina, Lucas dan Jeremy sementara Brandon tinggal menikmati hasil, kekerasan fisik dan mental yang Sherina dapatkan beberapa tahun terakhir. Brandon juga yang memanipulasi laporan kerja, beberapa kasus yang belum tuntas dibuat berhasil begitu saja.
"Aku ingin Tim 1 di bubarkan, sementara Brandon dan Deasy dipecat secara tidak terhormat," putus Ariana, setelah dia melaporkan semua ketidakadilan yang selama ini terjadi.
Lucas sangat tercengang.
Sementara Pak Johan sudah tergugu, dia bahkan sampai kehabisan kata-kata.
Jujur saja, selama ini Brandon adalah yang paling dia banggakan.