My Beautiful Police

My Beautiful Police
Bab 40 - Kaluarga Foster



Hujan masih terus mengguyur kota Jakarta malam itu, di kediaman keluarga Foster, papa William tidak bisa memejamkan matanya.


Hingga waktu menunjukkan angka 2 dini hari pria paruh baya itu tetap terjaga.


Dia duduk di ruang tengah dan terus memandang foto lengkap keluarganya, foto berukuran cukup besar menempel di dinding sana.


Dia, sang istri dan keempat anaknya, Dua anak laki-lakinya dan dua anak perempuannya. Sherina adalah yang paling kecil.


Drt drt drt suara ponsel bergetar di atas meja, namun sepersekian detik dia tak mengindahkan suara getaran itu, tatapannya tetap terlihat kosong ke arah foto keluarga.


Sampai akhirnya getaran itu mati dan hidup lagi, sampai akhirnya mencuri atensi papa William.


Setelah membuang nafasnya dengan kasar, dia pun akhirnya mengambil ponsel itu dan melihat ada panggilan masuk dari anak pertamanya, Jacob Foster-sudah menikah dan tinggal di rumahnya sendiri bersama keluarganya.


"Halo Jac, Ada apa menelpon Papa di jam seperti ini?" jawab papa William, suaranya terdengar begitu lemah di telinga sang anak.


"Kata Celine papa belum tidur, papa memikirkan Sherina?" tanya Jacob, Celine adalah anak ketiga papa William, tinggal pula di rumah ini dan belum menikah. Sejak tadi Celine pun memperhatikan sang ayah dari jauh. Cemas namun bingung harus bagaimana, karena itulah dia menghubungi kakak pertama.


Anak kedua papa William adalah Damian, dia sebenarnya juga tinggal di rumah ini bersama istri dan 1 anaknya. Tapi sekarang Damian sedang berkunjung ke rumah mertuanya, karena itulah dia tidak berada di rumah.


Dan ditanya tentang Sherina, papa William seketika terdiam. Entah kenapa jadi tidak bisa menjawab, padahal tebakan Jacob adalah benar, saat ini dia sedang memikirkan anak bungsunya tersebut.


"Aku sudah mendengar kabar bahwa Sherina berhasil menangkap Mario dan Faisal, dia sudah menunjukkan dirinya bahwa dia sanggup Pa, bukankah ini yang papa mau?" tanya Jacob pula, sebagai anak pertama sesungguhnya dia merasa begitu prihatin dengan keadaan keluarganya yang seperti ini.


Tapi dia pun tak bisa terang-terangan menyalahkan sang ayah, jadi yang bisa dia lakukan hanya sesekali menemui adik perempuannya tersebut.


Papa William tetap diam, satu tangannya bergerak untuk mengusap wajahnya frustasi.


"Jac," panggil papa William, namun seketika itu juga lidahnya jadi begitu kaku untuk kembali melanjutkan ucapan.


Sampai akhirnya ada jeda yang tercipta di antara pembicaraan mereka berdua.


Dan karena papa William tak kunjung bicara, akhirnya Jacob kembali mengambil alih suara ...


"Kenapa Pa? katakan padaku," ucap Jacob lagi.


Dan saat itu papa William tidak bisa menahan tangisnya sendiri. Sungguh, keberhasilan Sherina kali ini tidak membuat dia merasa bahagia, tapi justru membuatnya semakin merasa bersalah, karena dengan keberhasilan sang anak itu seolah semakin menunjukkan betapa dia selama ini telah bersikap begitu kejam pada anaknya tersebut.


Raut wajah Sherina yang dingin terekam jelas di benak papa William.


Dia jadi takut Sherina akan pergi setelah ini, pergi meninggalkan dia begitu saja.


"Maafkan Papa Jac, maafkan Papa, papa sungguh ingin meminta maaf kepada adikmu," ucap papa William, suaranya terdengar jelas sesenggukannya.


Celine yang diam-diam menguping pembicaraan itu dan mampu mendengar suara sang ayah sampai ikut menangis juga, merasakan sesak yang sama.


Rasa mengganjal di dalam dadda yang begitu jelas.


"Alhamdulillah, ini lah yang ingin aku dengar sejak dulu Pa," jawab Jacob, begitu haru.


Semoga saja mereka semua belum terlambat untuk mendapatkan maaf dari anak bungsu tersebut.