
Saat Ariana pertama kali membuka mata dia sudah berada di dekat makamnya sendiri. Terkejut, dan segera menatap sekitar.
'Apa yang sudah terjadi?' gumam Ariana dengan raut wajahnya yang nampak cemas. Namun seketika itu juga dia ingat tentang Brandon yang mencelakainya dengan sebuah tembakan.
Ariana menatap tubuhnya, tak melihat ada bekas tembakan itu, hanya sadar jika dia nampak pucat. Beralih menatap batu nisan, coba menyentuh namun tidak bisa.
Ariana terkejut, lalu sadar jika ini hanyalah jiwanya dan entah dimana tubuh kak Sherina berada.
'Kak Sherina," gumam Ariana.
Dan Blush!! seketika itu juga seseorang yang dia panggil namanya berada di hadapan.
Deg! Ariana tersentak kaget, bahkan langsung mundur dua langkah.
'Ariana, kamu disini, sejak tadi aku mencari mu,' ucap Sherina dengan cemas.
Dia melangkah mendekat dan semakin membuat Ariana takut, namun setelahnya ketakutan itu hilang saat merasakan kak Sherina memeluk tubuhnya dengan begitu erat.
Sangat erat.
Sampai mengalirkan sebuah perasaan yang begitu hangat.
'Kenapa kamu bisa keluar dari tubuh ku? harusnya kamu tetap disana,' ucap Sherina, dia melerai pelukan mereka dan merapikan rambut Ariana yang nampak sedikit berantakan.
Sherina memperlakukan Ariana seperti adik kecilnya.
'Ini kak Sherina?' tanya Ariana dengan ragu, terasa begitu lucu ketika tubuh yang selama ini dia gunakan, kini nampak di hadapannya.
'Tentu saja ini aku, tapi kita hanya jiwa,' terang Sherina apa adanya, dia tersenyum dengan begitu hangat.
Lalu menarik Ariana untuk duduk di samping makam tersebut. Mengatakan bahwa selama ini dia selalu ada di dunia ini, selalu datang tiap kali ada seseorang yang memanggil namanya.
Sherina juga melihat semua perjuangan Ariana dan dia sangat berterima kasih akan hal itu, apa yang tak pernah bisa dia lakukan, dapat Ariana selesaikan.
Juga bersyukur karena akhirnya bisa melihat sang ayah menangis saat menyebut namanya.
'Jadi selama ini kak Sherina gentayangan?' tanya Ariana memperjelas dan saat itu Sherina mengangguk dengan bibir yang setia tersenyum.
'Hiii, aku paling takut degan hantu!' Ariana bergidik.
'Kak, kembali lah ke tubuh kak Sherina, aku tidak mau memasukinya lagi,' ucap Ariana, setelah tawa diantara mereka reda.
'Kenapa seperti itu, aku bersedia menyerahkannya pada mu Ariana, setelah ini aku akan benar-benar pergi.'
'Tidak! semua urusan ku sudah selesai, sebenarnya bukan kak Sherina yang berutang budi padaku, tapi aku lah yang berhutang budi pada kak Sherina. Kakak memberikan aku kesempatan untuk membalas dendam, kesempatan untuk merasakan ketulusan kak Sean, kesempatan makan sup iga buatan mama Ajeng, kesempatan untuk jadi seorang polisi, sesuatu hal yang aku pikir selama ini hanya akan jadi angan-angan. Kak Sherina memberikan aku semua kesempatan itu,' jelas Ariana panjang lebar, sorot matanya mengisyaratkan sebuah keseriusan.
Sungguh, kali ini tak ada lagi beban yang dia rasakan di dalam hati. Ariana bahkan bisa merasakan ketulusan papa William saat pertama kali mereka bertemu.
Karena itulah dia berlari menyelamatkan papa William saat melihat Brandon hendak menyerang.
Ariana merasa dia telah mendapatkan lebih dari apa yang dia minta pada Tuhan, Ariana tak ingin lebih serakah daripada ini, ingin kak Sherina juga merasakan kehidupan yang bahagia.
Ingin kak Sherina melihat secara langsung cintanya kak Sean, kasih sayangnya papa William.
'Tapi apa boleh aku meminta sesuatu kak?' tanya Ariana pula.
'Katakan.'
'Setelah ini bisakah kak Sherina menganggap ku sebagai adik?'
'Kamu adalah adikku,' balas Sherina dengan cepat.
'Tiap tahun kak Sherina akan mengunjungi makam ku?'
'Kamu suka bunga apa?'
'Mawar merah.'
'Kenapa?'
'Karena di depan rumah hanya ada mawar merah itu, hanya bunga itu yang seperti warna di hidupku.'
Dua jiwa itu terus saling bicara, sampai entah berapa lama. Diantara keduanya memang telah membuat banyak kesepakatan, tapi entah takdir Tuhan bagaimana.
Siapakah yang akan benar-benar hidup di tubuh Sherina?