My Beautiful Police

My Beautiful Police
Bab 41 - Sudah Seperti Menyerahkan Diri



Pagi datang.


Setelah hujan lebat semalam pagi ini cuaca nampak begitu cerah, seperti hendak memberi harapan baru untuk semua orang.


Dan setelah sehari semalam mendapatkan perawatan di rumah sakit akhirnya Brandon dan Deasy kini keadaannya sudah mulai membaik. Mereka mulai bisa beraktivitas seperti sebelumnya, hanya tinggal menunggu lebam itu menghilang dan luka-lukanya mengeringkan, tapi pagi ini mereka berdua sudah diizinkan untuk meninggalkan rumah sakit.


Jeremy adalah satu-satunya tim 1 yang berkunjung untuk menjenguk mereka berdua. Dari Jeremy itu pula lah Brandon dan Deasy sama-sama tahu bahwa Sherina telah berhasil menangkap Mario dan Faisal sekaligus.


Dua orang itu begitu terkejut dengan keberhasilan Sherina, dan mereka sama-sama tak menyukai tentang hal ini. Apalagi keduanya ditemukan tak sadarkan diri dalam tempat kejadian, seolah keduanya begitu lemah di hadapan semua orang.


Brandon dan Deasy merasa begitu dipermalukan.


"Hari ini kalian berdua dipanggil oleh Pak Johan, beliau minta kalian datang sebelum jam 09.00," ucap Jeremy. Kini mereka bertiga mulai berjalan beriringan untuk keluar dari rumah sakit tersebut.


Sama-sama mendengar ucapan Jeremy, Brandon dan Deasy memberikan ekspresi yang sama, bertanya-tanya ada apa? dahi mereka bahkan sedikit berkerut.


"Apa apa? apa pak Johan mengatakan sesuatu padamu?" Brandon yang bertanya.


Jeremy hanya mampu mengedikkan bahu untuk pertanyaan itu. Meski sudah mendengar sedikit cerita dari Lucas tentang pemecatan Brandon dan Deasy, tapi Jeremy tak bisa banyak bicara. Terlebih dia masih belum mengetahui bagaimana cerita yang sebenarnya.


Tim 1 baru akan dikumpulkan semua hari Senin besok, sementara saat ini Pak Johan hanya memanggil Brandon dan Deasy saja.


Sebelum jam 9 pagi tepat, hari itu Brandon dan Deasy sudah menghadap kepada Pak Johan. Sementara Jeremy kembali ke kantor pos mereka.


Saat pertama kali masuk ke dalam ruangan itu Brandon dan Deasy langsung disambut dengan raut wajah dingin milik Pak Johan.


Raut wajah yang mengisyaratkan bahwa pertemuan mereka kali ini akan jadi kabar yang tak baik.


"Selamat pagi Pak," ucap Brandon dan Deasy bersamaan, mereka juga menundukkan kepala memberi hormat.


Pak Johan tidak mempersilahkan keduanya untuk duduk, jadi selama pertemuan mereka Brandon dan Deasy tetap berdiri di depan meja kerjanya.


"Aku benar-benar merasa kecewa pada kalian berdua, terutama padamu Brandon," ucap pak Johan, mengawali pembicaraan mereka.


Sampai akhirnya dilihat jelas oleh keduanya Pak Johan membuka beberapa berkas di atas meja.


Kedua mata Brandon dan Deasy seketika mendelik, meski dalam posisi berdiri seperti itu tapi mereka masih bisa membaca dengan jelas. Penyalahgunaan wewenang, korupsi anggaran tim, manipulasi laporan kerja dan percobaan pembunuhan Sherina.


Deg!


Pak Johan juga memutar sebuah rekaman berbentuk pena. Pena yang diketahui oleh Brandon dan Deasy adalah milik Sherina.


Klik!


Dasar gadis cupu, kamu itu hanya beban di tim 1!


Kalau bukan karena ayahmu, kamu tidak akan bisa jadi polisi!


Menjjijikan, terus berlindung dibalik nama ayahnya.


Tangkap boddoh!! kamu membiarkan penjahat itu kabur!!


Boddoh! benar-benar boddoh!


Mati saja kau!!


Hahahaha.


Mendengar rekaman itu seketika tubuh Brandon dan Deasy gemetar. Apalagi saat itu tiba-tiba beberapa orang polisi masuk ke dalam ruangan pak Johan.


Mereka datang kesini, sudah seperti menyerahkan diri.


Astaga, tidak ... tidak. Batin Brandon, pikirannya seketika kacau.