
DORR! Suara tembakan itu menggema di seluruh gedung kantor pusat.
Dalam sekejap suasana berubah jadi begitu kacau.
Bugh! seorang polisi pun langsung memukul Brandon hingga jatuh pasca penembakan tersebut. Brandon dan Deasy seketika itu juga di borgol di balik punggung.
Diantara ketidakberdayaannya itu, Brandon tersenyum miring. Akhirnya dia bisa membunnuh Sherina.
Ya, di ujung sana Ariana tak punya waktu untuk menghindar, jadi satu-satunya kesempatan untuk bisa menyelamatkan papa William adalah dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai.
Dia datang untuk melihat secara langsung penangkapan Brandon, tapi siapa sangka semuanya jadi seperti ini.
Sesaat Ariana masih bisa membalas tatapan papa William yang nampak berkaca-kaca, namun sepersekian detik kemudian, kesadaran gadis itu hilang, dia jatuh tepat di tubuh sang ayah.
"Tidak, Sherina!!" pekik papa William, tanpa banyak kata dia langsung menggendong Sherina untuk dibawa lari menuju rumah sakit.
Ketika dia berhasil menggendong sang anak, ada air mata yang jatuh tanpa dia sadari.
Sesak di dalam dada yang saat ini papa William rasakan, tak akan ada yang bisa menebaknya. Sesak yang terasa m sangat menyiksa.
Kumpulan rasa bersalah yang menjadi satu.
Papa William sudah tidak mendengar apapun lagi, sudah tidak peduli ketika beberapa anak buahnya menawarkan bantuan, yang ada di dalam benaknya sekarang adalah bagaimana caranya menyelamatkan sang anak. Jadi tanpa butuh bantuan siapapun Papa William menggendong sendiri tubuh anaknya itu, berlari menuju mobilnya dan dikemudikan sendiri dengan kecepatan yang cukup tinggi menuju rumah sakit terdekat.
Papa William bahkan tidak sadar, ketika itu banyak mobil polisi yang mengiringi jalannya menuju rumah sakit.
"Selamatkan anakku! aku mohon," ucap papa William, sampai mengatupkan kedua tangannya pada sang dokter yang menangani.
"Tenang Pak," ucap sang ajudan. Dia sama cemasnya, namun dalam keadaan seperti ini hanyalah ketenangan yang dibutuhkan, hanya doa yang bisa dipanjatkan.
Menjelang jam 11 siang hari itu, Ariana masuk ke ruang operasi.
Mulut papa William tertutup rapat, tak ada sedikitpun suara yang keluar dari pria paruh baya tersebut, tapi sejak tadi air matanya terus mengalir keluar.
Ingat jelas saat Sherina berlari dengan cepat dan memeluknya, menjadi perisai hingga dia selamat dalam penembakan tersebut.
Kenapa Nak? kenapa kamu melindungi Papa? selama ini papa sudah memperlakukan mu dengan sangat buruk. batin papa William, tenggorokannya yang tercekat membuatnya tak mampu berucap.
Jadi hanya bisa bicara sendiri di dalam hatinya.
Ya Allah, selamatkan anakku, aku mohon, aku mohon ya Allah, aku mohon.
Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, beri aku waktu untuk bisa memeluk anakku secara nyata.
Beri aku kesempatan untuk meminta maaf ya Allah.
Sherina maafkan Papa.
Ya Allah, hamba mohon.
Air mata itu terus jatuh, sampai entah sudah berapa banyak. Tatapan papa William pun nampak kosong, hanya dipenuhi keputusasaan.
Detik jam pun terus bergulir, masa-masa kritis Ariana di dalam ruang operasi itu masih terus berlangsung.
Sampai akhirnya satu per satu keluarga dan orang-orang yang menyayanginya datang ke rumah sakit setelah mendengar kabar penembakan tersebut.
Kakak perempuannya Celine adalah yang pertama kali datang, disusul oleh kak Jacob yang datang sendirian, lalu kak Damian datang bersama keluarganya.
Disusul oleh Mama Ajeng dan suaminya papa Reza, mereka diantar oleh anak kedua-Gerald dan anak ketiga-Sergio.
Dan yang datang terakhir adalah Sean, datang dengan raut wajahnya yang nampak entah. Cemas, khawatir, tidak percaya dan takut.