
Sean membawa Sherina hingga mereka berdua duduk berdampingan di sofa ruang tengah.
Pria itu masih terus menggenggam erat tangan sang calon istri, tak peduli meski sorot matanya mengisyaratkan sebuah amarah.
"Gadis itu namanya Ariana, dan aku sangat tau bahwa sebelum semua peristiwa ini terjadi kamu sama sekali tidak mengenal gadis itu. Yang kamu katakan hanyalah gadis itu telah menyelamatkan kamu ketika hanyut di sungai, cukup, tidak lebih dari itu, iya kan?" tanya Sean, dengan nada yang menuntut, Sherina seolah tidak diberi kesempatan untuk menjawab tidak.
Harus jawaban Iya sesuai dengan yang dia utarakan.
"Iya," jawab Sherina lirih.
"Bukan seperti ini caranya membalas rasa terima kasih, bukan berarti kamu harus mengingkari janji yang sudah kita buat," ucap Sean lagi, saat mengatakan kalimat itu ada sedikit rasa kecewa di dalam hatinya.
Seolah Sherina memudahkan tentang dia, seolah dia tidak begitu penting bagi gadis tersebut.
Karena nyatanya, Sherina lebih memilih untuk mementingkan orang asing dibandingkan dia.
Sungguh, Sean merasa sangat bersedih tentang hal ini. Padahal dia sudah sangat banyak memberikan rasa cinta untuk Sherina.
Dan melihat raut wajah Sean yang nampak begitu kecewa, membuat Sherina jadi merasa sangat bersalah.
Padahal sungguh, sedikitpun tak ada niat di hatinya untuk membuat Sean jadi bersedih seperti ini, tapi perasaannya pada Ariana pun begitu tulus.
Hingga satu-satunya yang terpikir di dalam benaknya hanyalah jadi seseorang yang bisa dibanggakan oleh Ariana.
"Bu-bukan seperti Sean, aku bisa menjelaskan semuanya. Beri waktu aku untuk bicara," ucap Sherina, dia menarik tangan Sean hingga berada di atas pangkuannya, kini dia yang menggenggam arah tangan itu seolah tidak ingin pisah.
"Mungkin bagimu ini tidak masuk akal, tapi apa yang terjadi diantara aku dan Ariana adalah sebuah keajaiban," terang Sherina akhirnya, tanpa ragu sedikitpun dia jelaskan semuanya kepada Sean.
Tentang Ariana yang beberapa waktu terakhir masuk ke dalam tubuhnya, siapa yang bersama Sean akhir-akhir ini bukanlah Sherina, melainkan Ariana.
Gadis yang mengajaknya melompat gedung, gadis yang menghabiskan sebagian uanganya di dalam black card, gadis yang memintanya untuk berhenti bekerja ...
Mungkin Sean tidak akan percaya, tapi setidaknya dia sudah jujur.
Jika setelah ini Sean menganggapnya gila tak apa.
Tapi memang inilah kebenarannya.
Dan Melihat kesungguhan yang tergambar jelas disorot mata itu membuat Sean tak bisa berkata apa-apa untuk menanggapi. Dia hanya sangat terkejut dengan semua yang terjadi.
Semua kenangan beberapa saat lalu pun kini kembali berputar di dalam ingatannya.
Di saat berulang kali dia meragukan apakah wanita itu adalah Sherina.
Sorot matanya, cara bicaranya, gelagatnya, semua memang bukan Sherina-nya.
Itu adalah orang lain, beberapa hari bahkan Sean terus memikirkan tentang hal itu.
Dan ternyata inilah jawabannya.
"Kamu tidak percaya padaku? aku seperti orang gila?" tanya Sherina lirih. Sebenarnya ada satu rahasia lagi yang mungkin bisa membuat Sean mempercayai semua ceritanya.
Di saat jiwanya berkeliaran, Sherina selalu datang tiap ada orang yang memanggil namanya dengan tulus.
Dan tiap malam, Sherina selalu berkahir di kamar Sean.
"Tidak, aku sangat mempercayai kamu," ucap Sean, dia lantas memeluk Sherina dan dipeluknya erat. Diciumnya puncak kepala gadis itu dengan begitu tulus.
Sherina juga membalas pelukan itu, sama-sama saling memeluk erat.