My Beautiful Police

My Beautiful Police
Bab 35 - Kurang Kecuppan



Sudah membersihkan tubuhnya, Sean langsung mendatangi apartemen Sherina. Masuk dengan begitu santainya karena dia telah mengingat password apartemen tersebut.


Password yang juga dia pakai untuk keamanan unit apartemen yang dia sewa.


"Sher!" panggil Sean dengan suaranya yang cukup tinggi, memangil untuk memberi isyarat kepada Sherina bahwa dia telah datang.


"Iya kak!" sahut Ariana dari dalam kamarnya. Dia masih mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil, lalu keluar dan melihat kak Sean sudah ada di hadapannya.


"Cepat sekali," ucap Ariana.


"Rambut ku juga masih basah, keringkan," titah Sean, tiap kali dia memberi perintah seperti itu, Sean selalu memasang wajahnya yang dingin. Sebuah ekspresi yang seolah tak ingin di bantah.


"Kak Sean tidak lihat? aku juga sedang mengeringkan rambutku, jadi mandiri lah, keringkan rambut kak Sean sendiri," balas Ariana dengan bibir mencebik.


Sean memang masih memasang wajahnya yang dingin, tapi percayalah di dalam hatinya dia tertawa.


Betapa lucunya Sherina, tiap kali wanita itu menolak semua perintahnya.


Gadis itu kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya, mengambil handuk kecil yang masih bersih untuk diberikan kepada kak Sean.


Sementara Sean tetap menunggu di luar sana sampai akhirnya dia melihat Sherina kembali, dan menyerahkan handuk itu kepadanya.


"Ini," ucap Ariana dengan bibir yang masih terlihat mengerucut.


Mau tidak mau akhirnya Sean pun mengambilnya. Mau tidak mau dia mengeringkan rambutnya sendiri.


"Tidur lah, ini sudah sangat larut malam," ucap Sean, penuh dengan perhatian. Apalagi saat mengatakan kalimat itu tatapannya seketika berubah jadi begitu teduh.


Mengirimkan perasaan hangat sampai ke hati Ariana.


Gadis itu mengangguk kecil, sudah tidak nampak lagi bibirnya yang mengerucut, dia justru tersenyum kecil, sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.


Pagi datang.


Pagi itu, Sean mendapatkan telepon dari sang mama, mama Ajeng. Beliau meminta Sean untuk pulang sejenak, tanpa bertanya ada perlu apa Sean langsung menyanggupi permintaan sang ibu.


"Aku harus pulang, hari ini tak apa kan pergi sendiri?" pamit Sean, Sherina masih harus ke kantor polisi untuk melihat semua proses hukum itu. Memastikan sendiri bahwa Mario dan Faisal tak akan bisa bebas lagi.


"Iya kak tidak apa-apa, tapi kenapa pulang? apa ada sesuatu yang terjadi di rumah?" tanya Ariana dengan cemas, dalam ingatan kak Sherina, mereka memiliki hubungan yang cukup dekat.


Apalagi mama Ajeng selalu memasakkan makanan kesukaan kak Sherina tiap kali dia bermain ke sana.


Mama Ajeng tidak punya anak perempuan, jadi tiap kali dia melihat Sherina, mama Ajeng senang sekali, tak sungkan untuk memeluk dan mencium pipi.


"Tidak, mama hanya rindu, kamu ingin ikut dulu baru ke kantor?" tawar Sean pula.


"Tidak, lain kali saja, tidak apa-apa ya?"


"Hem, nanti ku sampaikan saja salam dari mu."


Ariana mengangguk dengan cepat, dalam sudut hatinya pun tiba-tiba dialiri perasaan yang hangat.


Ariana ataupun Sherina, sudah tidak memiliki seorang ibu. Jadi ketika membayangkan mama Ajeng, rasanya pun sudah ikut merasa bahagia.


"Aku pergi dulu ya," pamit Sean, dia harus segera pergi karena tidak ingin membuat sang ibu menunggu lama.


Ariana mengangguk.


Mereka saling tatap, seolah masih ada yang kurang dalam perpisahan ini.


Kurang kecuppan. pikir Sean.


Astaghfirullahaladzim, batin pria itu lagi. Sebelum pikirannya semakin kacau, Sean pun segera pergi, setelah mengelus lembut puncak kepala sang calon istri.


Ariana tersenyum kecil, namun Sean sudah tidak melihat senyum itu.


Kamu lebih beruntung dari aku kak, kak Sherina mempunyai banyak orang yang menyayangi kakak. Batin Ariana.