
"Biar saja aku jellek, tidak usah dilihat!" kesal Sherina, dia merebut ikat rambutnya yang ada di tangan Sean, lalu mengangkat kedua tangannya dan coba kembali mengikat rambut tersebut. Dengan cepat Sherina membuat leher jenjangnya kembali terlihat jelas oleh Sean.
Deg! Membuat pria itu seketika mendelik dan menelan ludahnya sendiri susah payah, bahkan pergerakan lehernya yang naik turun pun terlihat jelas.
Secara alami Sean bergerak cepat untuk menghentikan semua pergerakan itu, tanpa aba-aba dia mendorong Sherina hingga membentur meja kaca. Bahkan langsung menunduk dan mengigit leher gadis nakal tersebut.
"Sean!!" pekik Seseorang, bukan teriakan Sherina, tapi teriakan papa William.
Deg! dua sejoli itu sangat terkejut, lebih terkejut lagi papa William karena melihat pemandangan itu secara langsung.
Astaghfirullahaladzim, batin Sean dan Sherina bersamaan. Mereka benar-benar seperti ditangkap basah.
"Astaghfirullahaladzim, apa yang kalian lakukan? ya Allah, sepertinya kalian memang harus segera menikah," ucap papa William diantara langkah kakinya yang semakin masuk ke dalam ruangan tersebut.
Meski sang anak sudah memintanya untuk tidak datang tapi tetap saja Papa William berniat untuk menjemput sang anak, tapi kemudian dia malah mendapatkan kejutan yang seperti ini.
Kaget sampai membuat jantungnya berdegup, ingin marah tapi ingat jika Sean adalah satu-satunya orang yang selalu mendampingi sang anak.
Bahkan Sean selalu ada untuk Sherina di saat dia pergi menjauh.
Jadi alih-alih marah, papa William hanya bisa pasrah.
Lalu mulai mengatakan pada keduanya untuk mulai merencanakan tentang pernikahan, tidak perlu menunggu Celine menikah lebih dulu.
Dan mendengar Papa William merubah rencananya dalam sekejap, membuat Sean senang bukan main, dia bersorak kegirangan di dalam hatinya. Tapi apa yang ditunjukkan diraut wajahnya hanyalah senyum kecil, juga kedipan sebelah mata genit pada sang calon istri.
Glek! Sherina menelan ludah kasar, entah kenapa dia merasa sejak pertama kali ciuman pasca penembakan itu, kini Sean berubah jadi pria yang sangat mesyum.
Apa-apa menikah, tiba-tiba mencium, lalu mengedipkan mata genit seperti itu.
"Aku mau ke kantor polisi sebentar, bisa sendiri kok," ucap Sherina, kini dia merasa sedang diperlakukan seperti anak kecil oleh dua pria tersebut, papanya dan Sean.
Mereka bertiga sekarang berjalan beriringan keluar dari rumah sakit tersebut.
"Aku akan mengantar Sherina Pa." Sean yang menanggapi.
"Kamu kan harus pergi ke kantor Sean," tolak Sherina lagi, sungguh dia merasa tak enak hati. Sejak dulu Sherina memang selalu menolak semua bantuan Sean, hanya Ariana lah yang bisa meminta semuanya tanpa segan.
Namun sikap penolakan Sherina itu justru membuat Sean tersenyum, dia seperti mendapatkan kembali Sherina-nya yang berusia 28 tahun, bukan lagi Sherina yang seperti diakhir masa SMA mereka.
"Kita satu jalur Sher, jadi itu tidak akan merepotkan aku," jawab Sean lagi.
"Tapi nanti aku pulangnya bagaimana? kalau aku bawa mobil sendiri kan enak." Sherina masih kukuh menolak.
"Telepon saja aku, aku akan menjemputmu lagi."
"Tapi Sean_"
"Cukup!" potong papa William, pusing sendiri melihat perdebatan kedua orang itu.
"Biar Sean yang antar kamu sayang, dengan begitu dia akan berhenti menganggu mu," ucap papa William.
Sean terkekeh mendengar ledekan sang calon papa mertua.
"Terima kasih Pa," ucap Sean, seperti mendapatkan pendukung.