
Sherina kira ciuman ini hanya akan berakhir dalam sekejap, namun siapa sangka jika Sean justru menahan tengkuknya dan memperdalam ciuman itu.
Emh! Sherina sampai melenguh, kehabisan udara tak bisa mengimbangi ciuman yang menggebu.
Sherina bahkan sedikit mendorong dadda Sean agar segera menghentikan ciuman ini.
Jantungnya seperti hendak copot, Sherina tak akan bisa mengendalikan lebih dari ini.
"Seann," ucap Sherina dengan suaranya yang terengah saat Sean akhirnya melepaskan ciuman itu.
"Ayo pulang, aku akan mengantar mu ke rumah papa William dan aku akan pulang ke rumah papa Reza. Kita harus segera menikah," ucap pria itu dengan antusias, bahkan di saat nafas Sherina belum kembali normal.
Dan apa yang diucapkan oleh Sean saat itu benar-benar dilaksanakannya.
Hari itu juga Sean mengantarkan Sherina pulang ke rumah utama keluarga Foster.
Lagi-lagi menciptakan rasa haru tersendiri di sudut hati Sherina, akhirnya dia kembali bisa memeluk kenangan indahnya bersama sang ibu di rumah ini.
Papa William dan kak Celine menyambut hangat kepulangan Sherina dengan pelukan, denga ciuman bertubi di pipi dan kening.
"Pa, nanti malam aku akan langsung mengajak semua keluarga ku untuk datang kesini, aku ingin melamar Sherina," ucap Sean tanpa ragu sedikitpun.
Dan melihat kesungguhan yang nampak jelas di wajah Sean itu papa William hanya bisa mengangguk, seraya tersenyum penuh syukur.
Papa William melihat ke arah Celine, dan anaknya itu mengangguk kecil tanda setuju.
Pulang ke rumah utama keluarganya, Sean pun membuat gempar semua orang saat mengatakan malam ini juga dia ingin melamar Sherina.
Mama Ajeng sampai menyentuh daddanya yang berdenyut kaget.
"Kenapa buru-buru sekali Sen? apa Sherina hamil?" tanya mama Ajeng, sungguh dia sangat kaget, meski tau jika anaknya sangat mencintai Sherina, tapi tidak perlu pernikahan yang buru-buru seperti ini.
Mereka bisa lebih dulu merencanakan untuk pernikahan mewah.
"Astaghfirullahaladzim mamaa," gemas Sean.
Astaghfirullahaladzim, dan suara sang nenek-oma Putri adalah yang paling keras. Sementara papa Reza dan kakek Agung hanya mampu geleng-geleng kepala.
Seperti dikejar oleh malaikat maut, akhirnya sore itu mama Ajeng menelpon kesana kemari untuk persiapan lamaran.
Meski ini sangat mendadak, tapi mama Ajeng tidak ingin hanya sekedarnya saja.
Sherina adalah calon menantu yang dia idamkan, maka Mama Ajeng pun akan memperlakukannya dengan sebaik mungkin, termasuk menciptakan lamaran yang indah dan akan jadi kenangan yang tak terlupakan.
Mama Ajeng benar-benar repot sore menjelang malam saat itu, dia bahkan harus mengkondisikan suami dan anak-anaknya juga, Sean (28 tahun), Gerald (21 tahun), Sergio (18 tahun), Rezki (15 tahun) dan Aska (12 tahun).
Terakhir memastikan Oma Putri dan kakek Agung juga siap.
"Ayo Ma, tinggal mama sendiri yang belum siap," ucap Sean, saat itu waktu sudah menunjukkan jam 7 malam.
"Sebentar Sen, sedikit lagi," jawab mama Ajeng seraya merapikan riasannya di depan cermin.
Papa Reza tersenyum melihat istrinya yang makin hari makin cantik saja, tak peduli di kamar itu ada anak laki-lakinya, papa Reza tetap mencium pipi sang istri.
"Astaghfirullahaladzim Pa! papa lah yang membuat Mama jadi lama bersiapnya!" kesal Sean. Sean tidak tahu jika mamanya itu sudah repot sejak tadi.
"Ayo pergi," ajak mama Ajeng, di sebelah kanan dia memeluk suaminya dan sebelah kiri dia memeluk anak laki-lakinya, Sean Aditama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keluarga Aditama bisa dilihat di sini ya ...
judul: Pengasuh Tuan Muda Genius
by : Lunoxs